Cinta Untuk Aurora

Cinta Untuk Aurora
BAB 30


__ADS_3

Pukul 7 malam Devan dan Ara baru saja memasuki gerbang rumah keluarga Wijaya. Kali ini Devan mengantarkan Ara sampai masuk rumah, karena sekarang dia merasa memiliki kewajiban untuk mengantar anak gadis orang yang seharian diajak pergi.


“Kakak mampir dulu kan?” tanya Ara saat akan turun dari mobil Devan.


“Kan balik lagi panggilnya, sepertinya harus ada hukuman jika panggil kakak lagi.”


“Ara belum terbiasa kak,, ehh sayang.”


“Oke mulai besok jika Ara panggil kakak lagi maka Ara akan dapat satu ciuman seperti ini.” ucap Devan sambil mengecup kening Ara.


“Eeeehhh!!!” Ara yang terkejut dibalas senyuman kemenangan dari Devan.


“Udah, yuukk masuk dulu sayang, kakek dan mama mertua menunggu nanti.”


“Haa? Mama mertua?”


“Laah iya kan, sebentar lagi juga jadi mama mertuaku kan sayang.”


“Diiiihhh memang siapa yang mau nikah sama kakak?” jawab Ara yang langsung lari masuk ke rumah karena malu jika kena hukuman dari Devan.


“Eehh awas yaa!!” Devan juga yang segera berlari mengejar Ara, tetapi tiba-tiba berubah menjadi ‘stay cool' dan sopan saat masuk rumah, karena ada kakek di ruang tamu.


“Selamat malam kakek.” sapa Devan sambil bersalaman mengecup punggung tangan kakek.


“Malam juga nak, sini-sini duduk dulu, kenapa juga dengan Ara tadi nak, berlari sambil senyum-senyum itu anak.”


“Terima kasih kek, biasa itu kek, Ara suka bercandaan.”


“Kamu yang sabar ya nak Devan, jika terkadang sifat kekanak-kanakan Ara muncul, tapi masih wajar kok.”


“Selama Devan kenal Ara, baik-baik saja kok kek.”


“Syukurlah, bagaimana perkembangan hubungan kalian saat ini nak?”


“Sepertinya akan lebih serius kek.”


“Bagus, kakek percaya jika kamu akan cocok untuk Ara dan sebaliknya juga.”


“Terima kasih kek, karena kakek telah menjaga Ara untuk Devan.”


“Tentu, sudah sewajarnya kakek menjaga cucu kesayangannya dengan baik bukan.” ucap kakek dengan menepuk pelan punggung Devan, dan obrolan mereka terhenti saat mama Ara menghampiri mereka.


“Eeehhh nak Devan masih disini, belum makan malam kan, yuukk ikut makan malam sekalian disini nak.”


“Iya tan, selamat malam, ini Devan mengobrol sebentar dengan kakek, tidak usah tan malah Devan merepotkan.” jawab Devan juga dengan bersalaman dan mengecup punggung tangan mama Ara.


“Mana ada kata merepotkan, yuukk makan malam dulu.”


“Ayo nak tak apa makan malam dulu disini, biar nanti si tua itu aku yang urus, jika kamu dimarahi.” ucap kakek.


“Terima kasih kek juga tante.”


“Eeemm bagaimana jika panggil mama juga seperti Ara ya nak, pada akhirnya juga panggil mama?” usul mama pada Devan.


“Memang boleh tan?”


“Boleh, mengapa tidak?” ucap mama.


“Dengan senang hati Devan mau, Devan seperti punya mama lagi.” ucap Devan dan tersenyum bahagia.

__ADS_1


“Tentu nak, kita akan menjadi keluarga suatu hari nanti kan, sudah yuukk makan, Ara pasti juga sudah selesai mandinya.” ucap mama.


Mereka bertiga berjalan bersama menuju ruang makan. Devan mengambil posisi samping kanan kakek yang biasa di duduki oleh Ara atas instruksi mama. Lalu mama dan Ara akan duduk di sisi kiri kakek. Tak lama Ara juga turun untuk makan, terkejut jika Devan masih di rumah.


“Looh kakak masih disini?” tanya Ara.


“Ehkheeem!!” Devan berdeham, memberi kode panggilan Ara, tapi tidak Ara patuhi karena Ara masih canggung dan malu apa lagi di hadapan kakek dan mamanya.


“Ada apa nak Devan?” tanya kakek.


“Tidak apa kek, tenggorokan sedikit terasa gatal.”


“Ayo Ara segera duduk dan makan!” suruh mama.


“Iya ma.”


“Nak Devan makan yang kenyang ya!”


“Baik kek.”


“Enggak usah malu-malu disini, anggap rumah sendiri nak, selamat makan semua.” Kakek menutup obrolan dan semua memulai makan.


Setelah semua selesai dengan makanannya, mereka semua berpindah tempat untuk saling mengobrol di ruang keluarga. Kakek, mama, dan Devan mengobrol masalah perusahaan, sedangkan Ara yang baru datang dari arah dapur membawa dua piring buah-buahan yang sudah dipotong kecil-kecil siap makan.


“Permisi buah segar sudah datang!!” ucap Ara yang meletakkan satu piring di meja dekat Devan dan kakek, satu piring lagi Ara bawa duduk di samping mamanya.


“Terima kasih sayang.” ucap Kakek.


“Jadi nak, langkah seperti apa yang akan tim kalian ambil selanjutnya untuk proyek tersebut?” tanya mama.


“Devan sudah memikirkannya ma, tetapi belum sempat Devan diskusikan dengan kakek dan tim Devan.”


“Uhhuukk uhhuukk uhhuukk!!” Ara tersedak buah yang dia telan karena mendengar Devan memanggil mama juga.


“Tidak ma, ini buah melonnya sangat berair jadi membuat Ara tersedak.” ucap Ara beralasan dan batin Devan tertawa terbahak-bahak.


“Kakek, mama, Devan pamit undur diri dulu, sudah larut juga takut kakek menunggu Devan, karena tadi pagi saat Devan pergi juga kakek tidak tahu.”


“Ooh iya iya nak, salam untuk kakekmu yang tengil itu ya.” ucap kakek, dan Devan bersalaman lagi mengecup punggung tangan kakek dan mama Ara.


“Hati-hati di jalan ya nak.” pesan mama Ara.


“Baik ma, terima kasih, selamat malam kakek juga mama, Devan permisi dulu.” pamit Devan.


“Antar nak Devan ke depan sayang!” suruh mama pada Ara, dan Ara langsung mengikuti Devan keluar.


“Kak Devan tunggu Ara iihh, cepat sekali jalannya.” ucap Ara sambil mengejar Devan.


“Ada apa sayang, sudah larut malam jadi harus pulang dulu, kalau masih rindu buat besok saja ya.” jawab Devan sambil tersenyum.


“Idiiiiihhh narsis, maafkan Ara karena masih canggung dan malu untuk memanggil sayang.” ucap Ara sambil menundukkan kepalanya.


“Tak apa sayang, perlahan saja. Sudah malam, masuk gih anginnya dingin.” ucap Devan mengerti.


“Terima kasih karena sudah mengerti Ara, Ara akan berusaha membiasakan diri untuk memanggil sayang seperti kak Devan memanggil Ara.”


“Iya iya iya terima kasih juga karena Ara sudah berusaha untuk hubungan kita ini, kakak pulang dulu ya, cepat masuk giih!”


“Hati-hati di jalan sayang.”

__ADS_1


“Terima kasih sayang.” ucap Devan dengan senyum mengembang di bibirnya yang kemudian akan berjalan menuju mobilnya.


“Kak Devan.” panggil Ara yang kemudian Devan berhenti dan menoleh lagi.


“Emmuuuaach!!” Ara mencium pipi kanan Devan dengan berjinjit yang kemudian segera berlari masuk rumah. Dan Devan diam seketika karena terkejut dengan ulah Ara, kemudian baru berjalan dengan senyum kemenangan sebagai bekal pulang.


Ara yang berlari karena malu langsung masuk dan berlari menuju kamarnya membuat mama dan kakeknya terheran-heran dengan tingkah Ara yang absurd setelah pertemuan perjodohan.


“Apakah Ara baik-baik saja May?”


“Mungkin baik-baik saja Pa, maklum Pa anak muda yang sedang kasmaran.”


“Hahahahahaha!” kakek dan mama tertawa bersama.


“Segera beristirahat juga kamu nak, besok sudah sibuk lagi di kantor kan.”


“Iya Pa, papa juga segera beristirahat jangan lupa ini vitaminnya di minum dulu.” ucap mama sambil memberikan vitamin untuk mertuanya itu.


“Terima kasih nak.”


“Tak perlu pa, ini tugas Mayra untuk menjaga papa supaya papa tetap sehat dan semakin lama untuk menemani kita disini.”


“Ya ya ya, sudah sana istirahat, tidak perlu berfikir macam-macam ya.” nasihat kakek.


“Iya pa, selamat malam Pa.” pamit mama yang kemudian masuk ke kamar, dan disusul kakek yang berjalan ke dapur untuk mengingatkan bibi untuk menutup pintu dan jendela-jendela rumah. Setelah itu baru kakek berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat.


Di dalam kamar, Ara menanti pesan dari Devan yang tak kunjung dia terima, dan dia masih terngiang dengan tingkahnya yang tiba-tiba mencium Devan.


“Iiiisshh Ara kamu malu-maluin tiba-tiba nyosor aja kayak bebek, bagaimana pikiran kak Devan coba, aaaaaaaarrghh!!”


"Iiiisshh Ara Ara!!" monolog Ara yang tengah menutup wajah dengan gulingnya.


“Ting ting!”


Kak Devan


Malam sayang, sudah tidurkah, baru sampai rumah dan masuk kamar niih.


Ara❤


Malam juga kak Devan sayang. Belum tidur nih masih tunggu kabar kakak, sudah sampai apa belum. Segera mandi atau bersih-bersih dulu kak.


Kak Devan


Utututu makasih sayang masih ditungguin. Iya niih mau mandi dulu saja. Ara sayang kalau mau tidur, tidur dulu saja ya.


Ara❤


Siap sayang (emot cium lope-lope)


Kak Devan


Ooh iya, makasih juga ya sayang tadi ciumnya masih nempel loh ini di pipi (emot cium lope-lope)


Ara❤


Bisa enggak kak jangan di bahas itu tadi, Ara malu banget ini.


Kak Devan

__ADS_1


Hahaha oke oke, besok-besok lagi juga boleh kok. Mandi dulu ya sayang (emot cium lope-lope)


Karena terlalu lelah seharian, Ara tertidur dengan masih menggenggam ponselnya. Begitu juga Devan, setelah mandi juga lupa dengan ponselnya dan langsung tertidur.


__ADS_2