Cinta Untuk Aurora

Cinta Untuk Aurora
BAB 37


__ADS_3

Semua yang hadir tampak bahagia dalam acara pertunangan Devan dan Ara, mereka juga menantikan hari terbaik untuk pernikahan Devan dan Ara. Kakek Sanders dan Wijaya mereka berbincang dengan para kolega seusianya, Mama Ara mengobrol dengan beberapa kenalannya yang juga mengenal Devan, juga Rudi dia menyambut tamunya yaitu dokter cantik Melody, yang tak lain juga dokter pribadi keluarga Sanders. Dan tentunya Devan dan Ara mereka masih menyalami tamu-tamu yang kebanyakan adalah teman Devan, teman Ara hanya ada beberapa yang hadir tak sebanyak teman-teman Devan.


“Sudah lelah ya sayang?Mau duduk dulu di sana?” bisik Devan di telinga Ara yang dijawab senyuman oleh Ara. Kemudian mereka duduk sebentar di dekat tumpukan kado milik Ara.


“Maaf ya karena ini ide kakek untuk mengundang beberapa partner bisnis sekalian mengenalkan kamu sebagai calon istri cucunya yang ganteng ini.” ucap Devan yang membuat geli telinga Ara.


“Dasar narsis!” sahut Ara.


“Lihatlah di sana sayang, Rudi terlihat bahagia sekali sambil berbincang dengan wanitanya.” ucap Devan sambil menunjuk ke arah Rudi


“Benarkah? Jangan-jangan itu salah satu teman bisnismu sayang.”


“Bukan sayang, wanita itu bernama Melody dan dia adalah dokter pribadi keluarga kami, dia dokter muda hebat, tak kalah dari para seniornya, cantik juga.”


“Cantik yaa sayang iyaa cantik.” ucap Ara dengan penekanan dan senyum kesalnya.


“Ehh ehhh eehh bukan begitu maksudnya sayang, ya kan memang dia cantik, iiisshh! Tapi tetap cantik wanita di depanku ini kok, jangan cemberut begitu dong sayang, kan ini awal dari hari bahagia kita juga hari spesial ulang tahun kamu loh sayang.” rayu Devan yang makin membuat Ara kesal.


“Iiiissshh dasar ini mulut, gini amat yaak!” batin Devan.


“Kak Devan tahu ini hari spesial, tapi seharian sampai sekarang juga masih saja membuat Ara kesal.”


“Hehehe maaf sayang maaf, bukan bermaksud begitu, itu hanya bagian dari surprise untukmu sayang, maafkan yaa!”


“Baik, Ara maafkan, tapi jika terulang lagi, Ara akan kabur, pergi yang jauh, sampai tak akan bisa ditemukan.”


“Eeehh jangan dong sayang, memang enggak rindu gitu dengan pangeranmu yang ganteng ini jika akan pergi jauh?”


“Kangeeeeenn!” ucap Ara sambil merangkul sebelah tangan Devan.


“Yuuk kita ikut berbincang dengan para tamu lagi!” ajak Devan dan Ara mengikutinya.


Acara hari ini telah sukses mereka semua tampak bahagia, begitu pula para teman media yang biasanya susah mencari berita tentang ke dua keluarga besar ini, dan kini mereka mendapatkannya.


Dari kejauhan tampak seorang wanita dengan mantel bulu dengan membawa koper sedang menyaksikan kebahagiaan Devan dan Ara. Ia tampak sesak menyaksikan semua itu, kemudian pergi menuju arah toilet dan berpapasan dengan seseorang berkacamata dan berhoddie hitam yang sama-sama hendak masuk ke dalam toilet juga.


“Ahh maaf maaf nyonya saya tak sengaja.” Ucap wanita berhoddie itu.


“It’s okey, no problem!”


Akhirnya mereka melewati pintu bergantian, satu masuk ke dalam bilik toilet, satu lagi hanya mencuci tangan dan menata riasan wajah di wastafel.


“Shiiiittt!! Semudah itu dia melupakanku, padahal dari dulu aku sudah berjuang mengejar-ngejar kamu Devan, dan hingga saat ini juga aku masih sangat mengharapkanmu” ucap wanita di depan cermin dan tak sengaja terdengar oleh wanita di dalam bilik yang hendah membuka pintu bilik.


“Eeemm maaf nyonya saya tak sengaja mendengarnya, apa yang nyonya maksud adalah Devan yang sedang bertunangan di dalam sana?”

__ADS_1


“Ya, tentu saja, siapa lagi memang, apa juga hubungannya dengan kamu?”


“Perkenalkan saya Sandra, mantan teman dari calon istrinya dan nyonya?.”


“Jangan sebut akan nyonya aku masih muda dan cantik seperti ini kamu panggil nyonya sejak tadi, namaku Yasmine. Lalu mengapa kamu tidak mengikuti pesta itu?”


“Hidup saya sudah dibuat menderita oleh keluarga Ara calon istri dari orang yang anda sebut tadi, saya ingin membalas dendam kepada mereka.”


“Uuuuuu sepertinya keberuntungan masih berpihak padaku. Sepertinya bisa aku manfaatkan wanita ini.” batin Yasmine.


“Begini saja, ini kartu namaku, jika kamu mau sepertinya kita bisa bekerja sama, kamu hubungi saya di nomor itu, saya harus segera pergi dari tempat yang menyesakkan ini.”


“Ahh terima kasih nona Yasmine, sampai bertemu lagi.” seru Sandra, yang kemudian mereka berpisah setelah keluar dari dalam toilet.


Para tamu undangan sudah mulai berpamitan untuk pulang, setelah semua benar-benar pulang, kedua keluarga juga pulang ke rumah masing-masing. Tak terkecuali Devan dan Ara yang seperti masih belum rela berpisah.


“Hari ini cukup sampai di sini dulu ya nak, besok kalian bertemu lagi jika kalian tidak sibuk oke.” ucap mama memisahkan gandengan Devan dan Ara.


“Maa sebentar lagi ya boleh ya.” rajuk Devan di depan calon mertuanya itu.


“Iisshh kalau gini karisma keren kamu hilang loh nak.” gurau mama Ara.


“Jiwa muda jatuh cinta mana terpikir seperti itu May ya kan Bung. Hahaha.” ucap kakek Wijaya.


“Iyakan sajalah biar kakek tua itu merasa bangga. Hahaha! Ya sudah yuukk saatnya kita semua pulang untuk beristirahat, besok kalian masih ada banyak pekerjaan bukan.” kakek Wijaya menengahi.


“Baik kakek, selamat malam kakek, mama, juga Ara sayang, hati-hati dijalan, jangan lupa beri kabar jika sudah sampai rumah.” pesan Devan dijawab anggukan oleh Ara.


“Baik, selamat malam semuanya, mari kami permisi dulu.” pamit mama Ara.


“Selamat malam!” seru Devan, Rudi dan Kakek bersamaan.


Dan akhirnya mereka semua pulang ke rumah keluarga masing-masing, dan juga Rudi yang ikut pulang ke rumah keluarga Sanders. Selama di perjalanan mereka saling menceritakan kebahagiaan di pesta kali ini. Kecuali Ara yang terdiam dan nampak kelelahan yang hampir tertidur. Karena memang baru kali ini Ara menghadiri acara seperti itu apalagi dia lah yang menjadi tokoh utama dalam pesta tersebut. Benar, akhirnya Ara pun tertidur bersandar pada bahu sang mama masih dengan memeluk buket bunga dari Devan.


“Selamat ulang tahun sayang, semoga hari ini menjadi awal kebahagiaanmu sampai tua nanti, do’a mama akan selalu menyertai di setiap langkah yang kamu jalani.” ucap sang mama lirih sambil mengelus puncak kepala Ara.


“Pak Amin nanti tolong bawakan masuk kotak-kotak kado Ara ya, agar dibawa masuk ke kamar Ara oleh bibi.”


“Baik bu, nanti saya bawakan masuk.”


“Terima kasih Pak Amin.”


“Sama-sama bu.”


Sesampainya di rumah, Ara dibangunkan oleh mamanya, juga di ingatkan untuk bersih-bersih dan mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum tidur karena sang mama tahu betul jika Ara sudah lelah sekali akan malas untuk melakukan semua itu jika tidak di ingatkan dan juga memberi kabar kepada Devan. Semua langsung masuk ke kamar mereka masing-masing, Pak Amin dan Bi Inah membawa semua kotak kado Ara ke kamar, Pak Amin hanya membantu membawakan sampai depan pintu kamar, selebihnya Bi Inah yang membawa masuk ke kamar Ara. Setelah Ara berganti piyama tidurnya, ia segera menyambar ponsel untuk menghubungi Devan.

__ADS_1


Ara: “Selamat malam sayang.”


Devan: “Ya sayang malam juga, sudah sampai rumah?”


Ara: “Tentu, sudah bersih- bersih tinggal tidur saja. Sayang sudah sampai rumah bukan?”


Devan: “Ya sayang baru saja sampai, dan baru melepas sepatu.”


Ara: “Ternyata duluan Ara untuk sampai rumah. Ya sudah sayang mandi dan berganti baju dulu saja.”


Devan: “Baiklah sayang, mau langsung tidur atau masih lanjut untuk menelpon?”


Ara: “Ara tunggu saja bagaimana?”


Devan: “Coba pindahkan sebentar ke panggilan video sayang. Nahh bidadarinya sudah terlihat.”


Ara: “Kak Devaaaaaann iiihh bikin Ara malu aja, sana buruan mandi.”


Devan: “Cieeee sayang malu yaa, baiklah tunggu sebentar saja jangan di matikan dulu.”


Devan bergegas mengambil pakaian tidur dan segera masuk ke kamar mandi, secepat mungkin Devan menyelesaikan mandinya dan segera berganti pakaian. Saat keluar dari kamar mandi dan melihat ponselnya ternyata dia melihat Ara yang sudah tertidur. Akhirnya ia mengeringkan rambut terlebih dulu, kemudian menuju kasur untuk merebahkan tubuhnya menarik selimut dan menatap ponselnya untuk melihat wajah Ara yang sudah terlelap. Devan menatap lekat wajah Ara, dan akhirnya ia juga terbuai oleh mimpinya


...Saat kurebahkan tubuh lelah ini, tak banyak yang dapat kulakukan selain berpikir tentangmu sayang.


...


...Tak lupa syukurku sebab memperolehmu untuk mengisi hati dan lembaran hidupku saat ini.


...


...Tak mungkin untuk kujanjikan seisi dunia ini untukmu, namun bisa engkau pastikan hati ini hanya untukmu.


...


...Pegang dan genggamlah janjiku ini sayang.


...


...Nantikan saat di mana aku akan mempersuntingmu, mengucap dan mengikatmu dengan janji suci yang kuucapkan hanya untukmu


...


...Selamat malam bidadari cintaku, bermimpilah yang indah malam ini sayang.


...

__ADS_1


__ADS_2