Cinta Untuk Anaya Caroline

Cinta Untuk Anaya Caroline
BAB 17 I LOVE YOU


__ADS_3

"Ayo,kita mengambil obat mu dulu,setelah itu kita akan pulang ke vila."


Alan hanya menundukkan kepalanya menyetujui Anaya ,dan mengikuti langkah Anaya.


"Nay, bisakah kamu berjalan sedikit agak lambat,aku ngos-ngosan mengikuti langkah mu."Alan berhenti sejenak.


"Ha?Baiklah."Menatap ke arah Alan ,hingga akhirnya Alan berada di sampingnya.


"Tetaplah seperti ini,dan jangan lepaskan tanganku."Alan menggenggam tangan Anaya .


"huh...bagaimana aku akan berjalan seperti ini,dia memegang tanganku!Aku harus tenang ,dia tidak boleh melihatku sampai panik."


Wajah Anaya mulai berubah ,kini ekspresi wajahnya terlihat sedikit pucat, tatapannya masih melekat pada tangan yang menggengamnya,sampai ia tidak bisa berkonsentrasi menyeimbangkan kedua langkah kakinya hingga dia hampir terjatuh.


Untung Alan segera menangkap badannya.


Cukup lama Alan memandangi wajah Anaya ,sampai akhirnya dia tidak bisa membohongi perasaannya.


"Melihatnya dalam keadaan seperti ini,rasanya aku ingin sekali menyentuh bibir mungilnya ini. Dia terlihat sangat manis ,"


Alan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Anaya ,dia mulai memandang mata Anaya .


Kini semakin dekat.Anaya mulai memejamkan matanya,seolah dia juga terhanyut dalam tatapan Alan yang memberikan sebuah pertanda isyarat .Bibir Alan mulai menempel di bibirnya Anaya .Belum sampai dua detik dia mendaratkan ciumannya , tiba-tiba ponsel Anaya berbunyi.


"Ehem.....ehem,maaf."Anaya langsung berdiri dan mengambil ponselnya.Dan melihat nama Olan yang memanggilnya.


" Ya ,ada apa?"


"Apa kau sudah menemukan kakak ku?Dia belum pulang Sampai sekarang,aku sangat menghawatirkan nya."ucap Olan.


"Dia sedang bersamaku sekarang di rumah sakit."


"Apa?Apa yang terjadi dengannya?Apa kakak ku terkena amnesia karena benturan meja itu tadi?"tanya Olan mulai panik.


"Tidak,bukan karena itu.Ternyata dia alergi kepiting.Tadi nasi yang aku pesan itu berisi kepiting dan dia memakannya,jadi kulitnya gatal."


"Oh,begitu yah."


"Ya sudah,kamu tidak perlu mencemaskan nya lagi.Sebentar lagi kami akan pulang setelah mengambil resep obatnya."


"Baiklah,sampaikan kepadanya aku minta maaf yah,hanya kau satu-satunya malaikat penolong ku ."


"hemp...akan aku sampaikan."


Anaya menutup ponselnya.Wajahnya masih memerah karena insiden tadi .Entah dari mana ia harus memulai kata-katanya.


Ia mulai membalikkan wajahnya kepada Alan yang berada di depannya.


"Ayo kita lanjutkan mengambil obatmu ."ucap Anaya lalu kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.


"Begitu bodohnya aku tadi,aku hampir saja menciumnya. Apa dia marah?Semoga saja tidak."


Alan menendang kakinya ke udara dan merasa sedikit kesal dan berlari mengejar Anaya menuju apotek rumah sakit.


"Ini obatmu,ayo kita pulang agar kamu langsung meminumnya .


"ya ,mari." Alan membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Anaya masuk.


"Nay...,soal kejadian tadi aku minta maaf ya,tidak seharusnya aku melakukan itu."

__ADS_1


Anaya hanya menatapnya dan membalas perkataannya dengan senyumannya saja.Dia tidak mengatakan sepatah katapun.


"Nay...,apa kamu marah kepada ku?


Anaya hanya menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain."


"Oh ya ,ternyata di dalam tas ku ,ada air minum ,sebaiknya kamu minum obatmu sekarang di sini saja,tidak perlu harus menunggu sampai di vila."Mengeluarkan botol air minum dari tasnya.


"Bagaimana aku akan meminumnya,aku sedang menyetir,nanti saja."


"aku akan membantu mu,sekarang buka mulutmu,aku akan memasukkan pil ini .


A...." Mempraktekkan membuka mulutnya.


Alan mulai membuka mulutnya,menuruti kata Anaya .Sesekali ia memandangi wajah wanita itu dengan tersenyum.


"kamu begitu baik dan sangat manis,"


Alan menatapi wajah Anaya,sampai akhirnya Anaya menyadari tatapan itu dan tersipu malu.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu?"


"Tidak,tidak ada apa-apa."ucap Alan lalu mengalihkan pandangannya kembali ke jalan .


Kini mereka sudah sampai di gerbang villa .Alan memasukkan mobilnya ke area garasi vila.


Alan membukakan pintu mobil agar Anaya juga keluar dari sana.


"Terima kasih,"Anaya kemudian melangkahkan kakinya untuk keluar dari area garasi itu.


"Nay...,tunggu dulu ."


"Apa yang akan di lakukan Alan terhadapku?Bagaimana ini?Aku harus lari,sebelum dia macam-macam."


Anaya mulai mencari cara untuk keluar dari kedua tangan Alan yang menyudutkannya. Dia mulai menunduk dan mencoba untuk kabur dari bawah lengan Alan .


Tetapi gagal.Baru selangkah dia lolos melangkah, tiba-tiba Alan menarik topi sweater nya hingga dia kembali ke hadapan Alan dan memojokkannya kembali seperti tadi.


Kini Alan mulai memegang leher bagian belakangnya Anaya kemudian,mendekatkan wajahnya ke telinga Anaya dan berbisik,


"Aku menyukai mu,I LOVE YOU".


Lalu memandangi wajah Anaya .Dia tidak membiarkan wajah Anaya menatap ke arah yang lain saat dia menatapi wajah itu. Di sentuhnya pipi Anaya agar Anaya hanya melihat tatapan matanya itu.


"Nay...,Apa kamu juga menyukai ku?tanya Alan sambil menatap mata Anaya .


"Aku...aku..."Anaya mulai gugup menjawab pertanyaan itu.


"Ya..."ucap Alan berharap Anaya akan menjawab pertanyaan nya.


"Aku mau ke toilet,permisi!"


Anaya langsung mendorong Alan dan kabur dari garasi itu.


Alan hanya menggigit bibirnya kesal melihat Anaya yang kabur begitu saja.


Sebenarnya dia tau, Anaya tidak mau ke toilet,tapi hanya ingin menghindari dirinya saat itu.


***

__ADS_1


"Eh kamu sudah pulang Nay,kak Alan dimana?bukannya kalian tadi bersama?"tanya Olan kepada Anaya ,saat tak sengaja berpapasan .


"itu....,anu...dia masih di belakang,aku duluan yah."ucap Anaya dan langsung berlari menuju kamarnya .


"Ada apa dengannya?ucap Olan sambil mengerutkan dahinya melihat tingkah laku Anaya .


Tak berapa lama kemudian Alan muncul di pintu masuk vila.


"Waduh! sepertinya di datang membawa malaikat pencabut nyawa ku,aku harus lari sebelum di menangkap ku!"Olan langsung mengambil ancang-ancang untuk berlari menghindari kedatangan Alan .


"Olan...!Mau lari kemana kau?"


"****** aku!habisalah riwayat ku sekarang." Olan langsung berbalik kembali melihat kedatangan kakaknya itu sambil cengingisan.


"hehehe...,ternyata kau sudah pulang kak?Bagaimana kata dokter kak,apa kau baik-baik saja?"


ucap Olan mengalihkan pembicaraan berharap kakaknya itu akan melupakan insiden di restoran tadi.


"Hemp....aku baik-baik saja!hanya badanku sedikit gatal saja."


"Coba ku lihat ?"Olan membuka kerah baju Alan mencoba memeriksa bintik merah itu.


"Sudah tak perlu kau periksa lagi,dokter sudah memeriksaku tadi di rumah sakit ."


"Kalau begitu ayo kita masuk ke kamar, supaya kakak makan obat."


"Sudah,tadi aku sudah makan obat di mobil,Anaya tadi menyuruhku untuk memakannya di mobil."


"Anaya?Dia baru saja lari ke kamarnya."


"oh...baiklah,apa dia mengatakan sesuatu kepadamu?"


"Nggak,dia nggak bilang apa-apa,hanya saja tingkahnya terlihat sedikit aneh.


Apa yang terjadi?"tanya Olan ingin tau.


"Aku menembaknya tadi di garasi."


"Serius? kakak gak lagi bercanda kan?"


"Apa kau melihat ku sedang bercanda?"tanya Alan dengan nada suara sedikit di tekan.


"terus...terus ,gimana kelanjutannya lagi,cerita dong kak...!"


"Apanya yang mau aku ceritakan lagi?"wajah Alan sedikit kesal.


"ya...jawaban nya Anaya!dia jawab apa saat kamu nyatakan cintamu ke dia?"Olan penasaran.


"Katanya ,dia mau ke toilet!itu jawabannya."


"Hahahaha ..."Olan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan itu.


"Sudah cukup ketawanya?"Kini Alan menatap tajam wajah Olan .


"Maaf."ucap Olan menahan ketawanya.


"Aku mau tidur,berikan kunci kamar itu."ucap Alan kesal.


Kemudian meninggalkan Olan dan masuk ke kamar.

__ADS_1


Kemudian Olan mengambil ponselnya dari kantongnya dan mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Anaya.


__ADS_2