Cinta Kirana

Cinta Kirana
Cinta dua puluh


__ADS_3

...HAPPY READING...


Bagai kebun bunga yang kering.


Merindukan hujan untuk meneduhkan.


Terus bertahan meski akar sudah mulai rapuh,


Kesetiaan adalah hal yang sangat sakral dan berharga.


Meskipun tak bisa dipungkiri, kadang perlu keluar dari zona itu untuk bertahan hidup.


"Candra, aku rindu."


Hanya itu yang bisa ku ucapkan.


Sudah hampir dua bulan lamanya,tapi belum ada kabar sama sekali dari nya.


Hampir putus asa rasanya selalu menerka nerka apa yang sedang terjadi dengannya.


Nomor ponsel ibu Fatima pun tidak aktif.


"Ya Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi?"


Aku rebahkan tubuhku ke ranjang, lalu kututup seluruh tubuhku dengan selimut.


Rasa lelah, khawatir dan rindu menjadi satu memenuhi pikiran dan hatiku.


Apalagi ditambah dengan kemunculan Hakam yang secara tiba tiba, sekenario seperti apa yang tengah Tuhan siapkan untukku?


Malam berlalu begitu dingin.


Tapi bagiku tidak lebih dingin dari suasana hatiku saat ini.


Berusaha memejamkan mata dan melepaskan semuanya.


Berharap malam segera berlalu, dan ini semua hanya mimpi buruk.


Dan pagi segera datang dengan skenario cerita yang indah.


Kring,,


Bunyi jam weker di atas meja membuatku terbangun.


Kulihat dari sela jendela, matahari mulai menyelinap masuk ke kamarku.


Kulihat di sekelilingku, ku cek ponselku.


Tak ada sesuatu pun yang berubah dan tak ada kabar apapun.


Semua masih sama seperti sebelumnya, bahkan mungkin lebih buruk.


"Selamat pagi Ndra, apa kabarmu hari ini?" gumamku sambil memejamkan mata.


Sejak Candra pergi, aku selalu melakukan itu setiap bangun dari tidur.


Kata orang, setiap pasangan yang saling mencintai itu punya ikatan batin yang kuat.


Dengan membiasakan itu, aku berharap Candra akan selalu mengingatku dan akan tetap terjaga cintanya untukku.


Malas rasanya untuk berangkat kerja.


Tapi karena hari ini adalah hari peruntungan bagi semua karyawan sepertiku, maka mau nggak mau aku harus tetap berangkat.


Karena hari ini, waktunya gajian!


Seperti biasa, ada angkot yang setia menungguku di gang depan.


Yang akan mengantar ku dengan senang hati sampai ke kantor.


Mungkin karena weekeand, hari ini angkot agak sesak di penuhi penumpang.


Alih alih mencoba menikmati perjalananku, sambil melihat keluar jendela.


Halusinasi ku datang lagi!


Aku seperti melihat Candra mengendarai motor di samping angkot yang kunaiki, dan dia tersenyum padaku.


"Astaga! Ada apa denganku?" gumamku sambil mengusap mata. "Kenapa terus berhalusinasi seperti ini?"


Mungkin lumrah bagi setiap orang yang sedang dilanda rindu yang sangat.

__ADS_1


Tapi jika seperti ini terus, apa tidak mungkin aku akan menjadi gila?


Ku ketuk ketuk kepalaku, membayangkan aku menjadi orang stres seperti itu membuatku takut.


"Ada apa mba? Mba baik baik saja kan?" tanya penumpang yang duduk di sebelahku.


"Eh, iya aku baik baik saja koq," jawab ku.


Ku hela nafas panjang, mencoba menguasai emosiku.


Tak berapa lama, sampailah angkot di depan kantor.


Aku pun turun setelah membayar ongkos pada pak sopir.


"Akhirnya sampai juga," helaku lega.


Tapi tiba tiba, tebak apa yang kulihat?


Bayangan itu lagi!


Aku berhalusinasi lagi!


Kulihat seperti sosok Candra duduk di atas motor persis seperti saat biasanya dia menungguku.


Ku tutup mataku dengan telapak tangan, dan mempercepat langkahku agar segera sampai di dalam kantor.


Aku langsung duduk di bangku sambil ter engah engah mengatur nafas.


"Candra! Apa yang sebenarnya sedang terjadi denganmu?" Aku masih tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi padaku.


Apakah ini firasat? Atau hanya karena aku terlalu rindu?


"Lindungilah dia Tuhan," gumamku sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tangan.


"Na," sapa Iis tiba tiba datang mengejutkanku.


"Wajahmu kenapa pucat seperti itu? Kau sakit?" tanya Iis.


"Tidak koq, aku.., aku tidak apa apa!" jawabku sembari pura pura menata map yang ada di meja.


"Sungguh?" tanya Iis lagi seperti tidak percaya dengan apa yang ku katakan.


Aku nggak mungkin menceritakan ini pada Iis.


Di mana akan ku taruh mukaku?


Dulu aku sempat bilang padanya kalau aku membenci Candra, bahkan memintanya untuk menjauhi Candra karena alih alih nasehat yang ku karang sendiri.


Aku sudah lama merahasiakan hubungan ku dengan Candra darinya.


Hari ini, rasanya tak sanggup untuk ku fokus pada pekerjaanku.


Ada sebuah beban di otaku.


Kejadian yang menurutku halusinasi, tapi terus terulang.


Kalau tidak segera menemukan solusi, bisa bisa aku streees karena terus berhalusinasi.


Mungkin hari ini adalah hari terakhirku bekerja di sini.


Aku memutuskan untuk pindah ke tempat lain.


Memang terkesan pengecut! Berusaha menghindar.


Tapi tidak bisa kalau seperti ini terus.


Hampir di sepanjang jalan dari rumah ke tempat kerja ku, ada kenang bersama Candra.


Bukan ingin menghindarinya, tapi ini hanyalah sebuah halusinasi yang akan semakin membuat keadaanku semakin buruk.


Aku mencintainya dan aku sangat merindukannya.


Dan aku tidak mau, rasa yang seharusnya sakral untuk di jaga malah berimbas buruk pada hidupku.


Aku pun membuat surat pengunduran diri.


Kata bu bos, tidak seharusnya aku seperti ini.


Tapi apa boleh buat, bagiku cinta itu tidak hanya butuh perjuangan.


Tetapi juga butuh pengorbanan.

__ADS_1


Ku terima gaji terakhirku.


Langkahku berhenti di depan gerbang.


Untuk terakhir kalinya aku berada disini.


Berat memang, tapi ini yang terbaik.


Baru beberapa langkah keluar dari gerbang.


Bayangan itu muncul lagi, kulihat sosok yang sama dengan Candra tengah duduk di atas motor berada di seberang jalan.


"Astaga! Kenapa lagi ini? Sadar.., sadar!" aku terus bergumam.


Tapi kali ini ada yang aneh, dia bahkan melambaikan tangan padaku.


Membuatku semakin merasa merinding.


"Candra.., kau baik baik saja kan," gumam ku.


Aku takut kalau ini adalah sebuah firasat.


Segera ku sadarkan diriku, tidak ingin berfikir negatif.


Aku harus berfikir positif


"Candra pasti akan segera sembuh!"


Di tengah lamunan dan gumamanku.


Kulihat kembali di seberang jalan, dan dia tidak ada lagi disitu.


"Na!" Terdengar seseorang memanggilku dari arah samping, dan suaranya mengejutkanku.


Ku toleh ke arah suara itu, "Hakam?"


"Kau mau apa kesini?" tanyaku. Ku tatap Hakam dengan jeli, seperti ada sesuatu tapi apa?


"He..,he, maaf ya aku mengejutkanmu. Pagi tadi sebelum berangkat kerja, aku sengaja mampir kesini untuk menemui mu. Tapi tidak ketemu, makannya pas pulang aku kembali menunggumu disini. Kau juga begitu sibuk nya sampai tidak bisa mengangkat telfonku!" cecar Hakam.


Astaga! Jadi yang kulihat tadi pagi dan saat ini itu bukan halusinasi ku tentang Candra?


Tapi Hakam?


"Astaga Hakam! Bagaimana kau bisa terlihat mirip Candra? Dandananmu, gayamu, bahkan motor kalian sama!" aku terus bergumam, ada rasa kesal bercampur tak percaya.


Aku benar benar dibuat syok dengan kenyataan yang terpampang nyata di depanku.


"Na, kau kenapa?" tanya Hakam.


"Astaga! Maaf ya, kepalaku agak pusing. Aku mau pulang dulu." jawabku sambil beranjak pergi.


"Apa apaan ini? Aku hampir mengira diriku ini mengalami gangguan jiwa karena terus beranggapan kalau sedang berhalusinasi! Bahkan aku sudah mengajukan surat pengunduran diri!" aku terus bergumam tak percaya.


"Na, aku antar ya?" tanya Hakam yang ternyata dia masih membuntutiku.


[ Lihat! Bahkan tingkahnya sama seperti Candra! ]


"Tidak usah, aku pulang naik angkot saja," jawabku.


Hakam menatapku tajam, sepertinya dia tengah curiga kalu aku tidak dalam keadaan baik.


Dia pun memarkir motornya dan turun menghampiriku.


"Kau jangan ngeyel! Pakai helmnya dan aku antar kau pulang!" kata Hakam sambil memakaikan helm di kepalaku.


Dan menggandengku menuju motornya.


Entahlah, tapi kali ini aku tidak bisa menolak perintah Hakam.


Pikiranku tengah kusut hari ini.


Jangankan untuk berteriak marah menolaknya, mungkin jalan menuju rumahku sendiri pun aku lupa karena begitu ling lung nya.


Terlalu banyak hal buruk terjadi padaku beberapa hari ini.


Kemunculan sosok Hakam yang hampir mirip dengan Candra di tengah tengah rasa rinduku yang semakin menumpuk.


Aku tidak tau harus bagaimana menghadapinya.


"I miss you"

__ADS_1


__ADS_2