
"Siapa sebenarnya wanita itu Rei?"
"Dia bukan siapa-siapa Tuan, dia hanya seorang pelayan... Anda tidak perlu khawatir karena Saya telah mengurusnya"
Justin diam dan tak lagi menggubris kata-kata Rei. Justin dan Rei segera bergegas kembali ke kantor dan kembali bertarung ria dengan tumpukan berkas yang menyakitkan mata bagi orang yang tidak terbiasa
Semakin hari Justin semakin sibuk dan semakin jarang ada dirumah. Hari demi hari Justin Lalui dengan hanya bekerja kadang dalam satu minggu Justin bahkan bisa pergi ke dua negara untuk mengurus bisnisnya
Papa Brian dan mama Alin pun benar-benar menikmati masa tua mereka.
Papa Brian membawa mama Alin jalan-jalan dan berkeliling Eropa lalu mereka melakukan apa yang tidak pernah mereka lakukan sebelum nya
Papa Brian bahagia dan mama Alin pun bahagia namun kebahagian mereka belum lengkap karena Justin ternyata benar-benar menutup hati nya untuk wanita
Hari-hari berlalu mama Alin pun mulai khawatir dengan kondisi putra nya ini.
Mama Alin takut jika malaikat maut datang menjemputnya Justin akan sendirian di dunia ini mama Alin ingin sebelum dia menutup mata Justin telah mendapatkan seorang pendamping hidup
Mama Alin pun mulai menjodoh jodohkan Justin dengan wanita-wanita anak dari teman-teman sosialitanya namun nihil tak satu pun diantara mereka yang menarik hati Justin.
Justin terlalu kaku dan banyak diam hingga kebanyakan wanita menyerah sendiri menghadapi Justin
"Aaaaaaaa"
"Iissh mama, kuping papa bisa budek mama teriak-teriak kayak gitu"
"Mama ini pusing pa, Justin itu umurnya sudah 32 tahun, TIGA PULUH DUA pa dan kita ini juga sudah tua tapi kenapa Justin masih belum menikah juga"
"Yaa terus papa harus apa ma?"
"Apa papa gak punya kenalan lagi pa yang anak nya bisa kita jodohkan dengan Justin?"
"Semua anak gadis teman papa sudah kita kenalkan semua kan sama Justin"
"Iyaa benar juga, haduuuhh anak itu sebenarnya mau apa sih? Mama pusing"
Buuukkk
Mama Alin menjatuhkan dirinya di kursi sofa yang empuk.
"Apa Justin tidak pulang lagi ma?"
"Iyaa, dia ada di Tokyo sekarang, sebanarnya Justin itu kurang apa sih? Ganteng iya, kaya iya, sukses iya, harta dan tahta juga punya tapi kenapa wanita seperti alergi sama dia, apa jangan-jangan Justin hom--"
"Huss gak baik ngomong kayak gitu, apalagi sama anak sendiri"
"Habis nya mama udah pusing... Aahh dari pada mama pusing mending mama pergi ke mall"
"Ikutttttt, papa ikut"
Papa Brian dan mama Alin pun pergi jalan-jalan bagai remaja yang sedang dimabuk cinta papa Brian dan mama Alin bergandengan tangan dengan mesra disepanjang jalan.
"Aauuu"
Buukk
Tanpa sengaja mama Alin menabrak seseorang dan membuat barang-barang orang yang ia tabrak tadi berhamburan di lantai
"Mama tidak apa-apa?" ucap papa Brian
"Mama gak papa?" ucap seorang wanita muda
"Maaf bu Saya gak sengaja" ucap mama Alin pada wanita yang ia tabrak
Mama Alin pun membantu membereskan kantong belanja yang tadi berserekan
__ADS_1
"Loh Jenni"
"Alin. Kamu Alin"
"Jenniiiiiiii"
"Aliiiiiiinnnn"
"Aaaaaa" mama Alin dan bu Jenni berteriak gembira kemudian mereka berpelukan. Jenni adalah teman mama Alin waktu duduk di bangku SMA dan mereka putus kontak saat Jenni memutuskan untuk kuliah di luar kota
"Jenni gimana kabar kamu?"
"Aku baik lin, kamu sendiri gimana?"
"Iyaa aku seperti yang kamu lihat"
"Uuhh aku kangen banget lin sama kamu, oh yaa Dea ayo salim sama temen mama"
"Dea tante" Dea salim tangan sama mama Alin dan papa Brian
"Ini anak kamu Jen?"
"Iyaa ini anak bungsu ku, aduh aku ini sudah tua cucu ku ajaa udah 3 lin"
"Aahh cantik sekali anak kamu Jen, beruntung banget kamu udah punya cucu 3 lagi"
"Lah kamu emang belum?"
"Uuhh boro-boro dapat cucu anak ku nikah ajaa belum"
"Heh apa gak salah tuh"
"Ihh ceritanya panjang. Kita ngobrol di cafe ajaa yu?"
"Ayookk ! yang dekat toko sana ajaa makanan nya enak lin"
"Hehehe"
Mama Alin dan bu Jenni pun bergandengan tangan sembari berbincang dengan kaki yang masih melangkah menuju cafe tujuan mereka. Sedangkan Dea dan papa Brian mengikuti mereka dari belakang
"Hhhmm anak ini cantik juga, kayak nya cocok sama Justin" batin papa Brian
"Nama kamu tadi Dea yaa?"
"Iyaa om"
"Eemm sekarang sibuk apa? Kerja atau masih kuliah"
"Dea kerja om"
"Wah hebat kamu wanita mandiri rupanya. BTW kerja nya dimana?"
"Dea cuma jadi model saja om"
"Oohh kamu model pantas body kamu bagus"
"Ehh maaf, gimana?"
"Aduuh kecoplosan (gumam papa Brian)"
"Ahh gak papa, maksud om penampilan kamu bagus dan menarik pantas saja kalau kamu ini ternyata seorang model"
Sesampainya di cafe mama Alin dan bu Jenni benar-benar lupa waktu, mereka bergosip dan bergibah ria entah apa yang mereka bicarakan sampai mereka pun menjadi pusat perhatian
Papa Brian pun mulai bosan untuk menunggu begitu pun juga dengan Dea.
__ADS_1
Acara temu kangen gosip mama Alin dan bu Jenni baru berhenti setelah mereka mencapai kesepakatan untuk menjodohkan Justin dengan Dea.
"Papa, pokoknya papa harus telpon Justin dan bagaimana pun cara nya Justin harus pulang besok"
"Huh papa lagi kan yang repot"
"Ihh papa ini gimana sih, kalau kita gak bertindak anak kita itu bakalan jadi bujang lapuk"
"Iyaa ma, tapi gimana caranya menyuruh Justin untuk pulang, mama tau kan kalau Justin sudah kerja dia itu tidak bisa diganggu"
"Iiyaa yaa, mmmm" mama Alin berpikir serius
"Ahhaaa papa bilang ajaa kalau mam sakit, Justin pasti pulang pa"
"Gak mau ah, gak baik ma bohongin anak kayak gitu apalagi alasan nya mama sakit ntar kalau sakit beneran gimana"
"Ayoolaah pa, ini demi anak kita"
"Hhuuufft"
"Paa"
"Iyaa iyaa papa telpon Justin"
Papa Brian pun lalu menelpon Justin tapi Justin sama sekali tidak mengangkat telpon dari papa Brian.
Akhirnya papa Brian hanya bisa menghubungi Rei, papa Brian pun berpesan pada Rei agar Justin segera pulang karena kondisi kesehatan mama Alin menurun
Tanpa berpikir panjang, Justin yang mendengar pesan papa Brian melalui Rei benar-benar langsung terbang kembali ke Indonesia.
Tidak ada yang lebih penting bagi Justin selain kedua orang tua nya
Begitu sampai di Indonesia Justin bergegas menuju rumah nya di kawasan perumahan elit di daerah L.
"Maaaa Mama" Justin berteriak memanggil mama Alin
Dalam pikiran Justin mama Alin saat ini sedang terbaring tidak berdaya di tempat tidur. Namun kenyataan yang Justin lihat berbeda, mama Alin sedang duduk santai menikmati teh di sore hari sambil tertawa dan bercanda bersama papa Brian
"Mama"
"Kamu sudah pulang Justin, Sini duduk"
"Kata papa mama sakit?"
"Tidak, papa tidak bilang mama sakit"
"Kemaren papa nelpon Rei dan bilang kalau mama sakit"
"Papa gak ngomong gitu, papa cuma bilang kalau kesehatan mama menurun"
"Itu kan sama saja dengan sakit pa"
"Iya tapi sakit nya lain, kalau ini maksudnya sakit jiwa"
"Apa!!! Papa bilang mama gila"
"Iyaa kesehatan mental mama kan bisa menurun kalau papa gak bisa buat Justin pulang"
"PA-PAAAA"
"Ma pa, Ini ada apa sebenarnya?"
"Ini besok malam kamu datang ke restoran ini dan ketemu sama dia" ucap mama Alin sembari mengeluarkan sebuah foto
"Astaga jadi mama sama papa nyuruh aku pulang cuma mau jodohin aku?"
__ADS_1
"Iihh kamu coba liat dulu foto ini baik-baik, namanya Deandra Stevani dan dia ini seorang model dan kabar baiknya dia ini anak teman mama yang sudah jelas bibit dan bobot nya"