
...HAPPY READING...
Kirana memandang wajah Candra yang sedang tertidur.
"Kalau saat tidur begini, rasanya tidak tega kalau harus menyakitinya," gumam Kirana. "Tapi saat dia bangun, wajahnya terlihat mengesalkan!huh!"
Dia kecelakaan bukan karena aku, semua itu musibah.
Dan aku kembali mencintainya..,bukan awal dari musibah kan?
Entahlah, tapi masih ada kekhawatiran, kalau suatu hari nanti..,aku akan kembali sakit karenanya.
Kirana larut dalam lamunannya. Hingga Candra terbangun dari tidurnya.
"Na,"
"Ehmm, kau sudah bangun?" tanya Kirana lirih.
"Kau sedang memikirkan apa?" Candra tau kalau Kirana tengah memikirkan sesuatu. "Maaf kalau tentang lamaran itu membuatmu menjadi kepikiran seperti ini," Candra meraih tangan Kirana dan menggenggamnya.
Kirana memandang Candra dengan tatapan iba.
Karena sebenarnya bukan itu yang tengah ia pikirkan saat ini.
"Kau mau minum?" Kirana meraih gelas berisi air untuk diberikan pada Candra.
"Maaf ya merepotkan mu," kata Candra.
"Heh, tidak repot koq. Aku yang datang sendiri kesini," jawab Kirana pelan. "Aku kaget saat tau kalau kau kecelakaan, makannya tanpa pikir panjang aku langsung kemari."
"Aku senang kau datang, aku tidak menyesal jika harus dirawat seperti ini. Kalau aku tidak kecelakaan, kau tidak akan datang menemuiku kan," Candra bergumam manja.
"Kau ini, hal seperti ini mana boleh dibuat sembarangan! Cepat tarik omonganmu! Bersyukur kau bisa selamat! Kalau tidak bagaimana?heh!" Kirana mencubit pelan lengan Candra, dia kesal dengan ucapan Candra yang menganggap remeh sebuah nyawa.
"Adu..duh!! Iya iya..,cubitanmu ini bahkan lebih sakit dari pada lukaku sekarang," ejek Candra sambil tersenyum nyengir.
Kirana mengusap lengan yang di cubit nya tadi.
Karena terlalu kesal, dia jadi reflek mencubit Candra.
"Na,"
"Hemm,apa?" jawab Kirana sambil mengotak atik ponselnya.
"Kata Catur, aku ini cinta pertama mu ya?" tanya Candra merasa bangga.
"Idih..,siapa bilang? Geer!" cibir Kirana.
Candra tidak percaya dengan ucapan Kirana, "Kalau bukan aku,lalu siapa cinta pertamamu?"
"Kau ini kepo banget sih!" Kirana tergelak tertawa pelan melihat Candra yang kepo.
__ADS_1
"Kau sendiri bukan cinta pertamaku, tapi aku menyayangimu lebih dari cinta pertamaku," Candra mulai menggombal.
"Iya percaya! Kau kan playboy! Mana mungkin punya cinta pertama?" ketus Kirana. "Playboy seperti mu mudah saja kan bilang i love you pada semua cewek! Sudah jangan ngegombal! Aku dah hafal!"
Kirana melepas tangan Candra yang sedari tadi menggenggam tangannya dan ia pindah ke kursi sebelahnya, agak menjauh dari Candra.
"Adu..,du..,duh!! Kepalaku!!" tiba tiba Candra merintih kesakitan.
"Sudah jangan lebay! Memang aku tidak tau trik murahan begitu!" Kirana tidak memperdulikan Candra, karena dia merasa kalau Candra hanya pura pura.
Candra terus merintih kesakitan, hingga ia pun pingsan.
Kirana terkejut saat menoleh kembali ke arah Candra, dan mendapati Candra yang tidak bergerak karena pingsan.
"Astaga Candra!! Kau tidak apa apa!" Kirana panik se jadi jadinya, hingga ia menjatuhkan ponselnya. "Dokter!! Dokter!!" Kirana berteriak memanggil Dokter.
"Ya Tuhan, kau kenapa? Bangun Candra!" Kirana menepuk nepuk pelan pipi Candra. Tapi Candra tetap tidak terbangun.
Tak berapa lama Dokterpun datang dan memeriksa keadaan Candra.
"Tolong teman saya dok!" kata Kirana sambil terisak.
"Anda keluar dulu! Saya akan memeriksa keadaannya." Kirana pun pergi keluar.
"Ya Tuhan, selamatkan Candra!" gumam Kirana sambil terus mondar mandir tak karuan.
Mulut nya terus bergumam memohon padaNYA agar Candra baik baik saja.
"Bagaimana keadaan teman saya Dok?" Kirana tak sabar ingin mengetahui keadaan Candra.
Dokter hanya terdiam tidak menjawab. "Saya calon istrinya Dok," Kirana terpaksa mengatakan itu, supaya Dokter mau menjelaskannya.
"Anda ikut saya! ada hal yang ingin saya sampaikan," kata Dokter.
Ucapan Dokter yang begitu serius membuat Kirana takut.
[ Ya Tuhan! Semoga tidak ada hal yang serius pada Candra ]
Setelah sampai di ruangan Dokter.
"Ada gumpalan di otak kecilnya, itu terjadi karena benturan yang sangat keras di kepalanya," kata Dokter. "Dia harus segera di operasi, tetapi peralatan kami belum begitu lengkap untuk kasus seperti ini."
Sekejap Kirana menjadi lemas.
Baru saja dia bercanda bahagia bersamanya.
Dan sekarang Candra kritis lagi.
"Apa yang harus ku katakan pada ibu Fatima?"
Kirana tidak tega harus mengabarkan ini pada ibu Fatima.
__ADS_1
Membayangkan respon ibu Fatima membuat Kirana tidak tega.
Kirana kembali ke ruangan dimana Candra di rawat.
Di lihatnya tubuh lemah tak berdaya terbaring di sana.
Air matanya menetes tak tertahankan.
Baru beberapa menit yang lalu mereka bercanda bersama.
Baru beberapa menit yang lalu dia melamar nya.
Kini Kirana harus kembali melihat Candra kritis seperti ini lagi.
Kirana mencari ponsel nya yang tadi jatuh.
"Bu, ada hal yang ingin di sampaikan Dokter padamu. Ibu cepat kesini ya," Kirana sengaja hanya mengirimkan pesan. Dia tidak sanggup kalau harus menyampaikannya langsung.
"Kirana,apa yang terjadi dengan Candra?" ibu Fatima seperti mendapat firasat buruk.
Ibu Fatima menyampaikan pesan Kirana pada Catur.
Dan tak berselang lama, mereka berdua pun bergegas kembali ke rumah sakit.
"Na,bagaimana keadaan Candra?" ibu Fatima memeluk Kirana. Matanya terlihat berkaca kaca menahan haru.
"Maafkan aku bu, aku tidak bisa menjaga Candra,hiks." Kirana menangis se jadi jadinya di pelukan ibu Fatima. Dia merasa bersalah atas semuanya.
"Do-Dokter bilang, ada gumpalan darah di kepalanya, dan harus segera di operasi," sambil terisak, Kirana berusaha memberitahu ibu Fatima tentang keadaan Candra.
"Oh Tuhan! Ampunilah anaku,sembuhkan dia!" ibu Fatima terduduk lemas. Dia tak tau harus berbuat apa. Operasi itu pasti butuh biaya besar, sedangkan kondisi ekonomi nya saat ini tengah turun.
Ibu Fatima mencoba menghubungi keluarga dekatnya.
Dia ingin meminta bantuan pada pamannya Candra.
Sementara itu, Kirana terus memandang kekasih nya yang terbaring lemah dari balik jendela.
Dadanya terasa sesak, air matanya jatuh tak terhenti.
"Sejak bertemu denganku, kau selalu tertimpa masalah. Maafkan aku," gumam Kirana.
"Sudah Na, jangan bicara seperti itu. Ini takdir, semua sudah menjadi kehendak NYA, kita manusia hanya perlu ikhlas dan bersabar menerimanya," Catur berusaha menenangkan Kirana yang terus terisak.
"Nak, antar ibu menemui Dokter yang menangani Candra. Ibu ingin segera mengurus berkas berkas nya. Supaya Candra bisa segera di operasi. Tadi ibu sudah minta bantuan pada pamannya Candra, dan dia bersedia membantu semua biaya pengobatan Candra." Ibu Fatima dan Kirana pun pergi menemui Dokter.
Dokter bilang, Candra harus dibawa ke Singapura untuk menjalani operasi.
Karena disini, alat medis nya belum mampu untuk menangani kasus Candra.
Dan itu artinya, untuk ke tiga kalinya, Kirana harus kembali berpisah dengan Candra.
__ADS_1
"Aku ikhlas melepasmu, bila ini memang yang terbaik. Aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini. Takdir buruk selalu membersamai kita! Aku tidak ingin kau seperti ini. Pergilah! Jika memang kita berjodoh pasti akan bertemu lagi. Tuhan! Tolong sembuhkan dia."