Cinta Seputih Melati

Cinta Seputih Melati
Hongkong


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam di pesawat , dia pun sampai bandara Hongkong dan naik taksi menuju rumah orang tuanya. Tika melangkah ke rumah yang orang tuanya beli di Victoria Peak atau di kenal dengan The Peak, salah satu lokasi perumahan yang elit di kalangan konglomerat di Hong Kong.


Mulai sekarang dia akan hidup bersama anaknya di sini tadi sebelum berangkat dia sudah pamit kepada orangtuanya , dan dengan berat hati mereka menyetujui keinginan putrinya untuk mandiri dan berjanji tidak memberikan alamatnya kepada David.


Tika sudah bilang akan bercerai dari David dan orangtuanya selalu menyerahkan semua keputusan kepada anaknya, karena dia tahu anaknya pasti sudah menimbang baik dan buruknya.


Tika tidak bercerita kalo dia lagi hamil, karena pasti orang tuanya jika mengetahui hal itu tidak akan mengizinkan dia pergi.


Sore harinya Tika pergi ke pasar untuk belanja buat dia masak.


"emkoi Hong lopak keijin a?(berapa wortelnya),"tanya Tika menunjuk sayuran segar di depannya.


"Hong lopak sapman siuce(wortel 10 dolar nona)balas penjual nya dengan ramah.


"Hou..ngo yiu honglopak, yui dongmai Hai(saya mau wortel,ikan,kepiting nya)"kata Tika menunjuk wortel, ikan dan kepiting.


"Keijin jumbo?(berapa semua)," tanyanya mengeluarkan uang di dompet yang tadi dia sudah tukar di money changer.

__ADS_1


"Jumbo yat pak Man siuce emkoi( semua 100 dolar)", jawab penjual yang masih muda.


Tika memberikan uang selembar 100 dolar Hongkong lalu pulang ke rumah, tinggal selama 7 tahun di Hong Kong semasa muda membuat Tika fasih berbahasa kanton.


Malamnya dia memasak lalu menelpon temannya dulu sewaktu di Hong Kong vivi.


"Wei.." (halo)sahut suara di sebrang yang dia kenal.


"Halo Vi.." sahut Tika.


"Ini Tika..kau lagi ada di sini Tika?," tanya Vivi senang.


"Tentu saja Tika aku sudah kangen juga sama kamu , tunggu ya dalam setengah jam aku sampai sana," balas Vivi antusias.


Setengah jam kemudian


Ting... tong..suara bel membuat Tika mengintip tamunya dari lubang kecil di pintu, Dia langsung membuka pintu melihat sahabatnya berdiri di depan pintu.

__ADS_1


Mereka saling berpelukan melepas kangen.


"Wah kamu tampak agak kurusan dari terakhir kita bertemu", kata Vivi.


"Ya ayo masuk kita segera makan malam", ajak Tika.


Tika menceritakan semua yang terjadi kepada Vivi dia sangat percaya kepada Vivi mereka berteman sangat lama dan sudah seperti saudara, dulu sewaktu papanya memegang cabang di sini mereka sering pergi bersama.


"Jadi kalian sudah bercerai?", tanya Vivi.


"Aku sudah menyerahkan kepada pengacaraku Vi biar dia yang urus, yang jelas aku sudah tanda tangan." kata Tika sendu.


"Apa kamu yakin bercerai kau kan sangat mencintainya dan apa tega kau biarkan anakmu nanti tanpa kasih sayang ayahnya?", tanya Vivi tidak yakin dengan kata sahabatnya.


"Tik memutuskan masalah dalam kondisi emosi suatu saat hanya penyesalan yang ada coba selesaikan dengan kepala dingin, kamu harus dengar penjelasan David lagian Melisa kan mantannya sudah pasti dia cari cara memisahkan kalian."nasehat Vivi bijak.


"Entahlah Vi yang jelas aku mau hidup sendiri dulu, hatiku sudah terlanjur sakit, "kata Tika.

__ADS_1


"Kalo itu pilihanmu aku akan selalu mendukung mu yang jelas jangan sampai kamu menyesali keputusanmu , karena masih ada anak yang jadi korban dan David berhak tahu anaknya", kata Vivi menggenggam tangan sahabatnya.


Tika senang masih ada teman yang bisa di ajak bercerita di saat dia merasa sendirian, dia menghela nafas dadanya yang sesak mengingat semua hal yang terjadi bahkan sebenarnya dia merindukan pelukan suaminya.


__ADS_2