Cinta Untuk Aurora

Cinta Untuk Aurora
BAB 28


__ADS_3

Ara dan Devan akhirnya pergi keluar bersama, di dalam mobil suasana sangat canggung sekali, Ara dan Devan sama-sama bingung mau memulai pembicaraan yang seperti apa. Hingga akhirnya Devan yang memulainya.


“Kenapa lirik-lirik curi pandang begitu Ra? Kakak tahu kok kalau kakak ini ganteng maximal.”


“Idiiiihh kak Devan narsis banget siihh!”


“Hahahaha.” Devan tertawa terbahak-bahak.


“Ya habisnya dari tadi diam aja loh Ra.”


“Kakak juga diam kan, jadi bingung juga Ara mau ngomong apa.”


“Ya udah yuk kita ngobrol aja biar enggak mengantuk gitu, Ara siihh enak tadi sudah ketiduran kan.”


“Hehehe iya kak, habisnya tunggu kakak enggak datang-datang dan karena mungkin bangunnya kepagian juga.”


“Maaf juga Ra, tadi bangun kesiangan padahal sudah janji dengan Ara.”


“Tak apa kak, jadi sekarang kita mau kemana?” tanya Ara.


“Masih rahasia dong, nanti juga Ara akan tahu.”


“Iiisshh kak Devan pakai rahasia-rahasia segala.”


“Ooh ya Ra, kakak tanya sekali lagi tentang perjodohan kita, Ara terpaksa atau tidak untuk menjalaninya?” tanya Devan serius.


Ara terdiam sejenak, “Jujur dari awal sudah Ara katakan pada kakak, Ara sudah ikhlas menjalani semua ini kak, Ara yakin pilihan kakek tidak akan salah, dan sekarang tinggal bagaimana kakak menerima atau tidak segala kekurangan Ara ini.”


“Ara kekurangan dan kelebihan yang kita miliki adalah pelengkap hubungan ini, jujur saja aku juga bukan seorang yang sempurna, juga masih memiliki banyak kekurangan, jadi bisakah kita berjalan bersama dan saling membantu membenahi kekurangan kita itu nanti?”


“Semoga kita bisa menjalani seperti apa yang kita inginkan kak.”


“Ya semoga saja Ra, karena kita sama-sama dalam satu perahu untuk membahagiakan keluarga dan kebahagiaan kita juga kan.” Ucap Devan yang direspons Ara dengan anggukan yang menandakan jika setuju.


Selama di perjalanan itu mereka mengobrol apa saja yang bisa membuat mereka lebih mengenal masing-masing. Dan karena perjalanannya keluar kota menempuh beberapa jam perjalanan Devan dan Ara singgah di cafe yang mereka lalui. Ara yang masuk memesan minuman dan Devan menunggu di luar dan hampir tertidur.



__ADS_1


“Kak, ini minumnya.” suara keras Ara yang disengaja untuk mengejutkan Devan.


“Astaga Ara bikin orang kaget saja, terima kasih.” Devan yang terkejut menerima minuman dari Ara.


“Hahaha, abisnya tidur kok disini, kalau kakak diculik tante-tante yang lewat sini bagaimana?”


“Mana ada tante-tante Araaa.” balas Devan dengan mengacak-acak lembut rambut Ara.


“Iiissshh kakak, berantakan kan rambut Ara.” Sambil manyun Ara membenahi rambutnya.


“Jangan manyun-manyun gitu Ra, makin cantik loh ntar, yuukk masuk ke mobil, panas disini.”


“Mana mungkin sih kak orang manyun kok makin cantik.” debat Ara sambil jalan ke parkiran mobil yang Ara pikir itu mobil Devan.


“Eeehh Raa, mau kemana mobilnya disini kok malah jalan kesana?” ucap Devan sedikit berteriak karena Ara jalan berlawanan arah dengan Devan.


“Laahh eeehh, Ara pikir itu tadi mobil kak Devan makanya Ara kesana.”


“Makanya kalau jalan itu jangan sambil manyun agar enggak salah mengenali mobil orang, hahaha.” Devan semakin terbahak karena tingkah Ara itu dan Ara semakin manyun.


Setelah masuk ke dalam mobil pun Ara masih manyun, dan Devan masih juga tertawa.


“Puas kak Devan ketawanya, ketawa saja terus enggak usah jalan-jalan ini mobilnya.”


“Ya ya ya maaf Ara, Ara lucu begitu siih jadi susah buat berhenti ketawanya, maaf ya Ara cantiknya kakak.”


Pipi Ara langsung berubah memerah karena malu dan bercampur bahagia atas ucapan Devan.


“Iiisshh kak Devan bikin Ara salting niihh.” Ucap Ara sambil menutup wajahnya dengan cup minuman yang masih Ara pegang.


“Awas minumnya tumpah nanti, dan baju Ara menjadi kotor, kenapa salting begitu, nanti bakal sering-sering kakak bikin Ara salting begitu lagi yaa. Hahaha!”


“Aiihh kak Devan, Ara telepon kakek niihh.”


“Eeeiiitt eeiitt jangan dong Ra, yuukk pakai lagi seatbelt nya, kita lanjut perjalanannya.” ucap Devan sambil memasang seatbelt di bangku Ara dan kemudian melanjutkan perjalanannya.


“Nanti kita makan siang di sana saja ya Ra, tanggung tinggal sebentar lagi soalnya.”


“Terserah kak Devan saja, kan Ara juga belum tahu kak Devan mau ajak Ara kemana.”

__ADS_1


“Iya juga ya, ya sudah Ara tidur saja jika mengantuk, nanti jika sudah sampai kakak bangunkan.”


“Enggak ahh kak, masa kak Devan nyetir sendiri dan Ara tinggal tidur, kan enggak enak.”


“Ya sudah yuuk bercerita lagi dech.” ucap Devan.


Akhirnya mereka bercerita kisah mereka, dan tak lama kemudian Ara tertidur juga. Devan memberhentikan mobilnya, dan sedikit merebahkan sandaran bangku Ara agar sedikit nyaman tidurnya.


“Cantik.” ucap Devan dengan tersenyum saat sejenak menatap Ara yang tertidur, dan kemudian melanjutkan perjalanan lagi.


Lumayan lama Devan melajukan mobilnya, karena Ara tertidur dan juga tak mau mengebut, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, Devan memarkirkan mobilnya terlebih dahulu, kemudian menunggu Ara terbangun dengan sendirinya karena Devan tak tega untuk membangunkannya.


Tak berapa lama akhirnya Ara terbangun dan menggeliat kecil, mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.


“Apakah sudah sampai ini kak?” tanya Ara.


“Sudah, ini sudah sampai tinggal kita turun untuk membeli tiket masuknya saja.” jelas Devan.


“Sudah daritadi kah kita sampai kak, mengapa tak bangunkan Ara.”


“Ara tertidur pulas sekali, jadi tak tega untuk bangunkan, lagi pula juga baru saja kita sampai kok.”


“Ya sudah yuuk kak kita segera turun, Ara sudah penasaran seperti apa tempat yang kita kunjungi saat ini.”


“Yuukk, pasti Ara enggak akan menyesal saat melihat sendiri betapa indahnya tempat ini.” tutur Devan.


“Betulkah itu kak.” ucap Ara yang mengikuti langkah Devan menuju loket pembelian tiketnya.


“Dua ya mbak!” ucap Devan kepada penjaga loket, dan juga memberikan satu lembar uang seratus ribu.


“Yuk Ra masuk, pakai dulu ini gelangnya.” ajak Devan sambil memasangkan gelang Ara.


Saat memasuki pintu masuk, Ara sudah dapat melihat taman bunga dengan berbagai bunga yang indah.


“Wonderful!!” ucap Ara takjub.


“Tempat ini indah sekali kak, Ara belum pernah ke tempat seindah ini kak.”


“Syukurlah Ara menyukainya, yuuk keliling lagi, ada satu tempat istimewa disini yang harus Ara kunjungi dan jangan sampai terlewatkan.”

__ADS_1


“Benarkah kak, ini saja sudah sangat indah loh kak, ini masih ada tempat yang lebih istimewa lagi, waaww kereeenn!” ucap Ara.


Devan tersenyum puas, karena berhasil membuat Ara bahagia saat ini. Dan mereka berjalan mengelilingi semua tempat, dan tersisa satu tempat istimewa.


__ADS_2