Cinta Untuk Hana

Cinta Untuk Hana
BAB 19


__ADS_3

Effendi merebahkan tubuhnya pada sofa yang disudut ruangan kantornya. Hari ini jadwal pertemuannya dengan beberapa klien sangat padat. Bahkan untuk sekedar makan siang pun tidak bisa ia lakukan.



"Apa masih ada pertemuan lagi setelah ini, Dani?" tanya Effendi sambil memejamkan matanya. Rasa lelah menyerang setiap persendiannya.



Dani segera mengecek jadwal kegiatan Effendi untuk hari ini. Sebenarnya masih ada satu pertemuan yang harus Effendi hadiri dan ini pertemuan penting dengan seorang klien dari luar negeri.



Tetapi tiba\-tiba saja sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Dani. Dani menatap nama pengirim pesan itu pada layar ponselnya, "Nyonya Alita". Dani buru\-buru membuka pesan tersebut. Ternyata Alita mengiriminya pesan gambar.



Sebuah potret laki\-laki lanjut usia sedang memeluk seorang gadis dengan senyum bahagia terlukis diwajah keduanya. Itu adalah potret Bramantyo dan Hana. "Akhirnya hari ini datang juga," batin Dani.



"Dani, kenapa kamu diam saja?" tanya Effendi.



"Maaf Pak, tapi sepertinya Bapak harus melihat ini," jawab Dani. Ia lalu memberikan ponselnya kepada Effendi. Effendi mengambil ponsel Dani dengan helaian nafas panjang. Namun ketika ia melihat apa yang ingin Dani tunjukkan, Effendi seketika membuka matanya lebar\-lebar.



"Ini.. Papi kan? Siapa yang mengirimkan ini?" tanya Effendi terkejut.



"Nyonya Alita barusan mengirimkan itu kepada saya. Mungkin sebaiknya kita menyusul Nyonya dan Tuan, Pak. Untuk sisa pertemuan Bapak hari ini sudah saya pindahkan besok," jelas Dani.



Tanpa menunggu lagi Effendi langsung berjalan keluar dari ruangan kantornya. Ia bahkan berlari menuju ke parkiran mobil dengan Dani yang mengikutinya dari belakang. Effendi tidak perduli dengan tatapan para karyawannya yang heran melihat sikapnya. Ia hanya ingin segera tiba ditempat putrinya berada.

__ADS_1



Dani dengan sigap langsung memasuki mobil dan membawanya melaju secepat mungkin untuk bisa tiba ditujuan. Sedangkan dikursi belakang ada Effendi yang dengan gelisah mencoba menghubungi ponsel Alita, tetapi nihil, Alita tidak menjawab teleponnya.



Waktu tiga puluh menit bagaikan tiga jam bagi Effendi yang sudah tidak sabar ingin menemui putrinya itu. Bahkan saat mobil belum benar\-benar berhenti, Effendi sudah membuka pintunya dan meloncat keluar. Ia langsung berlari membuka pagar rumah Hana.


Langkahnya tiba\-tiba terhenti saat ia mendengar suara tawa dari arah dalam rumah Hana. Itu suara tawa Alita, Bramantyo dan juga Hana. Entah sudah berapa lama ia menunggu momen seperti ini. Effendi sangat bahagia menyaksikan momen ini dari balik celah pintu yang terbuka.



Namun ada rasa bersalah yang tiba\-tiba menghampirinya. Ia merasa bersalah kepada Kanaya karena tidak bisa mewujudkan momen ini ketika istrinya itu masih hidup. Effendi tertunduk dan menangis meratapi, "Seharusnya kamu juga ada disini, Nay Maafkan aku."



Effendi terus tertunduk menangis tanpa menyadari Hana telah berdiri dihadapannya. Perlahan Hana melingkarkan kedua lengannya memeluk sang ayah. Effendi yang baru menyadari pelukan Hana terkejut dan mengakat wajahnya menatap kedua mata Hana.



"Ayah, ayo masuk," kata Hana sambil tersenyum. Entah sudah berapa lama ia menantikan momen seperti ini. Momen ketika menyambut ayahnya pulang kerumah. Effendi membalas pelukan Hana dengan sangat erat seakan tak ingin melepaskan putrinya itu.



...*****...


Malam itu Hana tertidur dengan sangat nyenyak. Ia bahkan bermimpi bertemu dengan ibunya. Rasanya satu\-persatu kebahagiaan datang kepadanya. Tiada henti\-hentinya ia bersyukur atas apa yang sudah terjadi beberapa waktu belakangan ini.



Ternyata benar, memiliki hati yang tabah dan kuat tidak bisa dibentuk dalam waktu sehari. Tidak sia\-sia Kanaya membesarkan Hana selama ini, Hana tumbuh menjadi gadis berhati besar dan penyayang seperti dirinya.



Bukan amarah yang Hana rasakan ketika melihat Bramantyo, melainkan rasa rindu yang teramat dalam. Karena itulah Hana langsung memaafkan Bramantyo dan Effendi atas semua yang telah terjadi. Yang terpenting bagi Hana saat ini, ia tidak lagi hidup dalam rasa kesepian dan rindu yang tak tahu ujungnya dimana.


__ADS_1


Kini Hana benar\-benar sudah bisa memulai menata kembali hidupnya bersama orang\-orang yang ia sayangi dan cintai. Semoga kali ini takdir benar\-benar berpihak kepadanya.



*Ting!*


Ponsel Hana berbunyi membuatnya terbangun. Ia meraba bagian atas meja nakas disisi tempat tidurnya mencari ponselnya yang berbunyi. Matanya masih setengah terbuka saat melihat nama pengirim pesan tersenbut, "*Ayah*".



Senyuman mengembang sempurna pada bibir Hana. Maklum saja baru kali ini Hana menerima pesan singkat dari ayahnya. Kini ia harus mulai membiasakan diri menerima pesan atau telepon dari ayahnya itu.


"Selamat pagi putri ayah.. Jangan telat sarapan ya. Ayah hari ini harus keluar kota, tunggu Ayah pulang ya.. *I miss you already*."



Hana merasa bahagia, meskipun terus terang saja, ia masih merasa sedikit canggung terhadap ayahnya itu. Sembilan belas tahun lamanya ia tidak berjumpa dan berkomunikasi dengan Effendi, lalu tiba\-tiba pagi ini ia menerima pesan seperti ini dari ayahnya.



Hana lalu tiba\-tiba teringat dengan Maya. Ia bertanya\-tanya dalam hati, apakah saat ini Maya sudah mengetahui bahwa hubungannya telah membaik dengan keluarga Bramantyo. Karena terlepas dari fakta bahwa Maya adalah saudara tirinya, saat ini hubungannya dengan Maya sangat baik sebagai seorang teman.



Hana hendak menghubungi Maya ketika sebuah pesan singkat kembali masuk ke ponselnya, ternyata dari Evan. "Sayang, siang ini aku mau ke puncak ya bareng Maya. Kita ada acara reuni sekolah. Besok pagi aku sama Maya balik lagi," tulis Evan.



Hana seharusnya merasa cemburu dan khawatir saat membaca pesan dari Evan, karena bagaimanapun dahulu Maya pernah mengakui pada dirinya bahwa ia sangat mencintai Evan. Namun Hana justru bersyukur karena Maya pergi bersama Evan, setidaknya Evan bisa menjaga Maya. Karena saat ini bagi Hana, Maya bukan hanya sekedar temannya, tetapi juga saudara perempuannya.



Hana meletakkan ponselnya dan berjalan keluar dari kamar menuju ke ruang makan. Ia tersentak kaget melihat Dani sudah berada di ruang makan bersama Bi Siti sedang menyiapkan sarapan. Rupanya Dani membawa makanan dari rumah Bramantyo.



"Selamat pagi Nona Hana. Saya datang membawakan makanan kiriman dari Nyonya Alita untuk Nona. Setelah Bi Siti selesai menyiapkan semuanya, saya akan pamit pulang," jelas Dani.

__ADS_1



Hana tidak berkedip menatap semua makanan yang Dani bawa kerumahnya. Ada berbagai macam makanan hingga membuatnya bingung ingin menyantap yang mana lebih dulu. Ia lalu menahan Dani ketika Dani hendak pamit pulang. Rasanya tidak sopan membiarkan Dani pulang tanpa ikut mencicipi semua makanan ini. Toh ia dan Bi Siti juga tidak akan bisa menghabiskan seluruh makanan ini berdua.


__ADS_2