
...HAPPY READING...
Ibu Fatima membawakan segelas teh untukku.
Beliau terlihat tidak tega melihat kondisiku.
Di sisa tenagaku saat ini, ku beranikan untul melempar tatapan kesal pada Hakam yang juga tengah duduk di depanku.
Aku benar benar sebal padanya, dari awal sebenarnya aku sudah curiga padanya.
Tapi saat itu aku belum punya bukti apapun.
Huh!! Geram rasanya melihat wajahnya yang pura pura tidak bersalah seperti itu.
"Kau sudah baikan nak?" tanya bu Fatima sembari duduk di samping ku.
"Iya, sudah agak mendingan koq," jawabku.
"Kau jangan bersedih terus meratapi Candra, jangan siksa dirimu. Kau masih punya masa depan yang bagus, kejarlah! Ibu yakin, kalau Candra juga tidak ingin kau terus bersedih seperti ini." Ucapan bu Fatima tentu tidak sekedar menghiburku saja, aku merasa ada maksud lain di balik semua ini.
"Maafkan saya bu, tapi kurasa ini tidak akan mudah," jawabku lirih.
Bagaimana aku tidak syok, tiba tiba datang berita duka tentang Candra tanpa aku tau pemakaman nya.
Di sertai munculnya Hakam yang mirip sekali dengan Candra yang ternyata ia adalah adik sepupunya Candra.
Dan lihat!
Bahkan di rumah Candra tidak tampak seperti sedang berduka.
"Maaf kalau ibu lancang, tapi ibu lihat kau dan Hakam sudah saling mengenal kan? Ibu dengar kau ini mantan pacarnya Hakam." Aku tau maksud dari ucapan bu Fatima, tapi jujur aku tidak suka dengan ucapannya.
"Apa maksud ibu?" tanyaku.
Bu Fatima menggenggam tanganku dengan lembut.
Beliau tidak ingin aku menjadi salah paham akan maksud ucapannya.
"Ibu hanya ingin kau bahagia nak, sejak Candra meminta ibu untuk melamarmu, ibu sudah menganggap kamu seperti anak ibu sendiri." Bu Fatima masih berusaha meyakinkanku.
Ku lirik Hakam yang sedari duduk terdiam dengan tatapan tajam. "Maaf bu, tapi Candra terlalu berharga untuk di gantikan dengan cowok muna sepertinya!" ketusku.
Hakam terlihat salah tingkah saat aku menyindirnya.
Terlihat dari posisi duduk nya yang berubah ubah sembari tangannya memainkan ponsel.
Catur yang sedari tadi duduk di samping Hakam, hanya terdiam menyimak saja.
Dia tau betul sifatku, aku akan memberikan balasan apapun pada orang yang baik padaku. Dan aku juga akan membenci siapapun yang dengan sengaja membohongi ataupun sengaja menyakitiku.
"Ya sudah, ibu tidak akan memaksamu. Tapi ibu harap kau mempertimbangkannya, Candra pasti lebih tenang kalau kau bersama Hakam," kata bu Fatima.
Ku tatap bu Fatima dengan tatapan heran. "Ibu begitu yakin kalau Candra akan bahagia bila aku bersama Hakam! Apa sebelumnya Candra pernah bilang seperti itu pada ibu?" tanyaku sembari menatap curiga pada bu Fatima.
Bu Fatima tertunduk diam.
Beliau terlihat merasa bersalah karena telah memaksaku untuk dekat dengan Hakam.
"Aku tau maksud ibu baik padaku, tapi aku rasa bukan dengan Hakam," Ku peluk bu Fatima dengan hangat, aku tidak ingin perbincangan ini membuat jarak antara aku dan beliau. "Aku sangat mencintai Candra bu, dia yang terbaik, aku tidak ingin menggantinya dengan siapapun."
Tak terasa air mataku kembali bergulir membasahi pipiku.
Ku eratkan pelukannku pada ibu Fatima.
Hanya lewat beliaulah aku bisa kembali merasakan kehangatan kasih sayang Candra.
"Bu, apa boleh aku masuk ke kamarnya?" ucapku meminta ijin untuk masuk ke kamar Candra. "Ada hal yang ingin aku lihat."
__ADS_1
"Sebaiknya jangan dulu nak, ibu takut akan membuatmu semakin sedih," ucap bu Fatima setelah terdiam sesaat sebelum menjawab permintaan ku.
Hah! Ya sudahlah.
Aku tidak boleh berfikir negatif pada bu Fatima.
Tidak mungkin beliau bermaksud buruk padaku.
Tapi meskipun begitu, hatiku berbicara lain.
Aku ingin sekali masuk kesana, entah Tuhan akan menunjukan apa padaku.
"Na, ada pesan dari ibumu," kata Catur sembari memperlihatkan pesan yang masuk dari ibunya Kirana.
Ibu, astaga! Aku lupa berpamitan padanya.
"Kenapa nak?" tanya bu Fatima.
"Nggak koq bu, cuma tadi aku lupa memberi tau ibu kalau aku pergi kesini," jawabku. "Bu, kurasa besok pagi kami harus pulang."
Bu Fatima kembali menatapku sendu.
Aku tau arti raut wajah itu, pasti ada sesuatu yang sebenarnya ingin sekali bu Fatima katakan padaku.
"Bu, ibu nggak pa pa kan?" ucapku sembari menghampiri bu Fatima.
Bu Fatima tersenyum lemah, meskipun begitu tatapannya tidak bisa berbohong.
Ada sesuatu yang dirahasiakan nya dariku.
"Kau pulang di antar Hakam ya," pinta bu Fatima.
"Bu..,kan sudah ada Catur," Jawabku.
Aku benar benar tidak tau dengan tujuan dan maksud bu Fatima yang seakan terus memaksaku untuk dekat dengan Hakam.
Bu Fatima tampak sedih saat aku menolak permintaan ya.
"Iya sudah aku mau!" Aku tidak tega melihat bu Fatima sedih seperti itu. "Tapi ini semua karena ibu ya!"
Aku sama sekali tidak ingin Hakam berfikir kalau aku menerimanya.
Semua ini kulakukan demi menuruti permintaan bu Fatima ibu nya Candra.
****
Malam ini kami pun bersiap untuk berkemas,
Karena besok kami harus berangkat pagi.
"Nak, malam ini kamu tidur dengan ibu ya, biar Catur tidur dengan Hakam," kata bu Fatima.
"Iya bu," jawabku.
Malam ini aku sama sekali tidak bisa tidur.
Aku duduk di teras sembari melihat foto Candra yang diberikan bu Fatima tadi untuk kenang kenangan.
Rindu sekali rasanya, walau hanya sebentar aku bersamanya. Tapi itu sudah membuatku benar benar merasakan ketulusan nya.
Tuhan lebih sayang padamu Ndra!
Di tengah lamunanku, tiba tiba Hakam datang sembari ikut duduk di samping ku.
"Candra tidak akan suka kau tangisi terus seperti ini," ucapnya dengan seenaknya.
Aku kesal sekali dengan ucapannya.
__ADS_1
Sudah salah masih saja berani ngomong seperti itu padaku.
"Aku minta maaf," ucapnya pelan.
Tapi tetap saja aku tidak ingin membalas ucapannya.
Aku sudah terlanjur kesal dan kecewa padanya.
Apapun itu alasannya.
"Sepertinya kau sangat mencintai Candra, apa Candra begitu berarti bagimu?" Hakam terus saja berusaha memulai pembicaraan dengan ku.
"Kau tau itu! Jadi jangan berusaha mendekati ku!" ketusku.
"Maafkan aku karena tidak mengatakan padamu dari awal tentang identitas ku," kata Hakam.
"Tidak penting!" jawabku.
"Kau masih kesal padaku? Sebenarnya aku juga tidak ingin menipumu, aku terpaksa!" kata Hakam lirih.
"Apa maksudmu?" jawabku.
Hakam terlihat salah tingkah menutupi sesuatu. "Tidak koq, lupakan!"
Huh! Anak ini!
Selalu saja penuh rahasia, membuatku semakin sebal.
"Sudahlah! Aku ngantuk," ucapku sembari masuk ke dalam meninggalkannya.
Langkahku kembali terhenti di depan kamar Candra.
Ada sesuatu hal yang seakan akan menarik ku untuk datang ke sana.
Mataku celingukan memastikan tidak ada orang yang melihatku saat itu.
Aku benar benar ingin memastikan saja kalau apa yang aku rasakan ini salah.
Perlahan ku langkahkan kaki ku menuju pintu kamar itu,
Dengan hati hati aku mulai akan membuka hendel pintu.
Tapi tiba tiba bu Fatima datang mengejutkanku.
"Kau sedang apa nak? Sudah malam ayo cepat tidur!" kata bu Fatima sembari menarik tanganku menuju kamarnya.
Ya Tuhan!
Hampir saja aku membukanya!
Sudahlah lupakan saja, mungkin ini hanya perasaanku saja.
Aku pun kembali ke kamar bu Fatima untuk beristirahat.
Besok pagi pagi aku harus segera pulang, kasihan ibuku.
Beliau pasti mengkhawatirkan ku.
Ku pejamkan mataku berusaha untuk tertidur.
Tapi bayangan Candra tiba tiba kembali muncul di ingatanku.
Dia tersenyum padaku, tapi ada yang aneh dengan senyumnya.
Senyum itu seperti menyiratkan suatu beban kesedihan.
Hingga membuatku ikut meneteskan air mata.
__ADS_1
Candra..,aku rindu!