
🌼PERGI KE AMERIKA🌼
Justin kini duduk berseberangan dengan mama Alin dan papa Brian dengan eksperi cemberut seperti anak kecil yang merajuk minta dibelikan es cream
"Kamu benar Jus mau kuliah di Amerika?"
"Justin serius dan kali ini Justin akan serius belajar, Justin akan sungguh-sungguh menimba ilmu bisnis disana agar kelak Justin bisa jadi pengusaha hebat seperti papa"
"Ohh bagus itu kalau kamu mau hebat seperti papa"
"Kamu yakin Justin, ntar kalau ditengah jalan kamu minta pulang gimana? Tiba-tiba disana kamu punya pacar lalu putus lagi trus kamu minta balik lagi ke Indonesia" mama Alin menimpali
"Itu tidak akan terjadi ma, tekad Justin sudah bulat. Justin akan giat dan belajar sungguh-sungguh"
"Bagus, papa suka semangat kamu. Oke papa setuju kamu pindah kuliah di Amerika. Kapan kamu mau berangkat?"
"Sore ini pa"
"Hah apa (kaget), yaa gak secepat ini juga Justin"
"Papa urus saja semuanya disini, Justin sore ini akan tetap berangkat ke Amerika"
Setelah mengatakan itu, Justin langsung berdiri dan pergi ke kamarnya.
Terlihat di dalam sana Justin sudah selesai mengemas barang-barang yang akan dia bawa ke Amerika.
Dua buah koper besar kini sudah siap. Dia membawa semua perlengkapan miliknya termasuk bantal dan guling yang selalu menemani tidurnya.
Entah mengapa Justin merasa kalau tidak tidur di bantal itu dan memeluk guling miliknya ini maka dia tidak bisa tidur dengan nyenyak
Justin menonaktifkan hp lama miliknya dan menyimpan itu di dalam laci yang telah ia kosongkan tadi. Dia akan meninggalkan hp itu disana, bukan tanpa alasan Justin melakukan itu.
Di dalam hp tersebut tersimpan banyak kenangan dia dengan Nita, foto-foto kebersamaanya dengan sang kekasih telah memenuhi memori di dalam hp itu
"Hiikkss hiikks Justin kamu yakin mau ninggalin mama?" ucap mama Alin tersedu
Saat ini mama Alin dan papa Brian juga Justin sudah ada di bandara. Justin ternyata tidak main-main bahkan tiket telah ia pesan sendiri.
Mama Alin sangat paham kalau anaknya ini keras kepala jadi sangat mustahil bagi mama Alin untuk membujuk Justin agar membatalkan keputusannya pergi ke Amerika
"Justin cuma pergi kuliah ma, gak ninggalin mama selamanya"
"Huuaa huuaa tapi Justin mama koq gak rela kamu pergi jauh"
"Kalau gitu mama ikut Justin aja ke Amerika"
__ADS_1
"Benarkah? serius?"
Mama Alin berbinar mendengar ucapan Justin, Mama Alin langsung menghapus air matanya karena begitu bahagia mendengar ajakan untuk tinggal bersama sang anak
"Big no, kalau mama ikut Justin ke Amerika nanti papa sama siapa ?"
"Iihh ngalah laa pa, papa kan udah tua jadi gak usah ditemani lagi juga gak papa kan"
"Mama temani papa ajaa, ntar kalau mama gak ada papa bisa kepincut janda kembang loh maa"
"Ahh iyaa benar juga kata kamu Justin. Oke mama akan tetap disini menjaga papa supaya pedang keramat papa tidak karatan"
"Whahahah" Justin tertawa terbahak-bahak
Mempunyai seorang mama yang unik dan punya otak yang sedikit gesrek memang membuat hidup Justin penuh dengan canda tawa.
Justin melupakan sejenak kesedihannya kerena tingkah mama Alin yang selalu saja nyeleneh
Seandainya boleh meminta, Justin ingin punya pendamping hiidup seperti sang mama yang penuh dengan kecerian dan kehangatan.
"Semoga suatu saat jodoh Justin adalah pribadi yang baik dan menyenangkan seperti mama" doa Justin dalam diam
Kini tiba waktunya papa Brian dan mama Alin melepaskan kepergian sang anak. Mama alin memeluk Justin erat tanda bahwa betapa dia sangat sayang pada sang anak.
Setelah melepaskan pelukan mama Alin, perlahan lahan punggung Justin menghilang dari pandangan karena sudah naik ke dalam pesawat
"Astaga wanita ini berisik sekali" batin Justin
Wanita itu memang sedari tadi menggoyangkan tangannya ke kanan dan ke kiri diikuti dengan gerakan tubuh yang seperti mengalir dengan musik. Hampir saja tangannya itu mengenai muka Justin, tapi wanita itu sama sekali tidak menyadari perbuatannya.
Mulutnya pun tidak berhenti bernyanyi mengikuti irama yang ia dengar melalui earphone.
Pesawat kini akan lepas landas, para pramugari pun mulai memberikan arahan pada penumpang demi kenyamana dan keamanan. Saat itulah sang wanita melepaskan earphone.
Saat earphone itu terlepas, terlihat sekali wajah gugup wanita tersebut. Dia seperti takut untuk naik pesawat, tiba-tiba Justin merasa kalau kursi yang ia duduki bergetar dan ternyata itu disebabkan oleh wanita disebelahnya yang tubuhnya tidak berhenti bergetar dan mengeluarkan keringat dingin
"Apa ini pengalaman mu naik pesawat nona ?" Justin mencoba untuk ramah
Namun sikap Justin ini malah disalah artikan oleh sang wanita
"Idiiihhh sombong amat, emang situ udah sering naik pesawat? pasti situ kan yang gugup enak saja nyalahin Saya"
"What the hell!!! Perasaan aku tadi cuma bertanya kenapa dikatakan aku menghina" batin Justin
Justin tidak ingin memperpanjang malasah ini, karena itulah dia lebih memilih diam
__ADS_1
Tidak lama pesawat pun mulai terbang di ketinggian
"Aaaaa bla bat blu but bla bat blu but burung babat burung bubut" wanita itu berkomat kamit tidak jelas
"Astaga kenapa aku bersebelahan dengan wanita berisik ini" batin Justin
"Hey Tuan sombong, sudah berapa kali kau naik pesawat"
"What apa dia bicara pada ku, apa dia menyebut ku Tuan sombong" batin Justin
Justin diam dan tak memperdulikan omongan orang yang ada disampingnya.
"Iisshh ternyata ni cowok menang ganteng doank taunya budek"
"Astagaa, tadi dia bilang aku Tuan sombong sekarang dia bilang aku budek. Cobaan apa lagi ini Tuhan" Justin terus membatin
Puuukkkk
Aaauuuu
Wanita itu menepuk keras lengan Justin hingga Justin meringis kesakitan
Makanya kalau orang ngomong tuh dengerin, gak sopan banget sih orang lagi ngomong dicuekin
"Maaf nona, apa kau bicara pada ku ?"
"Tidak aku tidak bicara dengan mu, aku baru saja bicara dengan jendela"
"Benarkah, kalau begitu lanjutkan, sepertinya obrolan mu dengan jendela sangat menyenangkan" ucap Justin sambil tersenyum
"Heh Tuan gila mana ada orang yang bicara dengan jendala"
"Ada koq, orang itu kan Anda"
"Wah wah wah selain sombong Anda juga pandai menghina yaa"
"Tidak Saya tidak menghina Anda, bukan kah Anda yang dari tadi mengatakan kalau Saya Tuan sombong, budek dan tidak sopan"
"Ehhhmm wanita itu berdehem karena merasa malu"
"Baiklah aku minta maaf, nama ku Shasya" ucap Shasya sambil mengulurkan tangan
"Maaf nona, tapi aku tidak bertanya" Jawab Justin jutek
"Issh dasar menyebalkan, palingan juga ke Amerika karena habis menang undian berhadiah Weeekkk" Shasya menjulurkan lidahnya pada Justin
__ADS_1
Namun Justin sama sekali tidak perduli, Justin menatap lekat pada bagian luar jendela tanpa menghiraukan Shasya yang terus saja mengoceh