
"Ayo kita ke dokter spesialis kulit saja,mungkin dia akan lebih paham tentang ruam merah di kulit mu ini."Menarik tangan Alan .
"Anaya,aku tidak apa-apa,hanya sedikit gatal saja,nanti juga pasti sembuh."
"tidak...,tidak kamu harus ikut aku ke dokter,dan jangan menolak!"Menatap wajah Alan dan tetap memaksa untuk ke dokter .
"Baiklah"Alan hanya bisa pasrah mengikutinya.
*Di rumah sakit
"suster,apa hari ini ada dokter spesialis kulit?"
Anaya bertanya kepada seorang perawat di depannya.
"Di setiap rumah sakit pasti ada dokter spesialis ,mana mungkin rumah sakit sebesar ini tidak ada dokter spesialisnya,bagaimana mungkin Anaya tidak tau soal itu."Alan menatap wajah Anaya .
"iya,mbak kebetulan dokternya baru selesai melakukan pemeriksaan terhadap pasien rawat inap,mari silahkan ikut saya ke ruangan beliau."
Perawat itu mengantarkan mereka ke sebuah ruangan dokter spesialis .
Tok...tok...tok
"Ya, silahkan masuk."
"Dokter,ada pasien yang ingin melakukan konsultasi ."
"Ya, suruh masuk pasiennya."
"mari silahkan masuk nona."Mempersilahkan Anaya dan Alan memasuki ruangan itu.
"Brayen?"
Anaya menatap seseorang yang mengenakan baju jubah putih kebanggaan sang dokter itu.
Mendengar suara yang menyebut namanya tadi ,pria yang mengenakan jubah putih ini sejenak menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah seseorang yang memanggil nya.
Sepertinya suara itu tidak asing bagi nya .
"Hei,Anaya...,"Tersenyum melihat kehadiran seseorang yang kini berjalan mendekatinya dengan senyuman manisnya."Apa yang kamu lakukan disini,apa kau sedang sakit?"Berjalan menghampiri Anaya hendak memeluknya karena telah sekian lama mereka tidak pernah berjumpa.
"Eits...,sembarangan mau peluk anak orang bukan MUKHRIM!"Alan langsung mencegat Brayen untuk memeluk Anaya.
"Nay?apa dia kekasih mu?"tanya Brayen.
"Oh bukan...bukan,dia adalah atasan ku di kantor, dan dia yang sakit,bukan aku."timpal Anaya .
kini wajah Olan mulai lesu,sejujurnya dia tidak ingin mendengar kata "hanya sebagai atasan ku" .Bahkan didalam hatinya di berharap sebuah kata yang lebih dari sekedar antara bos dengan karyawan.
"Hemp...! ternyata hubungan antara aku dan dia hanya sebatas bos dan karyawan?apa dia tidak bisa mengatakan kalau aku ini adalah calon masa depannya!kan lebih enak didengar."Alan menatap lekat wajah Anaya .Dia seolah tidak puas dengan jawabannya .
"Oh,baguslah kalau dia bukan kekasih mu"Brayen menatap Alan dengan sedikit rasa kemenangan.Terlihat dari senyum sinis di wajahnya.
"Hey dokter!apa kau akan tetap menatapi ku saja?jika kau tidak berniat untuk memeriksaku maka aku akan pergi mencari rumah sakit lain."
Kini Alan mulai kesal dengan tingkah Brayen yang hanya sibuk mendekati Anaya dan tidak menghiraukannya.
__ADS_1
"Eh ternyata masih ada kamu rupanya?Aku hampir saja melupakan kehadiranmu karena Anaya ."Brayen bercanda.
"kau!!Aku akan pergi,Anaya..ayo kita cari rumah sakit lain,sepertinya dokter spesialis di rumah sakit ini sedang terkena dampak pandemik COVID-19."
Alan menarik tangan Anaya untuk keluar dari ruangan itu.
"Alan,tunggu dulu ,dokter Brayen itu hanya bercanda ,jangan di masukkan ke hati ya ."Anaya membujuk Alan agar tetap melakukan pemeriksaan di rumah sakit itu.
"Baiklah,"ucap Alan yang mulai sedikit luluh dengan bujukan Anaya .
"silahkan berbaring,aku akan memeriksa mu,sebaiknya kita melakukan tes darah dulu untuk mengetahui penyebab pasti alergi mu ini."
Kemudian Brayen berjalan menuju sebuah lemari kaca dan mengambil sebuah benda kecil yang ujungnya seperti jarum.
"Hei...kau mau apakan suntik itu?"tanya Alan mulai was-was.
"Aku akan mengambil sedikit darahmu sebagai sampel untuk di periksa di laboratorium.Ayo berikan tangan mu aku akan mengoleskan alkohol terlebih dahulu."Menarik tangan Alan .
"Hi...ya...,jangan!jangan mendekat,aku tidak mau di suntik."Alan melompat dari tempat tidur dan bersembunyi di balik punggung Anaya .
Brayen dan Anaya kaget melihat tingkah laku Alan yang ketakutan melihat jarum suntik yang ditangan Brayen .
"Kau boleh memberiku ribuan pil, dan aku akan menghabiskan semuanya,tapi tolong jauhkan jarum suntik itu dari ku,ku mohon."
Alan mengatupkan kedua tangannya untuk memohon.Seolah dia akan memohon untuk tetap hidup saat seseorang hendak menghabisi nyawanya.
"Hahahaha...aku pikir nyali mu setangguh ucapan mu,bahkan penampilan mu tidak sesuai dengan tingkah mu saat ini ."Brayen tertawa terbahak-bahak melihat wajah Alan yang kini di penuhi dengan semburat merah yang menjalar di pipinya.
"Alan,tidak sakit kok,cuma seperti di gigit semut saja."
"Alan,kalau darah mu tidak di ambil bagaimana kita akan tau penyakitmu?"
"Nggak ,aku takut di suntik ,nanti suntiknya patah di bokongku dan aku akan di bedah lagi seperti dulu."
"tenanglah,kali ini hanya tanganmu yang akan di suntik,aku akan menemani mu di sampingmu."
Sepertinya bujukan Anaya sangat manjur.Olan menyetujui untuk melakukan pengambilan sampel darahnya .Dia mulai berjalan menaiki tempat tidur
pasien itu,dan tetap memegang tangan Anaya seperti seorang anak kecil.
"Tenanglah,tidak akan sakit,hanya sebentar saja kok,aku akan memegangi mu."Menatap ke wajah Alan sambil memegang tangannya.
"sebentar ya,tidak akan sakit kok,aku akan mengambil sedikit darah mu,oke! kamu siap, kan?"Brayen mulai membuka tutup injeksinya dan mulai mendekatkannya ke pergelangan tangan Alan.
"Ah... sakit!Alan menjerit seolah dia sedang dimultilasi.
"Ha?Apanya yang sakit ?aku bahkan belum menyentuhkan jarum suntik ini ke tanganmu ,tapi kamu sudah menjerit."
"Benarkah?aku kira kamu sudah menyuntik ku."
"Alan ,ayo berikan tanganmu kepada Brayen ,atau kalau tidak semua badanmu akan berubah seperti seekor kodok."Anaya menatap Alan yang menyembunyikan tangannya.
"iya,tapi pelan-pelan ya,harus pakai perasaan!"ucap Alan dengan nada suara sedikit di tekan pada Brayen.
Alan menyodorkan tangannyadan menyembunyikan wajahnya di balik pinggang Anaya.
__ADS_1
"Sampai segitunya kah Alan melihat jarum suntik,ia bahkan tidak malu bersembunyi di balik pinggang ku."
Anaya hanya pasrah saat Alan menelungkup kan wajahnya di balik pinggangnya dan tangan Alan kini mulai menggenggam kuat tangan Anaya.
"hahaha...dia terlihat seperti seorang wanita hamil yang menahan rasa sakit saat akan melahirkan seorang bayi,bagaimana dia akan menghadapi persaingan bisnis jika hanya dengan melihat jarum suntik saja ketakutan."
Kemudian perlahan-lahan Brayen mulai memasukkan jarum suntik itu dan menyedot darah Alan.
"Nah...sudah selesai,tidak sakit ,kan?"Brayen mengusap bekas suntikkan itu dengan kapas yang sudah di celupkan ke alkohol.
"Alan...sudah selesai,ayo berbalik jangan bersembunyi terus."Anaya menyenggol Alan yang masih bersembunyi di balik pinggangnya.
"Benarkah, sudah selesai?"
"Sudah...tidak sakit, kan?sekarang kamu boleh melepaskan tangan ku,sakit tau."Menunjukkan tangannya yang mulai memerah karena Alan terlalu kuat menggenggamnya .
"Maaf,aku tidak sengaja,itu semua karena dia menyuntik ku."
"Darah ini akan di cek di laboratorium ,butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk mendapatkan hasilnya ."ucap Brayen.
"Baiklah Brayen,aku percaya padamu ,kamu pasti akan melakukan yang terbaik."timpal Anaya.
"Jangan memujinya terlalu berlebihan,itu sudah tugasnya sebagai seorang dokter."ujar Alan .
"Sepertinya kamu tidak suka jika Anaya memujiku,apa kau cemburu padaku?"tanya Brayen dengan menaikkan kedua alisnya.
"Heh...sudah,jangan berdebat .Sebaiknya kamu periksa dulu sana darah itu."ucap Anaya kepada Brayen.
30 menit kemudian.
"Anaya ,Alan... ini hasil dari laboratorium sudah keluar".Membuka amplop berisi sebuah kertas.
"Brayen apa sebenarnya penyakit Alan?dia baik-baik saja ,kan?tanya Anaya .
"Dia hanya alergi pada beberapa makanan sea food saja, seperti kepiting dan cumi-cumi."ucap Brayen.
"Kepiting?Aku tadi memang memberinya kepiting,tapi sumpah demi Tuhan ,aku tidak tau kalau Alan alergi kepiting."
Wajah Anaya kini mulai panik,dan penuh rasa bersalah atas insiden itu."Maaf ya Alan ,aku nggak tahu kalau kamu alergi dengan kepiting,aku janji tidak akan mengulangi kesalan ku itu."ucap Anaya sambil menjewer telinganya sendiri sebagai ucapan rasa bersalahnya kepada Alan.
"Hehehe,kamu gak salah kok,aku yang salah tadi tidak memberitahumu soal alergi ku itu,ya sudah ayo turunkan tanganmu dari telingamu itu,sepertinya kamu kebanyakan nonton film India ya?lihatlah gaya tanganmu meminta maaf itu."Alan mulai mengejek tingkah laku Anaya yang menirukan gaya film India saat melakukan kesalahan.
"Bagaimana dia bisa tau kalau aku sering menonton film India?seharusnya tadi aku tidak melakukannya,jadi malu kan ceritanya."
Anaya mulai tersipu malu ,kini wajahnya mulai terlihat memerah menahan malu .
"Ya sudah Brayen kami pamit dulu,terimakasih ya."
"Sama-sama,ini resep obat yang harus kalian ambil di apotek rumah sakit."
"Kami pamit yah Brayen,"Anaya tersenyum kepada Brayen hendak keluar dari ruangan itu.
"Eh Nay, aku mau nomor ponsel mu dong."Sambil menyodorkan ponselnya kepada Anaya.
"Sudah,aku sudah save nomor ponsel ku di situ,kamu boleh menghubungi ku jika ada yang perlu."ucap Anaya.
__ADS_1
"Terimakasih ya."ucap Brayen kepada Anaya.