
“Apa kakak mau mampir masuk dulu?” Ara menawari Devan.
“Tidak usah Ra sudah malam, tak enak bertamu malam-malam begini, kapan-kapan saja jika ada kesempatan kakak main kemari.”
“Iya sudah kak hati-hati di jalan ya.” ucap Ara yang lupa belum melepas helm serta jaket Devan.
“Eeem kakak tidak jadi pulang?” tanya Ara tak berdosa.
“Itu helm kakak masih di kepala Ara.” ucap Devan lalu tersenyum.
“Aahhh iya Ara lupa maaf kak maaf.” Ara melepas helm lalu ia berikan kepada Devan.
“Ini juga jaket kakak.” Ucap Ara yang hendak melepas jaket Devan.
“Itu buat Ara juga tak apa.”
“Tidak-tidak kak, ini harus kakak pakai karena udaranya dingin sekali nanti kakak kedinginan sampai rumah.” Kata Ara yang sudah melepas jaket Devan.
“Tidak apa-apa Ra.”
“Noo no no, ini sekarang kakak harus pakai!” paksa Ara kepada Devan.
“Iya iya ini kupakai, sudah!! Kakak pamit dulu ya, salam untuk tante Mayra.”
“Iya kak, nanti Ara sampaikan ke mama.”
“Baiklah selamat malam Ra.”
“Malam juga kak, hati-hati di jalan, jangan ngebut, bila sampai rumah kasih kabar ya kak.” pesan Ara yang dibalas jempol oleh Devan.
Kemudian Ara masuk, ternyata kakek dan mamanya sudah di kamar masing-masing. Dan Ara langsung naik ke kamarnya dan menutup pintunya. Ara bersiap untuk ritual mandinya, setelah mandi Ara juga tidak lupa mengaplikasikan skincare malamnya kemudian merebahkan diri di kasur sambil menunggu pesan dari Devan.
“Apa kak Devan belum sampai ya?” lirih Ara.
Lumayan lama Ara menunggu, Ara hampir tertidur saat ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk.
“ Ting ting!!”
Kak Devan
Kakak sudah sampai rumah tadi Ra, maaf baru memberi kabar, karena tadi langsung mandi terlebih dulu.
Ara 🌼
Iya kak tak apa, syukurlah, tadi Ara berpikir jika kak Devan belum sampai rumah.
Kak Devan
Jadi Ara khawatir gitu dengan kakak? Aaahh Terima kasih sudah mengkhawatirkan kakak ya Ra.
Ara 🌼
Kakak kePeDean, ya sudah kak, Ara pamit mau tidur duluan, Ara sudah mengantuk berat. Good night kak Devan.
Kak Devan
Good night Ara, have a nice dream.
Ara dan Devan meletakkan ponsel masing-masing di nakas sebelah kasur mereka. Dan mereka terlelap, terbuai dengan mimpi indahnya.
Sabtu, hari yang sudah ditunggu pata tetua dari 2 keluarga Wijaya dan Sanders akhirnya datang. Pagi hari sebelum berangkat beraktivitas mereka semua sedang di meja makan.
__ADS_1
“Hari ini kalian semua jangan sampai lupa pulang lebih awal dan siapkan diri untuk bertemu keluarga calon suami Ara!” perintah kakek sekaligus mengingatkan.
“Dan Ara, sudah siap kan sayang untuk bertemu calon suamimu?” tanya kakek kepada Ara.
“Siap tidak siap, bukankah Ara tetap harus siap ya kek?” jawab Ara.
“Iya sayang, terima kasih karena telah menerima permintaan kakekmu ini.”
“Sama-sama kek, yuukk makan Ara sudah mengiler melihat nasi goreng itu kek.”
“Mama, Ara mau telur dan sosis itu” pinta Ara yang tidak sampai untuk mengambilnya.
“Sudah sayang? Papa mau juga?” tanya mama yang dijawab anggukan oleh Ara.
“Papa cukup telur itu saja nak.”
“Selamat makan!!” seru Ara.
“Ara terlihat gembira dan bersemangat untuk menutupi kesedihannya karena perjodohannya saat ini, tapi entah nanti ekspresi apa yang dia perlihatkan saat tahu pria yang dijodohkan dengannya adalah pria yang sebenarnya dekat dengannya, Ara Ara!!” batin mama yang terus memperhatikan putri semata wayangnya.
“Semoga apa yang kulakukan saat ini bisa menutupi rasa sedih yang kurasakan, dan tak membuat kakek dan mama kecewa terus menerus terhadapku.” batin Ara yang tetap terus memakan makanan dalam piringnya.
Setelah semua selesai makan Ara dan mamanya berpamitan dengan kakek untuk berangkat bekerja. Selama di perjalanan ke kantor, Ara yang biasanya cerewet banget, sekarang lebih terlihat pendiam. Mama tak ambil pusing saat ini, karena memang mengetahui perasaan Ara sebenarnya.
Kak Devan
Selamat pagiii Ara cantik
Ara 🌼
Pagiii juga kak Devan jelek
Kak Devan
Ara 🌼
Kakak kePeDean yaaaaa!!
Kak Devan
Sedikit ini saja Ra. Sudah berangkat ke kantor atau belum Ra?
Ara 🌼
Sudah kak, ini sedang di perjalanan. Kakak enggak kerjakah??
Kak Devan
Kerja dong Ra ini akan berangkat, ya sudah nanti disambung lagi.
Ara 🌼
Baik kak, hati-hati di jalan
Saat berbalas pesan Ara terlihat sambil tersenyum, yang membuat mamanya penasaran dengan siapa dia berbalas pesan.
“Sayang kamu tersenyum dengan siapa, apa yang membuatmu bahagia seperti itu?”
“Mama pingin tahu saja, ini urusan anak muda ma.”
“Beritahu mamamu ini sayang agar mamamu ini juga awet muda sayang.”
__ADS_1
“Lahh mau awet muda tapi maunya dapat cucu ada-ada saja lah mama ini.”
“Ohh ya sayang nanti kita selesai jam istirahat langsung pulang ya, kita ke boutique dulu untuk mengambil baju yang akan kamu kenakan nanti malam.”
“Baik ma, nanti mama kabari Ara saja jika sudah akan pulang.”
“Ya sudah, saat ini kita fokus kerja dulu, Ara jangan banyak pikiran, yuukk turun!!” ucap mama yang kebetulan mobil mereka sudah sampai di depan pintu lobby perusahaan.
Hari ini pekerjaan Ara lumayan banyak, jadi Ara tak sempat memikirkan perasaannya yang sedang kacau. Disisi lain di perusahaan Devan, Devan sedang uring-uringan terhadap apa saja yang dikerjakan bawahannya, Devan rasa kurang tepat semua.
“Kalian ini bisa kerja enggak sih sebetulnya? Pekerjaan semuanya enggak ada yang betul, apa kalian sudah bosan kerja di sini? Coba bilang!!”
Tidak ada yang berani menjawab.
“Percuma juga kalian di sini jika tetap diam, bubar sana, siang ini saya mau semua laporan yang saya inginkan segera diperbaiki tanpa kurang satu apa pun.” dan semua segera bergegas keluar dari ruangan Devan kecuali Rudi yang tetap berdiri di dekat Devan.
“Aaarrgh!!!” rasa hati Devan ingin mengumpat.
“Tuan, tenangkan dulu diri anda, apa suasana hatimu sedang buruk sekali?” tanya Rudi baik-baik.
Devan tak menjawabnya.
“Jika boleh kasih saran yuukk ikuti saya ke suatu tempat.”
“Kemana Rud, apakah ada tempat yang bisa membuatku tenang?”
“Ada, mari ikuti saya.”
Rudi jalan memimpin yang di ikuti oleh Devan menuju lift, ada beberapa karyawan yang melihat Devan berjalan menjadi menundukkan kepala, satu karena menghormati satu lain juga karena ketakutan atas amarahnya Devan tadi di ruangannya.
“Ke atas Rud?” tanya Devan karena Rudi menekan tombol menuju rooftop kantor.
Rudi ganti tak menjawab pertanyaan Devan.
“Tiing!” suara lift yang kemudian terbuka, kemudian Rudi berjalan dan membuka pintu di depannya.
“Sudah sampai tuan, silakan tuan di sini sampai benar-benar hati tuan lega, saya akan meninggalkan tuan sendiri agar lebih tenang, atau bisa panggil saya jika tuan ada perlu, permisi tuan.” lalu Rudi meninggalkan Devan, tetapi tidak benar-benar meninggalkannya, Rudi berada di balik pintu tadi.
“Semoga tuan Devan menemukan ketenangannya kembali, dan bisa menerima apa yang sudah diputuskan tuan besar.” batin Rudi untuk Devan.
Di rooftop, Devan masih melihat sekeliling, dia sama sekali tidak tahu rooftop kantornya dibuat taman kecil dan ada meja kursinya. Di sini Devan berdiri di dekat dinding pembatas setinggi dadanya, Devan menatap luas terlihat gedung perkantoran lain dan seluruh kota. Dia memejamkan kedua matanya untuk sesaat dan membiarkan angin menerpa tubuhnya. Dia mencari ketenangannya, dia sadar hari ini tidak bisa mengatur emosionalnya.
Entah harus kumulai dari mana kisah ini.
Kabut sunyi perlahan mulai membelenggu hati
Aku mencintaimu dalam diamku
Menahan rindu yang kian menggunung
Ingin rasanya kubertemu denganmu lagi
Tapi, kini menyapamu saja aku tak yakin bisa
Bahkan angin pun membisu
Ketika aku berkisah tentang apa yang berhubungan denganmu
Mungkin bagiku cukup Tuhan yang tahu
Tentang apa dan bagaimana perasaanku untukmu AuroraKu.
__ADS_1