Cinta Untuk Aurora

Cinta Untuk Aurora
BAB 22


__ADS_3

“Ma, Ara turun duluan ya, kak Devan sudah menunggu Ara di bawah.”


“Iya sayang hati-hati, jangan pulang terlalu larut!” pesan mama.


“Siap maa!! I love you ma!!” teriak Ara kemudian menutup pintu ruangan Mayra.


“Bilang i love you cuma kalau ada maunya aja pasti!”


“Nanti pada saat mereka bertemu di acara makan malam pasti canggung, karena ternyata mereka sudah saling kenal, eeehh tapi masa iya Devan sampai sekarang juga masih belum tahu.” Batin Mayra yang membayangkan pertemuan anak dan calon menantunya


Di depan kantor sudah ada Devan yang duduk bersandar pada motor sportnya menunggu Ara keluar. Yang tak lama kemudian muncullah Ara di pintu masuk perusahaan. Dan menghampiri Devan.


“Sore kak Devan sudah lama menunggu ya?” sapa Ara.


“Nggak kok Ra, baru juga sampai, ngomong-ngomong kebetulan nih kamu pakai setelan kerja celana panjang dan bukan rok ta Ra, nggak apa apa kan kalau kita naik motor bukan mobil?”


“Nggak apa-apa kak, Ara tak mempermasalahkan mau naik motor apa mobil kok.”


“Ya kan siapa tahu anak dari CEO ternama Wijaya Group mau naik motor begini.”


“Terus kakak jadi ajak Ara atau nggak nihh?”


“Eehh iya jadi lah, sini pakai helm dulu untuk keselamatan berkendara.” Kata Devan lalu memasangkan helm di kepala Ara.


“Eehh kok deg-degan ya!” batin mereka berdua saat mata mereka tak sengaja saling menatap.


“Sudah! Yuk naik Ra, bisa naik kan?” tanya Devan sedikit meledek karena tinggi badan Ara hanya rata-rata pada umumnya.


“Kakak ngeledek Ara kan, niihh Ara bisa.” ucap Ara sambil menaiki motor Devan.


“Wiihh iyaa bisa juga yaa. Pegangan Ra nanti kamu jatuh.” kata Devan mengingatkan.


“Ara bukan anak kecil kak, tak akan jatuh.”


Devan melajukan motornya pelan karena Ara tidak mau berpegangan dengannya. Sampai akhirnya Ara protes dengan Devan karena Ara merasa aneh motor sport tetapi bisa disalip oleh ibu-ibu yang menaiki motor matic.


“Kak, mau berapa lama kita di perjalanan jika kecepatan motor ini bisa disalip oleh beberapa ibu-ibu tadi.” protes Ara.


“Sebab Ara tidak mau berpegangan jadi cukup begini saja kecepatannya, nanti jika Ara terjatuh dan terluka siapa juga yang kena omel tante Mayra? Kakak kan.” Devan beralasan.


“Aiiihhh baiklah baik Ara berpegangan, begini kan?” tanya Ara yang sudah memposisikan tangannya memegang jaket Devan. Dan Devan pun menghentikan laju motornya, kemudian meraih tangan Ara dan mengaitkan pada pinggangnya, dengan kata lain seperti Ara yang sedang memeluk Devan dari belakang.


“Jangan dilepas dan jangan sembarangan bergerak!” perintah Devan yang kemudian melanjutkan perjalanan, dan Ara benar-benar terdiam.

__ADS_1


Setelah beberapa menit kemudian Devan berhenti dan memarkirkan motornya di pinggir sebuah taman dengan kolam air mancur di tengahnya.


“Sudah lepas, sudah sampai, atau mau lebih lama lagi memelukku begini, aku tak keberatan” goda Devan dan seketika Ara melepas pelukannya.


“Kakak iiihhh, apa-apaan coba!!” pipi Ara merona.


“Bercanda Ra, lepas dulu helmnya taruh situ saja!” perintah Devan sembari dia melepas jaketnya yang kemudian dia tenteng.


“Jadi untuk apa kita kesini kak?” tanya Ara sambil mengekor langkah Devan.


“Untuk melihat pertunjukan Air Mancur Menari, pasti Ara belum pernah melihatnya bukan?”


“Belum pernah kak, tetapi kata teman-teman di kantor yang sering membawa anaknya kemari itu pertunjukan yang indah. Apa kak Devan sering kemari?”


“Ya benar memang indah, aku belum pernah kemari tapi aku sudah pernah melihat sekilas saat melintasi daerah sini.” Ucap sambil melihat sekeliling.


“Duduk di sana yuk kak.” Ajak Ara yang menunjuk ke arah bangku taman.


“Sepertinya kita termasuk orang yang datang terlalu awal untuk menyaksikan pertunjukan. Mau camilan sambil tunggu pertunjukkannya dimulai?” tanya Devan.


“Boleh kak.”


“Eemm Ara tunggu di sini saja ya, akan ku coba membeli sesuatu untuk camilan, atau Ara mau apa?”


“Baiklah Tuan Putri tunggu sebentar yaa.” ucap Devan memperagakan seperti tuan putri dan utusannya.


“Iiiiihhh kak Devan bikin malu, dilihat banyak orang.”


“Hahaha maaf-maaf, Ara tunggu sebentar yaa.” Ucap Devan yang kemudian beranjak untuk membeli beberapa camilan.


“Astagaaa!! Kak Devan bikin malu saja.” lirih Ara sambil menutup wajahnya karena malu di lihat banyak orang.


Devan berusaha sekali agar kesempatan ini tak terbuang sia-sia. Devan berpikir ingin memberi kenangan manis bersama Ara meski dia tahu jika tak mungkin bersama karena perjodohan yang sudah dia terima.


Seperti yang kudapati lugu senyumanmu mengais tulus.


Detik ini!! Setidaknya, ‘kebersamaan’ yang teretas dari senja hingga dini.


Membuat rasaku untuk kembali takluk padanya.


Begitu bermaknanya sebuah kebersamaan bersamamu


Sungguh ingin ku hentikan waktu saat ini.

__ADS_1


Sedikit lama lagi hingga ku tak tahu lagi dengan apa ku beralasan untuk bersamamu.


Biarkan sejenak saja seperti ini.


Setelah melihat pertunjukan Air Mancur Menari, tak lupa Devan mengajak Ara makan malam terlebih dahulu setelahnya baru akan mengantar Ara pulang.


“Sepertinya pertunjukannya sudah selesai Ra, bagaimana jika kita makan malam terlebih dahulu?” tanya Devan.


“Yuuk kak boleh, Ara juga kelaparan.” jawab Ara enteng tanpa ‘jaim' kepada Devan. *Jaim [ Jaga Image].


“Astaga Ara!! Mengapa tidak bilang dari tadi!!” Devan terkejut.


“Kan tadi kita menikmati pertunjukan yang indah kak, Ara juga terfokus menyaksikannya.”


“Ya udah yuukk kita ke cafe sebrang itu untuk makan malam terlebih dahulu.”


“Kak Devan memimpin, Ara mengikuti kakak.”


Akhirnya mereka berdua makan malam terlebih dahulu baru Devan antar Ara pulang, karena waktu juga menunjukkan sudah malam. Sambil menunggu makanan yang dipesan datang mereka terlihat asyik mengobrol berdua. Kemudian makanan yang mereka pesan datang, Ara langsung menyantapnya.


“Ternyata Ara benar-benar lapar, astaga kenapa juga aku tak mengingatnya tadi.” batin Devan merutuki kesalahannya.


“Kakak tak makan juga kah?” ucap Ara memnyadarkan lamunan Devan.


“Tentuu saja!! Kan aku juga lapar.”


Meski tak bisa disebut makan malam romantis, sebenarnya Devan sangat bahagia dapat memiliki waktu hanya berdua saja dengan Ara. Setelah makanan mereka habis dan sedikit mengobrol juga, Devan dan Ara beranjak menuju tempat parkir motor Devan.


“Terima kasih kak Devan sudah mau mengajak Ara keluar malam ini, mungkin Ara tak akan pernah kemari jika bukan kak Devan yang mau mengajak Ara.”


“Sama-sama Ara, harusnya aku yang berterima kasih karena Ara sudah mau meluangkan waktu untuk keluar bersamaku.”


“Jadi kita sama-sama berterima kasih ya kak.”


“Hahahaha!!” mereka tertawa bersama.


“Niih pakai dulu jaket kakak, pasti nanti lebih dingin.” Devan memberikan jaketnya.


“Kakak sudah tahu dingin, kakak pakai sendirilah jaketnya, Ara kan sudah pakai blazer ini.”


“Sudah pakai, mau cepat pulang tidak, atau memang Ara mau kita bersama terus?”


“Iiiiisshh kak Devan!! Iya iya Ara pakai niih, yuukk pulang kak!” ajak Ara.

__ADS_1


“Naaahhh kalau menurut begitu kan manis.” Ucap Devan yang membuat pipi Ara merona lagi.


__ADS_2