
Billa semakin cantik setelah mengubah penampilannya. Tidak menjadi cewek cupu dan memakai kacamata bulat bahkan sekarang penampilannya lebih stylish dan elegan.
Andrian semakin terpesona melihat Billa setiap mereka bertemu. Billa semakin cantik dan kalem, namun Andrian semakin cemburu jika ada yang menggoda Billa.
Ada apa dengan perasaan Andrian? Selama ini tidak pernah jatuh hati namun Billa adalah orang yang asik untuk diajak ngobrol serta bercanda. Membuat keduanya saling nyaman satu sama lain.
"Wah ... Kamu cantik sekali, Billa," puji Andrian ketika mereka sedang membaca buku di perpustakaan kampus.
Billa memakai rok hitam levis dan baju berwarna pink kekinian. Terlihat lebih modis dan stylish, saat Billa melepas kacamata dan rambutnya terurai.
"Aku memang cantik kak ... Sudah deh jangan puji aku lagi," jawab Billa sambil bercanda namun sudah salah tingkah.
Mereka semakin sering bertemu, dari pertemuan. Mereka semakin saling nyaman dan sama-sama takut kehilangan, bahkan keduanya sama-sama gengsi untuk mengungkapkan. Mempunyai perasaaan yang sama yaitu perasaan berbunga.
"Dik, kakak ini suatu saat berjodoh sama siapa? Apakah ada perempuan mau sama kakak, sebab kakak kamu ini nakal, brutal dan jahat," Andrian bertanya perihal masalah jodoh kepada Billa.
"Saya mana bisa menebak, siapa yang akan menjadi jodoh, Kakak." Billa menjawab sambil tertawa.
Jodoh tidak bisa ditebak, bahwa suatu saat Andrian berjodoh dengan siapa. Billa menyarankan bahwa Andrian harus mencari wanita baik-baik untuk dijadikan istri dan banyak perempuan sekarang, hanya mau uang pria saja.
"Apakah aku bisa dijodohkan dengan wanita baik-baik?" tanya Andrian.
"Kak jangan meminta jodoh yang baik tetapi sebelum meminta. Cobalah kakak introspeksi diri dulu, apakah sudah pantas dengan perempuan baik-baik." Billa memberikan masukan kepada Andrian, sebab kasihan di cewek. Jika pria masih saja sifatnya takutnya nanti si cewek makan hati.
"Apakah aku tidak pantas bertanya tentang jodoh terbaik?" tanya Andrian.
"Tidak pantas dong, kak. Sedangkan kakak tidak berubah. Masih terlibat pergaulan bebas dan gonta ganti cewek." Billa membahas kehidupan Andrian yang masih hitam dan terlibat pergaulan bebas.
"Billa, kakak ingin berubah menjadi lebih baik kedepannya. Tolong bantu kakak untuk berubah," Andrian meminta untuk didukung dan disuport oleh Billa.
Andrian ingin berubah karena Billa, semenjak mengenal Billa. Ternyata Billa membawa perubahan positif dalam hidup Andrian yang berandalan dan terlibat pergaulan bebas mendapatkan pencerahan.
Andrian iri dengan kehidupan Billa berasal dari keluarga harmonis. Mempunyai orangtua yang care dan peduli dengan anak, hingga Andrian bermimpi ingin mempunyai keluarga seperti Billa.
Andrian dengan sejuta keinginannya, jika suatu saat nanti. Tidak mendapatkan kehidupan keluarga harmonis dari kedua orangtuanya, maka Andrian akan pastikan kehidupannya bersama keluarga kecilnya juga harus harmonis. Jika suatu saat membangun rumah tangga bersama pasangan hidupnya.
__ADS_1
"Baik ... Aku akan mengubah kakak menjadi lebih baik," jawab Billa akan menuntun Andrian.
"Terimakasih, Billa." Andrian tersenyum bahagia ketemu dengan gadis yang baiknya minta ampun, bahkan cara bicaranya lembut dan santun.
"Jangan malu-malu minta bantuan, Billa akan siap membantu, Kakak."
"Oke deh, Billa."
Andrian mengajak Billa untuk bertemu dengan orangtua Billa. Sudah lama Andrian tidak kerumah orangtua Billa dan pria itu sudah nyaman dengan keluarga Billa.
"Billa, kakak ingin kerumah, kamu." Andrian mengajak Billa.
"Ayo kak ... Orangtua Billa udah nanya sama aku. Kapan kakak datang kerumah?"
"Hari ini juga bisa,"
"Boleh juga tuh kak ..." jawab Billa.
Billa dan Andrian singgah ke swalayan untuk membeli buah-buahan, makanan dan minuman. Untuk dibawa kerumah Billa sebagai oleh-oleh dalam bertamu.
Selesai membeli oleh-oleh mereka langsung tancap gas menuju rumah Billa. Sandro ayah Billa sedang kurang enak badan, demi mengambil hati orangtua Billa, pria itu membelikan bandrek.
"Dirumah, lagi kurang enak badan."
"Ayah lagi sakit, baiklah ... Aku akan membelikan bandrek untuk, Ayah," Andrian perhatian.
"Hmm kamu baik banget sama, Ayah." balas Billa sambil senyum.
"Gue memang perhatian sama calon mertua loh."
"Apa? Calon mertua? Memang kakak mau nikahi siapa?" tanya Billa.
"Mau nikahi kamu dong," celetuk Andrian berharap Billa menjadi istrinya.
"Istri ... Tidak mungkin aku menjadi istri kakak dong," Billa tidak mau berjodoh dengan Andrian.
__ADS_1
"Kamu jangan begitu, suatu saat kakak jadi istri, kamu. Bagaimana? Apakah kamu bisa menolak takdir," celetuk Andrian kepada Billa bahwa pria itu sudah menginginkan Billa menjadi istrinya.
"Tidak mungkin, Kak. Hal itu tidak mungkin terjadi." Billa menggelengkan kepala.
"Kita lihat saja nanti ..."
Didalam mobil mereka bercanda bahwa Billa tidak mau menjadi istri Andria. Omongan itu hanya sekedar candaan namun Billa sudah menggangap serius.
Sampailah mereka dirumah Billa. Orangtua Billa sedang rebahan karena kurang enak badan dalam kamar, Billa memanggil ayah dan mamanya di kamar.
Tok Tok Tok Tok
"Mama dan Ayah ada tamu. Andrian datang bertamu," Billa menyampaikan kepada ayah dan mamanya. Bahwa Andrian datang bertamu kerumah.
"Sebentar ... Tunggu diruang tamu dan buatkan minuman," sahut mama Cia dari dalam kamar.
"Oke, Ma."
Billa menyuruh Andrian untuk duduk dulu di sofa. Sebab orangtua Billa meminta Andrian untuk menunggu, mereka akan keluar dari kamar sebab kurang enak badan karena baru pulang dari perjalanan keluar negeri dua hari yang lalu.
Sandro dan Cia keluar dari kamar dan orangtua ini menyapa Andrian sudah menunggu diruang tamu serta Andrian menyalin tangan Sandro dan Cia.
"Nak Andrian, maaf lama menunggu soalnya kami berdua kurang enak badan," sahut kedua orangtua ini meminta maaf.
"Tidak apa-apa, ini ada oleh-oleh tidak seberapa dari Andrian. Mohon diterima Ayah dan Tante." Andrian menyerahkan oleh-oleh kepada Cia.
"Tidak perlu repot, Nak. Kehadiran kamu saja sudah membuat kami bahagia," Cia merasa bahagia dengan kehadiran Andrian.
"Nah entah tuh! Sudah aku bilang sama dia Ma. Jangan bawa oleh-oleh, tanpa oleh-oleh pun. Mama dan Ayah pasti tidak akan mengharapkan itu," sambung Billa.
"Ayo duduk, Nak. Jangan berdiri saja nanti kamu capek." Sandro menyuruh untuk duduk lalu Sandro membisikkan ditelinga istri supaya menyuruh Bibi Sari untuk masak sebab Andrian datang. " Sayang suruh Bibi masak dong," Sandro menyuruh istrinya untuk memberitahu bibi untuk masak.
"Oke, Sayang. Nak Andrian kamu jangan pulang dulu, kita makan dulu dirumah Tante dan biar Bibi yang masak." Cia menyuruh Andrian untuk menunggu.
"Tidak perlu repot-repot, Tante." Andrian merasa sungkan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, anggap saja rumah sendiri Nak."
Andrian merasa kagum dengan keluarga Billa bahwa kedatangannya pun, masih disambut dengan istimewa merasa bahwa hidupnya di spesial kan oleh keluarga Billa.