Cinta Untuk Aurora

Cinta Untuk Aurora
BAB 36


__ADS_3

Hari yang di mana Devan akan melamar dan bertunangan dengan Ara akhirnya tiba. Setelah beberapa hari yang lalu Devan dan Rudi sibuk mempersiapkan semuanya. Rudi yang sibuk ke sana ke mari, Devan juga sibuk dengan agenda harian juga masih menyempatkan untuk mengecek lagi persiapan untuk acara pentingnya. Tak lupa Devan juga bekerja sama dengan keluarga Ara agar Ara tak mengetahui acara yang dibuat oleh Devan. Yang Ara tahu akan makan malam keluarga bersama keluarga Devan untuk merayakan ulang tahunnya.


“Ma, kita akan pergi ke mana dengan pakaian seperti ini, kan cuma makan malam keluarga, biasa juga Ara pakai baju yang biasa Ara pakai.”


“Sekarang Ara menurut saja, hari ini mama yang atur semuanya, dan Ara tinggal lakukan apa yang mama katakan, percaya sama mama pasti Ara akan sangat bahagia malam ini.”


“Hanya makan malam seperti biasanya kan Ma?”


“Iya sayang.” jawab mama sambil tersenyum dan meninggalkan Ara di dalam kamarnya.


Ara yang sudah cantik dan siap berangkat dibuat kesal oleh Devan, karena semua pesan Ara sejak siang sama sekali tidak di tanggapi maupun dibalas olehnya.


“Iiiisshhhh kak Devan ini juga ke mana, sejak siang tak ada satu pun pesanku yang dibalas olehnya, jadi khawatir kan jika begini.”


“Aaaaaaaaaargh kak Devaaaaann!!!” teriak Ara kesal.


Di tempat lain, sebuah tempat di sulap menjadi tempat yang sangat indah dengan cahaya lampu-lampu kecil dan bunga-bunga segar sebagai hiasan di setiap sisi tempat tersebut. Beberapa kursi ditata menghadap ke sebuah panggung kecil di tengah sebagai pusat dari semua perhatian nanti.


“Apakah sudah siap semua nak?” tanya kakek Sanders.


“Sudah kek, semua sudah siap, tinggal kita tunggu bintang utama malam ini untuk memainkan bagiannya.” jawab Rudi sambil memberikan lirikan kepada Devan.


“Aku sangat gugup!!” ucap Devan dan disambut tertawa oleh kakek dan Rudi.


“Hahahahaha!!”


“Uuuppss! Maaf kelepasan.” ucap Rudi yang tersadar.


“Lihat saja suatu saat nanti jika kamu menghadapi situasi seperti ini aku adalah orang pertama yang akan menertawaimu Rud.” ucap Devan kesal.


“Sudah sudah! Kalian ini yaa! Nak ini hanya pertunanganmu, bukan rapat besar perebutan tender proyek, mengapa segugup itu, tenanglah pasti kamu dapat menyelesaikannya.” ucap kakek menenangkan.


“Iya kek, semoga saja.” jawab Devan.


“Sana sapa dulu teman-temanmu, mereka sudah berdatangan agar kamu lebih relax sambil menunggu Ara dan keluarganya datang.”


“Ahhh benar juga kek, baiklah aku akan ke sana terlebih dulu, permisi kakek.”


“Yaa silakan. Jadi Rud para teman media sudah diatur semua kan?”

__ADS_1


“Sudah kek, semua sudah siap, saya sendiri yang langsung mengeceknya.”


“Jangan lupa biarkan mereka juga makan dan menikmati sajian di sini dulu sebelum mereka pergi nanti.”


“Baik kek, pihak EO sudah menyiapkan tempat khusus untuk hidangan makan malam mereka semua.”


“Bagus, aku hanya ingin semua yang datang juga bisa merasakan kebahagiaan awal dari kisah Devan dan Ara ini.”


“Semoga semua berjalan lancar kakek.”


“Ya semoga saja, aku akan menghubungi Wijaya sudah sampai mana mereka sekarang. Ooh ya Rud tolong nanti kamu sambutlah mereka aku akan menemani Devan nanti.”


“Baik kek, saya akan segera ke depan untuk menyambut mereka.”


Rudi segera bergegas ke depan, dan kakek Sanders menghubungi kakek Wijaya.


Di dalam mobil, keluarga Wijaya sudah di perjalanan menuju tempat acara dan kakek Wijaya sedang menerima panggilan dari kakek Sanders.


“Yaa, kami sudah di perjalanan mungkin 20 menit lagi kita sampai. Iya aku sudah tahu itu bung. Maira nanti yang mengaturnya. Baiklah! Tunggu kami!” dan kakek menutup panggilannya.


“Tuan Sanders pa?” tanya mama.


“Memang apa yang sudah beres kakek, mengapa kalian dan kak Devan tak memberi tahu Ara apa pun?”


“Bukan apa-apa sayang, kan makan malam ini spesial ulang tahunmu jadi kali ini kakek Sanders yang ingin menyiapkannya, kalau soal Devan sepertinya dia lupa atau masih sibuk dengan proyek terbarunya kan, sudah mama katakan tadi kan, mama pastikan malam ini kamu akan sangat bahagia sayang.” jelas mama memberi pengertian kepada Ara agar rencana Devan tidak berantakan.


“Iya juga ya ma, pasti kak Devan sangat sibuk dengan proyek terbarunya itu, saat kemarin ke toko perhiasan untuk membetulkan cincin ini saja berkali-kali kak Devan menerima panggilan dan membahas pekerjaannya.”


“Ya memang seperti itu Devan dia sangat bertanggungjawab, karena itulah mama setuju dengan keputusan kakek untuk menjodohkan kamu, meski dulu saat mama belum terlalu mengenal Devan mama sempat tidak setuju juga.”


“Aaaargh mama seharian ini Ara sudah berpikir yang tidak-tidak karena kak Devan tak membalas pesan dari Ara sejak siang tadi maa.” Ucap Ara yang merasa bersalah sudah berpikir tidak-tidak tentang Devan.


“Nah makanya itu nak, nanti jika kalian sudah menikah atau bahkan mulai sekarang jika kamu ragu atau penasaran kepada Devan langsung tanyakan dan bicara lah baik-baik saat bertemu, jadi kalian sama-sama tahu nak, dan jangan malah saling diam.”


“Baik kakek, Ara akan mengingat pesan dari kakek ini.”


Tak terasa perjalanan mereka sudah sampai pada tempat tujuan, dan mereka di sambut oleh Rudi saat membuka pintu mobilnya.


“Selamat malam selamat datang Tuan, Ibu Maira juga nona Ara, mohon maaf bukan kakek atau Devan yang menyambut melainkan saya Rudi.”

__ADS_1


“Malam juga nak, panggil aku kakek juga dan dia tante, kamu juga cucu Sanders bukan, dia sangat bahagia saat kamu memanggilnya kakek, jadi kami juga akan menjadi keluargamu.”


“Dengar itu Rud.” Mama mengimbuhkan.


“Baik kakek juga tante. Mari silakan masuk, ooh ya tapi permintaan Devan nona Ara diminta untuk ditutup matanya dengan kain ini.”


“Oh ya sini akan tante ikatkan.”


“Silakan tante,” ucap Rudi sambil memberikan kain penutup mata untuk Ara.


“Apa-apaan ini Ma, pakai penutup mata segala?” protes Ara.


“Ayolah menurut dulu ya sayang, cantik, manisnya mama.” rayu mama.


“Ya ya ya Ara menurut.” Ara pasrah.


Setelah mengikat penutup mata pada Ara mereka semua mulai masuk ke tempat acara. Ara yang berjalan digandeng dan diarahkan mamanya, sayup-sayup mulai mendengar instrumen musik yang romantis mengalun merdu. Ara semakin berpikir keras sebenarnya acara seperti apa yang ia datangi saat ini bersama keluarganya.


Devan yang sudah berdiri di atas panggung kecil di hadapan para tamu undangan dengan membawa buket bunga mawar merah yang indah, merasa semakin gugup tetapi juga terlihat berbinar saat mulai melihat Ara berjalan menuju tempat dia berdiri dengan dituntun mamanya. Devan mengulurkan tangan meraih tangan Ara, dan mamanya melepaskan menutup mata Ara. Ara sangat terkejut dengan situasi di sekitarnya setelah membuka kedua matanya dan melihat semuanya dan kemudian Devan memulai acaranya dengan masih menggenggam tangan Ara.


“Selamat ulang tahun sayang, panjang umur sehat dan bahagia selalu, dan semoga segala do’a terbaik untukmu terkabul. Maafkan aku untuk seharian ini sayang.” Devan memberikan buket bunga dan kemudian mencium kening Ara beberapa saat. Masih dengan terkejut tak bisa berkata-kata Ara mendengarkan sambutan Devan untuk para tamunya.


“Baik, selamat malam semuanya terima kasih sudah menyempatkan hadir dalam acara ini. Yang saya hormati hadirin tamu undangan saya, yang saya sayangi seluruh keluarga saya juga wanita di samping saya ini, juga teman-teman media yang hadir di sini. Maksud dan tujuan acara ini adalah untuk berbagi kebahagiaan di hari ulang tahun wanita pemilik hati saya ini juga pertunangan kami berdua, semoga semuanya berkenan memberikan do'a restu kepada kami untuk menuju ke jenjang pernikahan nanti, baik tak perlu berlama-lama mari kita lanjutkan acaranya.” sambutan singkat dari Devan.


MC mengambil alih melanjutkan acara, kedua keluarga diminta untuk hadir menemani Devan dan Ara di atas panggung dan mempersilahkan Devan untuk memulai.


“Seperti yang pernah kukatakan dulu sayang, aku bukan pria yang pandai merangkai kata-kata manis untukmu, tapi dari hati yang terdalam kamu bisa tahu bagaimana hatiku ini, Berlian Aurora izinkan aku Mahendra Devan Sanders untuk meminangmu sebagai istri, sebagai permaisuri, sebagai ibu dari anak-anak kita kelak, dan menjadi satu-satunya pemilik hati ini, dan sebagai teman hidup untuk melewati suka dan duka hingga nanti tangan Tuhan yang memisahkan kita.” pinta Devan.


Semua masih terdiam dan menantikan jawaban dari mulut Ara. Dengan masih terkejut dan tak percaya pada peristiwa hari ini, sebisa mungkin Ara segera menjawab.


“Terima kasih telah memberikan kesempatan dan kepercayaan ini kepada saya, saya juga tak pandai berkata-kata dan mengungkapkan perasaan saya. Di sini saya Berlian Aurora menerima dan bersedia menemanimu Mahendra Devan Sanders melewati kehidupan ini bersamamu hingga tangan Tuhan yang memisahkan kita.” jawab Ara jelas yang kemudian Devan memeluk erat Ara di hadapan para tamu undangan.


Prok prok prok prok!!! Suara riuh tepuk tangan para tamu undangan memenuhi tempat acara, dan juga MC yang memberikan selamat kepada kedua keluarga. Melanjutkan beberapa rangkaian acara, dan terakhir mempersilahkan tamu undangan untuk menikmati hidangan yang disajikan.


Devan dan Ara beserta keluarga melanjutkan wawancara dengan teman media di ruang terpisah, dan setelahnya masih menemui para tamu undangan.


Di sisi lain ada seseorang yang memantau kelangsungan semua acara dari kejauhan menggunakan kacamata hitam dan berhoddie.


...****************...

__ADS_1


Mohon maaf atas keterlambatan up yang cukup lama dan ke typoan yang mungkin mengganggu, semoga kalian semua masih menantikan kelanjutan kisah ini🙏🙏


__ADS_2