Cinta Untuk Aurora

Cinta Untuk Aurora
BAB 6


__ADS_3

Setelah kemarin Ara menahan sakit yang luar biasa, hari ini dia sudah merasa lebih baik dari kemarin, tetapi Ara masih malas untuk keluar kamarnya. Dari sarapan hingga makan siang, bi Inah yang mengantarkan ke dalam kamarnya. Hingga membuat mama dan kakeknya terheran-heran tak seperti biasanya, hingga akhirnya mama menemui Ara di kamarnya.


“Tok tok tok!!!”


“Raaaa!! Sayang!! Boleh mama masuk?” panggil mama.


“Iya ma, masuk saja, pintu tidak Ara kunci.”


“Bagaimana keadaanmu sekarang sayang, apa sudah lebih baik?”


“Sudah lebih baik ma, jamu buatan bi Inah memang manjur ma.”


“Syukurlah sayang, jika besok masih terasa tak nyaman kita periksa ke dokter saja ya, mau kan?”


“Tak perlu khawatir ma, Ara sudah lebih baik kok, besok juga sudah bisa ikut mama kerja lagi.”


“Jangan dipaksakan sayang jika belum enak badannya, mama tidak mau kakek jadi kepikiran terus dengan cucu kesayangannya ini.” Ucap mama sambil mengusap kepala Ara.


“Ara sudah lebih baik ma, hanya masih malas untuk beranjak dari sini saja.”


“Baiklah jika begitu, mama temui kakek dulu di bawah, istirahat yang cukup ya sayang.”


“Terima kasih ma.” Ucap Ara yang dibalas senyuman oleh mamanya.


Setelah dari kamar Ara, mama Mayra melihat kakek sedang duduk santai di kebun kecil depan rumahnya, dan mama berencana menghampiri kakek.


“Pa masuk yuk, angin sore ini terlalu kencang.”


“Bagaimana keadaan Ara May?”


“Syukur Pa sudah lebih baik, berkat jamu yang dibuat bi Inah juga Pa, mungkin masih sedikit nyeri.”


“Bawa ke dokter saja May!”


“Ara tak mau pa, tapi jika besok masih sama seperti sekarang akan Mayra paksa Ara untuk ke dokter kok pa.”


“Baiklah. Jadi kemarin Ara belum bertemu dengan Devan ya May?”

__ADS_1


“Belum pa, biar perlahan saja.”


“Ahh ya, ingatkan papa untuk menghubungi Sanders besok ya.”


“Iya pa, kemarin Mayra juga mengajak Devan untuk main kemari bersama Tuan Sanders jika mereka luang.”


“Kamu tidak menyalahkan papa kan May karena Ara papa jodohkan sejak dia kecil?”


“Paa, Mayra tahu papa lakukan ini pasti juga demi kebahagiaan Ara kelak, Mayra tidak keberatan pa, hanya saja saat ini Mayra tidak tega melihat Ara yang mungkin akan kecewa dengan sikap kita pa.”


“Itu yang harus kita hadapi kebahagiaan Ara kelak, papa yakin itu.”


“Semoga langkah kita benar dan di restui pa.”


“Ya semoga saja May.”


Besar harapan kakek dan mama Ara untuk kebahagiaan Ara kelak, karena mereka yakin Devan adalah pria baik-baik yang bisa menjaga, mencintai dan menyayangi putri kecil mereka Ara.


Saat makan malam tiba, Ara sudah mau turun dan makan malam bersama, dan setelah makan malam, dia meyakinkan kakek dan mamanya bahwa dia sudah baik-baik saja sekarang dan besok pagi sudah bisa ikut mamanya ke perusahaan.


“Yakin kamu sudah baik-baik saja sayang?” tanya kakek.


“Cucu kakek sekarang semakin dewasa ya sudah tidak menjadi cucu manjanya kakek.”


“Kakeeekk! Bukankah seperti yang kakek dan mama minta kepada Ara? Sekarang Ara senang melakukannya kek, Ara juga kasihan dengan mama pekerjaan mama terlalu banyak.” ucap Ara yang berakhir memeluk mamanya.


“Terima kasih sayang, karena sudah membuat kami bangga dengan perubahan baik ini.” Sambung mama yang kemudian mengecup kepala Ara.


“Sudah kalian peluk-peluknya? kakek tak dipeluk pun, kakek merajuk laah.”


“Hahahahaha.” Tawa mereka bersama.


Keesokan hari mereka bersiap-siap untuk aktivitas masing-masing. Mama dan Ara ke perusahaan sedangkan kakek berencana menghubungi kakek Sanders untuk rencana bertemu.


“Papa kami pamit berangkat dulu ya.”


“Iya nak, hati-hati semoga hari ini semuanya lancar dan dipermudahkan segala urusan.”

__ADS_1


“Kakek, Ara juga berangkat bersama mama ya.”


“Iya sayang, jangan nakal dan bekerja yang serius, pelajari semua yang belum kamu tahu.”


“Baik kakek, Ara bukan anak kecil lagi mana mungkin nakal.”


“Hahahaha, iya iya iya, sudah sana berangkat.”


“Byee kakek.” ucap Ara sambil berjalan lebih cepat menyusul mamanya.


“Sudah berangkat semua, sekarang kucoba hubungi Sanders.”


“Semoga Sanders di rumah.” Kata kakek bermonolog menanti jawaban di sebrang panggilan.


Sanders: ”Halo selamat pagi dengan keluarga Sanders disini.”


Wijaya: “Halo Sanders, selamat pagi, ini aku Wijaya.”


Sanders: “Hai Wijaya, apa kabar, ada angin apa ingat dengan ku, hahaha!”


Wijaya: “Heeei masih renyah ya ketawamu sekarang. Serenyah rengginang dalam stoples, hahaha.”


Sanders: “Hahaha bisa saja kamu, sehat kan kamu?”


Wijaya: “Ya aku sehat dan baik-baik saja lebih baik lagi jika kita bisa bertemu.”


Sanders: “Kapan kita bisa bertemu aku ingin bertemu cucu manismu itu.”


Wijaya: “Kapan kamu bisa? aku bisa kapan pun, sekarang juga bisa. Hahaha.”


Sanders: “Ya baiklah sekarang saja kita bertemu, aku akan berkunjung ke rumahmu. Kamu duduk diam saja di rumah kasihan tubuh tuamu itu.”


Wijaya: “Hei hei hei sadarlah dirimu juga tua bung.”


Sanders: “Hahaha, baiklah aku akan segera kesana, aku tutup telefonnya.”


Wijaya: “Yaa, hati-hati dijalan, aku menunggumu.”

__ADS_1


Setelah menutup telefon masing-masing, mereka bersiap-siap. Kakek Wijaya meminta bi Inah membuat makanan ala kampung untuk mereka makan siang nanti sambil mengenang masa muda dulu dan beberapa cemilan rendah gula untuk teman mengobrol. Sedangkan kakek Sanders dia bersemangat sekali bersiap untuk bertemu kawan lama, sekaligus ingin menyampaikan keinginan untuk menjodohkan lagi cucunya dengan cucu kawan lamanya.


__ADS_2