Cinta Kirana

Cinta Kirana
Cinta dua dua


__ADS_3

...HAPPY READING...


Pagi itu Catur menghubungi ku lewat ponsel.


"Na, kau di mana? Ada hal penting yang ingin ku sampaikan."


Entah apa maksudnya, tapi mendadak membuat perasaanku tidak enak.


Tak berapa lama setelah pesan itu terkirim, Catur muncul dengan wajah yang panik.


"Na, duduklah aku ingin bicara padamu," Catur menarik ku menuju kursi teras.


Catur menarik nafas panjang dan sedikit ter engah engah.


"Aku ingin memberitahu sesuatu padamu, tapi kau harus janji tidak akan panik!" Catur menyuruhku untuk tidak panik, tapi lihat! Sekarang dia bahkan terlihat panik.


"Iya..,iya, memang ada apa?" tanyaku.


"Ini," Catur menyerahkan ponselnya. Terlihat ada sebuah pesan di situ. Kulihat nama pengirimnya.


"Ibu Fatima?" Kutatap Catur dengan perasaan berdebar. Bahkan tanganku mulai gemetar saat memegang ponsel Catur.


Ku baca perlahan pesan dari ibu Fatima.


"Nak, maafkan ibu harus menyampaikan ini. Operasi Candra gagal, dan dia tidak terselamatkan." Bagai di sambar petir di siang hari. Tubuhku mendadak lemas tak berdaya.


Mataku mulai penuh dengan genangan air.


"Apa maksudnya ini?" Kutatap pekat Catur yang juga tengah terduduk lemas.


Oh Tuhan!! Apa maksut semua ini?


Ini kah jawaban atas penantian ku selama ini?


Apa tidak ada sedikit saja kesempatan untukku?


Air mataku mulai mengalir tak tertahankan.


Aku menangis sejadi jadi nya, bahkan aku hampir membanting ponsel Catur yang tengah aku pegang.


Aku merasa ini tidak adil untukku!


Entah apa yang kurasakan kini.


Rasa sakit hati bercampur marah dan sedih.


"Sabar Na, jangan seperti ini!" Catur berusaha menenangkan ku yang sedang menangis sejadi jadinya sembari tanganku terus menjambak rambutku sendiri.


Ingin rasanya berteriak kencang!


"Ini tidak adil Tuhan! Apa salahku?"


Marah pada takdir pun percuma.


Nasibku memang buruk.


Seketika aku bahkan benci diriku sendiri.


"Antar kan aku ke rumah bu Fatima sekarang!" Dengan sisa tenagaku aku masuk ke kamar dan berkemas.


"Tapi jenazah Candra sudah di makamkan di singapura," kata Catur sembari terus mengikutiku.


Ku tatap Catur dengan rasa marah. "Kau bohong!"


"Aku berkata benar Na, lihatlah!" Catur menunjukan kembali pesan dari ibu Fatima.

__ADS_1


"Aku tidak percaya!" Ku lempar ponsel itu ke tempat tidur. "Pokoknya kita harus ke sana sekarang!"


Catur tidak tega melihat kondisi sahabatnya sekarang.


Sejak mengenal Candra, nasib buruk selalu menghampirinya.


>>>>>>>


Pukul sepuluh pagi kami berangkat menuju kota *** untuk menemui ibu Fatima.


Aku sendiri tidak yakin dengan kabar itu.


Aku merasa ada suatu keanehan disini.


Kami berangkat dengan mengendarai kereta api.


Supaya lebih cepat kami tiba di sana.


Dan kami pun sengaja tidak ingin memberitahu ibu Fatima tentang keberangkatan kami ke sana.


>>>>>>>


Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya tepat pukul tiga sore kami sampai di sana.


Kami memilih naik taksi untuk melanjutkan perjalanan dari stasiun ke rumah bu Fatima.


Sepanjang perjalanan, jantungku tak berhenti berdegub.


Entahlah! Seperti ada sesuatu yang telah menungguku.


"Setelah sampai di sana nanti, kumohon kendalikan dirimu ya," kata Catur lirih.


Aku tak ingin menjawab perkataan Catur.


Yang ada di otakku saat ini adalah memastikan kebenarannya.


Sebuah perumahan sederhana yang dulu pernah aku hampiri.


Terlihat pintunya terbuka, dan itu jelas kalau di dalam ada penghuninya.


Kulihat di sekelilingku, tak ada bendera kuning atau tanda tanda bahwa ada orang yang meninggal di sini.


Ini semua semakin membuatku merasa curiga.


Kami memberanikan masuk ke dalam rumah itu.


Dan tepat dugaanku, ada ibu Fatima yang tengah duduk di ruang tamu dengan wajah terkejut karena melihatku.


"Nak, kapan kau datang?" tanya ibu Fatima sembari menghampiriku.


Tak menunggu lama, kupeluk bu Fatima dengan iringan tangis ku.


Aku bahkan hampir pingsan dalam pelukan bu Fatima.


"Ibu.., Candra hiks," Tak sanggup aku melanjutkan ucapan ku. Rasanya masih tak percaya dengan apa yang terjadi.


Ibu Fatima memapahku ke kursi di ruang tamu.


Dan mataku seperti tertarik untuk melihat kamar yang berada di sudut ruangan itu.


Kamar milik Candra, dulu saat pertama ke sini aku pernah masuk kedalam.


Tapi saat ini kamar itu tertutup rapat, mungkin karena sudah ditinggalkan oleh penghuninya.


Hati ku rasanya bagai ter iris pedih sekali.

__ADS_1


"Sebaiknya, kau jangan masuk ya, Ibu takut akan menambah kesedihanmu." Sepertinya bu Fatima tau tentang hal yang sedang aku fikirkan.


Setelah tenang, aku berusaha bertanya pada bu Fatima tentang apa yang terjadi pada Candra.


"Bu, apa yang sebenarnya terjadi pada Candra? Kenapa bisa begini?" Ku tanyakan ini dengan suara yang serak.


Bu Fatima melepas gandengan tangannya.


Matanya menatap jauh seperti tengah membayangkan sesuatu.


"Operasi Candra gagal, dan dokter tidak bisa berbuat lebih," Bu Fatima menghela nafas panjang, terlihat air matanya mulai menetes di pipinya. "Dan harus di makamkan di sana."


Aku merasakan kalimat yang dikatakan bu Fatima begitu berat.


Aku merasa ada yang berbeda dengan tatapannya.


Seperti ada sesuatu hal yang ingin beliau tutupi, tapi apa itu aku pun tidak tau.


Ku genggam kembali tangan bu Fatima.


Aku sangat tau perasaannya.


Kembali ku tatap pintu kamar itu, kamar milik seseorang yang ku sayangi.


Belum hilang rasa kejutku dengan kabar tentang Candra, tiba tiba! "Tante, ini aku bawakan makanan untukmu," Ada seseorang yang datang dengan membawa beberapa kantong yang berisi makanan.


Seketika orang itu terkejut melihat kami.


Terkejut melihat aku dan Catur berada di sini.


Dan sebaliknya, aku pun juga terkejut melihatnya.


"Hakam?" ucapku.


Ibu Fatima juga terlihat salah tingkah saat itu.


Seperti ada sesuatu yang di ketahui oleh bu Fatima.


"Kau, kenapa kau disini? Ada apa ini sebenarnya?" tanyaku dengan nada tinggi.


Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, tiba tiba Hakam muncul di rumah Candra!


Catur segera menenangkanku yang hampir berdiri ingin menghampiri Hakam.


"Na, sabar!" kata Catur.


"Dia ini adalah adik sepupu Candra, dia anak dari paman nya Candra," ibu Fatima segera menjelaskan semuanya sembari ikut berdiri merangkulku.


Hakam yang juga terlihat syok melihatku berada disini, mencoba tetap tenang dan diam sembari duduk di samping bu Fatima.


Kepalaku mendadak pening dengan semua kenyataan ini.


Skenario apa ini?


Semua seperti sudah di rencanakan!


Candra meninggal! tapi aku tidak melihat pemakaman nya.


Bahkan aku juga menaruh curiga pada Catur, apa iya dia juga sudah tau semuanya? Kenapa dia nampak begitu tenang?


Astaga!! otakku terasa penuh dengan tanda tanya.Tega sekali mereka mempermainkan ku seperti ini!


Sebenarnya apa yang terjadi di sini?


Perlahan kepalaku semakin berat, dan penglihatanmu mulai gelap.

__ADS_1


Tubuhku terhuyun ambruk di sofa.


Dan aku pun tak sadarkan diri.


__ADS_2