Cinta Kirana

Cinta Kirana
Cinta dua satu


__ADS_3

...HAPPY READING...


Karena ling lung, hampir tak ada tenaga untuk menolak Hakam.


Ku turuti permintaan Hakam untuk pulang bersamanya.


Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan apapun di antara kami.


Tatapan ku nanar dan kosong, pikiranku seperti eror bak memory ponsel yang terkena virus.


Semilir angin membuat kantukku datang dan hampir aku terjatuh karenanya.


Dan dengan sigap, Hakam meraih tanganku sembari akan melingkarkannya ke pinggangnya.


Aku terkaget dan menarik kembali tanganku.


"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan ya!" ketus ku sambil melirik sebal ke arah spion.


Masa bodoh dia mau marah padaku!


Toh malah bagus kan kalau begitu, aku tidak harus susah susah mencari cara untuk menjauhinya.


Tak berapa lama, sampailah kami di rumahku.


Aku segera turun dari motor dan melepas kembali helmnya.


"Ini, trimakasih tumpangan nya," aku langsung masuk ke dalam rumah tanpa basa basi mempersilahkan dia mampir.


Kulihat dari balik jendela, Hakam masih di depan. Entah kenapa dia tak kunjung pergi.


Dia terlihat sedang menelfon seseorang, dan sesekali ku dengar dia meminta maaf dengan wajah yang sendu seperti seseorang yang telah gagal.


Mencoba menarik diriku dari Hakam, dengan tak memperdulikan apa yang dia lakukan.


Aku bergegas masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku di ranjang.


Ingin rasa nya menjadi amnesia dan kembali sadar saat Candra kembali.


Tapi itu tidak mungkin,


Hakam!!


Dia kembali setelah beberapa tahun lamanya. Dia kembali saat kondisiku sedang lemah seperti ini.


Aku sendiri tidak tau apa tujuannya.


Hah! Sudahlah!


Aku tidak ingin berfikir lagi!


Otakku ini seakan memberontak karena banyaknya hal yang harus kupikirkan!


Lelah pun datang, hingga membuat mataku berat. Selimut yang hangat, membuat tubuhku semakin terbuai lelap.


>>>>>>


Tak ada yang di kerjakan hari ini.


Karena surat pengunduran diri itu, membuatku menjadi pengangguran.


"Kalau sudah begini, mau apa coba? Duduk sepanjang hari di rumah!" gumamku.


Tling,,,


Ada pesan yang masuk.


Kuperiksa ponselku, dan benar! Pesan masuk dari Hakam.


"Ku jemput ya?"


"Tidak usah! Hari ini aku tidak masuk kerja, jadi jangan menjemput ku," balasku pada pesannya.


Tling,,

__ADS_1


Terdengar kembali pesan masuk.


"Kau sakit?"


Segera ku balas pesan Hakam.


Aku tidak ingin dia berfikir begitu, aku tidak ingin dia menjadikan kepanikannya sebagai alasan untuk datang kemari.


"Tidak! Aku tidak apa apa, sudahlah! Pokoknya kamu jangan kemari!"


Biar sengaja aku bersikap seperti itu padanya.


Entah apa maksudnya, tapi aku tidak ingin memberi harapan apapun padanya.


Hari ini aku berniat mencari loker di browsing.


Tidak mungkin bengong dan pasrah seperti ini.


Ku buka ponselku, ku ketik huruf demi huruf untuk mencari pencarian lowongan pekerjaan.


"Bila ku tau mencari pekerjaan itu sebegini rumitnya, aku nggak akan sebodoh itu!"


Kesal rasanya, seperti tak ada keberuntungan untukku.


"Tuhan!!! Help me!"


Di tengah kekesalanku hingga hampir berteriak, tiba tiba datang sebuah motor berhenti tepat di depan rumahku.


Ku intip dari sela jendela, astaga! Itu Hakam!


"Kau mau apa kesini?" tanyaku padanya, bahkan sebelum dia turun dari motor.


"Aku khawatir padamu, kemarin kau seperti sedang stres! Dan sekarang tiba tiba nggak masuk!" cecarnya sembari turun dari motor dan duduk di teras.


"Kau ini sebenarnya mau apa sih? Kita sudah lama kan nggak ketemu? Dan baru beberapa hari kita bertemu! Kenapa sikapmu seolah olah peduli padaku?" tanyaku sembari ku tentengkan kedua tanganku di pinggang.


Melihat ku, bukannya menjawab Hakam malah tertawa. "Dasar preman," ledeknya.


"Tidak, lupakan!" jawabnya. Sepertinya Hakam tau kalau aku tidak suka dengan sebutan itu.


"Jangan galak galak begitu! Kau sedang ada masalah ya?" tanya Hakam.


"Bukan urusanmu!" ketusku sembari ikut duduk di kursi teras.


"Kalau jodoh pasti nggak akan kemana koq, yakin lah dengan itu." Hakam seperti tau tentang hal yang tengah aku hadapi saat ini.


Ku tatap Hakam dengan tatapan curiga.


Ada yang aneh sejak kehadirannya.


Sebagai orang yang lama tidak bertemu, tidak seharusnya seakrab ini kan?


"Apa kau bilang? Memang kau tau masalah ku?" pancingku. Aku masih penasaran dengannya.


"Bukan tau lagi, bahkan sangat tau," jawabnya.


Dia ini siapa sih?


Dia Hakam kan? Cowok yang dulu satu sekolah denganku!


Dan sejak lulus bahkan kita tidak bertemu lagi.


Jangan jangan dia hanya mau memancingku saja!


"Modus kuno! Jangan kau pikir aku tidak tau tak tik mu? Aku tidak akan terpancing!" gumamku.


"Setiap manusia yang di lahirkan ke dunia itu sudah di tentukan jodohnya, jadi nggak perlu khawatir. Jodoh dan maut itu Tuhan yang menentukan, kita berdoa saja! Supaya orang yang kita sayangi selalu dalam lindungannya." Hakam bicara seolah olah dia tau masalah ku, membuatku semakin merasa aneh.


"Teori itu memang mudah! Tapi kenyataanya prakteknya yang susah! Memang kau pernah mengalaminya? Menceramahiku seperti ini!" ketus ku.


Hakam hanya tersenyum aneh.


Tatapan dan senyumnya itu seperti mengandung suatu makna.

__ADS_1


"Kau yang kuat ya," ucapnya begitu saja. Entah apa maksudnya.


Aku berusaha tak memikirkan ucapan Hakam.


Ku anggap itu hanya celotehan iseng dari nya.


Seperti yang ku tau, dari dulu dia memang senang sekali mengerjaiku, sampai sampai aku jatuh cinta pada nya, pada orang rese sepertinya.


"Kau datang kemari, memang tidak kerja?" tanyaku.


"Hari ini tidak begitu banyak pekerjaan, jadi bisa pulang awal." Aku lihat jam di ponselku. Baru jam sebelas, tapi dia bilang pulang awal?


"Yang benar saja? Ini kan baru pukul sebelas! Memang begitu senggang nya sampai se awal ini?" balasku.


Hakam hanya tersenyum.


Kau begitu lucu Na, andai saja aku bisa bersamamu.


Melihat ku sibuk mengotak atik ponsel, Hakam mendekatkan posisi duduknya di samping ku.


"Kau sedang apa sih?" tanya Hakam.


"Astaga! Kau ini!" ketusku sembari mendorong bahunya untuk menjauh. "Jangan macam macam ya!"


"Memang kenapa? Dulu kau kan suka padaku kan?" celotehnya.


"A-apa maksudmu?" Benar benar malu aku di buatnya. "Itu kan dulu! Kalau sekarang..,cih! Sory ya.., aku sudah punya tunangan yang lebih ganteng darimu!"


Sengaja ku ucapkan itu, supaya Hakam tau dan tidak lagi macam macam padaku.


"Iya aku tau." kata Hakam datar.


Lagi lagi jawabannya membuatku merasa aneh.


Apalagi di tambah ekspresinya yang seakan akan dia sudah tau semua kisah ku.


"Tapi sekarang pangeranmu pergi kan?" tanya Hakam. "Kalau aku jadi kau, buat apa menunggunya seperti ini? Mending cari cowok lain saja!"


Kali ini ucapan Hakam membuatku marah.


Seenaknya dia bicara seperti itu padaku!


"Jangan bicara sembarangan ya! Pangeran ku pasti datang! Sory ya..,aku bukan tipe cewek yang asal menempel pada cowok!" ketusku sembari ku pelototi.


Hakam!!


Cowok aneh! Bahkan dia bicara seenaknya tanpa menatapku.


Tangannya terus mengotak atik asyik dengan ponselnya.


Dasar nggak punya hati!


Tling,,


Terdengar ponsel Hakam berbunyi.


Dan entah pesan dari siapa, Hakam tiba tiba menjadi panik dan langsung berpamitan untuk pergi.


"Apa yang terjadi? Dia kelihatan begitu panik seperti itu!"


Entah apa yang terjadi dengan Hakam kali ini.


Melihatnya panik seperti itu, membuatku ikut merasa khawatir.


Sebenarnya, Hakam adalah cowok yang baik.


Ingat saat dulu di sekolah, dia sering banget mengerjaiku. Membuatku kesal.


Tapi ketika beberapa hari dia tidak masuk, aku merasa rindu pada keusilannya.


Dan saat itu lah aku merasa kalau aku mulai menyukainya. Tapi cinta itu tidak pernah ku perlihatkan padanya, aku terus bersikap galak padanya.


Tapi sekarang, aku punya Candra. "Ndra..,lekaslah sembuh, aku rindu."

__ADS_1


__ADS_2