
Malam berganti dengan hangatnya sinar mentari, burung-burung kecil berkicau riang pada dahan-dahan pohon di halaman kediaman keluarga Wijaya. Hari yang sibuk akan Ara dan Mamanya lalui. Ara terbangun dan kemudian melirik jam di nakasnya.
“Astaga aku telat bangun!!”Ara langsung terperanjat dan berlari menuju lemari pakaian.
“Sayaaang sudah siap belum, ayo kita sarapan dulu.”
“Iya maaa, masih keringkan rambut, tunggu yaa.” Teriak Ara dari dalam kamar dan mama langsung turun menuju meja makan.
“Maaf ma Ara bohong kali ini, untung semalam sudah cuci rambut jadi alasan masuk akal, mandi bentar dehh.” Monolog Ara sambil menyiapkan pakaian kerjanya dan segera menuju kamar mandi. Sudah tak ada banyak waktu lagi bagi Ara untuk berlama-lama dengan ritual mandinya, segera berganti pakaian, menata rambut dan make up seadanya.
“Sudahlah nanti lanjut di mobil saja, yuukk sarapan dulu lah.” Ucap Ara sambil memasukkan dompet, ponsel, notebook, dan beberapa keperluan lainnya ke dalam tas dan bergegas menuju meja makan.
“Selamat pagi kakek, pagi juga mama.” Sapa Ara.
“Pagi juga sayang.” Jawab kakek dan mama berbarengan.
“Tumben lama banget turunnya, biasanya kalau mama panggil langsung keluar.”
“Biasalah ma cek ulang barang-baraang Ara takut ada yang tertinggal, daaaan karena Ara sedikit kesiangan tadi ma.” Jelas Ara sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
“Bilang saja kamu memang kesiangan sayang.” Jawab mama memperjelas.
“Sudah-sudah, yuukk sarapan dulu nanti kalian kesiangan juga berangkat kerjanya.” Ucap kakek mengingatkan. Semua makan dengan tenang, dan kemudian Ara dan mamanya segera berangkat ke kantor.
Di dalam mobil Ara masih sibuk menata rambutnya agar lebih rapi juga sedikit memoles bibirnya dengan lipgloss supaya terlihat lebih segar. Dan tak sengaja mama melihat cincin yang ada di jari manis Ara.
“Sayang, tumben sekali kamu pakai cincin? Dan mama rasa asing dengan cincin itu dan seperti kebesaran juga.” tanya mama penasaran.
“Cincin mama kak Devan ini ma, sebenarnya Ara takut jika terlepas tapi Ara juga sudah berjanji pada kak Devan untuk memakainya.” jelas Ara.
“Sayang juga kalau terlepas dan hilang nak, ini pasti peninggalan almarhumah mamanya.” ucap mama sambil mengusap cincin itu.
“Benara, lalu Ara harus bagaimana ma, agar Ara tak mengecewakan kak Devan juga tetap menjaga janji Ara.”
“Eeeemmm! Begini saja dulu sayang, taruh cincin ini pada kalung yang Ara pakai itu sementara agar aman, nanti jika ada waktu, katakan pada nak Devan agar bisa di kecilkan sesuai ukuran jari kamu sayang.”
“Betul juga ya Ma, kan lebih aman.” Ucap Ara yang segera melepas kalung kemudian menjadikan cincin itu tergantung pada kalungnya.
“Nah begitu lebih baik untuk sementara sayang, jangan lupa bicarakan dengan nak Devan.”
“Siap Ma, nanti akan Ara bicarakan dengan kak Devan.”
__ADS_1
...----------------...
Di kediaman keluarga Sanders. Devan yang sangat bahagia terbangun lebih awal pagi ini, dia bersiap-siap untuk bekerja. Devan segera turun untuk sarapan bersama kakeknya dan ternyata ada Rudi juga di meja makan.
“Pagi kakek! Ehh ada kamu di sini Rud, tumben mampir.” sapa Devan.
“Iya tuan, sejak kemarin saya di sini.” Jelas Rudi dan Devan mengambil posisi duduk untuk mengambil roti dan selai.
“Kakek yang minta Rudi datang untuk menemani, karena kemarin kakek kehilangan satu cucu kakek seharian.” jelas kakek kesal.
“Aahh maaf kakek, Devan lupa ada janji dengan Ara, Devan bangun kesiangan dan kakek tak ada di rumah.”
“Kan bisa meninggalkan pesan atau menghubungi kakek dengan ponselmu itu.” Kakek menunjuk ke arah ponsel Devan yang ada di sebelah piring Devan.
“Devan juga lupa kakek, maafkan Devan. Ooh iya semalam kakek Wijaya menitipkan salam juga untuk kakek.” ucap Devan mengalihkan omelan kakek.
“Benarkah? Bicara apa dia tentang kakek?” tanya kakek antusias.
“Makan dulu yuuk kek, ceritanya nanti panjang, dan Devan butuh asupan tenaga untuk itu.” ucap Devan mengingatkan kakek untuk makan terlebih dahulu.
“Dasar cucu durhaka! Selamat makan!!” ucap kakek dan semua menikmati makanan mereka masing-masing. Kakek dan Rudi makan nasi dengan lauknya sedang Devan dengan roti selainya. Setelah dirasa semua sudah selesai dengan makanan mereka, Devan memulai obrolan dengan Rudi.
“Rud, tolong ya nanti kamu atur jadwal dan pemberitahuan untuk tim yang bertanggung jawab atas proyek baru di luar kota nanti, ada yang harus kubahas dengan mereka.”
“Hari ini nanti jadwalku padat tidak?”
“Lumayan padat tuan, apakah ada yang mau ditambah lagi pada jadwal itu nanti??
“Sepertinya aku ingin pergi ke suatu tempat nanti, tetapi jika jadwal sudah full, kapan-kapan saja lah Rud.”
“Mau pergi ke mana nak?” tanya kakek.
“Ke suatu tempat kek, Devan sudah rindu ingin ke sana.”
“Bertemu Ara? Baru berapa jam juga kalian berpisah nak?”
“Bukan kek, ada yang lain lagi di hati Devan.”
“Awas ya kamu macam-macam mengecewakan dan mempermalukan kakek, kakek tidak mau memiliki cucu seperti itu!” kakek dibuat kesal dengan jawaban Devan.
“Devan berangkat kerja dulu ya kek sudah sangat siang ini, kakek hati-hati jika mau ke mana-mana. Byee kakek!” pamit Devan yang seolah mengabaikan ucapan kakek.
__ADS_1
“Tuan kami berangkat dahulu, nanti jika Rudi tahu tuan akan ke mana pasti Rudi infokan, tuan jangan emosi dan ingat kesehatan. Permisi tuan besar.” pamit Rudi yang lebih menenangkan kakek.
“Baiklah, jaga dan awasi terus Devan untuk kakek ya, Hati-hati di jalan kalian.” ucap kakek
“Ruuuudd ayooo buruan!” teriak Devan dari teras depan.
Devan dan Rudi berangkat menuju kantor, Rudi yang menyetir dan Devan seperti biasa berada di sebelahnya agar mereka dapat mengobrol dengan nyaman menurut Devan.
“Maaf tuan, untuk masalah tadi saya harus mengatur jadwal untuk pergi ke mana tuan?” tanya Rudi yang benar-benar belum tahu Devan akan pergi ke mana.
“Mau ke rumah pacar pertama Rud.” jawab Devan enteng tetapi membuat Rudi sangat terkejut.
“Kenapa kamu kaget Rud, mau mengadu ke kakek?”
“Ti..tidak tuan, anggap saya tidak dengar apapun.” jawab Rudi.
“Nanti tolong pesankan dua buket mawar putih yang ukuran biasa saja ya, minta bunganya yang paling bagus, karena mungkin aku tidak akan sempat membelinya.” minta Devan.
“Baik tuan, lalu untuk rapat nanti, apa yang harus saya siapkan?”
“Ahh iya, kemarin menurut kakek dan mama mertua, kita harus lebih berhati-hati untuk proyek terbaru kita ini, dan nanti akan kita bahas dan juga aku ingin tahu sampai mana perkembangannya.”
“Baik tuan, nanti akan saya informasikan kepada setiap bagian yang bekerja dalam proyek tersebut.” jawab Rudi dan mereka terdiam dalam pikiran masing-masing.
“Kemarin-kemarin bilang terpaksa dalam perjodohannya, sekarang sudah bucin akut, apa itu mama mertua, aaahhhh! Bos mah bebaslah asal dia bahagia, pekerjaanku pun aman.” batin Rudi.
“Rud, bagaimana kabar dokter cantik yang dulu, kalian masih berhubungankan?” tanya Devan.
“Uhhuuukk!! Dokter Mika tuan?”
“Iya yaa itu dokter cantik.”
“Kami tidak memiliki hubungan apa pun tuan, kami hanya sebatas teman juga dokter dan pasien saja.”
“Tapi sebenarnya kalian terlihat cocok kok.”
“Cocok seperti dokter dan pasien saja tuan, tidak lebih kok.”
“Mana ada begitu, buktinya kamu sering menerima telepon darinya kan Rud?”
“Tuan bisa saja, dia menelpon hanya untuk mengingatkan jadwal minum obat dan jadwal checkup rutin saja untuk saya dan tuan besar.”
__ADS_1
“Lalu itu mengapa kamu jadi salah tingkah begitu Rud, Hahaha!!!” ledek Devan dengan tawa yang bahagia sekali.
“Untung bos, coba saja kalau teman biasa, huuh!!!” batin Rudi yang kesal karena diledek oleh Devan.