Cinta Untuk Aurora

Cinta Untuk Aurora
BAB 21


__ADS_3

“Aaiiisshhh!!! mengapa memikirkan Ara membuatku jadi serba salah ya, satu sisi aku bahagia mengenal dan menyukai dia, satu sisi aku sedih karena tak mungkin bagiku untuk memperjuangkan perasaanku padanya.”


“Ooohh astaga benarkah aku sedang jatuh cinta? Tapi kenapa harus sekarang saat aku sudah menerima perjodohan ini?” monolog Devan setelah dia berbalas pesan dengan Ara.


“Daaahlah tidur, makin error nih otak nantinya, selamat malam dunia, aku ingin tidur dan bermimpi yang indah!!” ucap Devan yang kemudian menaruh ponsel, mematikan lampu tidurnya dan menarik selimutnya.


Kupejamkan mata ini


Seolah-olah dirimu berada dalam dekapanku


Lalu kamu tersenyum kepadaku


Aku berkata bahwa diriku amat mencintaimu setulus hati


Namun aku segera tersadar dari khayalan itu


Semua hanyalah mimpi dalam tidurku


Hatimu tak akan pernah menjadi milikku


Aku tak akan pernah mendapatkanmu


Kini aku menyerah dan akan menjalani takdirku saja.


Pagi yang cerah untuk hati yang gelisah. Seperti biasa Devan sarapan pagi bersama kakeknya, dan juga Rudi di pagi ini, karena Rudi datang pagi-pagi untuk menjemput Devan.


“Selamat pagi tuan Devan.”


“Pagi juga Rud, selamat pagi kakek, bisakah kakek suruh cucu kesayanganmu ini untuk tidak selalu memanggilku tuan kek, berasa tua aku ini kek.” protes Devan.


“Pagi juga nak, sudahlah biarkan Rudi panggil kamu senyaman dia saja, toh dari dulu juga selalu seperti itu kan.”


Rudi hanya tersenyum kepada mereka berdua, karena benar adanya jika sejak dulu memang seperti itu.


“Ada apa kamu senyum-senyum seperti itu di pagi hari? Sakit?” tanya Devan pada Rudi.


“Tidak ada tuan, hanya bahagia saja bisa makan bersama kalian lagi.”


“Dasar!! Makanya balik kesini, buat apa sendirian di apartemen begitu?” ledek Devan.


“Sudah yuuk sarapan dulu nak!” kakek menengahi.


“Selamat makan!!” ucap Devan dan Rudi bersamaan.


“Mungkin kalimat itu lah yang menjadi saksi betapa kompaknya kalian, secara tidak sadar kalimat itu menjadi sebuah kebiasaan yang kalian lakukan bersama dari dulu, meski kalian bukan saudara, tetapi kasih sayang kakek untuk kalian semoga tak pernah berbeda.” Batin kakek Sanders menatap kedua cucunya itu.


Menu sarapan kali ini favorit Devan dan Rudi, nasi goreng dengan telur mata sapi setengah matang dan jus jeruk. Mereka melahap habis nasi di piring masing-masing. Kakek hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka sudah dewasa tetapi tetap masih seperti saat mereka remaja.


“Seperti inilah saat-saat yang kurindukan bersama kalian.” batin kakek yang hampir berkaca-kaca.


Setelah semua selesai dengan makanan masing-masing, kakek mengingatkan Devan untuk mengosongkan waktu di hari Sabtu malam jika acara itu jadi.


“Nak, Devan, tolong nanti di hari Sabtu malam, kamu kosongkan jadwalmu ya ada acara yang harus kamu hadiri bersama kakek, dan jika Rudi mau juga bisa ikut juga.” kata kakek.


“Acara apa itu kek?” tanya Devan dan Rudi masih terdiam dan menyimak.


“Acara makan malam bersama keluarga calon istrimu nanti nak dan kamu harus hadir untuk memperkenalkan diri.” jelas kakek.


“Secepat inikah kek aku harus bertemu mereka?”


“Lalu mau sampai kapan kamu mau menghindarinya nak?”


“Baiklah kek, akan Devan atur jadwal Devan.” ucap Devan menyerah.


“Ya memang harusnya juga begitu.” kata kakek.


“Devan dan Rudi berangkat kerja dulu ya kek, ayo Rud berangkat.” pamit Devan dan mengajak Rudi.

__ADS_1


“Tuan kami permisi dulu, selamat pagi.” pamit Rudi pada kakek Sanders.


“Iyaa hati-hati jangan ngebut di jalan, kerja yang sungguh-sungguh, jangan sampai ada kesalahan fatal yang terjadi lagi.” pesan kakek.


“Baik kek, kakek do’a kan saja!!” teriak Devan yang sudah berjalan ke depan.


Di dalam mobil Devan juga masih memikirkan apa yang tadi kakek katakan.


“Apakah sudah benar keputusan yang kubuat saat ini? Mengapa hatiku terombang-ambing seperti sedang diterpa angin kencang?” batin Devan.


“Rud apakah keputusanku untuk mau dijodohkan ini sudah benar?” tanya Devan.


“Tuan mengambil keputusan ini untuk siapa? Lalu tuan yakin tidak?” Rudi balik tanya ke Devan.


“Untuk kakek, dan aku harus yakin demi kakek,” jawab Devan.


“Yuupp betul sekali, tuan harus yakin, jalani saja dulu apa yang ada di depan mata, percayalah pada pilihan kakek, pasti tuan akan bahagia.” kata Rudi mengingatkan Devan.


“Astaga bijak sekali kamu Rud!” kata Devan.


“Ekhhheeeem ekhhheeeem!!” Rudi berdehem.


“Kenapa? Apakah sakit itu tenggorokanmu Rud?” tanya Devan mengejek.


Sesampainya di kantor, Devan dan Rudi sudah fokus lagi dengan pekerjaan, terutama Devan yang berusaha keras memfokuskan diri untuk pekerjaannya. Satu persatu berkas telah terselesaikan oleh Devan dan Rudi mereka bekerja sama saling melengkapi.


Di sisi lain perusahaan Wijaya Group ada Mayra yang sedang menyusun acara bersama pihak restoran untuk makan malam keluarga dengan agenda pertemuan Devan dan Ara.


“Baik begitu saja ya Pak, mohon di atur saja bagaimana baiknya, mewah tetapi terlihat sederhana, terima kasih dan mohon maaf karena permintaan kami yang sedikit sulit.”


“Ya, Selamat siang Pak.” Mayra mengakhiri panggilannya.


“Tok tok tok!”


“Yaa masuk saja!” ucap Mayra.


“Iya terima kasih pak Heru, oh yaa tolong sekalian panggilkan Ara ya jika keluar!” perintah Mayra.


“Iya Bu, permisi.” pamit asisten Heru.


Selang beberapa menit Ara baru masuk ke ruangan Mamanya.


“Ada apa ma, kata pak Heru, mama memanggil Ara.” tanya Ara.


“Yaa, sini duduk sayang!”


“Eemm Ara sudah menerima jika Ara dijodohkan bukan?” tanya Mayra mengawali pembicaraan.


“Iya ma, Ara sudah ikhlas menerimanya asal mama dan kakek bahagia, Ara akan melakukannya.”


“Terima kasih sayang.”


“Lalu sebenarnya ada apa ma?” tanya Ara penasaran.


“Begini sayang, agar kamu dan calon suamimu saling mengenal dulu, kakek memutuskan untuk mengadakan makan malam bersama di hari Sabtu nanti, dan Ara dimohon dengan sangat oleh kakek untuk bisa hadir dalam acara itu.”


“Apakah hanya kami berdua ma?”


“Tidak sayang, nanti ada mama, kakek dan juga kawan kakek juga, kita makan malam bersama.”


“Baik ma, Ara ikut saja, semoga Ara tak akan mengecewakan kakek dan mama lagi.” ucap Ara yang membuat hati Mayra tersentil.


“Maafkan mama sayang karena memaksamu untuk berjodoh seperti ini.” ucap Mayra sambil menundukkan kepalanya.


“Mama jangan seperti itu, Ara sudah menerimanya kan, jangan bersedih lagi ma, Ara mohon.”


“Terima kasih sayang terima kasih, sini peluk mama sayang!” pinta Mayra.

__ADS_1


Ara pun berjalan memutar menuju ke pelukan Mayra.


“Putri kecil kesayangan mama sekarang sudah dewasa ya, sudah bisa berpikir demikian sekarang, terima kasih sayang.” ucap Mayra sambil memeluk Ara erat.


“Ara yang seharusnya berterima kasih pada mama dan juga kakek karena sudah membesarkan, memberi kasih sayang dan segalanya untuk Ara, dan sampai kapan pun Ara tak akan bisa membalas semuanya itu Ma.”


Sambil melepaskan pelukannya Mayra berkata “Tak perlu Ara membalas semua itu sayang, dengan kamu selalu bahagia, mama dan kakek pasti juga merasakannya juga, dan itu sudah cukup untuk kami sayang.”


“Terima kasih mama.”


“Sayang, mama lapar pergi makan yukk.” Mayra mengganti topik.


“Mama pekerjaan Ara belum selesai ma, jika Ara keluar makan dengan mama saat ini maka tidak akan selesai tepat waktu, mama pesan makanan saja nanti Ara makan di sini jika makanannya sudah datang.”


“Ara serius sayang tidak mau keluar makan dengan mama?”


“Serius ma!!! Duarius malah ma. Ara balik ke ruangan Ara ya ma, jangan lupa mama pesan yang banyak.” Pesan Ara yang kemudian meninggalkan ruangan Mayra.


Ara benar-benar sudah berubah dia sudah memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk setiap pekerjaannya. Saat hampir saja selesai mengerjakan pekerjaannya, ponsel Ara berbunyi yang menandakan pesan masuk.


Kak Devan


Selamat siang Ara? Sibuk tidak? Makan siang bareng yuk. Aku yang traktir.


Ara 🌼


Siang juga kak Devan, mohon maaf kak tetapi Ara sudah berjanji dengan mama untuk makan siang juga. Bagaimana jika nanti sore saja sepulang kerja?


Kak Devan


Oke baiklah! Nanti akan kujemput di kantor, Ara kasih tahu saja pulang jam berapa nanti.


Ara 🌼


Siap kak! Nanti Ara sekalian bilang ke mama jika akan keluar dengan kak Devan.


Kak Devan


Oke Ara, silakan di lanjut kerjanya, jangan lupa makan siang ya.


Ara 🌼


Baiklah kak, kak Devan juga jangan lupa makan siang.


Setelah membalas pesan Devan, Ara menyimpan kembali ponselnya dan segera menyelesaikan pekerjaannya, dan segera Ara berikan kepada asisten Heru untuk di teliti ulang. Selama ini menurut asisten Heru pekerjaan Ara semakin baik, Ara tidak bosan bertanya saat dia merasa belum paham.


“Mamaaa i am coming!! Ara lapar maaa!!” teriak Ara saat masuk ke ruangan Mayra yang kebetulan ada office girls mengantarkan makanan yang dipesan Mayra


“Uuuppss maaf ma, Ara kira tidak ada orang.” ucap Ara sambil menyengir kuda.


“Saya permisi dulu Bu, mari mbak!” pamit si office girls


“Iya mbak terima kasih!” ucap Mayra dan Ara cuma membalas dengan tersenyum


“Dasar Ara malu-maluin mama!” kata Mayra setelah si office girls menutup pintu.


“Maaf ma, Ara terlalu lapar ini. Ma nanti pulang kerja Ara izin keluar dulu ya.”


“Kemana, dengan siapa?”


“Sama kak Devan ma, tadi kak Devan mengajak makan siang tetapi Ara sudah janji makan dengan mama, jadi Ara bilang untuk sepulang kerja saja, tak apa kan ma?” jelas Ara dan meminta persetujuan mamanya.


“Eehh siapa sayang?”


“Kak Devan ma, yang tolongin Ara itu ma.”


“Eehh ya boleh boleh, jangan pulang terlalu larut ya!”

__ADS_1


“Siap ma, terima kasih, yuuukk makaaaaan maaa Araaa lapaaaar.”


__ADS_2