
Anggita POV
1 minggu setelah meninggalnya ketiga kakakku, kini keadaan kembali seperti semula. Sekarang kami tengah berkumpul di kediaman Adriana. Kini aku tengah duduk di pinggir kolam renang sambil menikmati indah nya malam
"Kak" panggil seseorang yang tak lain adalah Dreynan
"Drey. Duduk sini" kataku
"Ada yang mau aku omongin kak" katanya
"Katakan" kataku
"Masalah hak pewaris keluarga Juan" katanya sambil menunduk
"Maksud kamu apa Drey?" Tanyaku dengan sedikit emosi
"APA YANG KAMU LAKUKAN DISINI AMEL" teriakkan dari kak Arland membuat pembicaraan kami terhenti. Lalu aku dan Dreynan segera berdiri dan menghampiri kak Arland
"Kak Arland ada apa. Amel, ada apa luh kesini" kataku dengan tatapan tajam
"Saya kesini ingin bertemu dengan Tuan Muda Ray" kata Amel dengan nada ramah dan pelan
"kalau begitu masuk lah" kataku. Lalu kami masuk dan duduk di sofa ruang tamu
"Sekarang katakan apa tujuan anda kemari" kata kak Ray dengan tatapan sinis
__ADS_1
"Saya kesini atas perjanjian saya dengan Tuan Muda Kei" kata Amel sambil menyerahkan surat pemindahan saham milik keluarga Gwen
"Apa maksud nya surat ini?" Tanya kak Ray yang masih dengan tatapan sinis
"Beberapa jam sebelum insiden kecelakaan Tuan Muda Kei terjadi, saya sempat menemuinya untuk meminta kerja sama antara keluarga Gwen dengan Tuan Muda Kei Adiwijaya" kata Amel
"Kerja sama" kata kak Ray
"Saya meminta pada Tuan Muda Kei untuk menghentikan sementara pencarian Regan hingga Regan lulus dari sekolah nya. Saya tahu bagaimana benci nya keluarga Mahendra karena kematian putranya. Saya tidak meminta Tuan Muda Kei untuk melupakan masalah yang terjadi 5 tahun lalu. Tapi saya hanya meminta keringanan pada Tuan Muda Kei untuk menunda penangkapan Regan hingga dia lulus SMA" kata Amel
"Lalu apa maksud nya surat saham ini?" Tanyaku
"Ini sebagai kompensasi atas kerja sama antara keluarga Gwen dan Tuan Muda Kei" kata Amel
"Saya tahu. Saya juga sudah membicarakan itu dengan Tuan Muda Kei. Jika Regan kembali membuat masalah, maka keluarga Gwen tidak akan menghentikan kalian untuk menjebloskan Regan ke penjara" kata Amel
"Baiklah. Kalau begitu saya tidak akan sungkan untuk menjebloskan Regan ke penjara. Dan saya juga tidak membutuhkan saham keluarga Gwen sebagai kompensasi kematian ketiga kakakku" kata kak Ray yang masih dengan tatapan sinis nya
"Kami keluarga Gwen turut berduka atas kematian ketiga kakak anda. Dan juga maaf karena tidak bisa hadir saat pemakaman ketiga kakak anda" kata Amel
"Tidak apa-apa nona Gwen. Kami mengerti mengenai anda dan Tuan Julius" kata papa Gerald
"Pa, kenapa papa jadi belain dia. Karena Regan aku harus kehilangan ketiga kakakku. Bahkan mereka baru datang sekarang untuk berbela sungkawa" kata kak Ray dengan sedikit meninggikan suaranya
"Tenang lah Ray. Ingatlah sekarang kau adalah pewaris keluarga Adiwijaya. Jadi kau harus bersikap bijaksana" kata papa Gerald
__ADS_1
"Maaf. Maafkan saya nona Gwen" kata kak Ray
"Tidak apa-apa saya mengerti. Saya juga kesini juga ingin berbicara dengan nona Anggita Juan" kata Amel sambil melihat kearahku
"Bicara lah aku akan mendengarkan" kataku
"Maafkan aku. Tapi saya tidak bisa mengatakan nya disini. Saya ingin mengajak anda ke suatu tempat" kata Amel
"Kalau kau ingin bicara dengan Gita, bicara lah disini. Tidak akan kubiarkan kau membawa istriku" kata kak Arland dengan menekan kata "istriku"
"Kak Arland, Gita gpp. Gita pasti kabarin kak Arland kalau terjadi sesuatu nanti" kataku
"Hati-hati. kabarin aku jika terjadi sesuatu" kata kak Arland
"Baiklah" kataku. Lalu aku dan Amel keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil Amel. 40 menit kemudian kini kami sampai di suatu tempat seperti gudang yang sangat gelap
"Kenapa kita kesini" kataku sedikit takut
"Masuk saja nona Juan. Tidak perlu takut" kata Amel. Lalu kami masuk dan bertemu dengan seseorang
"Apa kabar Anggita. Lama tidak bertemu" kata seseorang
"K-kau Re-regan" kataku gemetaran
"Kau benar sayang ini aku Regan. Pria yang kau tolak dulu dan pria yang membunuh kekasihmu dulu" katanya. Lalu aku berjalan mundur dan berusaha kabur. Saat hendak kabur, tiba-tiba ada yang memukul tengkukku dari belakang dan samar-samar mendengar kata maaf dari seseorang
__ADS_1