
“Kakek, Devan pergi dulu ya!”
“Mau kemana nak?”
“Urusan anak muda kek, Devan bersama Rudi kok.”
“Ya hati-hati nak, jangan pulang terlalu larut yaa!” pesan kakek.
“Siap kakek!"
Devan mengendarai motor sport yang jarang dipakainya. Dia melajukan motornya dengan perlahan dan menikmati cuaca yang lumayan mendung di waktu yang hampir siang. Devan melewati taman kompleks dan matanya tertuju pada gadis yang sedang duduk di bawah pohon besar di sisi kolam.
“Bukankah itu si sadis aneh!”
Devan memarkirkan motornya, dan berjalan menuju arah Ara duduk.
“Heeiii!! Ara kan, gadis mabuk di Club malam itu kan.!”
“Maaf! Bukan.. bukan anda salah orang!”
“Sudah jangan mengelak lagi aku ingat betul paras wajahmu!”
Ara sudah tak bisa berkutik dan tak bisa kabur lagi.
“A..apakah uang yang kutinggalkan untuk menggantikan kemejamu yang kupakai saat itu kurang tuan?” ucap Ara ketakutan.
“Tenang, jangan takut seperti itu, aku bukan orang jahat yang akan menerkammu seperti singa lapar.”
“Lalu mengapa anda selalu terlihat seperti akan menagih hutang kepadaku saat kita tak sengaja bertemu tuan.”
“Astaga gadis ini!” ucap Devan sambil menepuk dahinya sendiri.
“Maaf Tuan maaf!”
“Eehh setua itukah wajahku sehingga kamu selalu memanggilku tuan?”
“Eemm kakak, baiklah kakak, maaf.” lanjut Ara.
“Menggemaskan juga gadis ini.” batin Devan menahan tawanya.
“Baiklah baik sudah aku maafkan, tapi bisakah kamu jawab dulu beberapa pertanyaanku?”
“Bukan pertanyaan ujian kan kak?”
“Hahahaha!”
“Apa ada yang lucu dari pertanyaanku kak?”
__ADS_1
“Bukan pertanyaanmu tapi ekspresimu yang membuatku tertawa.”
“Jadi pertanyaan apa kak?”
“Naah iya, kenapa saat itu kamu pergi begitu saja saat terbangun bahkan kamu meninggalkan uang untukku? Apa aku terlihat seperti orang yang kekurangan uang?” tanya Devan penasaran.
“Oohh saat itu, karena aku panik jadi aku berpikir sebelum kakak terbangun aku harus pergi dari sana, dan untuk uang aku hanya bermaksud menggantikan kemeja kakak yang aku pakai, dan untuk berterima kasih karena telah menolongku, jika tidak ditolong oleh kakak mungkin saat ini aku dan keluargaku tak mampu menanggung malu.” jelas Ara.
“Oke baik jawaban diterima, lalu mengapa kamu bisa terpengaruh minuman keras bahkan obat seperti itu?”
“Itu dia kak yang aku juga tidak paham, awalnya aku hanya ikut party dengan teman-temanku karena dia akan melanjutkan kuliahnya di luar negeri, aku ingat aku hanya minum jus jeruk dan sedikit minuman dari temanku, setelah beberapa lama kepalaku pusing dan seluruh tubuhku menjadi panas, kemudian aku segera ke toilet tetapi mungkin saat ke toilet aku berpapasan dengan kakak, dan selebihnya aku tak ingat apa pun.”
“Oohh begitu, lalu bagaimana dengan teman-temanmu apakah mereka mencarimu pada saat itu?”
“Aku tidak tahu kak, bahkan sampai sekarang juga aku tidak tahu bagaimana kabar mereka, karena kakek memintaku agar tak berhubungan lagi dengan mereka.”
“Apa mungkin kakekmu sudah membereskannya untukmu?”
“Mungkin juga kak, sudahkah pertanyaannya kak, aku harus segera pulang, karena aku sudah berjanji untuk tidak berlama-lama di luar.”
“Aaahh satu lagi oke, kamu sudah bekerjakah, boleh tahu kamu bekerja dimana?”
“Iya kak aku sudah bekerja di Wijaya Group. Jadi aku permisi dulu ya kak, aku harus segera pulang.” pamit Ara pada Devan.
“Mau aku antar?” tawar Devan.
“Oohh baiklah jika begitu, hati-hati ya!” ucap Devan yang dibalas anggukan boleh Ara.
“Oooh iya siapa nama kakak?” tanya Ara yang tiba-tiba berhenti dan berbalik badan.
“Devan, panggil saja Devan.”
“Baik, terima kasih kak Devan, sampai jumpa.” belum sempat dijawab oleh Devan, Ara segera berlari menuju mobilnya.
“Haiiisshh belum juga meminta nomor ponselnya, juga belum aku tanya soal si brengsek Andre, tapi tak apa setidaknya aku tahu dimana dia bekerja, tinggal tanya tante Mayra pasti aku bisa temukan lagi gadis itu.” batin Devan sambil tersenyum sendiri.
“Astaga apa-apaan aku ini, segera ke apartemen Rudi laah.” ingat Devan setelah menepuk dahinya sendiri.
Devan melanjutkan perjalanan ke apartemen Rudi, di sepanjang perjalanan Devan tersenyum sendiri mengingat wajah Ara yang menggemaskan. Devan berpikir jika dia bisa mendapatkan Ara maka dia tidak perlu mengikuti perjodohan yang dibuat kakeknya.
Sesampainya Devan di basement apartemen Rudi, Devan segera masuk lift untuk menuju tempat Rudi.
“Ting tong ting tong!!”
“Silakan masuk tuan, saya pikir tuan Devan batal kemari.”
“Mana mungkin batal, jika aku tidak jadi kemari maka aku akan melewatkan kesempatan bagus Rud.”
__ADS_1
“Kesempatan apa itu tuan?”tanya Rudi yang dibuat penasaran dengan Devan.
“Kesempatan untuk bertemu Ara dan sedikit berbincang dengannya.” sambil tersenyum sendiri Devan saat mengatakan pada Rudi dan Devan masih mengingat betapa menggemaskannya Ara tadi.
“Jadi tuan sudah bertemu dengan gadis itu malah disaat tuan tidak mencarinya?” tanya Rudi to the point.
"Ya benar sekali Rud, apakah ini yang dinamakan jodoh?"
"Mungkin juga tuan. Maaf tuan apakah tuan sedang jatuh cinta dengan gadis itu?" tanya Rudi karena Devan mengatakan jodoh dengan mata yang berbinar.
“Haa? Apa? Jatuh cinta?? Benarkah itu? Mungkin saat ini hanya sebatas mengagumi dia saja Rud.”
“Mungkin setelah mengagumi gadis itu akhirnya tuan mulai jatuh cinta juga.”
“Apakah aku terlihat tua ya Rud? Apa aku terlihat seperti om om?” tanya Devan saat dia memperhatikan sosoknya sendiri di depan cermin besar milik Rudi.
“Tidak tuan, bahkan tuan terlihat lebih muda saat ini.”
“Benarkah?? Oke bonus akhir tahun kamu bertambah 20% Rud.”
“Benarkah itu tuan?” tanya Rudi terkejut.
“Alhamdulillah syukurlah bertambah dong pundi-pundi akhir tahunku kali ini.” batin Rudi yang sangat gembira.
Selanjutnya sambil menunggu makanan datang, mereka membahas masalah pekerjaan yang dibawa pulang oleh Rudi. Devan ingin segera menyelesaikan masalah besar yang ada dan dia berharap bisa segera mengejar Ara tanpa terbebani masalah perusahaan yang besar seperti sekarang ini.
“Semangat sekali tuan Devan kali ini, apa hatinya sedang berbahagia ya, apa karena gadis itu atau tuan Devan memiliki rencana lain lagi ya?” batin Rudi ketika memperhatikan bosnya bekerja keras.
“Maaf tuan, untuk makan siang mau pesan delivery atau kita pergi keluar?” tanya Rudi saat teringat sekarang adalah waktu makan siang.
“Sepertinya delivery saja, atau kamu keluar sendiri dan nanti bungkuskan satu untukku.” jawab Devan yang masih mengerjakan berkas-berkas yang ada di depannya dan tanpa menoleh ke arah asistennya itu.
“Kita delivery saja jika seperti itu, tuan mau pesan apa?”
“Apa saja asal enak dan bikin aku kenyang.”
“Kita pesan nasi padang saja jika begitu tuan, bagaimana?” tanya Rudi untuk mendapatkan kepastian Devan.
“Ya sudah itu saja, lagi pula lama aku tidak makan itu.”
“Tuan Devan mau tambah lauk apa lagi ini?”
“Ayam bakar dan gulai ikan.” jawab Devan cepat.
“Oke tuan saya pesankan dulu.”
Hari ini benar-benar luar biasa untuk Devan setelah berhasil berjumpa Ara dan sedikit mengobrol, dia bekerja dan berusaha keras agar perusahaan segera terbebas dari masalah besarnya. Dan sudah berkeinginan untuk segera mengejar kisah cintanya.
__ADS_1