
Kak Devan❤
Selamat pagii sayang, semangat ya (emot cium lope-lope)
Ara❤
Pagii juga sayang, terima kasih dan semangat juga untuk hari ini (emot cium lope-lope)
Kak Devan❤
Pasti hari ini sibuk kan ya, jangan sampai lupa istirahat nanti makan yang banyak ya sayang.
Ara❤
Ara sibuk tetapi lebih sibuk kakak bukan?Mau sebanyak apa memangnya kak, tak akan muat di perut Ara.
Kak Devan❤
Sayaaang, waahh awas ya nanti kalau ketemu minta dihukum ya itu. Ya sudah lanjut lagi nanti, mau ada meeting pagi (emot cium lope-lope)
Ara❤
Hehehe maaf sayang, semangat sayang (berjejer emot cium lope-lope)
Keduanya menyimpan kembali ponsel mereka masing-masing dan sibuk dengan pekerjaannya. Devan dengan meeting-nya dan Ara dengan berkas-berkas yang ada di mejanya.
Di rumah keluarga Sanders, kakek bersiap untuk berkunjung ke rumah Wijaya, sahabat yang sebentar lagi akan menjadi besannya. Dengan diantar oleh sopir, kakek Sanders sampai di rumah keluarga Wijaya.
“Naaaahh!! Baru semalam aku titip salam untukmu dan sekarang kamu sudah sampai sini saja Bung. Selamat datang yuukk kita masuk.” sambut Kakek Wijaya
“Hahaha!! Terima kasih Bung, anak nakal itu tak membuat ulah kan di sini kan.”
“Tidak tidak, Devan adalah pria baik yang sangat cocok untuk Ara kami. Bagaimana kabarmu selalu tak mau memberi kabar saat mau ke mari.” Ucap Kakek Wijaya sambil menjabat tangan sahabatnya itu dan mereka berjalan memasuki rumah.
“Syukurlah Bung, sebenarnya aku tak ada niatan ke mari, tetapi tiba-tiba aku merindukan sahabatku ini, Hahaha!!”
“Bisa-bisamu saja lah itu, silakan duduk, masih mau kopi bukan?” tanya kakek Wijaya saat tahu Bi Inah mendekat.
“Waahh terima kasih sekali aku sangat mau.”
“Bi Inah, tolong buatkan dua kopi dengan gula seperti biasa ya!”
“Baik Tuan, tunggu sebentar.” Jawab Bi Inah yang kemudian kembali ke dapur.
“Apa semalam kamu marahi itu cucumu?”
“Bagaimana aku mau marah coba, ketemu sama dia saja baru pagi tadi saat sarapan, dan dia buru-buru ke kantor, coba saja kalau tak buru-buru bisa kujewer putus itu telinganya.” jelas kakek Sanders dengan kesal.
__ADS_1
“Untung Devan tak bertemu kamu jika tidak mungkin saat ini dia kehilangan telinganya, Hahaha!”
“Dan untung saja kemarin masih ada Rudi juga yang menemaniku seharian jadi tak begitu membosankan.” imbuh kakek Sanders.
“Ya sebenarnya kemarin Devan mau langsung pulang, tapi aku minta untuk makan malam sekalian di sini dan sedikit membahas pekerjaannya.” Jelas kakek Wijaya
“Apa ada masalah dengan pekerjaannya, kok dia belum ada cerita denganku ya.”
“Mungkin belum sempat saja, bukan masalah besar kok tetapi jika tidak diperhatikan dengan serius bisa menjadi masalah besar seperti yang terjadi di perusahaan kami dulu.”
“Maaf Tuan, ini kopinya.” sela Bi Inah.
“Terima kasih Bii.” ucap mereka bersamaan.
Dan mereka melanjutkan membahas panjang lebar masalah yang terjadi di perusahaan Devan. Sampai akhirnya mereka membahas masalah Devan dan Ara juga, untuk pertunangan hingga pernikahannya.
“Mungkin jika acara pertunangan kita bisa urus, tapi untuk pernikahannya biar mereka berdua dulu yang menentukan nanti kita bisa bantu untuk selebihnya.” usul kakek Sanders.
“Benar juga kemungkinan besar juga selera kita para orang tua ini tak akan sama dengan mereka anak muda.” Kakek Wijaya membenarkan.
“Untuk acara tunangannya kita pakai jasa WO saja bagaimana? Kita siapkan beberapa WO terbaik dan biarkan mereka berdua yang memilih.” usul kakek Sanders lagi.
“Boleh juga, lagi pula ini acara mereka, kita hanya bisa berikan yang terbaik untuk mereka dan mereka yang menentukan. Untuk tanggal dan waktunya apa Devan sudah punya rencana?”
“Ahh anak nakal itu belum bicara apa pun denganku, sepertinya dia belum punya rencana, apa lagi dia sedang sibuk dengan pekerjaannya.” Keluh kakek Sanders.
“Eemmm, bagaimana jika tiga minggu dari sekarang, tanggal itu tepat ulang tahun Ara, coba nanti kamu diskusikan dengan Devan, dan kita bisa segera mencari WO terbaik untuk mengurus semuanya.” saran kakek Wijaya.
“Hahahaha!!” mereka tertawa bersama.
“Mau makan siang di sini sekalian kan?” tanya kakek Wijaya.
“Tidak usah repot-repot Bung, makan siang di rumah saja, kasihan Bi Nur jika sudah repot masak dan aku malah makan di sini.” jawab kakek Sanders.
“Baiklah jika begitu Bung, ayo kita habiskan kuenya!” ajak kakek Wijaya
“Hahaha! Tentu, siapa yang mau melewatkan kue enak ini. Tapi sebentar aku kirim pesan ke Devan dia ada waktu sebentar atau tidak untuk aku mampir sekalian ke kantor.”
Kakek
Nak sedang ada di kantor atau di luar, kakek mau mampir sebentar.
Devan
Baru saja sampai kantor kek, selepas dari bertemu klien di luar, kakek ke mari saja, Devan juga sedang pesan makan siang.
“Bung, sepertinya aku harus pamit dulu, mumpung Devan senggang aku akan mampir ke kantor dan membahas semuanya dengan Devan.”
__ADS_1
“Baiklah Bung, titip salam saja untuk Devan.”
“Pasti kusampaikan, ya sudah aku pulang dulu yaa.”
“Yaa, Hati-hati di jalan, kutunggu bagaimana keputusan Devan.”
“Tentu saja Bung.” ucap kakek Sanders, yang kemudian berjalan keluar dari pintu rumah Wijaya.
Dari rumah keluarga Wijaya, kakek Sanders langsung meminta untuk diantar ke kantor Devan.
“Tuan sudah sampai, mau ditemani masuk?” tawar sopir pribadi kakek.
“Tak usah pak, ini untuk beli makan siang ya pak, jangan sampai tidak makan, nanti saya hubungi kalau saya akan pulang.” ucap kakek Sanders dengan memberikan beberapa lembar uang, karena perusahaan Sanders tak seperti perusahaan Wijaya yang menyediakan kantin untuk karyawannya.
“Baik Tuan, terima kasih.” jawab pak sopir yang lalu membukakan pintu untuk Tuannya.
“Sudah berapa tahun ya sejak terakhir kali menginjakkan kaki di kantor ini.” batin kakek Sanders saat memandang gedung yang berdiri kokoh di depannya dan kemudian tersenyum.
Dua security di depan pintu masuk langsung membungkukkan badan memberi salam karena memang orang lama dan mengetahui siapa orang yang baru saja turun dari mobil.
“Selamat siang Tuan Besar.” sapa mereka berdua.
“Siang juga, segera beristirahat ya sudah hampir waktunya beristirahat.” jawab kakek Sanders.
“Baik Tuan, terima kasih, biar saya antar ke ruangan Pak Devan Tuan.”
“Sudah enggak usah repot-repot, saya jalan sendiri saja.” lalu kakek berjalan melewati resepsionis yang kebetulan mereka adalah karyawan baru yang masuk setelah kakek tak pernah berkunjung ke kantor.
“Selamat siang Tuan, mohon maaf Tuan tidak bisa sembarangan masuk tanpa izin, silakan isi buku tamunya dan kami akan membantu menghubungi orang yang Tuan cari.” ucap resepsionis lembut. Kebetulan Rudi baru keluar dari lift dan melihat kejadian itu.
“Karyawan baru ya, sudah berapa tahun di sini nona?” jawab kakek sambil mengisi buku tamunya.
“Maaf Tuan saya baru satu tahun bergabung di sini.”
“Tuan Besar!! Untuk apa di sini? Dan itu menulis apa?” tanya Rudi.
“Ini nak, isi buku tamu dulu.”
“Kalian tahu beliau ini siapa? Beliau yang punya perusahaan yang kalian bekerja di sini, jadi untuk apa kalian suruh beliau isi buku tamu, lihat saja jika sampai Tuan Devan tahu maka berakhir pekerjaan kalian di sini.” ucap Rudi tegas.
“Mohon maaf Pak mohon maaf kami belum pernah bertemu beliau jadi kami tidak mengetahuinya.” ucap resepsionis ketakutan.
“Sudah nak sudah, mereka karyawan baru, jangan diperbesar masalahnya, cukup di beritahu saja.” ucap kakek menenangkan.
“Hari ini kalian selamat, jika sampai terulang lagi selesai kalian semua.” ucap Rudi memperingatkan.
“Baik pak, kami akan mengingatnya.” ucap mereka, tetapi tak di dengar oleh Rudi.
__ADS_1
“Mari Tuan saya antar ke ruangan Tuan Devan.” ucap Rudi lembut.
“Jangan terlalu galak begitu nak, yang ada nanti mereka takut semua denganmu.” ucap kakek pelan saat akan masuk lift.