
“Gunung es mulai mencair terkena sinar mentari yang menghangatkan.” ucap Rudi lirih saat melihat Devan dan Ara mengobrol dan tertawa bersama.
“Semoga kedepannya akan lebih baik lagi dan tuan menemukan kebahagiaannya.”
“Eeehhh!!! Lalu aku? Oohh astaga.” monolog Rudi meratapi kejombloannya.
Setelah Ara meninggalkan Devan, Devan menuju tempat Rudi duduk dan mengambil Jasnya.
“Tuan baik-baik saja kan, tuan bisa makan makanan tadi?” tanya Rudi
“Memangnya selama ini aku makan apa Rud, kan juga sama seperti yang kalian makan.” sambil mengenakan setelan jasnya.
“Tunggu dulu ya, aku akan ke toilet sebentar untuk merapikan diri.”
“Baik tuan!” jawab mereka bersamaan.
Setelah Devan kembali dari toilet, kemudian mereka menuju ruang rapat yang di tunjukkan oleh resepsionis yang ada di depan. Sebenarnya Devan dan Rudi juga mengetahui dimana letak ruang rapat itu, tetapi untuk menjaga kesopanan, mereka meminta tolong resepsionis untuk mengantar mereka ke ruang rapat. Setibanya di ruang rapat, ternyata Mayra dan asisten Heru sudah berada di dalam, tinggal Ara yang belum masuk karena mengambil berkas yang tertinggal di ruangan mamanya.
“Selamat siang tante, mohon maaf Devan membuat tante menunggu.” sapa Devan terlebih dahulu.
“Ahh tidak juga, ini kantor tante jika tante datang kesini terlambat dan malah kamu yang duluan kan tante yang terlihat tidak menghargai tamu, ayo silakan duduk semuanya!” ucap Mayra mempersilakan.
“Terima kasih tante, mari langsung saja kita mulai diskusikan proyek kerja kita kai ini.”
“Sebentar nak, berkasnya belum lengkap sedang diambilkan, naahh itu dia.” ucap Mayra saat melihat Ara yang akan membuka pintu.
“Ara!! Kak Devan!!” ucap Ara dan Devan bersamaan.
“Apakah kalian sudah saling mengenal?” tanya mama.
“Iya ma, kak Devan ini yang dulu menyelamatkan Ara dari kejadian sial saat itu. Jadi kak Devan juga perwakilan dari Sanders Group?” tanya Ara.
“Eeeh iya Ra, hehehe.”
“Jadi Ara ini anak tante Mayra? Yang sering ke toilet saat Devan bertemu dengan tante?” sambung Devan cepat.
“Hahaha iya nak, bisa saja kamu ini nak.”
“Hahaha kan memang betul tan.” kata Devan.
“Astaga kalian ini apa-apaan, membuatku semakin malu saja.” ucap Ara dengan pipi merona dan menutupi wajahnya dengan map yang ia bawa.
__ADS_1
“Hahahahaha..” mereka tertawa bersama.
“Jadi selama ini mereka sudah saling mengenal, hanya saja mereka belum tahu jika mereka ini sebenarnya dijodohkan?” batin Mayra.
“Ya sudah yuk kita mulai diskusinya!” ajak Mayra dan semua kembali fokus pada pekerjaannya masing-masing. Tapi tidak dengan Devan, dia masih tetap sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Jadi selama ini Ara adalah anak dari tante Mayra, tapi saat itu tante Mayra mengatakan jika nama anaknya adalah Berlian Aurora, kenapa bisa menjadi Ara? Jika tahu seperti ini tak perlu aku susah-susah meminta Rudi untuk menyelidiki siapa Ara sebenarnya, dan sekarang malah muncul dengan sendirinya.” batin Devan.
“Bagaimana tuan Devan?” tanya asisten Heru pada Devan, tetapi Devan sedang tidak fokus karena Ara.
“Tuan!” senggol Rudi pelan di lengan nya.
“Ahh iya maaf pak Heru saya sedang tidak fokus, maaf mohon ulang pertanyaan bapak!” minta Devan dan mengakui.
“Ahh iya pak Devan baik akan saya ulang.”
Setelah beberapa lama mereka berdiskusi, akhirnya mereka mencapai kesepakatan bersama. Kedepannya Ara dan Devan akan sering bertemu untuk mengurus masalah pekerjaan karena dari pihak Wijaya Group menunjuk Ara sebab penanggung jawabnya dan dari pihak Sanders Group adalah Devan sendiri. Setelah semua selesai dibahas Devan berpamitan untuk kembali ke kantornya.
“Semoga kerja sama kita ini berhasil dan sukses membawa perusahaan kita ke tingkat yang lebih baik lagi.” ucap mama sambil berjabat tangan dengan Devan.
“Semoga saja tan, dan terima kasih sudah memberikan kami kesempatan untuk bekerja sama dengan perusahaan tante.” balas Devan.
“Kalau begitu kami pamit undur diri tan, karena masih banyak hal yang harus kami tangani di kantor.”
“Iya nak silakan, jangan lupa mampir ke rumah yaa.” ajak mama.
“Iya tan, akan Devan sempatkan. Devan pamit tan selamat siang!”
“Ya hati-hati di jalan nak”
“Yuukk Ra balik duluan ya, terima kasih untuk hari ini.” ucap Devan saat melewati Ara.
“Sama-sama kak.” jawab Ara dengan wajah tersipu, dan diperhatikan oleh mamanya.
Setelah Devan dan rombongannya pergi, Mayra dan Ara kembali ke ruangannya dam pak Heru membereskan meja rapat tadi. Saat di ruangan Mayra menanyai Ara tentang kedekatannya dengan Devan.
“Ra, sayang, mama boleh bertanya?”
“Iya ma, tanya saja tumben niih mama minta izin terlebih dulu.”
“Eeem seberapa dekat sekarang Ara dengan Devan?”
__ADS_1
“Apa siih maa, Ara sama kak Devan juga baru 2x kok mengobrol, selebihnya saat Ara tahu ada kak Devan juga selalu kabur.”
“Kenapa Ara harus kabur?” tanya mama.
“Karena Ara takut jika Kak Devan mau memperhitungkan apa yang Ara perbuat malam itu ma, tapi.. tapi kata kak Devan, Ara tidak melakukan hal apa pun kok hanya sebatas merancau saat mabuk dan dia juga meminta karyawan cewek untuk membantu menyadarkan Ara.” jelas Ara panjang lebar.
“Oohh jadi Ara sempat tidak sadar juga, mengapa saat itu Ara tidak bercerita dengan jujur kepada mama dan kakek?”
“Maaf ma, karena Ara juga takut jika mama dan kakek akan memarahi Ara, jadi Ara tak bercerita jika Ara sempat tak sadar.” Ucap Ara menyesal.
“Kami tak akan marah sayang, justru kami khawatir bagaimana dengan keadaanmu saat itu.” jelas mama.
“Maaf ma maafkan Ara, Ara akan lebih berhati-hati dalam berteman, dan juga Ara sudah menerima perjodohan yang diatur oleh kakek kan ma jadi mama jangan marah lagi.” ucap Ara mengalihkan topik.
“Itu bukan alasan Ra, seharusnya dari awal kamu beri tahu kepada kami.”
“Iya ma Ara sadar Ara salah ma maafkan Ara.”
“Iya sudah sayang mama percaya, jangan pernah tutupi apa pun lagi dari mama atau kakek!” pesan mama ke Ara.
“Baik ma, akan Ara ingat pesan mama.” Jawab Ara yang masih menundukkan kepalanya dan menyadari kesalahannya.
“Lalu menurut Ara bagaimana dengan Devan?”
“Kak Devan orangnya baik, suka bercanda, daaann... eeemmmmm.....??”
“Apa Ara yang jelas dong kalau jawab itu.”
“Kak Devan ganteng keren pula ma.” Jawab Ara dengan wajah tersipunya.
“Ara mau sama Devan?” Tanya mama memancing Ara.
“Andai nih ma andai, mungkin jika Ara belum mengatakan kalau Ara mau dijodohkan oleh kakek, maka Ara pasti akan berusaha mengejar kak Devan.” Setelah mengucapkan itu ekspresi Ara berubah sedih, kecewa dan bibirnya manyun juga terdiam menatap lukisan di dinding kantor mamanya.
“Ternyata Ara sudah ada rasa pada Devan, tapi dia belum juga tahu jika Devan lah pria yang dijodohkan untuk dirinya.” batin mama AraAra kemudian tersenyum
“Araaaa araa!” ucap mamanya yang merasa lucu melihat tingkah Ara saat ini.
“Aaaaaahhh mamaaaa!”
“Sudah sana balik kerja, YANG PROFESIONAL YA SAYAAAANG!!!!” ucap mama penuh penekanan.
__ADS_1