Cinta Kirana

Cinta Kirana
Cinta delapan


__ADS_3

...HAPPY READING...


Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore.


Saat nya bagi semua karyawan untuk pulang.


Di depan kantor terlihat sangat ramai kerumunan para karyawan.


Kebanyakan mereka di antar jemput oleh keluarganya.


Tapi tak sedikit pula yang pulang dan pergi mengendarai angkot.


Salah satunya ialah Kirana.


"Saat bubaran kantor,biasanya banyak angkot yang mangkal di situ. Kenapa kali ini sama sekali tidak ada?" Kirana celingukan kesana kemari, matanya menjelajahi setiap sudut jalan.


Berharap dia melihat sebuah angkot.


"Ya Tuhan! Kakiku bahkan sudah capek berdiri di sini,kenapa dia ( angkot ) tidak datang juga sih?" gumam Kirana sambil menepuk nepuk kakinya


Sudah hampir satu jam Kirana berdiri di situ.


Tapi tak satupun angkot untuk jurusan kerumah yang lewat.


"Astaga!! Aku sudah tak tahan lagi, siapa saja yang lewat kumohon ijinkan aku menumpang! Kaki ku sudah lelah rasanya!" Kirana bergumam mengeluh sendiri.


Hingga tiba tiba, sebuah motor berhenti tepat di depannya.


"Candra? Kenapa dia disini?" gumam Kirana sambil membalikan badannya berharap Candra tidak melihatnya.


"Ya ampun,secepat itu permintaanku di kabulkan? Aku kan hanya bercanda!" Kirana panik ketika menyadari apa yang sedang terjadi.


Ucapan yang di anggapnya hanya keluhan semata, tiba tiba menjadi kenyataan.


Dan parah nya, orang yang datang itu adalah Candra.


"Na!" panggil Candra


Kirana berpura pura tidak mendengar.


Dia menunduk memainkan ponselnya.


Tin..,tin..!


Candra membunyikan klakson nya.


Hingga membuat Kirana terkejut dan menjatuhkan ponselnya.


"Astaga! Ihhh!! Dasar kurang kerjaan, apa sih maumu? Lihat! Ponselku jadi terjatuh!" Kirana berbalik dan memaki Candra.


Membuat nyali Candra menjadi menciut.


"Kau tau aku disini? Kenapa tadi saat aku memanggil mu kau tidak dengar? Kau berpura pura tidak melihatku?" Candra tetap berusaha menutupi rasa terkejutnya dengan berpura pura membalas perkataan Kirana.


Kirana melihat Candra dengan tatapan kesal.


Dan dia lalu pergi meninggalkan Candra.


"Hari ini suasana hatiku sedang buruk dan badanku juga sangat capek! Kenapa masih harus melihatnya?" Kirana berjalan sambil bergumam.


Candra tidak diam begitu saja melihat Kirana pergi.


Dia terus mengikuti Kirana dari belakang.


Tak peduli kalau nanti akan kembali mendapat omelan dari Kirana.


"Dasar batu! Kenapa dia terus mengikutiku?" gumam Kirana setelah tau kalau Candra mengikutinya


"Hari sudah semakin senja, ku pikir pasti tidak akan ada angkot yang lewat. Kau pulang bersamaku saja" kata Candra sambil terus mengikuti Kirana


"Siapa bilang aku sedang menunggu angkot? Aku sedang menunggu seseorang" Kirana berhenti sejenak dan berbalik membalas ucapan Candra.


"Siapa? Jangan bilang kau sedang menunggu suami orang ya, kasihan istrinya" Candra tengah menyindir Kirana tentang kejadian pagi tadi.


[ Suami orang? Apa maksudnya? Astaga!! Apa dia tau kalau tadi pagi aku menyewa orang untuk membohonginya? Dasar emberr! ]


Mengetahui kalau ternyata Candra tau tentang tipuannya.


Kirana merasa malu,kali ini dia bahkan tidak membalas perkataan Candra dan terus berjalan.


"Na..,sampai kapan kamu mau terus berjalan? Jarak ke rumahmu masih sangat jauh,apa tidak capek?" kata Candra


"Huh dasar! Kau pikir bisa merayuku? Kau anggap aku ini wanita gampangan apa? Huh!! Walaupun memang melelahkan dan kaki ku ini sudah mulai terasa kram,tapi jangan berharap aku mau pulang bersamamu!" Kirana terus mengomel pelan sembari terus berjalan.


Brukkk!!


Karena sudah berjalan terlalu jauh,dan Kakinya sudah benar benar lemas.


Akhirnya Kirana tersandung dan jatuh tersungkur.


Candra langsung reflek turun dari motornya dan berlari menolong Kirana yang tengah kesakitan.


"Ugh!! Kaki ku sakit sekali!" Kirana berusaha berdiri, dia tidak ingin Candra menolongnya.


Tapi sia sia, kaki nya terkilir dan tidak bisa berdiri.


"Na, kau tidak apa apa?" kata Candra sambil berusaha memapah Kirana.


Tapi Kirana mendorong Candra untuk menjauh.


"Kau! Pergi sana! Jangan peduli padaku!" bentak Kirana


"Kau ini sudah seperti ini masih saja keras kepala!" balas Candra


Ucapan Candra semakin membuat Kirana marah.


Tiba tiba kenangan itu muncul kembali.


Saat saat sulit dan menyakitkan dimana dia terpuruk dan sakit karena ulah Candra.


"Keras kepala? Siapa yang keras kepala! Heh? Kalau aku keras kepala lantas kau apa?! Heh!!" entah apa yang merasuki Kirana hingga ia menjadi sangat marah.


"Kau datang dan pergi sesuka hatimu tanpa memperdulikan orang lain! Lantas apa sebutan yang cocok untukmu? Kau bahkan menyebutku keras kepala karena hal sepele seperti ini, lantas aku harus menyebutmu apa!!" Kirana menjadi histeris.

__ADS_1


Matanya menatap tajam pada Candra.


Candra tidak menyangka kalau Kirana akan berkata seperti ini.


Rasa bersalahnya kembali muncul.


"Na.., maafkan aku. Sampai kapan kau akan membenciku? Apa yang harus aku lakukan supaya kau memaafkan ku" kata Candra lirih


"Pergi menjauh dariku" balas Kirana


"Aku pikir malam itu saat kau setuju untuk menjadi temanku kembali, kau akan menerima dan memaafkan ku. Tapi kenapa sekarang seperti ini?" Candra masih berusaha menenangkan Kirana.


Tidak bisa di pungkiri.


Kini dirinya begitu sayang pada Kirana.


"Aku memang menerima kamu kembali untuk menjadi temanku. Tapi teman tidak seharusnya bersikap berlebihan seperti ini! Kau terus mendekati ku! Kau benar benar egois! Kau tidak tau betapa sulitnya aku saat itu? Apa kau memikirkan itu? Kau bahkan sama sekali tidak peduli dan pergi menghilang! Dan sekarang,kau dengan seenaknya datang dan menuntut aku untuk kembali menyukai mu seperti dulu? Apa yang kau fikirkan? Apa kau fikir aku ini wanita gampangan?heh?" Kirana sudah tak sanggup lagi untuk memendam rasa nya semakin lama.


Dia kini ingin agar Candra tau apa yang di rasakannya dulu.


Matanya berkaca kaca tak bisa menahan Amarah dan kesedihannya.


Setelah marah, dia bahkan menangis sejadi jadinya sambil meringsuk di jalan.


Candra tidak menduga akan menjadi seperti ini.


Karena ulah nya,sampai sampai meninggalkan luka yang sangat dalam di hati Kirana.


Tak berfikir panjang, melihat Kirana menangis.


Dia pun reflek memeluk nya.


"Aku minta maaf,aku rasa Tuhan telah menghukumku. Sekarang, aku berbalik menjadi sangat menyayangimu. Jadi kumohon,kau jangan menambah hukumanku. Beri aku kesempatan lagi..,kumohon" Candra berbisik lirih.


Perlahan Kirana melepaskan pelukan Candra.


Setelah menangis dan berteriak, seperti nya amarahnya sudah mereda.


"Kita pulang" kata Kirana pelan


Candra tersenyum senang.


Dia lalu bergegas memapah Kirana menuju motornya.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam.


Kirana sendiri merasa terganggu dengan ucapan Candra.


[ Hukuman Tuhan? Agh..,apa aku keterlaluan padanya? Maafkan aku Tuhan,aku tidak bermaksud begitu ]


****


Di dalam kamar, Kirana termenung. Matanya nanar menatap langit langit kamarnya.


Sebuah perasaan yang aneh, yang dia sendiri tidak mengerti.


"Apa yang sebenarnya Tuhan ingin dariku? Aku mencintainya,tapi DIA menjauhkan. Aku melupakannya tapi DIA kembali mendekatkan. Apa ini? Huh! Aku sungguh sangat lelah"


Kirana tau, kalau tak pantas baginya menyalahkan takdir.


Cintanya bagai layang layang yang tengah di tarik ulur.


"Aku terlanjur membencinya! Aku terlanjur menyumpahinya! Bagaimana mungkin aku menerimanya kembali? Aku harus bagaimana?hiks"


Malam itu,Kirana bergelut dengan perasaannya.


Dia harus segera bisa mengambil sikap.


Karena esok, Candra pasti akan kembali datang.


Kirana bangun mengambil minyak urut yang tergeletak di mejanya.


"Ugh! Kaki ku seperti nya buruk sekali, apa ini juga hukuman dari Tuhan karena sudah mengomel padanya? Huh! Benar benar sakit" Kirana berusaha menggerakkan kaki nya yang terkilir tadi.


"Bahkan dia masih sempat pergi untuk membeli minyak urut ini untuku"


(Epilog)


Setelah mengantar Kirana pulang ke rumah, Candra bergegas pergi ke apotik membeli minyak urut untuk Kirana.


Entah bagaimana ceritanya, kini dia begitu peduli pada Kirana.


Melihat Kirana yang kesakitan seperti tadi, rasanya sama sekali tidak tega.


Setelah mendapatkan apa yang ingin dia beli.


Candra pun kembali ke rumah Kirana untuk memberikan minyak urut itu.


"Kenapa kau kembali lagi?" Kirana yang masih duduk di teras merasa terkejut melihat Candra kembali datang.


"Aku membeli minyak urut untukmu,entah ini benar atau tidak. Tapi kata penjualnya tadi, ini sangat manjur untuk meredakan kaki yang terkilir" Candra memberikan bungkusan plastik yang berisi minyak urut pada Kirana.


"Sini aku oleskan" kata Candra sambil membungkuk


"Ehh!! Tidak usah! Biar aku sendiri saja,trimaksih. Tapi sebaiknya kau pulang" Kirana merasa canggung menanggapi sikap Candra.


"Baik lah, aku..,aku pulang dulu. Jangan lupa obati kaki mu,semoga lekas sembuh" kata Candra sebelum akhirnya pergi


****


Kring...,


Jam weker berbunyi nyaring.


Membuat pemilik nya terbangun dari tidurnya.


"Agh..,kenapa waktu berjalan cepat sekali, aku bahkan belum tidur dengan pulas! Tapi sudah pagi saja" Kirana menggeliatkan tubuhnya ke sana kemari, dia meraba kakinya.


"Kaki ku, minyak ini benar benar manjur. Sekarang, kaki ku sudah bisa di gerakan" kata Kirana sembari menggerakkan kaki nya


"Ugh! Aku malas sekali untuk bekerja. Bagaimana kalau nanti aku bertemu Candra? Apa yang akan ku katakan?" setelah kejadian semalam, Kirana belum siap untuk kembali bertemu Candra.


Entah lah, karena ucapan Candra malam itu, Kirana menjadi merasa bersalah.

__ADS_1


"Apa benar dia sudah di hukum karena aku? Tapi hukuman itu adalah sebuah rasa cinta padaku, apa karena kini dia berbalik mencintaiku, dia anggap ini sebagai hukuman?" Kirana kembali menerka nerka sendiri semuanya.


"Kalau memang dia menganggap mencintaiku itu sebuah hukuman, lebih baik aku tidak perlu menanggapinya dengan serius! Kurasa begitu lebih baik"


Kirana berusaha menenangkan pikirannya.


Dia tidak mau terpengaruh lagi pada Candra.


Dia harus kembali fokus pada hidupnya.


Bekerja dengan giat, demi meraih masa depan yang indah.


Kirana berjalan pelan melewati gang rumahnya menuju perempatan untuk mencari angkot.


Walau sudah agak mendingan, tapi tetap saja masih sedikit sakit jika harus berjalan cepat.


Setelah tertatih berjalan, akhirnya Kirana sampai di perempatan jalan raya.


"Kaki mu masih sakit, ayo aku antar saja" tiba tiba Candra datang.


[ Dia lagi, ya Tuhan!! Apa sebenarnya rencanamu? Kenapa kau terus membuatnya datang padaku? ]


Kirana terkejut melihat Candra yang kembali tiba tiba muncul di hadapannya.


"Trimakasih, aku naik angkot saja" kata Kirana datar


"Na, jangan membuat kejadian semalam kembali terjadi" Candra berusaha membujuk Kirana


[ Ah sudahlah, aku ikuti saja kemauannya, lagi pula sudah hampir terlambat. Kalau aku naik angkot,pasti akan terlambat. ]


Kirana akhirnya menuruti kemauan Candra.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam.


Kirana sendiri memang sengaja tidak ingin terlibat pembicaraan apapun dengan Candra.


Dia harus benar benar menjaga hatinya.


"Na,"


"Hemm"


"Kejadian semalam, apa kau sudah punya jawaban untuk itu?" Candra kembali mengulang perkataanya


"Apa?" balas Kirana


"Aku..,aku menyayangimu. Bagaimana perasaanmu?apa masih sama seperti dulu?" kata Candra


"Katamu,perasaan itu adalah hukuman dari Tuhan kan? Lantas untuk apa aku harus membalasnya?" balas Kirana tenang


"Biarkan Tuhan yang bekerja, kita jalani saja seperti ini. Jangan menuntut lebih" Kirana benar benar tidak ingin terpengaruh dengan Candra.


Candra hanya terdiam mendengar jawaban Kirana.


Dia sadar, kalau dirinya egois.


Meminta orang yang jelas jelas telah di sakitinya kembali untuk mencintainya.


"Baik lah,kita ikuti saja rencana NYA" kata Candra


"O iya, lain kali kau jangan terlalu baik padaku. Aku tidak ingin menjadi terbiasa. Kau tau kan betapa sulitnya aku menyembuhkan luka ku?" Kirana berusaha memperingatkan Candra.


Setelah beberapa menit perjalanan.


Akhirnya mereka pun sampai di tempat kerja Kirana.


"Nanti sore aku jemput ya" kata Candra


"Tidak usah, aku kan sudah bilang. Jangan membuatku terbiasa dengan mu" kata Kirana


Candra pasrah dengan apa yang terjadi.


Dia sudah berusaha meyakinkan Kirana kalau dirinya sudah berubah.


Tapi sampai sekarang, Kirana masih saja belum bisa menerimanya lagi.


"Baiklah, kalau kau butuh bantuan. Jangan sungkan untuk menelfonku" Candra berlalu pergi


Sepanjang jalan kenangan manis dulu bersama Kirana kembali hadir.


Saat saat di mana dia di cintai tulus oleh seorang gadis.


Dalam suka dan duka gadis itu selalu menemaninya.


Tapi karena kebodohan nya, semua menjadi seperti ini.


Candra benar benar merasa menyesal.


Dia tidak menyangka akan menjadi seperti ini.


Sementara itu di tempat kerja Kirana.


"Na" sapa Iis


"Iya" balas Kirana


"Aku lihat tadi kau datang bersama Candra ya, sepertinya kalian sudah semakin dekat" kata Iis


"Jangan berfikir macam macam" Kirana berusaha mengalihkan pikiran Iis


"Kemarin sore,aku juga lihat kau di jemput olehnya kan? Kalau tidak dekat lantas apa hubungan mu dengannya" Iis masih berusaha menginterogasi Kirana


"Itu hanya kebetulan dia lewat sini" Kirana benar benar tidak ingin membuat Iis salah paham.


"Sudahlah,percaya padaku. Dengannya aku tidak ada hubungan apa apa" hanya itu yang bisa Kirana katakan saat ini untuk meyakinkan Iis.


Walaupun Kirana sendiri khawatir.


Kalau sewaktu waktu akan kembali mencintai Candra.


Hatinya sangat lemah.


Dia takut, kalau perhatian Candra yang terus menerus akan kembali menyuburkan cinta yang selam ini telah ia kubur dalam dalam.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2