Cinta Untuk Aurora

Cinta Untuk Aurora
BAB 17


__ADS_3

Ara segera turun ke lobby kantor untuk secepatnya membeli kopi yang dia inginkan dari Caffe sebrang kantor, karena jika bertepatan dengan waktu istirahat maka akan mengantre lebih panjang untuk sebuah kopi.


“Naahh kan itu antreannya sudah lumayan, aku harus cepat.” ucap Ara lirih saat melihat keadaan Caffe itu.


Karena laju kendaraan di jalan depan kantor terlalu ramai, Ara tak bisa dengan cepat untuk menyebrang yang akhirnya disebrangkan oleh security kantor.


“Mau kemana mbak?” tanya salah satu security.


“Mau ke Caffe depan itu pak, tapi susah mau menyebrang.”


“Mari saya bantu mbak.”


“Terima kasih pak.” ucap Ara sambil sedikit membungkukkan punggungnya.


Lumayan lama Ara duduk menunggu pesanannya, tak disengaja Devan yang akan menuju kantor Wijaya Group itu melihat Ara yang sedang duduk di teras Caffe tersebut. Dan akhirnya Devan meminta Rudi untuk menghentikan mobil dan dia turun untuk menghampiri Ara.


“Stop Rud stop dulu!!”


“Ada apa tuan?”


“Bukankah itu Ara, sedang apa dia di situ?”


“Membeli minum atau memang mau makan mungkin tuan.” jawab Rudi.


“Aku akan turun di sini, kalian masuk saja, jika nanti tante Mayra tanya jawab saja nanti aku akan menyusul.”


“Baik tuan, tapi tuan kan ini akan masuk jam makan siang dan kita akan memulai rapat seusai makan siang jadi tuan masih bisa mengikuti bukan.”


“Ya ya ya! Ya sudah sana kalian masuk dan bawa jasku ini, aku akan menyusul gadis itu.” Ucap Devan yang sudah tidak fokus dengan apa yang diucapkan Rudi.


Devan turun dari mobil dan melepaskan jas yang dikenakan, kemudian dia menyebrang jalan untuk menyusul Ara.


“Hai Ra! Sedang apa di sini? Sendirian kah?”


“Eehh Kak Devan!! ya kak, Ara sendirian ini sedang memesan kopi dan sedikit camilan, Kak Devan sendiri sedang apa kemari?”


“Ohh tadi karena tidak sengaja melihat kamu di sini jadi turun saja dari mobil, sebenarnya juga akan rapat di tempat kamu kerja Ra tapi masih nanti selesai jam makan siang.”


“Oohh begitu, mau Ara pesankan kopi juga kak agar tak lebih lama lagi mengantrenya.”


“Boleh-boleh, tidak merepotkan bukan?


“Kakak mau pesan apa?”


“Eemm cappucino saja deh Ra.”

__ADS_1


“Sebentar kak, Ara tambahkan pesanan dulu.”


Ara masuk untuk menambahkan pesanan Devan, kemudian kembali lagi untuk duduk mengobrol sembari menunggu pesanan.


“Belum jam makan siang kok sudah boleh keluar Ra?”


“Tadi sudah izin kok kak, jadi aman saja. Terus kakak juga enggak kena marahkah diajak rapat malah mampir ke Caffe?”


“Sama sudah izin juga.” jawab Devan


Mereka berdua mengobrol sana sini sambil menunggu pesanan, tak lama kemudian pesanan mereka datang dan mereka segera kembali ke kantor.


“Eem kak maukah makan siang bersama?” tanya Ara.


“Boleh boleh.” Kata Devan bersemangat.


“Eem tapi hanya di kafetaria kantor siihh, tapi tenang saja kak makanan di kafetaria kantor tak kalah enak kok dengan yang di restoran.”


“Iya tak apa, mungkin juga kawan-kawanku juga sedang makan di kafetaria sini.”


“Oke kak, kakak tunggu di ruang tunggu itu terlebih dulu dan Ara akan mengantarkan kopi ini ke atas kemudian nanti kita bersama ke kafetaria.”


“Baiklah, aku akan menunggumu.” kata Devan.


“Eeehh!! Kok aku bersemangat sekali bertemu dengan Ara, bahkan mau juga menunggu dia.”


“Devan Devan ada apa ini?” monolognya dalam hati.


Ara bergegas segera mengantarkan pesanan mamanya, dia bersemangat karena akan makan bersama Devan yang menurutnya itu peristiwa langka yang tak akan memiliki kesempatan berkali-kali.


“Mama ini pesanannya ya, Ara mau segera turun.”


“Sayang makan siang dulu!” ucap mama sedikit berteriak karena Ara terburu-buru keluar.


“Ini Ara juga mau makan ma, ada teman Ara yang menunggu di bawah dan mau makan bersama di kafetaria.” ucap Ara yang kemudian menutup pintu.


“Makan bersama siapa anak itu, astaga bar-bar sekali dia.” ucap mama yang tak habis pikir dengan tingkah Ara kali ini.


Ara segera turun lagi dan menyusul Devan di ruang tunggu.


“Maaf kak! Ara terlalu lama, yuukk kita ke kafetaria sekarang.” ucap Ara yang terengah-engah karena setengah berlari.


“Kenapa berlari, kan aku menunggumu di sini.”


“Takutnya kakak menungguku terlalu lama jadi lumayan berlari saja.” ucap Ara sambil tersenyum.

__ADS_1


“Astaga manis sekali sih Ara ini.” batin Devan.


“Belok sini kak, kakak terbiasa bukan makan di kafetaria kantor?” tanya Ara sambil berjalan.


“Eeh eem iya terbiasa kok, memangnya ada apa Ara bertanya seperti itu?”


“Dari penampilan kakak sepertinya jarang ke kafetaria kantor malah lebih terlihat sering ke restoran bukan?”


“Ada-ada saja kamu ini Ra.” kata Devan.


Ternyata benar Rudi beserta bawahannya juga sedang makan di kafetaria. Saat mereka melihat ke arah Devan, Devan mengedipkan mata agar mereka tetap diam di tempat. Devan dan Ara mengambil sendiri menu makan siang yang mereka inginkan. Kemudian mereka duduk di bangku kosong dan duduk berhadapan untuk menyantap makanannya. Karena mereka masing-masing terbiasa makan tanpa mengobrol jadi tak ada percakapan antara mereka sampai makanan mereka habis.


“Bagaimana kak rasa dari masakan di kafetaria kantor ini, tidak kalah kan dengan yang di restoran?” tanya Ara seusai makanan di piring mereka habis.


“Ya benar sekali tak kalah enak kok, pantas ya banyak karyawan yang lebih memilih makan di sini daripada mereka keluar.”


“Benar kak, mesti biaya makan juga tidak gratis dan biayanya hanya dibebankan separuh saja kepada karyawan, jadi masih sama-sama tidak ada yg dirugikan.” jelas Ara.


“Oo begitu ya, oo ya Ra boleh sedikit bertanya masalah pribadi kan?” tanya Devan.


“Boleh kak, selama Ara bisa menjawab pasti akan Ara jawab.” kata Ara sambil tersenyum lagi.


“Eeemm begini beberapa waktu lalu aku sempat melihat Ara makan bersama seorang pria di restoran XX, boleh tahu siapa pria tersebut dan ada hubungan apa dengan Ara?” tanya Devan hati-hati.


“Eeemmm Restoran?? Ooohhh!! Itu Andre teman kuliah dulu katanya sih dia bekerja di Sanders Group, tapi Ara tak yakin, masa perusahaan sebesar Sanders Group mau mempekerjakan seorang maaf breng*** seperti dia, seperti tak ada SDM yang lebih bagus saja.”


“Mengapa Ara berkata seperti itu, jika Ara juga mau bertemu dan makan bersama dia?” tanya Devan semakin penasaran.


“Karena dia sering kemari dan mengganggu kak, dan saat itu dia berjanji tidak akan mengganggu lagi jika Ara mau makan siang bersamanya, ternyata setelah itu dia benar-benar tak datang lagi.”


“Begitu ya rupanya, oo ya boleh minta nomor WA atau line chat Ara tidak?”


“Boleh kak, mana HP kakak?”


Devan segera memberikan ponselnya dan Ara juga segera mengetikkan nomornya.


“Nah sudah kak, oo ya kak, Ara tak bisa berlama-lama karena harus segera menyiapkan berkas rapat, kakak tak apa kan Ara tinggal dulu?” tanya Ara.


“Yaa tentu, setelah ini aku juga akan mencari kawan-kawanku untuk membahas sedikit dokumen sebelum diserahkan.”


“Baiklah, Ara duluan ya kak, Semangat!” seru Ara bersemangat.


“Terima kasih Ra kamu juga!” balas Devan yang diacungi jempol oleh Ara.


Mereka masih belum sadar jika sebenarnya mereka sudah dijodohkan, tapi mungkin karena sudah jodohnya jadi mereka sering bertemu.

__ADS_1


__ADS_2