
Pagi sebelum berangkat ke kantor, Devan menyempatkan menemani kakek sarapan dahulu. Meski hanya sepotong sandwich dan secangkir kopi pasti dia akan santap. Setelah sarapan, Devan biasanya mengobrol sebentar dengan kakek sebelum lanjut berangkat.
“Ooh ya kek, beberapa waktu lalu saat belanja di supermarket Devan tak sengaja bertemu dengan tante Mayra, tante mengundang kita untuk mampir ke rumahnya jika kita senggang, apa kakek ada waktu?”
“Seharusnya kakek yang bertanya apa kamu ada waktu menemani kakek untuk kesana?”
“Bagaimana jika hari minggu depan kek, karena hari minggu ini Devan ada urusan bersama Rudi.”
“Baik, ada urusan apa memangnya tumben banget hari minggu juga tidak dipakai istirahat, apakah ada masalah di perusahaan?”
“Kakek jika itu masalah perusahaan pasti setiap hari juga ada kek, ini biasa kek urusan anak muda. Hehehe.” Cengir Devan mencoba menutupi masalah yang terjadi di perusahaan dari sang kakek.
“Baiklah jika urusan anak muda kakek tidak ikut campur. Yang penting segera bawa calon cucu mantu buat kakek, jika tidak kamu harus ikuti permintaan kakek untuk kakek jodohkan dengan jodoh masa kecilmu.”
“Masalah itu urus kakek saja, Devan akan mencoba menerima apa yang kakek putuskan untuk satu masa itu, Devan percaya pasti kakek lebih tahu itu.”
“Baiklah jika begitu, nanti kakek tinggalkan foto dan biodata calon istrimu di kamarmu untuk nanti kamu lihat sendiri bagaimana pilihan kakek untukmu nak.”
“Iya kek, Devan berangkat kerja dulu.” ucap Devan pasrah karena dia sudah pusing memikirkan masalah di perusahaan.
“Hati-hati nak, semangat ya!”
Setelah Devan pergi, kakek menelepon kaki tangannya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan hingga membuat Devan terlihat memikirkan masalah besar.
Tidak memerlukan waktu yang lama untuk kaki tangan kakek mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan. Dan dia langsung melaporkan kejadian sebenarnya. Lalu kakek memberikan instruksi untuk membantu mengumpulkan bukti tanpa sepengetahuan Devan.
“Aku tidak mungkin tinggal diam saat cucuku menghadapi masalah sebesar itu, aku akan tetap membantu tanpa kamu tau itu nak.” ucap kakek lirih.
Sesampainya di perusahaan, yang biasanya Devan menanggapi sapaan dari karyawan yang berpapasan dengan senyum atau sebatas kata “Iya “ kali ini Devan hanya diam dan melewati semua karyawan dan memasang muka seperti ingin makan orang.
“Selamat pagi tuan Devan.” sapa Rudi saat Devan memasuki ruangannya.
“Bagaimana Rud, ada perkembangan penyelidikannya.”
“Belum ketemu dengan bukti-bukti yang kuat tuan, tapi saya sangat yakin pegawai tersebut yang melakukannya.”
__ADS_1
“Baik, terus kita cari semua bukti-bukti itu, dan segera jebloskan ke penjara.”
“Baik tuan!”
“Sementara aku akan urus dulu semua laporan keuangan untuk semua anak cabang perusahaan kita, dan kamu tolong lanjutkan penyelidikannya.”
Hari ini Devan dan Rudi kerja lembur lagi juga dengan beberapa karyawan yang bersangkutan dengan masalah yang ada. Dan Rudi terkejut saat dia menerima surat anonim yang berisi beberapa bukti yang dapat membantu menurut karyawan yang nakal tersebut.
--------~~--------
Di Wijaya Group saat jam istirahat, ada seorang tamu yang mencari Ara di meja resepsionis.
“Selamat Siang, selamat datang di Wijaya Group, ada yang bisa kami bantu?” sapa resepsionis.
“Iya siang, bisa bertemu dengan Aurora, Berlian Aurora.”
“Maaf dengan bapak siapa, dan apakah suda membuat janji?”
“Saya Andre teman dari Aurora, apakah harus membuat janji dulu?” tanya Andre.
“Jika begitu silakan bapak tunggu dulu di ruang sebrang, dan kami akan menghubungi ibu Aurora terlebih dahulu.”
Andre berjalan menuju ruang tunggu dan resepsionis menelepon Ara. Beberapa menit kemudian keluar lah Ara dari dalam lift menuju meja resepsionis.
“Dimana mbak tamunya?”
“Maaf bu, pak Andre berada di ruang tunggu.”
“Baik, saya akan kesana, terima kasih mbak.”
“Sama-sama bu.”
Ara berjalan menuju ruang tunggu tamu.
“Ada kepentingan apa disini ndre?” tanya Ara mengejutkan Andre.
__ADS_1
“Tidak ada hanya ingin mengajakmu makan siang bersama, bisa kan?”
“Kan sudah aku bilang jika aku sibuk dan aku tak bisa.”
“Kali ini saja Ra kumohon dan setelah itu terserah kamu aku tak akan mengganggumu lagi, please!”
“Aiihh oke tunggu sebentar, aku akan ambil tas dan berpamitan dulu.
“Yeeess! Thanks Ra.” seringai Andre merasa berhasil.
Sebenarnya Ara mulai risih saat Andre sering meneleponnya saat jam kerja, dan ini Ara berharap untuk terakhir kalinya dan dia tak perlu bertemu Andre lagi.
“Sudah yuukk berangkat, mau makan dimana kita?” tanya Ara.
“Kamu ikuti saja aku, aku tak akan mengecewakanmu.”
“Oke ayo buruan.”
“Sabar dong Ra, nggak sabaran banget siih, mau buru-buru ngapain siih?” goda Andre tapi tidak direspon Ara.
15 menit kemudian, sampailah mereka di suatu restoran besar.
“Yuk Ra turun!” sambil membukakan pintu mobil untuk Ara.
“Banyak uang kamu Ndre, bisa mengajak aku makan di resto besar begini?”
“Ahh tidak kok Ra biasa saja ini, yuuk masuk aku sudah memesan 1 meja disini.”
“Ya silakan kamu terlebih dulu.”
Sekarang Ara dan Andre sudah duduk di ujung ruangan berdinding kaca transparan yang bisa terlihat dari luar apa yang sedang dilakukan di dalam. Tak berapa lama makanan datang dan dihidangkan.
“Mewah sekali makan ini Ndre!”
“Ini spesial buat kamu Ra.”
__ADS_1
Sambil memegang tangan Ara, dia mengutarakan maksud dia mengajak makan disini, tapi sayang dia ditolak mentah-mentah oleh Ara.
Tak diketahui oleh mereka berdua, sebenarnya dari tadi mereka diawasi oleh beberapa orang yang tidakak jauh dari sana dan sedang memotret mereka.