
...HAPPY READING...
Di sana terbaring sosok yang tak berdaya dengan serangkaian alat medis yang terpasang di tubuhnya.
Suara detak jantung yang terus bersua.
Tapi seperti tidak ada kehidupan di sana.
Lantunan doa terus di ucapkan, demi memohon pada NYA.
Agar di kembalikan jiwa yang terpisah dari raga nya.
****
Tak berselang lama, keluar lah dokter dari ruang ICU.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" Penuh harap ibu Fatima mendengar kabar yang baik tentang anaknya.
"Syukurlah, anak ibu sudah melewati masa kritisnya. Tetapi sampai sekarang, dia masih belum sadarkan diri. Dan sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang perawatan." Dokter menjelaskan apa yang di tanyakan ibu Fatima, sebelum berlalu pergi.
Ada harapan Candra akan selamat.
Inilah yang saat ini membuat Kirana, Catur dan ibu Fatima tenang.
Kirana terus berdiri di balik kaca ruang ICU.
Tatapannya iba melihat orang yang dia cintai terbaring di situ.
Beberapa Perawat datang untuk memindahkan Candra seperti sebelumnya yang telah Dokter katakan.
Kirana,Catur dan ibu Fatima ikut serta berjalan mengiringi.
Tak kuasa Kirana melihat nya, air matanya tak terbendung lagi.
"Kau jangan seperti ini, seandainya Candra melihatmu, mungkin akan semakin membuat dia sedih," kata Catur menenangkan.
"Pasien yang koma tidak sepenuhnya bisa di sembuhkan dengan pengobatan Dokter. Delapan puluh persen kesembuhannya justru berasal dari semangat spiritual dari orang orang terdekatnya. Jadi, selama dia koma, ajaklah selalu dia berbicara layaknya orang normal. Itu mungkin akan lebih membantu," kata Dokter memberi penjelasan.
"Bu, Candra sudah di pindahkan ke ruang perawatan, lebih baik ibu pulang dan beristirahat dulu! Biar kami yang menjaganya di sini," kata Kirana.
"Apa kalian tidak capek? Kalian baru saja perjalanan dari luar kota, dan sampai sekarang belum istirahat," jawab ibu Fatima.
"Tidak apa apa koq bu, jangan khawatirkan kami. Lebih baik ibu pulang dan beristirahat dulu!" Kirana tau kalau ibu Fatima terlihat lelah.
Wajah tuanya tak bisa menutupi itu.
Ibu Fatima pun pulang.
Kini tinggal Kirana dan Catur yang berada di sana.
Dokter berpesan, kalau harus satu per satu saat masuk ke ruang perawatan.
Maka dari itu, secara bergantian Catur dan Kirana pun bergantian untuk menemani Candra.
Sambil terus mengajaknya berbicara seperti yang telah di sampaikan Dokter.
Apapun yang terbaik akan di lakukan, dengan harapan Candra akan segera sadar dari komanya.
"Hai sob, kau mau sampai kapan tidur seperti ini? Bangun! Aku sudah jauh jauh berkunjung kemari, tapi kau malah tidur terus seperti ini. O ya, soal Kirana.., apa kau tidak ingin bertemu dengannya?" Catur berusaha berbicara pada Candra, tak tau dia mendengarnya atau tidak.
"Kalau kau tidak bangun, jangan salahkan aku kalau aku menikungmu dari belakang ya! Lama lama bersama Kirana, aku rasa mulai tertarik padanya, heh..,kau ini mendengar ku tidak sih! Ayo bangun!" Catur merasa kesal, usahanya tidak ada sedikitpun hasilnya.
"Gimana? Ada perkembangan?" tanya Kirana pada Catur yang baru saja keluar dari ruang perawatan.
Catur hanya mengangkat bahu, pertanda kalau tidak ada perubahan.
__ADS_1
"Heh! Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri bila memang sampai terjadi sesuatu padanya," Kirana menjadi putus asa melihat segala usaha yang telah di jalankan tidak ada hasil apapun.
"Ini bukan salahmu Na," kata Catur.
"Aku bahkan belum sempat memberi jawaban padanya, dia tidak boleh seperti ini terus." Kirana bangkit dari duduknya dan masuk ke ruang perawatan menemui Candra.
Kirana duduk di samping Candra yang tengah berbaring lemah.
Di genggamnya tangan Candra dengan lembut.
Tatapan nya fokus pada wajah Candra.
"Ndra, aku sudah disini," Kirana sengaja mendekatkan mulutnya ke telinga Candra, berharap Candra meresponnya.
"Aku minta maaf, sudah membuatmu berusaha dan menunggu. Tapi sekarang aku sudah di sini, aku membawa jawaban untukmu," Kirana terus berbisik dengan lembut. Dia yakin, Candra akan mendengarnya dan dia akan segera sadar.
"Aku sangat sedih melihatmu seperti ini, kau terlihat tidak tampan lagi. Bangun lah! Buka matamu! Apa kau benar benar tidak ingin mendengar jawaban ini lagi?" Kirana terus berusaha.
Saat berbisik air matanya tak bisa terbendungkan.
"Ndra, aku mencintaimu. Ku mohon bangun lah! Buka matamu!" Kirana menangis sambil tangannya terus memeluk Candra.
"Maafkan aku, maafkan karena telah meragukan mu," Kirana menggenggam erat tangan Candra dan merebahkan kepalanya di samping Candra.
Catur merasa iba dengan keadaan kedua sahabatnya yang harus berakhir seperti ini.
Sebagai sahabat, dia sudah melakukan yang terbaik untuk mereka.
Tapi apa mau di kata, semua kembali pada NYA.
Kirana terbangun saat merasa kalau tangan Candra bergerak.
Dia bergegas keluar memanggil Dokter.
"Na, ada apa? Kenapa Candra?" Catur yang mendengar teriakan Kirana menjadi panik dan bergegas masuk.
"Tadi aku lihat tangannya bergerak! Mana Dokternya? Cepat panggil Dokter!" Kirana bersemangat mengatakan itu pada Catur.
"Iya sabar Na! Sebentar lagi pasti datang," kata Catur.
Tak lama Dokter pun datang memeriksa keadaan Candra.
"Kalian berdua keluarlah dulu!" Catur dan Kirana pun keluar meninggalkan Dokter bersama perawat yang sedang memeriksa keadaan Candra.
Kirana tak bisa berhenti mondar mandir di depan kamar perawatan.
Dia terlihat cemas.
Tak henti hentinya mulutnya bergumam.
Meminta pertolongan NYA, agar orang yang di sayanginya bisa segera sadar.
Tak beberapa lama, Dokterpun keluar.
"Dokter, bagaiamana keadaan teman saya?" tanya Catur.
"Siapa Kirana?" Dokter malah balik bertanya.
"Saya Dok," kata Kirana.
"Sepertinya, temanmu ingin bertemu dengannya. Dia sudah sadar, tapi kondisinya masih lemah. Kau masuk lah, mungkin ada suatu hal yang ingin dia sampaikan" Dokter meminta Kirana untuk menemui Candra.
Kirana merasa senang, bersyukur sekaligus khawatir.
Ada rasa canggung yang kembali datang menghampiri.
__ADS_1
"Apa yang harus aku katakan?" tanya Kirana pada Catur.
"Agh! Kau ini, sudah katakan saja apa yang dia tanya. Yang penting sekarang kau masuk dulu, sana cepat!" Catur mendorong pelan tubuh Kirana untuk segera masuk.
Dengan hati hati, Kirana masuk ke dalam menemui Candra.
Tubuhnya gemetar dan jantungnya tak berhenti berdegub.
[ Saat dia pingsan tadi begitu mudah menemuinya, tapi saat dia sudah sadar seperti ini kenapa aku jadi gemeteran seperti ini? Huh!! ]
Kirana berdiri di samping Candra.
Candra yang terlihat masih memejamkan matanya, membuat Kirana menoleh heran.
"Tadi kata Dokter dia sudah sadar, apa iya? Matanya masih terpejam seperti ini," gumam Kirana.
Tiba tiba tangan Candra meraih tangan Kirana.
"Na, kau disini?" kata Candra lirih.
"K-kau, kau sudah sadar? Syukurlah," kata Kirana gugup.
"Kau menghawatirkan ku? Maaf membuatmu jauh jauh datang kesini," Candra masih terus ingin berbicara pada Kirana.
Hatinya begitu bahagia melihat gadis pujaan hatinya ada di samping nya.
Kirana hanua terdiam.
Dia tidak tau apa yang ingin dia katakan.
[ Apa saat pingsan tadi dia mendengarku mengatakan kalau aku mencintainya? Huh!! Saat sadar begini dia lebih membuatku takut. ]
"Kau kenapa diam saja? Kau tidak rindu denganku? Duduklah disini!" kata Candra.
Kirana pun duduk di kursi di samping Candra.
[ Ya Tuhan!! Kenapa jadi lebih menegangkan dari pada sebelumnya? ]
Candra menatap tulus pada Kirana.
Membuat yang di tatapnya menjadi gugup.
"Kau jangan menatapku seperti itu," kata Kirana.
"Aku menyayangimu, apa kau sudah membawa jawaban untukku?" kata Candra.
[ Huh!! Mati aku! Apa yang harus aku katakan! Oh Tuhan bantu aku! ]
"Aku.., sudah membawa jawaban itu," kata Kirana lirih.
Kirana menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri supaya tidak gugup.
"Aku..,aku juga mencintaimu. Saat kau tidak sadar aku benar benar takut kehilanganmu," kata Kirana.
Candra begitu bahagia mendengar jawaban Kirana.
Di genggam nya erat tangan Kirana.
"Trimakasih, aku berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi."
Kirana dan Candra terlihat bahagia.
Begitupun Catur yang dari tadi melihat mereka dari balik jendela.
"Semoga kalian bahagia,"
__ADS_1