
“Tok tok!!”
“Tuan, Tuan Besar di sini!” ucap Rudi dari luar pintu ruangan Devan.
“Ya masuk saja Rud.” jawab Devan yang masih sibuk dengan berkas-berkas di mejanya.
“Masih sibuk nak?” tanya kakek yang sudah duduk di sofa.
“Beginilah kek, sejak kakek tidak pernah ikut campur di perusahaan, Devan jadi harus berurusan dengan kertas-kertas ini.”
“Saya permisi dulu Tuan, mau ambil pesanan di depan.” pamit Rudi yang segera sadar bahwa keberadaannya belum dibutuhkan di sana.
“Ooh yaa Rud tolong sekalian beritahu sekretaris di depan untuk mencetak file yang tadi ku kirimkan rangkap tiga dulu ya ”
“Baik Tuan.” Rudi segera keluar dan menutup pintu ruangan Devan.
“Kakek sepertinya ada hal yang penting untuk dibahas kan, sampai kakek mampir ke kantor.” tebak Devan.
“Selesaikan dulu pekerjaanmu nak baru kita nanti mengobrol. Kakek hanya ingin melihat keadaan perusahaan ini, sudah lama juga kan kakek tak pernah menginjakkan kaki di sini.”
“Waahh ini sudah pasti kakek mau bicara serius, tunggu sebentar kek, Devan pisahkan dulu berkas-berkas ini baru temani kakek mengobrol.”
“Hahaha!! Mungkin dibilang serius ya memang serius nak.”
“Oke sebentar kek, masalah apa nih kek?”
“Masalah masa depan kamu dan Ara.” jawab kakek enteng yang membuat Devan terkejut.
“Oke itu serius kek, lalu bagaimana ada apa kek?” tanya Devan yang segera duduk di sebelah kakek.
“Astaga! Dengar nama Ara langsung berpindah tempat. Itu berkas kamu?”
“Nanti saja itu kek, ada apa dengan Ara kek?”
“Ara akan segera dilamar orang jika kamu tidak segera membuat acara tunangan terlebih dahulu.”
“Benarkah kek, siapa yang akan melamar Ara? Sepertinya Ara tak punya teman dekat lain kek.” tanya Devan antusias.
“Bukan itu masalahnya, jadi kamu sudah punya rencana belum? Kakek mendapatkan informasi yang mungkin kamu belum baca lagi.”
“Apa itu kek?”
“Astaga! Jadi betul kamu sampai sekarang belum buka itu amplop dari kakek itu nak?”
“Sudah loh kek, Devan buka dan lihat foto Ara, setelah itu Devan tutup lagi.”
__ADS_1
“Makanya naakk kamu jangan terfokus dengan berkas di mejamu saja, tiga minggu lagi ulang tahun Ara, apa kamu enggak ada rencana gitu untuk kasih surprise untuk Ara?”
“Ahhh Devan baru tahu ini kek, astaga kek, Devan benar-benar enggak terpikirkan untuk membaca informasi tentang Ara.”
“Ya sudah, begini saja kita buat acara ulang tahun Ara untuk kamu bertunangan juga dengan Ara.”
“Tapi itu sebentar lagi kek, sedang Devan sibuk sekali akhir-akhir ini mana sempat kek untuk menyiapkan semuanya.”
“Naah untuk itu kakek di sini nak, besok kakek akan mengirimkan beberapa WO terbaik, lalu kamu sendiri yang pilih dan meminta mau dibuat seperti apa acaranya nanti.” jelas kakek.
“Boleh juga, nanti biar dibuat jadwal dulu sama Rudi kek.” jawab Devan.
“Tok tok!”
“Ya masuk saja!”
“Maaf Pak ini file yang tadi bapak minta.” ucap sekretaris Devan.
“Ya taruh saja di meja nanti saya cek lagi, terima kasih ya.”
“Sama-sama Pak, saya permisi.” pamit sekretaris Devan, dan langsung keluar yang kebetulan Rudi datang membawa pesanan Devan.
“Makanan sudah datang Tuan.” ucap Rudi.
“Saya permisi dulu Tuan.” pamit Rudi.
“Mau ke mana kamu nak, sini duduk dan makan dulu, jarang-jarang kita makan siang bareng, sepertinya Devan juga memesan banyak makanannya” ucap kakek.
“Ya begitulah Rudi kek, selalu banyak alasan, cepat duduk sini ayo makan siang dulu!” perintah Devan.
Akhirnya Rudi menurut dan mereka makan siang bersama di ruangan Devan. Berkali-kali Kakek dan Devan tak pernah membedakan Rudi tetapi Rudi sendiri yang selalu menghindar karena merasa segan tak pantas untuk dirinya duduk bersama mereka. Rudi selalu terharu pada saat merasakan kehangatan mereka, kehangatan sebuah keluarga meski dia lupa rasa dari kehangatan bersama kedua orang tuanya yang meninggalkannya pada sebuah panti asuhan sejak dia kecil.
“Terima kasih Tuan, karena kalian selalu menganggap aku yang orang luar ini sebagai keluarga kalian sendiri.” batin Rudi sambil menatap kakek dan Devan, lalu melanjutkan makannya.
Setelah semua selesai dengan makanan mereka, Rudi meminta bagian cleaning service untuk membersihkan meja yang digunakan untuk mereka makan. Kakek dan Devan berpindah ke meja kerja Devan yang membahas pekerjaan Devan.
“Rud, tolong untuk besok siapkan waktu untuk menemui WO yang dipanggil oleh kakek ya!” minta Devan, dan Rudi langsung membuka Macbook dan mengecek jadwal Devan untuk besok.
“Besok pagi hanya ada rapat rutin dengan semua kepala bagian di pagi hari setelah itu kosong sampai jam istirahat, dan setelah makan siang janji temu dengan beberapa klien di ruang pertemuan secara bergantian.” jelas Rudi.
“Astagaaaaaa! Aku rindu Ara.” Kata Devan sedikit berteriak karena jadwalnya yang terlalu padat.
“Ini masih ada kakek di sini loh nak, enggak ada malu-malunya ya sekarang.” ucap kakek.
“Astaga keluar itu bucinnya.” batin Rudi.
__ADS_1
“Oke Rud, jam 10 atur jadwal untuk bertemu pihak WO.”
“Baik Tuan.”
“Kakeeekk aku bosan sekali dengan Rudi yang sejak dulu sampai sekarang selalu panggil Tuan.. Tuan.. Tuan.. tak bisa kah panggil Devan saja saat hanya ada kita?” keluh Devan untuk ke sekian kalinya pada kakek karena Rudi.
“Iya deh Rud coba lah nak saat hanya ada kita saja cukup panggil kakek atau Devan, kita ini keluarga nak, mau sampai kakek mati nanti kakek tak pernah mendengar kamu memanggilku kakek?” ucap kakek yang membuat Rudi takut.
“Tuan, tuan besar akan panjang umur, tidak akan kemana-mana.”
“Makanya panggil aku kakek dan dia Devan, bukan Tuan.” ucap kakek sambil menunjuk Devan.
“Dengar itu Rud.” imbuh Devan.
“Ba..baik ka..kakek dan juga Devan.” ucap Rudi tergagap.
“Naaaaaaahhhhh!!!” suara kemenangan kakek dan Devan bersamaan.
“Hahahaha!!” dan mereka tertawa bersama.
“Sudah-sudah kalian lanjutkan pekerjaan yang menumpuk itu, kakek akan menghubungi sopir untuk mengantar pulang, dan pihak WO untuk datang kemari besok.” utus kakek.
“Baik kek!” Devan dan Rudi mulai kompak.
“Bahagianya kakek melihat kalian seperti itu, Hahaha!”
Kemudian Rudi menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang ada di ruangan Devan, dan Devan sendiri dengan berkas-berkas yang ada di mejanya. Kakek sudah menghubungi sopir dan pihak WO nya, dan bersiap untuk segera pulang.
“Nak pihak WO sudah kakek hubungi ada dua yang kakek pilih, nanti tinggal kamu pilih saja mana yang terbaik, dan juga kakek turun dulu ya sopir sudah menunggu di depan ternyata, dan untuk pekerjaanmu nanti malam kita bahas lagi di rumah.”
“Baik kek, Devan temani kakek turun, biar Rudi selesaikan pekerjaannya.” tawar Devan.
“Baiklah ayo, Rudi kakek pulang dulu ya, semangat, hahaha!”
“Baik kakek.” jawab Rudi.
Selama perjalanan turun ke lobby, mereka banyak berpapasan dengan karyawan lama juga karyawan baru karena memang waktunya kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Untuk para karyawan baru mereka bertanya-tanya siapa kakek tua yang sedang berjalan dengan bos mereka dan mereka melihat kemiripan wajah kakek dan cucunya itu, baru mereka bisa mengira bahwa mereka adalah kakek dan cucunya.
“Kakek hati-hati di jalan ya, jika sudah sampai rumah kasih kabar ke Devan ya.”
“Ya tentu saja, kakek pulang dulu, yang betul-betul kerjanya.”
“Siap kakek.” Jawab Devan dan kakek langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Kemudian Devan mampir ke resepsionis, mereka berdua sudah ketakutan kalau kalau mereka kena marah oleh Devan.
“Mbak, nanti kalau ada paket bunga atas namaku atau Rudi tolong langsung antar ke ruanganku ya, terima kasih.” pesan Devan kepada mereka yang kemudian langsung melenggang menuju lift dan dua gadis resepsionis pun terkejut lalu saling pandang.
__ADS_1