Cinta Untuk Aurora

Cinta Untuk Aurora
BAB 29


__ADS_3

Setelah Devan rasa cukup untuk Ara menikmati indahnya taman bunga ini, Devan mengajak Ara untuk berjalan lagi ke satu tempat spesial di sana.


“Yuukk Raa lanjut ke satu tempat lagi, masih sanggup berjalan kan?”


“Kalau Ara tak sanggup apa kak Devan mau gendong?”


“Boleh asal Ara mau saja. Bagaimana?”


“Tidak, Ara masih sanggup jalan kok.” jawab Ara sambil memalingkan wajah merahnya karena malu dan lanjut berjalan meninggalkan Devan.


“Ara Ara, lucu banget siih kalau malu gitu.” batin Devan terkekeh melihat tingkah Ara.


“Kak Devan!! Ayo! Ngapain bengong disitu, ke arah mana ini kita?” tanya Ara yang kemudian disusul Devan dan mengacak lembut puncak kepala Ara.


“Makanya jangan sok tahu dan jalan sendiri, Yuukk!!” ucap Devan sambil menggandeng tangan Ara.


“Eeehhh!!” Ara yang terkejut tangan Devan yang menggenggam tangan dan menggandengnya. Ara hanya bisa melihat tangan dan punggung Devan bergantian, juga berjalan pasrah karena tangannya di tarik Devan untuk digandeng, dan dengan jantung yang semakin berdebar.


“Inikah rasa itu, jantung yang selalu berdebar saat bersamanya atau aku yang sekarang punya gejala sakit jantung.” batin Ara. Ara tersadar karena Devan tiba-tiba berhenti dan membuat Ara terkejut.


“Astaga kak Devan mengapa berhenti mendadak siihh, untung jidat Ara enggak kepentok punggung kakak.” protes Ara.


“Maaf maaf!! Lagi pula kenapa Ara juga tidak memperhatikan jalannya?”


“Eem eemm mana ada, Ara memperhatikan kok, kakak saja yang suka berhenti mendadak jalannya.” kilah Ara.


“Aaiiiihhh enggak akan menang ini debat lawan cewek, berabe juga nanti rencanaku jika terus berdebat dengan Ara,” batin Devan sadar.


“Iya iya saya yang salah Tuan Putri, maaf yaa.”


“Iiiissshhh Kak Devan, apaan siihhh bikin Ara malu saja.” ucap Ara yang semakin merona pipinya.


“Hahaha!! Sudah-sudah, ayo buruan pakai dulu ini penutup matanya!” pinta Devan.


“Buat apa kak pakai penutup mata segala?”


“Ayolah, kali ini Ara menurut dan diam dulu biar lebih indah nanti saat Ara melihat tempat terakhir disini.” alasan Devan untuk Ara.


“Ini berapa?” tanya Devan mengetes penglihatan Ara dengan mengarahkan dua jari di harapan Ara setelah Devan yakin Ara tak dapat melihat apapun.


“Kakak bercanda? Ini kan mata Ara tertutup, jadi bagaimana Ara tahu berapa.” protes Ara sedikit kesal.

__ADS_1


“Oohh iya yaa, maaf maaf, yuukk kakak tuntun Ara untuk jalan.” Devan menuntun Ara tepat di tengah-tengah hamparan taman bunga yang indah.


“Jangan dulu buka mata sebelum kakak beri aba-aba untuk membuka mata.” jelas Devan sambil membuka penutup mata Ara.


“ Ya ya ya, Ara mengerti.” jawab Ara.


Devan berdiri di depan Ara dengan memegang kotak merah kecil di tangannya, kemudian meraih kedua tangan Ara dan menyuruhnya membuka mata.


“Coba sekarang Ara buka mata perlahan,” ucap Devan.


Ara membuka kedua matanya perlahan, lalu melihat Devan memegang kedua tangannya, melihat sekeliling yang penuh dengan hamparan bunga indah. Jantung Ara berdegup semakin kencang, dan mulai banyak berpikir ada apa sebenarnya.


"Jangan sampai kak Devan mendengar suara jantungku yang semakin kencang ini." ucap Ara dalam batinnya.


“Ara, di sini aku Mahendra Devan Sanders seorang pria yang tak pandai merangkai kata manis dan indah untuk gadis manis sepertimu, tetapi aku juga berkeinginan untuk mengungkapkan perasaanku kepadamu. Jujur dari lubuk hatiku yang terdalam jauh sebelum tahu jika kita dijodohkan, aku memiliki perasaan khusus untukmu. Saat pertama aku bertemu denganmu di malam itu, dan hanya kamu gadis yang selalu membuat hati dan pikiranku sulit untuk ku kendalikan.”


“Berlian Aurora, di sini dan saat ini aku bertanya, mau dan bersediakah kamu menerima perasaanku ini, menjadi pendamping hidupku, menua bersamaku dan menjadi satu-satunya wanita yang akan kucintai kini dan hingga akhir masa nanti?” Ara terdiam, dia terkejut, berkaca-kaca dan hampir menangis. Dia tak percaya akan datang hari dan peristiwa ini.


"Ara aku mencintaimu menyayangimu dengan sepenuh hatiku."


Tak ada tanggapan apapun dari Ara, Ara tak bisa berkata-kata dan dia hampir meneteskan air matanya karena terharu dan bahagia.


“Ara jangan menangis, jika Ara belum siap dengan semua ini Ara bisa mengatakannya, atau bahkan jika Ara keberatan dan....” ucapan Devan terputus oleh jawaban Ara.


“Ara ini serius? Enggak bercandakan?” tanya Devan yang lebih terkejut.


“Iya kak, Ara serius, sangat serius.”


“Terima kasih Ara terima kasih.” Ucap Devan yang kemudian langsung memeluk Ara erat.


“Kaaak kakak iihh lepas Ara enggak bisa napas, kakak terlalu kuat peluknya.” protes Ara karena Devan memeluk terlalu erat dan juga karena merasa tak enak diperhatikan banyak orang.


“Astaga maaf maaf, kakak terlalu bahagia, aahh iya hampir lupa.” Devan membuka kotak merah beludru yang dibawanya.


“Apa itu kak?” tanya Ara.


“Sini tangan Ara, ini adalah cincin almarhumah mama yang kusimpan sebagai kenangan terakhir, ini mungkin dulu adalah pemberian almarhum papa, sejak dulu kakak berpikir untuk memberikannya kepada pendamping hidup kakak, dan sekarang karena Ara mau menjadi pendamping hidupku, maukah Ara memakai cincin ini sebagai restu dari papa dan mama.” jelas Devan


sambil membuka kotaknua. Ara semakin terharu dan berkaca-kaca lagi, melihat wajah Devan kemudian menatap cincin di tangan Devan.


“Pasangkan kak, Ara menerimanya.” ucapan Ara membuat lega hati Devan, karena takut jika Ara menolaknya, meski nampak kebesaran sedikit di jari manis Ara.

__ADS_1


“Terima kasih kak, terima kasih karena kakak sudah mempercayakan harta berharga untuk hidup kakak kepada Ara, Ara berjanji akan menjaganya juga, ini cincin yang indah kak.” ucap Ara seraya memandangi cincin indah di jari manisnya


“Terima kasih Ara.” ucap Devan sambil memeluk Ara sekali lagi dan kali ini lebih lama juga tak sekuat yang pertama Devan memeluknya.


“Kak yuuk makan, mau sampai kapan kita berpelukan disini, malu loh dilihat banyak orang.”


“Aahh iyaa, yuuk kita makan siang dulu hampir lupa kan.” kata Devan.


“Karena saking bahagianya kita kak hingga lupa jika perut kita butuh asupan lagi.” kata Ara.


Akhirnya mereka berdua keluar dari taman tersebut dan menuju ke cafe & resto terdekat untuk mencari makan. Tangan mereka bergandengan tak terlepas kan. Membuat siapa pun yang berpapasan dengan mereka menjadi iri melihat kemesraan mereka. Sampai di dalam mobil pun mereka masih saling menggenggam tangan Devan sambil mengemudi pandangan menatap jalan dan Ara bergantian.


“Lihat depan kak, jalannya di depan itu.” ucap Ara.


“Karena Ara sudah mengalihkan pandangan mata ini.” jawab Devan asal.


“Kak Devan mulai gombal niihh.” ledek Ara.


“Bukan, ini jujur loh Ra. Ooh ya bolehkah kita ubah panggilan kita saat ini?” tanya Devan.


“Kakak mau dipanggil bagaimana memangnya?” tanya Ara sambil membuka tutup botol air mineral dan hendak meminumnya.


“Maybe sayang, honey, darling atau Ara punya panggilan khusus untukku?”


“Uhuukk uhuukk uhuukk!!” Ara tersedak air yang masuk ke dalam tenggorokannya. Seketika Devan menghentikan laju mobilnya.


“Pelan-pelan sayang minumnya.” ucap Devan sedikit santai sambil mengelap air yang mengenai wajah Ara dengan tissu.


“Kakak serius?” tanya Ara lagi.


“Sangat serius ini, boleh kan sayang?” tanya Devan untuk mendapatkan persetujuan Ara dan Ara hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia juga setuju.


“Apakah Ara terpaksa dengan permintaan ini?”


“Ti..Tidak kak, Ara sama sekali tak terpaksa kok.”


“Jika begitu sekarang coba panggil kakak dengan panggilan 'sayang’.” minta Devan.


“Sa.. sayang.” ucap Ara malu-malu yang mendapat senyuman dari Devan.


“Bagus sayang, jangan malu-malu ya sayang, makin imut jadi pengen cubit nanti, lanjut jalan lagi ya.” Ucap Devan dengan mengacak lembut puncak kepala Ara dan berakhir dengan rona merah di pipi Ara.

__ADS_1


Mereka sampai di sebuah cafe, dan memesan makanan untuk mengisi perut mereka. Sembari menunggu makanan datang mereka mengobrol dan bercanda seperti biasa.


__ADS_2