
Terdengar kabar, bahwa mama menikah lagi dengan pria brondong. Pria itu bukan kekasihnya dulu, melainkan pacar baru sang mama berumur 29 tahun. Sedangkan sang mama kini sudah berumur 47 tahun.
Andrian melemparkan gelas ke dinding dan meremukkan frame foto. Akhirnya foto Frame tersebut mengenai tangan Andrian pada saat berada di ruangan pribadinya sendiri di restoran miliknya.
Billa melihat dengan matanya pada saat membuka pintu ruangan Andrian. Wanita itu terkejut, saat hendak mengantarkan makan siang mendapati Andrian tangannya sudah penuh luka, mengenai pecahan kaca.
"Abang Andrian ...," teriak Billa dari balik pintu berlari menghampiri Andrian dan memegang tangan Andrian.
Andrian yang termenung serta tidak bisa mengontrol dirinya. Saat melihat Billa langsung menghentakkan tangannya sendiri ke dinding, kemarahan Andrian memuncak saat mendengar kabar yang tak diinginkan tersebut.
"Keluarlah, Billa!" teriak Andrian meminta Billa keluar.
"Abang mengusir Billa? Abang ada masalah cerita sama, Billa." Lalu Billa langsung mengambil perban di kotak yang ditaruh dalam lemari.
"Sudahlah jangan pedulikan Abang. Aku ini tidak berguna dan tidak terima dilahirkan dari keluarga hancur," teriak Andrian, pada saat kemarahannya memuncak. Saat itu jugalah Billa menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya.
Billa berusaha menenangkan Andrian menyuruh pria itu menghela nafas terlebih dahulu. Barulah mereka akan bercerita baik-baik, ada masalah apa yang sebenarnya menimpa Andrian.
"Bang, jangan seperti ini. Jika ada masalah cerita dan tenangkan pikiran, abang." Billa berusaha untuk mengerti dan berbicara lembut kepada Andria. Sebab Billa mengerti saat ini Andrian sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Dek, keluarlah. Jika Abang sudah tidak lagi marah, barulah abang akan bercerita semua sama Adek. Takutnya nanti Adek menjadi sasaran pelampiasan kemarahan," kata Andrian tidak mau menyakiti hati perempuan yang dicintainya.
Billa tetap mempertahankan berada di ruangan Andrian. Billa tidak peduli menjadi sasaran kemarahan Andrian, Billa ingin mengetahui masalah Andrian. Takutnya ketika Billa keluar dari ruangan, Andrian akan menyakiti diri sendiri dan membuat tubuhnya terluka seperti yang dilakukan pada saat pagi hari ini.
__ADS_1
"Tidak, Bang! Adek akan tetap disini dan mendengarkan cerita, Abang. Walaupun Adek menjadi sasaran pelampiasan." Billa menerima saat nanti Andrian akan memakinya. Billa mengerti, bahwa kemarahan Andrian hanya sesaat.
"Dek, jangan. Abang tidak mau ketika berada dibawa sadar kemarahan. Abang takut membuat adek terluka ketika Abang tidak bisa mengontrol kemarahan ini, biarkan Abang berusaha menenangkan diri dulu di ruangan Abang ini," kata Andrian, sebab mereka mau menikah. Takutnya ketika keluar kata-kata kasar, Billa akan terkejut nantinya dan tidak akan melanjutkan pernikahan bulan depan.
"Baiklah, Bang," jawab Billa.
Billa pun tersadar berusaha untuk memberikan waktu, bahwa saat ini Andrian sedang butuh ketenangan. Segera Billa keluar dari ruangan.
Namun Andrian langsung memanggil Billa untuk masuk kembali dan jangan keluar dari sana. Sebab Andrian takut sendirian dan butuh teman, untuk mencurahkan segala kegundahan dalam hati. Belum bisa menerima kehidupan keluarga yang hancur dan berantakan.
"Dek, masuklah ...," teriak Andrian memanggil kembali, ketika Billa hendak meninggalkan ruangan.
"Abang menyuruh Billa pergi? Mengapa memanggil kembali," jawab Billa terenyuh hatinya, saat pacarnya memanggilnya masuk kembali keruangan.
Andrian menangis akhirnya air mata sang kekasih Billa. Membasahi baju yang dipakai oleh Billa pada saat itu. Billa balik membalas dengan pelukan erat dan mengelus rambut Andrian dengan lembut.
"Bang kenapa ...?" tanya Billa kembali dengan suara lembut.
Suara lembut saat Billa bertanya itulah bisa menenangkan Andrian. Lalu Billa dirangkul Andrian, untuk duduk di kursi. Segera Andrian akan segera memulai curahan hati yang terdalam dengan masalah keluarga yang membuat hancur.
"Abang sudah hancur, Dek! Dihancurkan kembali sama keluarga, saat Abang sudah mulai berubah! Lantas apakah Abang bisa menerima hidup?" kata Andrian kepada Billa untuk mengerti.
Billa memeluk kembali Andrian, berusaha untuk memberikan suport, bahwa kekasihnya tersebut akan kuat menghadapi semua cobaan dalam hidupnya.
__ADS_1
"Bang percaya sama Adek, bahwa Abang ini tidak hancur, jika hancur masih bisa diperbaiki. Sebab berapa banyak Orang yang sudah hancur, masih bisa diperbaiki dengan perubahan mencolok." Nasehat luar biasa dari Billa.
Andrian sangat beruntung mempunyai kekasih. Bisa menyuport hidupnya, saat itu juga Andrian teringat, bahwa dulu dirinya adalah pria berandal, pemabuk, kasar, suka main tangan dan terlibat pergaulan bebas lebih dalam.
Namun sang kekasih mampu mengeluarkan Andrian dari zona bahaya masuk kedalam Zona aman. Andrian juga menyadari jika Billa tidak berada di sampingnya, mungkin Andrian akan lebih jauh jatuhnya ke dalam pusaran lingkaran hitam berbahaya.
Andrian mulai menceritakan, bahwa dirinya tidak bisa terima. Kini Mamanya menikah lagi dengan pria berondong, pria tersebut terpaut 18 tahun lebih muda dari sang mama. Saat itu juga Andrian merasa kecewa berlarut-larut dengan Orang tuanya.
"Dek ... saat ini mama abang sudah menikah lagi. Abang menjadi marah, mengapa mama harus seperti ini? Sudah tua, haruskah menikah lagi?" kata Andrian, anak mana yang bisa menerima mamanya menikah lagi dengan pria lebih muda.
"Bang, aku mengerti perasaan Abang saat ini pasti bercampur aduk. Bang yang sabar dengan keadaan," sahut Billa hanya bisa menyuport sang kekasih, tidak untuk mencampuri urusan kedua Orang tua Andrian karena Billa mengerti. Tidak mudah menjadi seorang istri dari suami yang suka main kasar dan menyakiti.
"Dek, bagaimana Abang bisa menerima ini semua? Abang ini sudah dihancurkan oleh keluarga. Kembali dihancurkan kembali oleh keluarga, Abang." Pada saat itu juga Andrian kembali menangis, mencurahkan isi hati yang terpendam.
Belum sembuh luka dimasa lalu, belum sembuh dendam terhadap keluarga dan belum pulih ingatan pada saat kecil sang ayah selalu memukul mamanya sampai berdarah. Bagaimana bisa Andrian bisa hidup dalam ruang lingkup keluarga yang tidak bisa menerima hidupnya.
"Bang, percayalah wanita yang berada di samping abang ini, mampu membuat Abang berubah,"
"Te-tetapi, Dek. Abang pengen merasakan terlahir dari keluarga harmoni. Buat apa Orang tua mempunyai harta dan jabatan, tetapi gagal dalam mengurus dan mendidik anak kandungnya sendiri," keluh Andrian merasakan, bahwa Orang tuanya sudah gagal menjadi keluarga harmonis.
Pada saat itu juga Billa mengingatkan bahwa menjadi sepasang suami istri tidaklah mudah jika berada di posisi itu. Ada dua orang yang belum tentu cocok pribadi satu sama lain bahkan masih sama-sama belajar.
"Bang ingatlah dalam rumah tangga hubungan suami istri, belum tentu ada yang cocok. Dalam membina rumah tangga pun pasti ada saja masalah," ucap Billa tidak menyalahkan Andrian dan tidak menyalahkan Orang tua Andrian.
__ADS_1