
Masalah kembali berdatangan menghampiri keduanya, tidak mendapatkan restu dari Orang tua Andrian, sebenarnya pria ini tidak ingin meminta restu pada kedua Orang tuanya, buat Andrian restu dari kedua Orang tuanya tidak penting.
"Kita mau menikah, Abang harus meminta restu pada Orang tua ...," ucap Billa menyerukan, agar pria itu mau meminta restu pada orang yang sudah merawatnya selama ini.
Benci boleh, tetapi demi lancarnya sebuah acara pernikahan dan awet sebuah rumah tangga, restu Orang tua adalah hal terpenting dalam hubungan rumah tangga anak.
"Buat apa, Billa? Kita bisa menikah tanpa restu mereka. Restu dari kedua Orang tua kamu, bagi aku sudah cukup." Pria ini bersikap keras, tidak akan membukakan pintu untuk berdamai dengan ayah dan mama yang sudah merawatnya.
Billa tidak ingin sampai mereka berumah tangga. Andrian akan tetap tidak membuka isi damai, bahkan hatinya saat ini sudah tertutup terutama pada Elsh.
Sebagai calon istri, Billa mengingatkan Andrian, membenci mereka yang telah merawat selama ini, sama saja dengan tindakan tidak baik.
"Abang jadi anak harus terpuji! Walaupun Abang membenci mereka, darah mereka akan tetap mengalir sama, Abang. Tidak bisa dipungkiri, bahwa garis keturunan akan selalu tertulis," jawab Riana sambil menepuk bahu pria yang wajahnya sudah terlihat sedih dan berkaca-kaca.
__ADS_1
Andrian seakan teringat kecil hingga sampai dewasa. Andrian selalu merasakan kesunyian dalam rumah, keduanya sibuk bekerja dan selingkuh. Apapun yang dilakukan pria ini seakan mereka tak peduli, menggangap anaknya konyol.
Pria ini juga teringat saat berapa kali ayahnya membawa perempuan ke rumah. Namun mamanya seakan bersikap, seperti biasa saja tanpa respon. Lebih jahatnya kelakuan sang mama sama saja dengan kelakuan ayahnya dengan tega, membawa pria berondong masuk ke dalam kamar.
"Aku pikirkan dulu, ya, Dek. Untuk meminta restu pada mereka." Masih saja teringat sakitnya dan sulit untuk memaafkan kejadian berapa tahun silam.
"Apakah hati Abang masih menutup rapat-rapat pintu maaf? Apakah semua karena mereka tak peduli, seakan Abang tak peduli lagi dengan mereka?" tanya Billa raut wajahnya berubah menjadi berkerut, dengan sikap Andrian yang masih sulit untuk memaafkan.
Bahkan omongan tetangga membuat Andrian pada waktu itu, tidak bisa meredam emosinya lalu menghancurkan, hidup tetangganya dengan sekilas.
"Aku masih benci, Dek. Dengan semua yang terjadi dalam hidup Bang, belum bisa Abang melupakan semua yang terjadi," ucap pria itu menyentuh dahinya lalu mengambil botol minuman.
Melihat Billa sedang kehausan, Andrian dengan sigap. Menyuguhkan minuman ke gelas Billa, wanita itu merasa diperhatikan hidupnya oleh pria yang mencintainya tersebut.
__ADS_1
"Bang jangan benci, ayo bangkit lagi bersama dengan, Aku." Billa menyandarkan kepalanya di bahu Andrian, saat mereka melepas penat di ruang tamu.
Andrian tersenyum Billa menyandar manja ke bahunya, dengan memperhatikan rambut Billa yang tumbuh lebat. Segera pria ini membelai rambut wanita itu dan mengecup kening wanita itu dengan manja.
"Terimakasih, Dek." Andrian mendekapkan kepalanya ke arah wajah Billa, menatap wanita itu dan memperhatikan dengan teliti bibir wanita itu, ternyata sangat merah dan bentuknya indah bulat.
Andrian mencoba untuk mengecup bibir cantik Billa, berlahan-lahan tanpa aba-aba pria itu sudah menyentuhnya, memasukkan sekujur lidahnya untuk masuk ke dalam tenggorokan Billa.
Billa terdiam tak sadar permainan bibir pria itu, sudah membuat Billa mampu terbuai dengan reaksinya. Billa hanya diam saja tak berkutik, setelah itu perempuan ini mulai menyesuaikan mempermainkan lidahnya walau belum mahir.
Pertamanya kalinya Billa merasakan apa ciuman, wanita ini baru pertama kali pacaran dan Andrian adalah pacar pertama yang sudah membuka hatinya.
Sekitar 15 menit mereka mempermainkan lidah dan bibir mereka. Ternyata Andrian menyadari, perempuan yang sangat dia cintai tersebut belum mahir dalam hal berciuman atau memainkan lidah.
__ADS_1