
Takdir nampaknya mulai memainkan perannya, perlahan mempertemukan mereka yang seharusnya dipertemukan. Saat itu hanya ada mereka berdua didalam ruang rawat milik Hana. Tentu saja hal itu tidak disengaja. Evan dan Carissa sedang keluar membeli keperluan untuk Hana selama dirawat dirumah sakit, meninggalkan Ravi yang sedang tertidur di sofa yang ada pada ruang rawat Hana. Sedangkan Liam sedang mengurus administrasi rumah sakit untuk Hana.
Hana terbangun setelah tidak sadarkan diri selama hampir empat jam. Ia tertidur cukup lama karena pengaruh obat yang diberikan. Hana lalu melihat selang infus yang terpasang pada tangannya. Hana kemudian teringat bahwa ia baru saja mengalami kecelakaan pagi tadi.
Perlahan Hana mencoba untuk bangun dan mengangkat tubuhnya agar bisa bersandar. Tiba-tiba ia merasa tubuhnya tidak bisa ia kendalikan hingga hampir membuatnya terjatuh dari tempat tidur. Untung saja ada seseorang yang dengan cepat menangkap tubuhnya.
Meski Hana belum melihat wajah orang itu, tetapi ia yakin itu pasti Evan, mana mungkin ada orang lain selain Evan disini pikirnya. Hana pun menoleh. Namun betapa terkejutnya ia ketika mendapati orang itu bukanlah Evan, melainkan Ravi. Ternyata Hana tidak menyadari keberadaan Ravi yang sedari tadi berbaring di sofa yang berada disisi berlawanan tempat tidurnya.
Ravi mencoba mengatur ritme nafas dan juga raut wajahnya menjadi setenang mungkin. Ia tidak ingin Hana menyadari betapa gugup dirinya saat ini. “Kamu belum boleh banyak gerak dulu. Tiduran lagi ya,” ucap Ravi sambil membantu Hana kembali berbaring.
Hana yang masih setengah terkejut hanya mengikuti instruksi Ravi sambil terdiam. Tak lama kemudian Liam kembali setelah selesai mengurus administrasi Hana. “Loh Hana udah bangun ya. Gimana perasaan kamu nak? Udah enakan? Ada yang sakit gak?” tanya Liam khawatir.
Belum sempat Hana menjawab pertanyaan Liam, terdengar suara pintu yang terbuka. Dari arah pintu terlihat Carissa dan Evan memasuki ruangan. Segera setelah melihat Hana sudah membuka mata Carissa langsung berjalan menuju ke arah Hana dan memeluknya. Hana yang semakin terkejut tidak bisa berkata apa-apa. Tapi tidak dengan raut wajahnya. Ia menatap mereka semua secara bergantian dengan penuh rasa kebingungan.
Evan yang mengetahui bahwa kekasihnya itu merasa bingung dengan apa yang ia lihat, perlahan menjelaskannya kepada Hana. “Sayang kamu pasti kaget ya? Maaf ya aku gak ada pas kamu sadar. Ini orang tua dan abang aku,” jelas Evan kepada Hana sembari menunjuk ke arah Liam, Carissa dan Ravi.
“Evan, kamu anak dari Om Liam dan Tante Carissa?” tanya Hana menatap Evan.
“Loh kamu udah kenal sama orang tua aku? Kok bisa?” kini Evan yang kebingungan bertanya kepada Hana.
“Udah-udah, biarin Hana istirahat dulu, nanti Mama jelasin ke kamu ya, Van,” kata Carissa menengahi.
“Ayo kita semua keluar dulu, biar Hana bisa tenang istirahatnya,” ujar Liam sembari menarik tangan Evan berjalan keluar.
Ravi yang sebenarnya berat meninggalkan Hana berjalan pelan mengikuti langkah kedua orang tuanya. Ia masih ingin berada disekitar Hana, yah meskipun ia tidak bisa banyak berinteraksi dengan Hana . Bagaimanapun juga Hana adalah kekasih adiknya.
__ADS_1
...*****...
Liam dan Carissa serta Evan meninggalkan ruang rawat Hana menuju taman rumah sakit, sedangkan Ravi memilih langsung pulang dengan alasan perlu lebih banyak tidur. Namun Carissa tahu putra sulungnya itu berbohong. Ia tahu Ravi mulai membatasi diri untuk tidak banyak berinteraksi dengan Hana agar perasaannya tidak semakin besar.
Setelah mencari tempat untuk duduk bercerita disekitar taman tersebut, akhirnya mereka menemukan sebuah kursi panjang diujung taman. Liam mengajak Carissa dan Evan untuk duduk disana. Ada sebuah pohon rindang dibelakang kursi taman tersebut.
“Evan, apa yang kamu ketahui tentang Hana?” tanya Liam sebelum memulai ceritanya. Evan bingung harus menjawab apa karena sejujurnya ia sudah mengetahui sebagian dari cerita masa lalu Hana melalui Maya. Tetapi ia tidak mungkin menyebutkan hal tersebut kepada kedua orang tuanya. Akhirnya Evan memilih berbohong.
“Aku gak tahu banyak soal kehidupan Hana. Dia masih sedikit tertutup untuk hal itu ke aku, Pah,” jawab Evan meyakinkan.
Evan kemudian teringat dengan cerita Maya waktu itu. Maya bercertita bahwa ia pernah mendapati ayah sambungnya itu menangis terisak sambil memegang sebuah foto ditangannya. Mungkin itu saat ia mendapatkan kabar bahwa istrinya telah berpulang.
Ingin rasanya Evan memberitahukan kepada ayahnya kalau ternyata Effendi masih sangat merindukan keluarganya. Setidaknya itu yang Evan ketahui menurut cerita dari Maya. Tetapi jika Evan melakukan itu, ia khawatir kalau nanti orang tuanya mengetahui apa yang Maya lakukan terhadap Hana dan masalah ini akan semakin besar.
__ADS_1
“Sejak berpulangnya ibu Hana, Papa dan Mama sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Hana, sampai saat beberapa minggu yang lalu. Kami bertemu dengan Hana saat mengunjungi makam ibunya,” ujar Liam menutup ceritanya.
Evan terdiam kemudian mengangguk kecil seakan mencoba meresapi apa yang baru saja ayahnya ceritakan. Ternyata memang benar apa yang pernah Maya ceritakan waktu itu. Bahkan dari cerita Liam, kehidupan Hana jauh lebih menyakitkan menurut Evan. Ia harus berpisah dengan ayahnya ketika masih berumur lima tahun dan sekarang ia hidup sebatang kara karena ibunya telah berpulang.
“Evan, kamu benar-benar mencintai Hana?” tanya Carissa lembut. Evan menatap ibunya dan mengangguk lemah. Walau sejujurnya, saat ini ia tidak tahu apa yang ia rasakan terhadap Hana setelah mendengar cerita dari ayahnya. Terbersit dalam hatinya rasa khawatir apakah ia mampu mendampingi Hana melewati semua masalah kedepannya. Ini semua terlalu rumit menurutnya.
Evan merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan setelah ini. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Hana, tetapi rasanya ia tidak bisa berbuat lebih jauh lagi. Evan hanya bisa menarik nafas panjang mencoba menenangkan pikiran dan hatinya.
“Van, Mama dan Papa gak akan memaksakan apapun ke kamu. Bagi Mama dan Papa, kebahagiaan kamu dan Abang kamu lebih penting dari segalanya. Ini kehidupan kalian, yang menjalani susah senangnya pasti kalian sendiri. Mama dan Papa hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kalian. Kamu hanya harus ingat ini selalu, Van, dibalik semua keputusan yang kamu ambil, ada tanggung jawab dan resiko didalamnya. Mampu atau tidak kamu jalani, hanya kamu yang bisa menjawabnya,” Carissa berkata sembari menggenggam tangan Evan.
Liam kini beranjak dari tempat duduknya mengajak Carissa untuk pulang. Mereka meninggalkan Evan yang masih terjebak dengan pikirannya sendiri. Mereka tahu bahwa Evan butuh waktu untuk menerima semua yang mereka katakan sebelumnya.
Evan mengusap pelan wajahnya, rasanya ia sangat lelah dan butuh istirahat segera. Ia pun berjalan menuju ruang rawat Hana. Evan ingat ada sofa yang bisa ia gunakan untuk berbaring di ruangan itu.
Namun betapa terkejutnya ia ketika mendapati kamar itu telah kosong. Tidak ada seorang pun disana. Evan berulang kali memanggil nama Hana, kalau\-kalau ternyata Hana berada dikamar mandi. Nihil. Tidak ada jawaban apapun. Hanya ada secarik kertas kecil diatas tempat tidur yang tadi Hana gunakan.
__ADS_1
“Maafkan aku Evano. Dan terima kasih untuk semuanya. Aku pamit.” Ia sangat mengenali tulisan tangan itu. Itu tulisan Hana.