
Tak butuh waktu lama untuk kakek Sanders pergi ke rumah kakek Wijaya. Kakek Sanders dipersilakan duduk oleh bi Inah karena memang bibi masih ingat betul siapa tamu dari tuannya itu.
“Silakan duduk dulu tuan, saya akan memberi tahu Tuan Wijaya sebentar, tuan ingin memesan minum apa untuk saya buatkan?.”
“Terima kasih bi, kopi rendah gula boleh bi.” Jawab kakek Sanders.
"Baik tuan, tunggu sebentar."
Bi Inah segera bergegas mencari kakek Wijaya dan juga segera membuat minum untuk tamu. Beberapa menit kemudian kakek Wijaya menuruni anak tangga dan menyapa kawan lamanya.
“Selamat datang Bung, sudah lama pasti menungguku, hahaha.”
“Iya sampai berjamur aku duduk disini.”
Mereka saling berjabat dan berpelukan layaknya kawan lama yang baru bertemu kembali.
“Permisi tuan ini kopinya.”
“Waah bi Inah tahu saja, padahal saya belum memesannya.” Kata kakek Wijaya.
“Aku yang memesan, lagi pula bi Inah membuatkanku bukan untukmu, terima kasih bi.” sela kakek Sanders.
“Sama-sama tuan. Saya permisi.”
“Bi jangan lupa keluarkan yang tadi ku pesan, ke taman depan ya!”
“Baik tuan.” Jawab bi Inah dan segera menuju dapur lagi.
“Mari kita mengobrol di taman depan.”
Sambil membawa kopi masing-masing mereka berjalan ke taman depan.
“Ya tadi kulihat semakin bagus tamanmu itu Bung.”
“Itu hasil pekerjaan tanganku ini sejak tak pernah pergi ke perusahaan, dan Mayra juga sering membelikanku benih tumbuhan dan bunga baru setiap keluar kota.”
“Bahagianya kamu masih memiliki Mayra yang selalu memperhatikanmu.”
__ADS_1
Sadar dengan situasi dan suasana, kakek Wijaya mengalihkan pembicaraan.
“Sudah-sudah, bagaimana dengan perusahaan yang dikelola cucumu saat ini?”
“Ya seperti yang kamu tahu, bersama Devan perusahaan itu semakin memperlihatkan kekuatan dan sinarnya, hanya saja ada satu hal yang membuatku selalu gelisah.”
“Apa itu yang membuat seorang AlexSanders gelisah?”
“Permisi lagi tuan ini makanan ringan teman bersantainya.” Ucap bibi memotong percakapan mereka.
“Ya bi, terima kasih, maaf sudah merepotkan.”
“Tidak tuan, ini sudah pekerjaan saya, saya pamit, permisi.”
“Apakah ini kue jahe favorit kita dulu Bung?”
“Ya benar, favorit kita tapi kamu lah yang selalu menghabiskannya.”
“Hahaha ya ya ya kamu benar kali ini.”
“Lalu hal apa yang membuatmu gelisah?” kata kakek menyambung percakapan tadi.
“Hei hei hei mengapa berucap seperti itu, kita akan berumur panjang dan menyaksikan cucu-cucu kita berbahagia.”
“Ya semoga saja. Bagaimana dengan cucumu, Aurora?”
“Hahaha dia tumbuh menjadi seorang gadis cantik dan baik saat ini.”
“ Ohh yaa? Aku menjadi ingin tahu seperti apa Aurora saat ini.”
“Oohh iya apa kamu ingat bahwa dulu kita pernah berjanji untuk menikahkan cucu kita saat Ara kecil menatap foto cucumu yang tampan itu?”
“Ahh iya benar, mengapa aku hampir melupakannya, bisakah kita melakukan perjodohan ini untuk cucu kita Bung?” tanya kakek Sanders memastikan.
“Mengapa tidak, sebenarnya aku juga berencana seperti itu, makanya aku menghubungimu, juga aku berpesan pada Mayra untuk mengajak Devan berkunjung kemari, ooh ya kemarin juga Mayra mengatakan bertemu dengan Devan dan mengajaknya kemari denganmu.”
“Benarkah, tapi Devan tak mengatakan apa pun kepadaku, dia malah mengajakku berdiskusi masalah pekerjaan.”
__ADS_1
“Mungkin Devan lupa karena banyak pekerjaan yang harus dia tangani.”
“Ahh anak itu benar-benar minta dipukul.”
“Hahahaha berjalan pelan-pelan saja, aku takut jika aku langsung memaksakannya pada Ara, dia malah tidak mau.”
“Ya aku setuju, selama ini mereka juga belum pernah bertemu bukan, biar mereka saling mengenal.”
“Ya begitu lebih baik.”
“Kapan kita merencanakan untuk mereka saling bertemu?” Tanya kakek Sanders.
“Bagaimana jika kita atur makan malam bersama jadi mereka bisa bertemu.”
Mereka merencanakan semuanya untuk cucu-cucunya, berbincang panjang lebar membahas masa lalu bahagia sedih semua mereka bicarakan. Makan siang yang membuat mereka ingat semua kenangan saat muda dulu. Tak terasa pula waktu menunjukkan hampir sore hari.
“Sepertinya waktu harus menghentikan kesenangan kita hari ini Bung.”
“Ya kamu benar, tak terasa seharian kita mengobrol tiada henti, terlalu asyik kisah yang telah kita lalui untuk diceritakan kembali. hahaha.”
“Baiklah, aku pamit pulang dulu, nanti kita rencanakan kembali acara kita untuk cucu-cucu kita, salam untuk Mayra dan Aurora.”
“Ya pasti nanti kusampaikan salammu kepada mereka jika pulang nanti.”
“Ooh ya bilang juga sama bi Inah, kue nya enak sekali jarang-jarang aku makan makanan manis seperti itu, terima kasih Bung.”
“Baiklah kapan-kapan aku akan meminta bi Inah membuat kue jahe itu lebih banyak dan menyuruh Ara yang mengantarkannya untukmu.”
“Ide yang bagus Bung, aku pamit pulang dulu ya selamat sore.” pamit kakek Sanders, yang kemudian masuk ke dalam mobilnya.
“Yaaa, hati-hati di jalan.” Ucap kakek Wijaya sedikit berteriak karena mobil mulai melaju.
“Semoga apa yang kita inginkan, kelak akan terwujud dan semua akan bahagia dengan apa yang menjadi keputusan kita ini.” Ucap kakek lirih dan penuh harap.
Terima kasih atas dukungan kalian semua para pembaca setia Aurora, nantikan kisah panjang mereka yaa.
__ADS_1
Mohon maaf jika slow update dan cerita yang mungkin sedikit tidak masuk akal🙏🙏
Salam hangat dari author amatir 🤗🤗