
Entah apa yang ada dalam pikiran Andrian saat ini. Dengan gamblangnya, mengundur acara pernikahannya dengan Billa. Andrian tidak tahu, mau berbuat seperti apa lagi dalam hidupnya.
Bahkan terlihat raut wajah frustasi, stress dan hampir depresi menjalani hidup, dimalam kelabu itu. Andrian mencoba meraung malam dengan berjalan sendiri seperti seseorang kehilangan kesadaran karena pengaruh minuman alkohol.
Malam itu sesampainya di rumahnya Andrian meminum lagi minuman keras sekitar lima botol minuman, diremukkan sebuah botol minuman tersebut. Hingga darah segar bercucuran keluar, namun herannya Andrian tidak merasakan kesakitan.
"Apa gunanya hidup," gumam Andrian dalam hati, jauh dalam lubuk hatinya masih tersimpan buku luka yang paling dalam.
Luka tersebut tidak bisa dicatat lagi buku diary penuh penekanan setiap harinya dan kemana lagi Andrian akan mengadu tentang hidup, jika Andrian sudah kehilangan rumah pertama dalam hidupnya.
Malam itu dengan tangan penuh darah karena bekas remukkan kaca tersebut, di jam dua subuh. Andrian ingin bertemu dengan mama yang paling dibencinya tersebut.
Andrian tidak menyesali membenci mamanya saat ini. Namun Andrian membenci terlahir dari rahim seseorang ibu yang tidak bisa menjaga Andrian seumur hidupnya.
Sampai di apartemen milik mamanya, segera Andrian membuka pin sandi pintu tersebut karena pria itu mengetahuinya. Pria itu melangkah menuju ruang tamu, di sofa ruang tamu dengan tangan penuh darah membuat Rana memandang, dari ujung kaki dan kepala pria itu. Ternyata adalah anaknya Rana sudah berdiri.
"A-Andrian ...." Rana syok atas kedatangan putranya, lalu Rana melihat kearah tangan Andrian penuh darah.
Sesampainya disana, Andrian melihat sang mama sedang berduaan dengan pria. Membuat Andrian benci akan kehadiran pria tersebut, yang sudah meleburkan harapan Andrian untuk bersama Orang tua.
"Oh ini pria, sudah menghancurkan pundi kebahagian kita, Ma?" tanya Andrian wajahnya ingin marah seperti memerah dan tangannya bergetar dan giginya seperti menggesek.
"Ini Ayah baru kamu ... mari salam Ayah baru kamu, jangan berdiri terlalu lama," kata Rana meminta putranya, untuk bersalaman dengan ayah baru.
"Dihhhh. Ayah baru? Sampai kapan pun, dia tidak akan pernah menjadi, Ayahku." Andrian terlihat lantang berbicara, emosinya sudah tidak terkontrol dan malam itu diselimuti rasa kebencian yang mendalam.
__ADS_1
Melihat kedatangan putra Rana, sebagai ayah baru Irwan langsung menorehkan senyum di pertemuan pertama kali. Namun saat Irwan tersenyum, Andrian malah membuang wajah tak sudi membalas senyuman suami baru mamanya.
"Perkenalkan, nama saya Irwan ...." Pria bernama Irwan tersebut mengulurkan tangannya, dengan putra dari istrinya saat pertemuan itu.
Andrian terdiam rasanya tidak sudi mengulurkan tangan. Rasanya tidak ingin merendahkan harga dirinya, hanya karena ingin mengenal suami baru sang mama.
"Aku tidak sudi berkenalan denganmu! Lebih baik kamu turunkan saja tangan," kata Andrian dengan lantang sama sekali tidak menghormati Irwan.
Melihat anaknya berprilaku tidak sopan serta segan kepada brondongnya. Rana menatap kearah putranya dengan tajam, dia memang salah. Lantas mengapa sasaran kemarahan Andrian suami barunya.
"Kamu bisa marah sama, Mama! Te-Tetapi tidak begini caranya, lantas, kamu membenci suami mama juga." Rana tidak mau putranya membenci suami barunya.
Rana mengenal baik pribadi suami barunya yang terbanding terbalik dengan suami pertamanya. Bahkan Ayah Andrian juga mengetahui, bahwa istrinya sudah menikah lagi. Namun tidak membuat kaget Ayah Elsh karena mereka juga sama-sama selingkuh saat ini.
"Mengapa Ayah marah, dia juga selingkuh bahkan sudah punya anak dari perempuan lain." Rana menjelaskan, bahwa tidak cuma suaminya yang bisa menikah lagi, dirinya juga bisa melakukan hal itu.
Mendengar pengakuan sang mama, Andrian menghentakkan tangannya ke dinding rasanya tidak terima. Rumah tangga apa diantara mereka? Tidak pernah saling menasehati! Bahkan terlihat tidak peduli satu sama lain.
"Jika Ayah tidak marah, mengapa kalian masih membangun rumah tangga?" jelasnya ingin pengakuan dari sang mama.
Rana mempertahankan rumah tangga bersama Elsh, hanya karena sebuah harga diri dan harkat dalam keluarga. Sebab dalam kedua keluarga pasangan ini belum ada yang bercerai.
Mereka akan di asingkan nantinya, jika sampai mereka bercerai. Namun Rana dan Elsh menyembunyikan, bahwa kini sudah mempunyai pasangan baru lagi namun tidak untuk bercerai.
"Alasan mama dan ayah tidak bercerai? Sebab kami hanya mempertahankan sebuah harkat keluarga, memang! Ada kamu lihat, dalam keluarga mama dan ayah, bercerai?" ucap Rana pada putranya tersenyum sinis seperti menyindir.
__ADS_1
Andrian tidak berkutik atas perkataan mamanya. Tangannya, seperti menggengam bahwa keadaannya. Sedang tidak baik-baik saja sekarang. Kehilangan rumah bahkan kehilangan harapan untuk bahagia.
"Dari Mama dan Ayah aku belajar! Bahwa aku tidak bisa merasakan bahagia, lantas suatu saat nanti, apakah aku bisa bahagia dengan jalan hidupnya?" tanya Andrian kepada sang mama dan diri sendiri, seperti menguatirkan diri sendiri bisa bahagia.
Rana menjadi lucu menertawakan kembali putranya, lalu mengelus dada putranya bahwa hidup harus bisa pandai-pandai. Sebab Rana sudah tidak peduli lagi, mengganggap Andrian bukan anaknya lagi.
"Kamu sadar! Orang tua kamu, seperti apa perjuangannya. Pakai acara kabur segala dari rumah ...!" kata Rana masih mengingat saat putranya, dengan angkuhnya meninggalkan rumah dan memilih untuk berjuang dengan masa depan, tanpa mengandalkan Orang tua lagi.
"Apakah aku haru bertahan? Rumah bisa gedung mewah, apakah putra kalian bisa bertahan tanpa kenyamanan?" teriak Andrian dihadapan sang mama.
"Dasar anak biadab, kamu! Sudah diberikan kemewahan, masih saja ngeluh! Jika kamu yang bekerja sewaktu kecil, apakah kamu sanggup. Membesarkan diri tanpa diberikan nafkah?" kata Rana membahas masalah pengorbanan dan nafkah.
Buat apa punya Orang tua, bagi Andrian sudah kelewatan. Jika seorang mama selalu membahas masalah nafkah, pengorbanan dan hidup serba tidak kekurangan.
"Aku tidak meminta banyak harta! Aku minta perhatian,"
"Dasar anak bodoh, Kami! Kamu meminta perhatian, jika tanpa nafkah Orang tua, kamu bisa berkembang sendiri? Apakah kamu bisa besar sendiri, jadi orang jangan terlihat bodohnya!" ucap Rana memaki-maki anak sendiri di depan suami baru.
Suami baru tidak suka dengan keributan meminta Rana, untuk tidak bersuara keras apalagi sampai memaki anak. Irwan tidak tega melihat tangan pria itu bercucuran darah segar, langsung mengambil perban ditaruh diatas lemari dan mencoba mendekati Andrian. Untuk membersihkan luka Andrian pada saat itu.
"Mau apa kamu? Jangan pura-pura baik sama saya." Andrian menepis tangan pria itu, yang berniat untuk menolongnya.
"Saya mau mengobati, kamu. Lihatlah, tangan kamu terluka." Irwan dengan suara mengecil kepada Andrian.
"Tidak perlu, aku tidak butuh."
__ADS_1