Cinta Untuk Aurora

Cinta Untuk Aurora
BAB 10


__ADS_3

Hari-hari berlalu Ara semakin sibuk dengan pekerjaan yang diberikan mamanya. Dia sudah lupa dengan misinya untuk membalas perilaku teman-temannya terhadapnya. Lagi pula juga kakek sudah membereskannya.


Kali ini Ara diberikan tanggung jawab untuk bertemu dengan klien, namun Ara tidak sendiri, ada pak Heru asisten mamanya yang menemani. Berkat otak encer Ara yang mampu diajak kerja sama dan ketekunan saat diajarkan mama serta pegawai lain saat di perusahaan, Ara dapat melewati negosiasi dengan kliennya dan berhasil.


“Atas nama perusahaan saya mengucapkan terima kasih banyak karena bapak sudah mempercayakan proyek kerja ini dengan kami, kami yakin kami mampu menyelesaikan semua dengan baik.” Ucap Ara sambil berjabat tangan.


“Sama-sama nona, performa anda persis seperti bu Mayra, yang tegas dan yakin, kami tak akan salah pilih mitra bisnis seperti yang dahulu.” Sambil membalas jabatan tangan Ara.


“Terima kasih pak, mohon maaf kami pamit terlebih dahulu, selamat siang.” pamit Ara dan di ikuti juga dengan pak Heru.


Saat akan meninggalkan restoran tak sengaja Ara bertabrakan dengan seorang pria yang ternyata kenalan Ara saat kuliah dulu.


“Bruukkk!!!Ssshhhh!!” keluh Ara.


“Maaf maaf nona, saya tak sengaja, apakah anda baik-baik saja?”


“Eeehh Andre.” kata Ara mengenali.


“Aurora!! Heii ini beneran kamu Ra!!” ucap Andre tak percaya.


“Ya benar ini aku!!”


“Apa kabar kamu Ra, sekarang sudah jadi orang sukses yaa?”


“Aaah bisa saja, aku seperti ini demi kakek dan mama, jika bukan karena mereka, mungkin sekarang aku masih berkeliaran ke mall mall, sedang apa kamu kemari?”


“Ya jelas kamu kan ratunya hangout Ra. Aku mau makan ini, sehabis rapat dengan bos dan aku kelaparan, yuukk kita makan bersama!” ajak Andre.


“Terima kasih Ndre, aku sudah makan, dan aku harus segera kembali ke kantor dan melaporkan pekerjaanku. Senang berjumpa denganmu.”


“Aaah Ra boleh aku meminta nomormu agar bisa berhubungan bertukar kabar.”


“Yaa, boleh ini kartu namaku.”

__ADS_1


“Wijaya Group?? Kamu bekerja di sana Ra?”


“ Ya, ada apa Ndre?”


“Wijaya grup, baru-baru ini sedang kerja sama lagi dengan perusahaan kami Sanders Group setelah beberapa lama tak berhubungan.”


“Waahh kebetulan ya Ndre. Baiklah aku pamit dulu, see you next time!” pamit Ara.


“Yuukk pak Heru kita segera kembali ke kantor.”


“Permisi tuan!” pamit pak Heru.


Disini Andre tak tahu jika Ara adalah cucu dari pemilik Wijaya Group. Dan Andre dulu adalah orang yang sempat Ara suka tetapi Ara merasa risih saat tahu ternyata Andre suka main perempuan.


“Kenapa perusahaan sebesar Sanders Group mempekerjakan pria semacam itu siih seperti tak ada SDM yang lebih bagus saja.”


“Semoga aku tak bertemu lagi dengannya.” gerutu Ara dalam hati.


Sanders Group. Tepatnya kantor Devan. Devan dan Rudi sedang berdiskusi serius masalah pekerjaan. Setelah berakhir, Rudi menanyakan masalah Ara pada Devan.


“Entah Rud, bahkan aku sudah hampir lupa masalah dengan gadis itu.”


“Baiklah jika begitu tuan, berarti kita hentikan saja ya tuan?” tanya Rudi untuk benar-benar memastikan.


“Iya Rud, biar jadi kenangan saja, lagi pula aku akan menerima perjodohan yang diatur kakek cepat atau lambat.”


“Iyaa tuan baiklah. Eeehh bagaimana tuan?Apa? Tuan dijodohkan oleh tuan besar?” tanya Rudi tak menyangka.


“Iya benar, aku akan dijodohkan dengan cucu kawan kakek, tapi aku juga belum pernah bertemu sebelumnya.”


“Dan tuan Devan menerima begitu saja?”


“Yaa mau bagaimana lagi Rud, kakek selalu berkata bahwa itu permintaannya, dan selama ini kakek tak pernah meminta atau menuntut apa pun dariku.”

__ADS_1


“Semoga tuan Devan selalu bahagia saat ini dan nanti saat sudah berkeluarga.”do’a Rudi untuk Devan.


Suasana menjadi hening di dalam kantor Devan. Devan larut dalam kekacauan pikirannya sendiri, dan Rudi yang hanya mampu menatap Devan iba.


“Kasihan betul tuan Devan, sejak kecil sudah kehilangan orang tua, sebelum dia dewasa juga sudah menanggung bagaimana sulitnya membangun dan mengembangkan perusahaan bersama kakeknya, dan kini masalah asmaranya yang kacau.”


“Sabar ya tuan Devan.” monolog Rudi dalam batinnya.


Tak berapa lama seorang pegawai mengetuk pintu ruangan Devan dan membuyarkan semua pikiran kacau mereka.


“Iya masuk saja.”


“Permisi pak Devan saya mau melapor.”


“Ya silakan, ada apa?”


“Maaf pak Devan, saya dan team menemukan kejanggalan dalam laporan keuangan ini pak, mohon pak Devan untuk mengecek lagi apakah benar ada kejanggalan dalam laporan ini.”


“Oke baik, akan segera saya cek lagi, jika nanti memang benar ada kejanggalan kita langsung adakan rapat, simpan dulu masalah ini jangan sampai ada yang bocor sebelum saya menginstruksikan.”


“Baik pak Devan saya mengerti, saya permisi undur diri.”


“Terima kasih untuk segera melaporkan masalah ini.”


“Sama-sama pak, permisi.”


“Yaa silakan.”


“Masalah apa lagi ini ya Tuhan.” keluh Devan.


“Bantu aku mengecek semua ini Rud!”


“Baik tuan.”

__ADS_1


Sejak saat itu mereka berdua sibuk dengan laporan-laporan keuangan. Mereka berdua sampai lembur untuk mengurus masalah itu. Devan benar-benar mencari siapa sebenarnya orang dibalik kejanggalan laporan keuangan perusahaannya. Dia akan memberikan pelajaran pada orang di balik semua itu.


__ADS_2