
...HAPPY READING...
Hari ini adalah hari terakhir bagiku melihat Candra.
Entah kapan akan kembali bertemu.
Dada ini kembali terasa sesak jika mengingat hal itu.
"Na,sudahlah..,kau jangan terus menangis seperti ini. Kuatkan dirimu demi Candra." Catur menghampiriku, dia yang paling mengerti aku. Dia sudah seperti abangku sendiri, walaupun umur kita tak jauh berbeda.
Sejak dulu teori itu memang paling mudah!
Tapi kenyataannya, sulit untuk di praktekan.
Seperti diriku, dulu sudah berusaha melupakan Candra, tapi takdir selalu mempertemukan ku dengannya.
"Catur, ibu minta tolong. Kamu disini jaga Candra sebentar ya, ibu mau pulang untuk berkemas." Bagiku, ibu Fatima adalah sosok wanita yang kuat. Sejak suaminya meninggal, dia seorang diri merawat anaknya.
"Ibu, apa aku boleh ikut?" Aku ingin sengaja ingin ikut ke rumah ibu Fatima, selain ingin membantunya berkemas, aku juga ingin melihat tempat tinggal kekasihku.
"Tentu saja boleh," jawab ibu Fatima.
Aku dan ibu Fatima pun pergi meninggalkan rumah sakit.
Kami memutuskan untuk naik taxsi saja, supaya bisa lebih cepat.
Karena Dokter bilang harus berangkat malam ini juga, semakin cepat berangkat maka akan semakin cepat pula prosesnya, itu yang Dokter katakan.
Tak berapa lama, kami pun sampai di sebuah perumahan sederhana tapi apik, kami pun turun dari taxsi.
"Ini lah gubuk Candra nak, ayo masuk." Ibu Fatima membuka pintu dan mempersilahkan ku untuk masuk.
Sebuah rumah dengan dekorasi yang rapi.
Aku berjalan mengiringi langkah ibu Fatima.
Hingga aku tiba di depan sebuah kamar.
Karena pintunya tidak tertutup dengan benar, maka tampak jelas dari luar.
"Itu kamar Candra, masuklah!" sepertinya ibu Fatima tau kalau aku pun tengah penasaran dengan kamar itu.
Sebuah kamar cowok yang tergolong rapi.
Semua tertata dengan baik.
Di sudut kamarnya, ada sebuah gitar tergeletak di sana.
Aku begitu mengenalnya, gitar itu adalah gitar yang dia bawa saat pertama bertemu.
"Hahh!! Kenangan itu lagi," gumamku.
Mataku terarah pada sebuah figura kecil yang terpasang di atas meja nya.
Karena penasaran, aku pun berniat ingin melihatnya dari dekat.
__ADS_1
"Ini kan..," air mataku tiba tiba menetes, foto di figura cantik itu adalah diriku, yang dia ambil saat malam tahun baru itu.
"Dia benar benar menyimpannya dengan indah," akupun kembali larut dalam kenangan itu. Dadaku kembali sesak, seperti ada sebuah penyesalan.
Kenapa aku dulu harus berputar putar demi mengujinya?
Andai aku menerimanya dari dulu, mungkin akan ada waktu lebih lama untuk bersamanya, hiks.
"Beginilah kamar Candra, maklumlah kamar anak laki laki tidak Serapi kamar anak perempuan," kata ibu Fatima tiba tiba datang mengejutkanku.
Aku mencoba menghapus air mataku, tidak ingin beliau melihatku sedih.
"Kau sudah melihatnya?" ibu Fatima menghela nafas panjang. "Saat Candra pertama kali memasang foto ini, ibu sempat bertanya padanya. Tapi Candra tidak mau menceritakannya pada ibu. Dia bilang kalau saat nya nanti pasti ibu akan tau sendiri." Wajah ibu Fatima berubah sendu. Tak bisa dibayangkan bagaimana perasaannya kini.
Candra adalah anak satu satu nya, dan sekarang sedang berjuang melawan maut.
"Maafkan aku ya bu," kataku lirih sambil kupeluk erat ibu Fatima.
"Ibu bahagia Candra memilihmu sebagai kekasihnya, ibu yakin! Kalau Candra tidak mungkin sembarangan mencintai seorang wanita." jawab ibu Fatima.
Tak mau larut dalam kesedihan, ibu Fatima pun mengajaku untuk mengemas semua yang nanti akan di perlukan selama di Singapura.
Kulihat ibu Fatima juga mengikut sertakan fotoku yang terpasang di figura tadi bersama barang bawaannya.
"Ibu,ke-kenapa foto itu juga ikut di bawa?" tanyaku dengan hati hati.
Bu Fatima menghela nafas dalam dalam.
"Candra mengalami masalah pada otaknya, setelah operasi nanti.., kita tidak tau apa yang akan terjadi dengannya. Ibu fikir, barangkali foto ini nanti bisa berguna di saat dia membutuhkannya," bibir ibu Fatima gemetar mengatakan itu, ada bayangan buruk tentang hal yang akan terjadi nanti.
Aku tak kuasa menahan emosiku, aku tau yang dimaksud ibu Fatima.
Candra adalah sosok yang keras kepala, teringat kembali saat dia begitu kekeh mendekati ku demi supaya aku menerimanya lagi.
[ Ya Tuhan, kenangan itu lagi.., ]
Waktu sudah menunjukan pukul enam sore.
Seperti apapun, ibu Fatima harus tetap pergi membawa Candra untuk berobat.
Kami pun segera kembali ke rumah sakit.
"Sebentar lagi aku akan benar benar akan berpisah dengan nya," sepanjang perjalanan pikiran itu terus mengusiku.
Ibu Fatima menggenggam tanganku.
Seperti nya beliau tau tentang kesedihanku.
Tak berapa lama, kami pun sampai ke rumah sakit.
Aku sengaja berjalan di belakang ibu Fatima, membiarkan nya meninggalkanku.
Entahlah, rasanya belum sanggup untukku menerima kenyataan ini.
Langkahku sampai di depan kamar di mana Candra di rawat dengan dengan segala peralatan medis yang terpasang di tubuhnya.
__ADS_1
"Bu, sebelum Candra pergi. Apa boleh aku menemuinya sebentar?" kataku pelan.
Ibu Fatima hanya mengangguk.
Perlahan ku langkah kan kakiku.
Ada rasa takut bercampur sedih.
Melihat nya yang seperti ini, aku benar benar tidak tega.
"Aku datang ndra, apa kabarmu hari ini?" Ku genggam tangannya dengan lembut.
Aku yakin dia pasti tau kalau aku sedang di sisi nya.
"Cepat sembuh ya, aku akan selalu menunggumu. Saat kau sudah sembuh nanti, jangan lupakan aku ya," Ku kecup keningnya dengan lembut.
Ada setitik air di ujung mata Candra.
"Kau menangis?" Ku sentuh ujung matanya dengan lembut. "Maafkan aku, bukan ingin membuatmu sedih. Kamu harus kuat ya! Kamu harus sembuh!" Ku kecup kembali keningnya, "Aku mencintaimu,"
Mungkin kata itu yang bisa aku katakan untuk terakhir kalinya.
Dengan harapan, kau juga akan selalu mencintaiku.
Dokter masuk di iringi beberapa Perawat.
Mereka membawa Candra keluar dari ruangan ini.
"Nak, kami pergi dulu ya," Ibu Fatima memeluku erat.
"Hati hati bu, sampaikan salamku pada Candra." Itulah yang bisa aku katakan.
Berusaha menahan haru di depan ibu Fatima.
Untuk yang terakhir kalinya, aku melihat Candra pergi dengan mobil ambulance.
Tatapanku tak putus hingga mobil yang membawa Candra itu hilang semakin jauh.
"Kau harus kuat!" Catur terus menguatkan ku.
"Sekarang kita sudah tidak ada urusan lagi disini,kita.., kita juga harus pulang sekarang."
Aku dan Catur memutuskan untuk kembali pulang ke kampung.
Sepanjang perjalanan, kenangan saat saat bersama Candra kembali menyibukkan pikiranku.
Entah sampai kapan.
Bahkan Catur yang berusaha menghibur ku dengan semua tingkah dan ocehannya tidak berpengaruh apapun.
Pikiranku melayang memikirkan Candra.
Tentang pengobatan dan kesembuhannya.
[ Bagaimana kalau nanti setelah operasi dan sembuh, dia menjadi amnesia dan melupakanku? ]
__ADS_1
Mataku terpejam erat tak kuasa membayangkan itu terjadi.
[ Ya Tuhan! Apa aku sanggup? ]