
...HAPPY READING...
Kirana masih termenung di kamar nya.
Dia tengah menebak nebak, sebenarnya apa maksut Candra kembali?
"Sudah bagus bisa melupakannya, kenapa dia malah datang lagi!" Sungut Kirana.
"Na!! Jam berapa ini? Kau belum berangkat?" Teriak Ibu memanggil membuyarkan lamunan Kirana.
"Iya bu!" Jawab Kirana.
Kirana pun bergegas bersiap siap untuk bekerja.
Seperti biasa, dia berangkat kerja dengan menaiki angkot.
Sepanjang perjalanan, dia berusaha melamurkan pikirannya ke hal lain.
Kirana tidak mau terus menerus memikirkan Candra.
"Hidup ku tidak untuk memikirkannya saja! Masih banyak hal lain yang harus aku pikirkan!" Gumam Kirana.
Kirana bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fashion.
Meski begitu, tidak membuat Kirana menjadi sosok yang modelis.
Penampilannya tetap sama, kuno dan sederhana.
Tapi karena pribadi nya yang seperti ini lah, yang malah membuatnya di terima di perusahaan itu.
Jujur dan sederhana tapi tetap menarik.
Waktu berjalan begitu cepat, Kirana benar benar menyukai pekerjaannya.
Hingga tak terasa, hari telah sore.
Seperti biasa, Kirana kembali pulang dengan menaiki angkot.
Terlihat dia sedang berdiri di pinggir jalan tengah menunggu angkot yang lewat.
"Sudah hampir setengah jam aku menunggu di sini! Kenapa angkotnya nggak ada yang lewat sih? Kaki ku sudah pegal sekali rasanya!" Kata Kirana.
Kirana berjalan kesana kemari sambil menggerakan kaki nya supaya tidak pegal.
Sambil sesekali melihat jam tangannya.
Tiba tiba ada sebuah motor yang berhenti tepat di depan Kirana berdiri.
"Sudah jam segini! Angkot nggak akan lewat sini! Ayo ku bonceng kan" Kata orang itu yang ternyata adalah Candra.
Kirana benar benar terkejut, hingga menjadi salah tingkah.
"Eh, tidak usah! Sebentar lagi pasti ada angkot yang datang, aku tunggu di sini saja. Kau pulanglah dulu!" Kata Kirana menolak.
"Sudah jangan canggung gitu, ayo naik!" Perintah Candra sambil menyerahkan helm.
"Dia ini apa sengaja ya? Bahkan dia sudah membawa dua helm" Gumam Kirana.
Mau tidak mau, akhirnya Kirana menuruti perintah Candra.
Dia pulang dengan membonceng Candra.
Sepanjang perjalanan, Kirana duduk agak menjauh dari Candra.
__ADS_1
Keduanya hanya terdiam tanpa ada obrolan sedikitpun.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka pun sampai di depan rumah Kirana.
Kirana turun dari motor dan melepas kembali helm nya.
"Ini, trimakasih ya" Kata Kirana seraya menyerahkan helm kepada Candra.
"Lain kali jangan menjemputku, aku bisa pulang sendiri" Kata Kirana lagi.
"Kau ini geer sekali! Siapa yang menjemputmu? Kebetulan aku lewat situ, lalu aku lihat kau berdiri sendiri di tepi jalan. Jadi aku berinisiatif menghampiriku! Kau kan temanku! Memangnya tidak boleh aku membantu temanku?" Cecar Candra.
[ Huh,Apa iya seperti itu? Kebetulan sekali kau juga membawa dua helm ]
Dari jauh tampak Vita yang tak sengaja lewat, tengah melihat mereka berdua.
"Tuh kan, benar dugaan ku! Dasar pengkhianat!" Ketus Vita kesal.
ji
Vita terus salah paham dan menyalahkan Kirana.
Dia merasa kalau Kirana telah menusuk nya dari belakang.
Dia sama sekali tidak menyadari kalau retak nya hubunganya dengan Candra karena ulahnya sendiri.
"Kelihatannya saja polos! Tapi tega menusuk teman dari belakang! Dasar munafik!" Ketus Vita bertambah kesal.
**********
Kirana tak menghiraukan perubahan sikap Candra.
Dia cukup tau diri,
Sementara itu, di rumah Candra.
"Maafkan aku Kirana, aku memang sengaja mendekati mu hanya untuk membalas dendam pada Vita! Aku berharap dia akan marah dan menyesal karena telah mengkhianati ku!"
Sebenarnya Candra sendiri tidak tega bersikap seperti itu pada Kirana.
Dia sadar, sikap nya pada Kirana telah keterlaluan.
Dan tidak seharusnya Candra memperalat Kirana seperti ini, hanya untuk membalas dendam pada Vita.
Tapi, hanya ini satu satu nya cara untuk membalas Vita.
Candra ingin, Vita merasa menyesal karena telah membohongi Candra.
***********
"Hai Na, akhir akhir ini aku lihat kau sibuk sekali" Sapa Catur saat bermain ke rumah Kirana.
"Iya, aku kan sudah bekerja! jadi pasti lah aku sibuk" Kata Kirana.
"Bukan itu maksutku, kemarin aku lihat kau di antar Candra! apa kalian sudah baikan?" Tanya Kirana.
"Baikan?apa maksutku?" Tanya Kirana.
"Sudah, jangan berfikir sembarangan! dia hanya tidak sengaja lewat, makanya sekalian aja" Jawab Kirana.
"owh" Balas Catur sambil mencibir.
"Kau ini lama lama seperti Vita! selalu menuduhku!" Balas Kirana kesal.
__ADS_1
"Iya maaf! sudah jangan marah" Rayu Catur.
"o iya, bagaimana dengan kau dan Vita, apa kalian sudah berbaikan?" Tanya Kirana.
"Nggak tau! kemarin sih dia sempat menyapaku saat kami saling berpa pas an di jalan. Aku pikir dia sudah memaafkanku" Kata Catur.
Kirana menghela nafas panjang.
Dia tidak habis fikir.
Entah apa yang ada di pikiran Vita.
Kenapa dia marah dan bisa berfikir kalau aku sudah mengkhianatinya.
Sampai sampai seperti menjadi orang asing.
"Kau tenang saja! tidak usah di fikirkan. Nanti aku akan bujuk Vita supaya tidak memusuhimu lagi' Kata Catur.
Kirana hanya tersenyum kecut.
[ Tidak akan semudah itu, aku tau sifat Vita. Dia itu cenderung egois. Tidak mungkin dia bisa memaafkan ku begitu saja ]
" Sudah jangan repot repot! aku tidak apa apa koq" Kata Kirana
"Aku tinggal masuk kedalam dulu ya, kau nyaman kan diri saja duduk di sini" Kata Kirana.
"Kau ini, tega sekali meninggalkan ku sendiri" Kata Catur.
"Aku masih capek! aku juga belum mandi! Nih!! bau kan?" Kata Kirana seraya mendekatkan dirinya pada Catur.
"Ih!! benar benar busuk! iya sudah sana mandi!" Ketus Catur.
Kirana berlalau masuk ke dalam rumah meninggalkan Catur yang tengah asyik bermain gitar di teras.
"Andai bisa kembali seperti dulu,huh!! hanya gara gara masalah cowok persahabatan kita jadi rusak begini" Gumam Catur.
Jujur Catur rindu dengan suasana yang dulu.
Ketika setiap habis maghrib, mereka bertiga berkumpul mengobrol dan berseda gurau tanpa ada jarak.
Tapi kini, menjadi berbeda.
Karena salah paham, persahabatan yang sudah terjalin sejak kecil menjadi terpecah belah.
Entah siapa yang salah?
Catur sendiri tidak mau menyalahkan salah satu temannya.
Karena itu akan membuat mereka sakit hati.
Biarlah untuk sementara di jalani saja seperti ini.
Jangan menuntut!
Dia yakin kalau suatu saat mereka akan berbaikan lagi.
Tetapi ada sebuah pemikiran yang mengganjal di hati Catur.
"Kenapa tiba tiba Candra datang mendekati Kirana? Sebenarnya apa maksutnya?" Gumam Catur.
Catur merasa aneh dengan sikap Candra yang tiba tiba mendekati Kirana.
[ Kalau pun harus berbaikan, harusnya dengan ku dulu,aku kan teman dekatnya! kenapa malah mendekati Kirana ]
__ADS_1
...TBC...