
Sepanjang perjalanan pulang dari rumah kakek Sanders, pikiran dan hati Rudi kacau sekali. Rudi juga tidak fokus beberapa kali hampir menabrak kendaraan lain, dan yang terakhir dia benar-benar menabrak satu mobil yang baru saja terparkir di basement apartemennya.
“Astagaaa!” Rudi yang terjatuh juga terkejut karena sudah menabrak mobil di depannya.
“Anda tak apa-apa pak?” tanya seorang wanita yang keluar dari mobil yang Rudi tabrak.
“Tidak apa-apa, maaf maaf, saya yang tidak sengaja menabrak mobil anda, saya akan ganti rugi untuk membetulkannya.” ucap Rudi yang berusaha berdiri dan berdirikan motornya juga belum melihat siapa orang yang ada di depannya.
“Pak Rudi! Bu dokter!” mereka sama-sama terkejut.
“Sedang apa Bu dokter di sini?”
“Kebetulan memang saya juga salah satu penghuni apartemen sini juga pak, apakah ada yang luka pak biar saya obati dengan segera agar lukanya tidak terinfeksi.”
“Tidak, tidak Bu, saya baik-baik saja.”
“Pak Rudi tinggal di unit lantai berapa jika saya boleh tahu?”
“Ahh saya di lantai 20 Bu.”
“Di lantai atas saya berarti ya pak ternyata.”
“Panggil saya Rudi saja Bu, saya belum setua itu untuk menjadi bapak-bapak.”
“Baiklah, dan anda juga bisa panggil saya Melody, kita tidak sedang di rumah sakit.”
Rudi dan Melody masih mengobrol untuk membahas Rudi yang akan ganti rugi membetulkan mobil Melody.
“Eemm begini saja Mel, besok akan ada orang bengkel yang ke mari untuk membetulkan kendaraan kita, soal biaya nanti saya yang akan menanggungnya. Nanti akan saya hubungi anda jika orang bengkelnya sudah datang.”
“Baiklah, tapi apakah saya tidak merepotkan?”
“Tentu tidak, mobil ini rusak akibat saya yang lalai sehingga bisa menabrak. Untuk besok bekerja bagaimana jika saya juga mengantarkan?” tawar Rudi yang tidak enak hati.
“Tidak, tidak usah, kebetulan besok saya sedang libur tidak ada jadwal praktek.”
“Oh baiklah, jika anda membutuhkan kendaraan untuk pergi entah ke mana hubungi saya saja, saya akan mengantar anda selama mobil ini diperbaiki, jangan sungkan ini adalah bentuk tanggung jawab saya.” tawar Rudi lagi
“Sudahlah tak apa kok, nanti saya bisa pesan taksi online juga.”
“Mari kita naik, bukankah anda juga sudah lelah seharian ini.”
“Ahh iya iya, mari!”
Akhirnya mereka berdua masuk lift bersama untuk menuju unit mereka masing-masing, dan selama di lift mereka hanya terdiam saja.
__ADS_1
“Aiiihhh astaga ada apa denganku, mengapa aku jadi tidak fokus begini, beberapa kali hampir tabrakan dan yang terakhir benar-benar tabrak mobil orang. Dan sekarang, situasi macam apa ini, canggung banget.” batin Rudi.
“Mari Rud saya duluan, kapan-kapan mampir ya, jika ada yang luka saat ini segera hubungi saya.” pamit Melody.
“Ahh iyaa Mel, jangan sungkan juga jika butuh bantuan dariku.” jawab Rudi yang kemudian pintu lift tertutup untuk menuju ke lantai apartemen Rudi.
Sesampainya di rumah, Rudi segera mandi dan membersihkan semua ruangan yang sudah ditinggalkan berhari-hari. Setelah semua beres, Rudi terduduk bersandar di sofanya. Sambil menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam.
“Astaga, apa yang harus kulakukan agar kakek dan Devan tak selalu kecewa kepadaku, jasa mereka terlalu besar kepadaku, mereka menganggapku yang orang luar bukan siapa-siapa mereka sebagai keluarga sendiri, tapi aku akan tak tahu malu sekali jika aku juga menganggap mereka seperti keluarga, lebih pantas jika aku menganggap mereka adalah Tuan bagiku. Dan juga jika aku berada di sini bagaimana caraku menjaga mereka berdua saat dibutuhkan.”
“Dilema dan tembok besar ini mengapa mempersulitku sampai seperti ini?” batin Rudi berakhir menatap langit-langit apartemennya.
“Aaahh yaa aku harus segera menghubungi orang bengkel untuk mengambil mobil dan motor itu.” ucap Rudi yang teringat kejadian tadi, kemudian segera menyambar ponsel yang ada di atas meja dan menghubungi orang bengkel.
“Bereeeees, sekarang aku lapar sekali dan masih ada persediaan apa ya yang tersisa di dapurku?” ucap Rudi yang beranjak menuju dapur minimalisnya.
“Syukurlah masih ada mie instan, semoga telur dan sosis masih ada di dalam kulkas.”
Akhirnya Rudi memutuskan makan malam dengan mie instan ala Rudi, memasak sendiri dan makan sendiri, setelah makan malam itu dia masih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya dan menyusun jadwal untuk Devan besok. Setelah duduk terlalu lama untuk menyelesaikan pekerjaannya, baru dia rasakan jika ternyata lututnya sedikit memar dan nyeri sekali. Rudi mengambil kompres es dan membawanya ke tempat tidur lalu dia beristirahat.
...----------------...
Di sisi lain Devan dan Ara yang sedang dilanda kasmaran mereka sedang asyik mengobrol via telepon.
Devan: ”Ooh ya sayang, bukankah tadi sore bilang ada yang perlu dikatakan?”
Devan: “Ada apa dengan cincinnya sayang, apakah tidak cocok dengan selera Ara?”
Ara : “Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja cincin ini sedikit kebesaran di jari Ara, jadi tidak bisa digunakan di jari Ara, dan dari saran mama, akhirnya Ara kaitkan pada kalung untuk jadi liontin, tak apakah sayang? Maaf Ara mengecewakan.”
Devan: “Tidak sayang, saran mama betul juga kan? Eeemm bagaimana jika besok kita ke toko perhiasan untuk menyesuaikan cincin itu dengan jari Ara, ada waktu luang kah?”
Ara : “Tentu kak, besok Ara akan meminta izin dari mama untuk keluar sebentar.”
Devan: “Sayaaaaaaaang! Masih sengaja ya minta dicium banyak-banyak kah?”
Ara : “Ampuun kak Devan sayaang, kan enggak sengaja. Ara akan lebih membiasakannya.”
Devan: “Iya sayang, aku tahu itu dan akan selalu menunggumu agar terbiasa.”
Ara : “Terima kasih kak... Aaah sayang.” (Ara terhenti dan segera mengubah panggilannya terhadap Devan).
“Hahahahaha!!” mereka tertawa bersama.
Devan: “Jadi besok kira-kira jam berapa kita bisa keluar sebentar sayang?”
__ADS_1
Ara : “Sesuaikan saja dengan jadwal pekerjaan sayang, kapan waktu yang longgar.”
Devan: “Mungkin saat makan siang, jadi sekalian nanti kita makan siang bareng, karena setelah jam makan siang sepertinya aku harus bertemu dengan klien.”
Ara : “Baiklah jika begitu, besok Ara akan izin ke mama.”
Devan: “Tidak usah sayang, biar besok aku saja yang minta izin ke mama sekalian jemput Ara.”
Ara : “Baiiklah sayang, Ara tunggu besok.”
Devan: “Baiklah sayang, sudah larut segera beristirahat ya, agar besok tetap fit untuk bekerja. Terima kasih sudah memberikan warna baru dalam hidupku saat ini.”
Ara : “Sama-sama sayang, dan juga terima kasih untuk kesabaran kakak dalam menghadapi Ara.”
Devan: “Tidak masalah sayang, ya sudah selamat malam sayang, selamat bobo jangan lupa mimpikan kita ya.”
Ara : “Malam juga sayang, semoga saja. Hehehe”
Devan: “Sampai berjumpa besok ya sayang, emmuuuaach!!”
Ara : “Emmuuuaach!”
“Tut!” Ara segera mengakhiri teleponnya karena malu sekali.
“Astagaaa astaga!! Apakah tadi masih Ara kesayangaku?” ucap Devan yang terkejut mendapatkan ciuman Ara via telepon yang kemudian Devan tersenyum puas dan tertawa sendiri di atas tempat tidurnya.
...Dulu aku tak pernah berpikir akan mencintaimu melebihi apapun.
...
...Tapi yang terjadi tak ubahnya alur takdir yang digariskan Sang Pencipta.
...
...Ternyata aku mencintaimu sejak kali pertama,
...
...Saat mata lugumu saling bertatapan denganku.
...
...Kutuliskan rasa ini sebagai bekal untuk nyenyakkan kantukku.
...
__ADS_1
...Sebelum mimpi datang dan semakin larut dalam perjalanan bintang yang menanti fajar.
...