Cinta Untuk Aurora

Cinta Untuk Aurora
BAB 15


__ADS_3

Setelah meninggalkan Devan di taman, Ara segera pulang ke rumah, niat Ara ingin jalan-jalan terlebih dahulu sudah menghilang dikarenakan bertemu Devan.


“Mengapa harus bertemu kakak yang tadi siihh, aku menjadi semakin malu jika suatu saat nanti bertemu lagi dengannya.”


“Tapi kakak tadi cakep juga mana keren pula, mengapa dulu aku tak menyadarinya, dan mengobrol dengannya membuat jantungku hampir lompat dari posisinya karena terlalu tegang dan malu.” monolog Ara di batinnya


“Astagaaaa Araaaaa!!” teriak Ara sambil menutup wajah dengan kedua tangannya, yang ternyata mengejutkan pak Amin.


“Mengapa non!!” kata pak Amin seraya menginjak rem dan berhenti seketika.


“Maaf pak maaf Ara mengejutkan pak Amin, Ara baik-baik saja pak, hanya sedikit melamun kok.”


“Bapak kira non Ara kenapa?”


“Maafkan Ara pak, bapak lanjutkan lagi saja mengemudinya.”


“Baik non.” Pak Amin melanjutkan lagi perjalanannya.


Setelah sampai di rumah, Ara langsung menuju dapur dan segera mengambil air minum untuk menenangkan dirinya, satu gelas terisi penuh air dan tandas dalam sekali tarikan napas.


“Haah haah haah!!” napas Ara terengah-engah.


“Kamu baik-baik saja nak?” tanya mama yang sedari tadi memperhatikan putrinya itu.


“Astaga!! Mama iiihhh terkejut ini Ara ma.” Ara memprotes.


“Lagian itu kamu juga kenapa seperti habis lari maraton?”


“Ara haus ini Ma, dan juga betul sih Ara habis lari tapi bukan lari maraton melainkan lari dari depan ke dapur.


“Bagaimana tadi? Apa kamu bertemu dengan kakek Sanders nak?” tanya Mama.

__ADS_1


“Iya ma, langsung Ara serahkan ke kakek Sanders.” Jawab Ara mantap.


“Bagus bila seperti itu, lalu bertemu dengan siapa lagi tadi nak?”


“Ara hanya bertemu dengan kakek Sanders dan pak satpam saja ma, rumah seperti istana begitu yang menghuni hanya beberapa orang saja ma, sayang sekali ma.”


“Oo iya ma, tapi mengapa Ara merasa tidak asing dengan rumah itu ya, apa dulu Ara sering bermain ke rumah itu ya ma?” sambung Ara.


“Dulu sewaktu Ara masih kecil dan belum mulai bersekolah, kakeklah yang sering membawa kamu bermain ke rumah kakek Sanders, karena tiap pagi hingga sore kakek Sanders hanya sendiri di rumah karena cucunya bersekolah hingga sore hari, dan setelah Ara mulai bersekolah kakek menjadi berhenti untuk membawa Ara bermain ke sana, jadi maklum jika Ara mungkin merasa tidak asing dengan rumah itu.” Jelas mama kepada Ara.


“Ooh ternyata begitu ya ma kisahnya.”


“Sayang, sini duduk di samping kakek, kakek ingin membicarakan sesuatu hal yang penting dengan Ara.” Suara kakek dari arah meja makan.


“Hal penting apa kek, tidak biasanya kakek berbicara serius dengan Ara.” Ara terheran dan mendekati kakek disusul mama dari belakang.


“Sini duduk dulu sayang!” pinta kakek.


“Kakek jangan membuat Ara semakin bingung, ada apa ini kek?”


“Kakek, ini sudah bukan jaman Siti Nurbaya kek, untuk apa dulu kakek saling berjanji, bagaimana jika setelah kita saling mengenal dan tidak muncul perasaan apapun, akankah pernikahan kami nantinya akan bahagia tanpa perasaan apapun kek?”


“Ara dengarkan kakek, kakek yakin kalian akan bahagia suatu saat nanti dan kalian akan hidup berbahagia.”


“Tapi kek, tapi..”


“Tidak ada tapi sayang, tidak ada salahnya jika dicoba terlebih dahulu kan sayang.” rayu kakek kepada Ara.


“Ara sayang, mama memang tidak pernah tahu seperti apa sebuah rasa dari perjodohan, tapi untuk saat ini mama sangat yakin jika keputusan kakek itu benar sayang, mau ya Ara mencobanya terlebih dahulu, tidak perlu cepat-cepat sayang coba dulu saling mengenal secara perlahan.”


“Tapi ma, Ara baru saja merasakan kehidupan Ara yang dewasa ini ma, baru kemarin.”

__ADS_1


“Sayang kamu masih tetap bisa menikmati saat-saat bekerja seperti hari-hari sebelum kamu menikah kok asal Ara nantinya meminta ijin dari suamimu kelak, jika dia mengizinkan baru Ara bisa seperti biasanya.”


“Nah kan jika mengizinkan, nah jika tidak, maka Ara harus bagaimana ma?”


“Ara sayang, semua bisa dibicarakan nanti nak, yang penting sekarang Ara mau dan siap membuka hati untuk saling mengenal pria tersebut.” ucap kakek memotong pertanyaan Ara.


“Ya sudah lah terserah kalian maunya seperti apa, Ara tak punya pilihan apa pun untuk Ara tawarkan kepada kakek dan mama.” ucap Ara pasrah.


“Percayalah sayang kamu akan mendapatkan cinta dan kasih sayang melimpah.” tambah kakek.


“Kakek, Ara pamit ke kamar dulu. Permisi!!” pamit Ara, yang kemudian dia berlari ke kamarnya, lalu membanting pintunya.


“Biar Mayra susul Ara pa.”


“Jangan dulu May, biarkan dia sendiri dulu dan berpikir, papa tahu pasti akan seperti ini, tapi papa sangat yakin ini akan membawa Ara lebih dewasa dan bahagia untuk kehidupannya.” cegah kakek.


“Baik pa, tapi Mayra sedikit khawatir juga jika Ara seperti itu Pa.”


“Tenang dan kita pantau nak, tak akan ada apa-apa, toh selama ini Ara belum ada pacar kan?”


“Sepertinya belum deh pa, setahu Mayra beberapa hari yang lalu ada temannya yang datang ke kantor dan sering meneleponnya, tetapi selalu ditolak sama Ara pa, tetapi seperti apa kelanjutannya Mayra belum tahu pasti pa.”


“Ooh itu, papa tahu May, Andre bukan?? Dia sudah ditolak oleh Ara, dia terlibat dalam kasus korupsi di perusahaan Devan dan dijebloskan ke penjara.”


“Jadi papa tahu semuanya?”


“Ya papa tahu dari Sanders, dia mengutus kaki tangannya untuk membantu Devan secara diam-diam dan tidak sengaja malah melihat Ara berhubungan dengan Andre itu, oleh karena itu dia langsung menghubungi papa untuk mengawasi Ara juga, takutnya terjadi hal yang tak diinginkan, kamu tahu kan seberapa cerobohnya anakmu itu dalam berteman?”


“Iya pa Mayra tahu, terima kasih pa, karena papa selalu menjaga dan melindungi kami, andai papa Ara masih ada sampai saat ini pasti keluarga kita lebih bahagia pa.” ucap Mayra yang sudah berkaca-kaca karena berandai-andai tentang almarhum suaminya.


“Nak, Mayra, semua adalah takdir Tuhan, kita bisa berencana dan berharap, tapi sebaik-baiknya keputusan ada ditangan Tuhan. Disini papa juga akan selalu menjadi papamu, papa menyayangi kalian semua, karena kalian adalah berlian dan permata terbaiknya papa, jangan lagi bersedih nak, ingat di surga sana saat ini suamimu tengah tersenyum melihatmu, jangan membuatnya bersedih melihat kamu seperti sekarang ini.” ucap kakek menguatkan sambil memberi pelukan layaknya seorang ayah memeluk hangat anaknya.

__ADS_1


“Terima kasih pa terima kasih untuk tidak bosan-bosan menguatkan Mayra!” ucap Mayra sambil mengelap air matanya.


“Tentu nak, lebih baik sekarang kita lanjutkan untuk mengatur rencana pertemuan Devan dan Ara.” ajak kakek mengalihkan topik. Karena sejujurnya kakek juga bersedih jika mengingat orang-orang terkasih yang sudah meninggalkan dirinya, anak dan beberapa tahun lalu disusul sang istri tercinta.


__ADS_2