
🌼WAKIL CEO🌼
Hari ini Justin sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Justin mendapatkan perawatan dokter selama dua hari berada disana dan tepat hari ini juga Tuan Brian telah sampai di Amerika
"Apa kita akan menjemput papa di bandara ma?"
"Ahh sudah lah biarkan saja papa mu itu"
"Loh kenapa? Mama ngambek lagi sama papa?"
"Salah papa mu sendiri masa waktu mama bilang kamu di rumah sakit ehh papa malah jawab mama becanda kan... Iihh yaa jelas laa mama marah"
"Haduueh kelakuan mama ini sudah seperti anak ABG saja"
"Yaa iyalah, mama kan menolak tua"
Justin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sang mama. Tapi justru sifat mama Alin yang seperti inilah yang membuat rumah tangga kedua orang tua nya harmonis
Papa Brian dimata Justin adalah pribadi yang tegas dan sangat disiplin tapi beliau selalu bersifat bijaksana dan lembut ketika menyangkut masalah dan hubungan dengan keluarga. Sedangkan di kantor papa Brian terkenal sangar dan tidak menerima kesalahan sekecil apa pun
"Tuhan boleh kah aku meminta, jika tiba suatu saat nanti aku bertemu dengan sebenar-benar nya jodoh ku. Tolong Tuhan ijinkan lah aku memiliki keluarga yang harmonis seperti rumah tangga papa dan mama. Kabulkan doa ku ini ya Allah, untuk itu mulai sekarang aku akan menunggu jodoh ku yang belum datang itu atau mungkin saja belum lahir" doa tulus Justin dari dalam hati
Ting nong ting nong (suara bel berbunyi)
"Itu pasti papa ma"
"Hhmm ya sudah sana buka kan pintu, mama mau ke kamar, kalau papa cari mama bilang kalau mama sedang tidur"
"Hhuuuftt" Justin hanya bisa menarik nafas dalam
Justin pun membuka pintu dan benar saja papa Brian sudah berdiri tepat dihadapan Justin
"Gimana keadaan kamu Justin?"
"Seperti yang papa lihat"
"Huh kamu ini membuat papa dan mama khawatir saja"
Justin diam dan tersenyum tipis pada sang papa
"Mama kamu dimana?"
"Ituuhh" ucap Justin sambil menunjuk ke arah kamar
__ADS_1
"Apa mama kamu masih marah sama papa?" ucap papa Brian sedikit berbisik
Justin tidak menjawab dan hanya mengangkat kedua bahunya sembari sedikit mencebikkan bibir
"Haduuhh papa salah lagi"
Tok tok tok
"Maa, Ini papa ! Papa boleh masuk gak ma?"
Kriikk kriikk tidak ada satu pun jawaban dari dalam sana.
Mama Alin benar-benar sudah merajuk sekarang
"Karena mama gak jawab papa masuk yaa maa"
Papa Brian pun membuka pintu dan terlihat disana mama Alin sedang berbaring dengan selimut yang menutup tubuhnya hingga bahu.
Terlihat oleh papa Brian mama Alin seperti sedang tidur tetapi tentu saja mama Alin tidak benar-benar tidur dan papa Brian pun tau itu
"Mamaaaaa, Mama ngajakin papa yaa bobo siang-siang, mama kangen papa yaa"
"What!!!! Big no" Mama Alin langsung membuka mata nya lebar mendengar kalimat manja dari papa Brian
Mama Alin mengoceh panjang kali lebar dan memukul papa Brian menggunakan bantal berulang kali.
Namun bukannya merasa sakit papa Brian justru tertawa cekikikan karena senang sekali rasanya bisa menggoda istri perajuk nya ini
"Hehehe ampun maa, papa minta maaf yaa maa. Mafin papa, ah yah yah" ucap papa Brian lagi manja sambil mengedipkan kedua matanya
"Hhmm ya udah mama maafin"
"Tuh kan istri papa ini emang baik hati udah gitu cantik lagi"
"Yaa iyaalah papa itu orang paling beruntung sejagat raya karena telah berhasil menjadikan mama sebagai pendamping hidup papa"
"Iyaa iyaaa papa emang lelaki paling beruntung sedunia"
"Hedehhh iyain ajaa deh ntar kalau dibahas lagi malah tambah panjang urusan nya" batin papa Brian
Papa Brian, mama Alin dan Justin menginap dua hari lagi di Amerika karena Justin masih menyelesaikan beberapa hal terkait masalah administrasi di kampus nya
Setelah benar-benar rampung barulah Justin dan kedua orang tuanya kembali lagi ke Indonesia
__ADS_1
"Good bye Amerika, good bye Charlotte semoga kau bahagia dengan laki-laki pilihan mu. Mulai hari ini aku berjanji tidak ingin lagi terikat dengan hubungan cinta yang tidak jelas dan aku akan benar-benar menunggu jodoh ku datang pada ku" janji Justin di dalam hati
"Wah bro selamat yaa, gila lu ninggalin gue sendiri disini"
"Heheh semangat yaa do semoga cepat lulus kayak gue"
"Haduh gue gak yakin soalnya gue dapat dosen pembimbing susah banget orang nya bribet"
"Pepet ajaa terus do, masa cuma jago pepet wanita dosen itu juga harus dipepet biar cepat lulus"
"Iyaa iyaa"
"Om sama tante hati-hati dijalan yaaa"
"Iya do, kamu juga harus hati-hati disini. Makasih loh yaa kamu sudah mau menemani Justin disini"
Edo pun salim dengan kedua orang tua Justin setelah itu Edo dan Justin berpelukan lalu melakukan tos persahabatan mereka.
Edo memperhatikan langkah sahabat dan kedua orang tua nya itu sampai tubuh mereka sudah tidak dapat lagi terlihat oleh pandangan mata Edo barulah Edo pergi dari bandara tersebut
Singkat cerita Justin sudah seminggu berada di Indonesia dan rencana nya hari Justin akan mulai bekerja di perusahaan papa nya sebagai wakil CEO
Papa Brian menempatkan Justin sebagai wakil CEO agar Justin bisa belajar dari sang papa sebelum Justin nanti benar-benar siap untuk memegang tampuk kekuasaan sesungguhnya di perusahaan ini
Tentu saja Justin harus benar-benar belajar dengan serius karena sebagai anak tunggal satu-satu nya maka dia adalah harapan terakhir dari kedua orang tua Justin untuk menjadi pewaris dari bisnis turun-temurun mereka.
Justin pun mendapatkan seorang asisten dan dia adalah anak dari asisten Tuan Brian pak Seno dan nama asisten baru Justin adalah Reivaldi Senopati
Tuan Brian pun memimpin rapat direksi dan memperkenalkan Justin sebagai wakil CEO yang baru.
Tuan Brian berpesan agar semua dewan direksi memperlakukan Justin sebagai mana karyawan pada umum nya dan tidak ada yang boleh memandang Justin sebagai anak dari Tuan Brian jika sedang berada di kantor atau jika sedang dalam urusan pekerjaan
Justin tidak boleh di istimewakan, dia mendapatkan hak dan kewajiban yang sama di perusahaan WinsFood ini. Begitu lah apa yang disampaikan Tuan Brian harus dipatuhi oleh semua dewan direksi dan juga pemegang saham yang lain
Justin dan Rei pun mulai bekerja sesuai dengan arahan dari Tuan Brian. Justin yang memang berkuliah di jurusan management bisnis sudah familiar bagi nya berurusan dengan tumpukan berkas terlebih lagi tempat dia magang dahulu adalah sebuah perusahaan internasional yang popularitas nya bukan kaleng-kaleng di dunia
Justin pun mulai dengan serius mepelajari tumpukan-tumpukan berkas yang ada di meja kerja nya. Seperti nya Justin akan menyukai kesibukannya ini, semakin ia sibuk maka ia akan semakin lupa dengan masalah hati.
Kini Justin benar-benar sudah tidak perduli dengan urusan cinta
Justin sudah tidak mau disibukan lagi dengan yang namanya wanita. Kini motto hidup Justin adalah kerja kerja dan kerja tidak ada lagi selain itu
Justin bertekad agar dia bisa membawa perusahaan papa nya ini menjadi lebih maju dan bisa menyentuh pasar internasional juga.
__ADS_1