
...HAPPY READING...
Sudah hampir seminggu Kirana menjalani hari nya tanpa Candra.
Entah kenapa, dia merasa ada yang kurang dari hidupnya.
Kisah yang dulu, kini kembali terulang.
Bedanya,dulu Candra pergi karena ingin balas dendam padanya.
Dan sekarang, Candra pergi karena ada suatu hal dalam keluarganya yang mengharuskan dia dan keluarganya harus pindah.
Bayangan Candra yang selalu datang saat Kirana akan berangkat dan pulang dari kantor masih selalu tersirat.
Ucapannya yang selalu memaksanya untuk pergi bersamanya.
Sosok yang selalu muncul tiba tiba tanpa di undang.
"Heh!! Aku rinduuu" Kirana menutup wajah nya. Tak tahan dengan semua kenangan yang dia miliki bersama Candra.
"Na" sapa Catur tiba tiba datang.
"Kau kenapa?" tambahnya
"Enggak koq, memang aku kenapa?" Kirana bertanya balik pada Catur. Dia tidak ingin terlihat sangat rindu di depan Catur.
"Huu..,aku tau!! Kau lagi kepikiran Candra ya?" goda Catur
"Kalau rindu telfon aja, jangan gengsi!" Catur tak henti hentinya menggoda Kirana
"Nggak perlu di telfon tiap hari dia juga udah selalu kirim pesan koq" jawab Kirana sambil memperlihatkan deretan pesan dari Candra
Setiap hari Candra selalu mengirim pesan pada Kirana.
Seperti minum obat, Candra bahkan rajin mengirim pesan sehari tiga kali.
Ada aja yang dia katakan dan tanyakan.
Udah makan lah??
Lagi apa lah??
Catur yang melihat deretan pesan dibuat nga nga terheran heran dengan kegilaan temannya itu.
"Kau membalas pesannya kan? Jangan kebangetan begitu!! Hanya sekedar membalas pesan apa susahnya sich!" Catur mulai menceramahi Kirana.
"Iya..,iya!! Aku balas koq" jawab Kirana sebal
"Tapi??" Kirana berhenti berbicara
"Tapi apa?" sahut Catur yang penasaran
"Sudah dua hari ini dia tidak mengirim pesan padaku" jawab Kirana manyun
"Memang kau ada masalah dengannya?" tanya Catur
"Masalah apa? Bahkan sebelumnya dia bilang padaku kalau dia akan datang berkunjung" jawab Kirana
Catur terdiam.
Matanya terlihat kalau dia sedang memikirkan sesuatu.
"Kau sudah menelfonnya?" tanya Catur
"Sudah! Tapi nomornya nggak aktif" Kirana termenung sedih sambil mengotak atik ponselnya.
"Na"
"Hemm"
"Apa sekarang, kau sadar kalau kau mencintainya?"
"Entah lah!! Tapi sekarang yang aku rasakan hanya sangat rindu padanya" Kirana menjawab dengan suara serak, seperti nya dia hampir menangis karena rindu.
"Kau tenang saja, aku akan mencari tau apa yang terjadi" Catur menghela nafas panjang, dia berusaha menenangkan sahabatnya.
"Aku pergi dulu" kata Catur sambil berlalu pergi
Kirana diam tak menjawab.
Dia tidak peduli apa yang akan di lakukan Catur.
Yang di pikirkan hanya lah rasa rindunya pada Candra.
Sementara itu, Catur benar benar mencari tau tentang Candra dan keluarganya.
Dia pergi ke kampung yang dulu Candra dan keluarganya tinggal.
__ADS_1
Catur bertanya pada tetangga dan ketua RT setempat.
Setelah berkeliling, Catur pun menemukan hasil.
Dia mendapatkan nomor ponsel ibu nya Candra.
Tak menunggu lama, Catur pun menghubungi nomor tersebut.
Kring,,
Suara masih berdering, Tapi tak kunjung di jawab.
Catur tak menyerah, dia terus menghubungi nomor itu.
Setelah beberapa menit berlalu.
Untuk yang kesekian kalinya, akhirnya empunya nomor tersebut menjawabnya.
"Selamat siang, apa betul ini dengan ibu Fatima, ibunya Candra?" sapa Catur memulai pembicaraan
"Iya, ini siapa ya?" jawab Ibu nya Candra
"Ini Catur bu, teman Candra saat dia tinggal di kampung ***" jawab Catur
"Owh iya, ada perlu apa ya nak?" tanya Ibu nya Candra
"Hanya ingin tau kabarnya Candra saja, sudah dua hari ini ponselnya tidak aktif" jawab Catur
Ibunya tak menjawab lagi, Tidak ada suara dari sana.
Tetapi terlihat masih terhubung.
"Hallo..,bu..," Catur berusaha memastikan kalau ibunya Candra masih mendengarnya.
"Iya nak, maaf kan Candra ya" jawab Ibunya Candra lirih
"Kenapa minta maaf? Apa yang terjadi? Candra kenapa bu?" Catur mencecar pertanyaan pada ibunya Candra.
Dia di buat heran karena tiba tiba ibunya meminta maaf untuk Candra.
"Kemarin, Candra kecelakaan! Dan sekarang dia terbaring koma!" terdengar suara Ibunya Candra yang serak menahan tangis.
Mendengar kabar itu, Catur duduk terpaku.
Ponselnya dia genggam erat, ternyata kerinduan Kirana adalah firasat untuknya.
Diapun bergegas menemui Kirana.
Entah dari mana dia akan bercerita.
Tapi ini harus tetap dia kabarkan pada Kirana.
"Catur, kau datang lagi? Bagaimana? Kau sudah dapat kabar tentangnya?" Kirana begitu antusias ingin mendengar jawaban dari Catur.
Sesaat Catur hanya terdiam.
Tak tega rasanya menyampaikan ini pada Kirana.
Rasa rindunya yang mendalam harus mendapat jawaban seperti ini.
"Na, kau janji padaku tidak akan panik!" kata Catur
Tapi ucapan Catur malah semakin membuatnya penasaran.
"Kenapa sih?? Ada apa?" Kirana malah menjadi panik
"Aku dapat kabar dari ibunya, katanya Candra kecelakaan dan sekarang dia koma" Catur mengatakan semuanya dengan pelan, berharap tidak akan mengkagetkan sahabatnya itu.
Bagai di sambar petir! Kirana sekejap menjadi lemas dan duduk di bangku.
Tatapannya sekejap menjadi kosong.
"Kemarin dia bilang akan pergi mengunjungiku, tidak mungkin!! Ya Tuhan semoga ini hanya mimpi!" Kirana bergumam sambil menangis.
Dia tak percaya dengan kenyataan yang tengah terjadi.
Catur berusaha menenangkan sahabatnya.
"Kau tenang dulu..,jangan berfikir macam macam. Kita doa kan semoga dia baik baik saja" Catur terus berusaha menenangkan Kirana
"Aku harus melihatnya! Aku harus menemuinya! Dia tidak boleh begini! Dia berjanji akan menunggu jawabku! Catur, antar aku kesana sekarang!" Kirana bergegas masuk dan mengemas barang.
"Na, tapi jarak dari sini ke sana sangat jauh, lagi pula kita perlu biaya yang cukup banyak untuk ongkos dan hidup kita selama di sana" kata Catur
"Kita akan pergi sekarang! Pakai tabunganku saja, aku rasa ini lebih dari cukup" Kirana memecah tabungnya dan menghitung jumlahnya.
Catur masih terdiam.
__ADS_1
Kali ini dia merasa Kirana yang sudah di buat gila karena cinta.
"Catur!!! Kenapa kau masih diam saja di situ!! Cepat kemasi barangmu!!" pekik Kirana kesal karena melihat Catur yang masih diam di tempat.
Setelah melihat keseriusan Kirana.
Caturpun pulang untuk berkemas.
Siang ini juga mereka berangkat menuju kota ***** untuk menemui Candra.
Catur dan Kirana memutuskan untuk naik kereta saja.
Mereka pikir agar bisa sampai lebih cepat.
Di sepanjang perjalanan, tatapan Kirana terus pada jendela.
Mulutnya terus bergumam tidak jelas.
"Candra kau harus bertahan!! Kau tidak boleh mati!! Aku bahkan belum memberi jawaban padamu!! Apa kau tidak penasaran dengan jawabanku?" Kirana terus bergumam
"Kau bahkan sudah janji padaku akan menunggu jawabanku!! Ya Tuhan!! Kumohon selamatkan dia! Aku mencintainya!" mata Kirana terlihat basah, dengan mulut yang tak berhenti bergumam
"Na,kau tenangkan dirimu..,nanti malah kau ikut sakit" Catur berusaha menenangkan Kirana yang sudah terlihat sebam.
Hampir sepanjang perjalanan dia terus menangis.
Setelah beberapa jam perjalanan.
Sampailah mereka di tempat di mana Candra di rawat.
Mereka langsung bergegas menuju ruang di mana Candra di rawat.
Ruang ICU !!!
Setelah sampai, terlihat wanita paruh baya tengah duduk di kursi di depan ruang ICU.
"Bu" sapa Catur
"Bagaimana keadaan Candra?" tanya Catur
Ibu itu tidak menjawab, dia langsung memeluk Catur sambil terisak.
"Maafkan semua kesalahan Candra ya nak, tolong doa kan dia" tak banyak yang bisa di lakukan Catur saat itu, dia hanya bisa menenangkan Ibunya Candra.
"Kau pasti Kirana kan?" kata Ibunya Candra setelah melihat gadis di samping Catur.
Kirana langsung memberi salam pada Ibunya Candra.
Tak tahan lagi, Kirana pun langsung memeluk Ibunya Candra.
"Maafkan Candra ya nak, maafkan kalu dia punya salah" ucapan Ibunya Kirana malah semakin membuat Kirana menangis.
Suasana menjadi bertambah haru, ketika Kirana melihat Candra dari balik kaca.
Berbagai alat terpasang di tubuhnya.
"Candra..,kumohon bangunlah!! Aku sudah disini..,Tuhan!cukup sudahi hukumanmu!! Aku memaafkan nya!! Aku mencintainya!! Aku tidak ingin kehilangannya!!" Kirana terus berdoa dan berdiri di depan kamar ICU.
"Bu, bagaimana ceritanya Candra bisa mengalami seperti ini?" Catur yang masih duduk bersama Ibunya Candra berusaha bertanya kejadian yang membuat sahabatnya terbaring seperti ini.
"Sebelumnya Candra bilang kalau setelah pulang kerja, dia akan mengunjungi calon mantu ibu, begitu katanya. Tapi pas dia pulang kerja, dia mengalami kecelakaan" Ibunya Candra tak sanggup menceritakannya lagi.
Air matanya terus menetes.
"Ini, ini Kirana kan?" kata Ibunya Candra sambil memperlihatkan sebuah foto
"Foto ini selalu Ibu lihat di kamar dan dompetnya, saat Ibu tanya siapa dia, Candra menjawab kalau ini adalah calon mantu Ibu" Ibu Candra menunjukan foto itu pada Kirana.
Foto itu adalah foto yang diambil Candra saat malam pergantian tahun.
Dan dia masih menyimpannya.
Kirana duduk terdiam.
Timbul rasa bersalah yang besar dalam benaknya.
Rasa marah pada dirinya sendiri.
Tangannya mencengkeram erat.
"Semua ini salahku!! Aku egois!! Maafkan aku ndra!!" Kirana tak tahan lagi dengan perasaannya.
Selama ini dia terus berfikir negatif pada Candra.
Selalu meragukannya.
Bahkan sempat berfikir, kalau memang lebih baik dia di hukum Tuhan.
__ADS_1
"Maafkan aku!! Tolong bangunlah!! Sekali ini saja Tuhan!! Biarkan dia tetap hidup"