
"Hey...!apa yang sedang kalian lakukan?"
Anaya terlihat bingung melihat kedua pria yang memperebutkan kursi di sampingnya .
Kemudian tertawa melihat kejadian konyol itu.
"Astaga!"
Anaya mengatupkan kedua tangannya di bibirnya melihat kondisi jidat Alan yang mulai memerah dan terlihat mulai membengkak .
"Hahahaha,apa kau tidak apa-apa kak?"
ujar Olan cekikikan sambil memastikan keadaan kakaknya tidak terjadi apa-apa.
"Olan ,bagaimana mungkin kau masih bisa tertawa,lihatlah."
Anaya menunjuk ke arah dahinya Alan yang mulai terlihat bengkak akibat benturan meja itu."Mari saya bantu berdiri."Anaya mengulurkan tangannya,berharap Alan akan menerima bantuannya.
Kini uluran tangan mungil itu disambut oleh Alan .Dia mulai menggenggam erat tangan mungil itu untuk menyeimbangkan badannya agar bisa berdiri. Namun ,tangan kirinya masih menempel di jidatnya yang bengkak itu. Dia menggosok-gosokkan tangan kirinya itu di area yang sakit itu,seolah menepis rasa sakit yang dirasakannya .
"Tamatlah riwayat ku, badai virus Corona saja belum selesai mengancam tapi masalah ku sudah bertambah rumit seperti ini,seperti nya aku tidak akan di maafkan oleh si tuan besar ini,sebaiknya aku kabur saja sebelum dia memangil malaikat pencabut nyawa untukku."
Olan memandangi lekat-lekat wajah kakaknya yang mulai terlihat murka. Dia tidak pernah melihat wajah kakaknya seseram itu. Kemudian dia mulai melangkah mundur untuk lari dari situasi itu.
"Pada hitungan ketiga aku harus lari,sebelum tuan besar ini menangkap ku lalu mengeksekusi tubuh ku ini.
1...2...3"
Tap....
Baru selangkah hendak melarikan diri tiba-tiba seseorang menarik bajunya dan menahan langkah kakinya,sehingga dia tidak bisa kabur secepat ekspektasinya tadi.
"Hei...,mau lari kemana kau!Apa kau ingin mencoba untuk lari dari ku?"
Alan menarik baju Olan kemudian menaikkan kedua alisnya dengan tatapan tajam,hingga membuat Olan takut .
"Bukan,bukan, aku tidak berniat untuk lari,aku hanya..."
Dia mencari-cari alasan agar bisa selamat.
"Hanya apa?"tanya Olan kembali dan sekali lagi dia mengerutkan dahinya .
"Hanya ingin mencarikan obat untuk lukamu itu,karena lukamu sedikit memar."Nada suara Olan mulai terdengar pelan mengakhiri kalimatnya itu.
"Ya sudah lah ,jangan bertengkar disini .Mari kita makan ,kalian mau pesan apa?"ujar Anaya mencoba memecahkan ketegangan yang terjadi .
"Sudahlah aku sudah kenyang,sepertinya nafsu makan ku sudah hilang. Kalian makan saja .Aku akan kembali ke vila."
__ADS_1
Alan meninggalkan Anaya dan Olan di restoran itu. Seandainya saja Anaya tidak ada di sana mungkin dia akan menghajar Olan saat itu.
Kini wajah Olan mulai tampak gusar,dia mulai tidak tenang.Sesekali
dia meneguk air yang digelas nya itu untuk menelan nasinya.
"Sepertinya nasi ini sudah seperti kerasnya batu saja.Meskipun aku sudah bersusah payah untuk mengunyah dan menelannya dengan air minum ini ,rasanya tetap saja .Mungkin ini juga karena suasana hatiku yang sedang tak karuan,entah seperti apa nasibku nanti di tangannya."
"Mbak tolong 1 porsi lagi dong seperti pesanan Ku tadi .Tapi di bungkus ya."ucap Anaya pada seorang pelayan restoran itu.
Anaya dan Olan sudah selesai makan .
"Ini pesanannya mbak."ucap pelayan itu sambil menyerahkan sebuah kotak makanan yang di pesan Anaya .
Mereka berjalan keluar dari restoran itu ,kemudian kembali ke vila. Lalu mencari-cari Alan .Mereka berjalan menuju kamar Alan dan Olan .
"Alan kemana ya? kok nggak ada di sini."
ucap Olan sambil mencari-cari keberadaan Alan di ruangan itu.Namun hasilnya nihil.
"coba kamu hubungi nomornya."ucap Anaya.
Olan mencoba untuk menghubungi nomor kakaknya itu,namun selalu saja panggilannya di di reject."Dia tidak menjawab panggilan ku. Panggilanku selalu di reject kak Alan."ucap Olan mulai khawatir.
"Baiklah berikan nomor ponselnya,aku akan mencoba menghubunginya ."ujar Anaya kembali.
Anaya mencoba untuk menghubungi nomor Alan,namun Alan juga tidak menjawabnya.
💬Aku menunggumu di taman villa. Datanglah ,aku juga membawakan nasi untuk mu .Aku akan menunggu mu di sana sampai kau menemui ku.
#Anaya
PING...
Suara ponsel Alan berbunyi.
Dia membaca pesan itu.Seketika matanya melotot melihat nama yang tercantum di bawah pesan itu.
"Anaya?Dari mana dia menemukan nomor ponsel ku?"ucap Olan. Kemudian di save nya nomor baru itu dengan nama ubur-ubur.
Kini Anaya sudah berada di taman vila dengan sebuah kotak nasi di tangannya dan juga kotak P3K.Namun Alan belum muncul.
Cukup lama dia duduk di taman itu menunggu kehadiran Alan .Anaya melihat jam di tangannya ,40 menit telah berlalu .
"Sudah selama ini,tetapi dia belum datang juga.Apa dia tidak akan datang?"Anaya bertanya pada dirinya sendiri.
Kini waktu terus berjalan,malam semakin larut.Anaya menghela nafasnya dan berdiri dari kursi itu hendak kembali ke vila. Namun betapa terkejutnya dia melihat kemunculan Alan yang tiba-tiba muncul di hadapannya dan sangat dekat dengannya .Bahkan dia sempat menabrak dada Alan.
__ADS_1
"astaga,Alan?sejak kapan kamu berdiri di situ?"tanya Anaya sambil menatap mata Alan dengan sedikit kesal.
"Ada apa kamu menyuruhku kesini?"Alan kembali bertanya.
"Aku hanya ingin memberikan mu ini,tadi kamu belum makan. Aku dan Olan mencari-cari mu di villa ,tapi kamu tidak ada.Makanya aku kirim pesan itu .Silahkan di makan."
Anaya menyodorkan kotak nasi dengan lauk kepiting yang di sertai dengan sayur brokoli tumis pedas.
Alan sedikit tersenyum dan membuka kotak itu.Sejujurnya di lubuk hatinya dia sangat senang karena Anaya sangat peduli kepadanya. Namun melihat kepiting yang ada di kotak itu seketika wajahnya berubah .
Alan menatap makanan itu,dia masih berfikir tentang kepiting itu.
"Loh kok gak di makan?nggak suka ya?maaf ya aku tidak tau apa menu favorit kamu ,jadi tadi aku samakan saja dengan pesanan ku."ucap Anaya sambil menatap Alan.
"Bukan,maksudku tidak seperti itu.Terimakasih yah,kamu sudah perhatian terhadap ku."ujar Alan.
"Tidak perlu berterimakasih,sebagai asisten mu aku juga harus perduli terhadap mu ,iya kan?"ucap Anaya kembali.
"Ternyata hanya karena sebatas asisten saja dia memberikan semua perhatiannya ini. Padahal tadinya aku berharap lebih dari itu."
Olan menghela nafasnya,kemudian menutup matanya ,lalu perlahan-lahan dia mulai memakan sop kepiting dan sayur brokoli itu. Ada rasa khawatir saat dia mulai menikmati kepiting itu.Namun mau tidak mau dia tetap memakannya karena tak ingin mengecewakan Anaya .
"Gimana enak ,kan?Aku sangat menyukai sop ini. Makanya aku juga memesannya untuk mu."ucap Anaya sambil tersenyum memandangi wajah Alan.
Alan hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah Alan selesai makan ,Anaya memberikan beberapa lembar tissue kepada Alan untuk membersihkan mulutnya.
Kemudian dia merogoh tas miliknya dan mengambil sebuah kotak p3k dan memilih sebuah salep yang bertuliskan THROMBOP GEL .
"Apa itu?"tanya Alan sambil menunjuk ke arah benda kecil itu.
"Oh,ini adalah obat luka memar akibat terbentur.Mari aku oleskan pada lukamu, Supaya darahnya tidak membeku dan menghitam".ucap Anaya sambil membuka salep itu dan mengolesnya sedikit di tangannya.
Alan mendekatkan wajahnya dan sedikit menundukkan kepalanya agar Anaya tidak kesulitan saat akan mengoles nya.
Anaya mengoleskan salep yang di jarinya itu dengan lembut. Sesekali dia meniup luka memar itu ketika Alan meringis kesakitan saat di sentuh.
"jika sentuhannya selembut ini ,aku akan rela terluka setiap harinya,agar dia selalu memperlakukan ku selembut ini"
Alan menatap bola mata Anaya ,seolah ia dapat melihat kelembutan hati wanita yang ada di depannya saat ini.sesekali terlihat senyuman di bibirnya itu.
"Alan,kamu kenapa?kok di wajah dan lehermu ada bintik-bintik merah?"tanya Anaya sambil mulai memeriksa badan Alan .
"Ah nggak apa-apa kok,itu hanya gatal sedikit."
ucap Alan sambil menggaruk-garuk bercak merah itu.
__ADS_1
"Sepertinya kamu alergi sesuatu,ayo kita harus segera ke dokter atau kalau tidak alergi mu ini akan semakin parah."
ucap Anaya sambil menarik tangan alan.Kini Alan hanya pasrah mengikuti Anaya karena memang rasa gatal di badannya itu sudah mulai menjadi-jadi.