
"Mas, kamu tidak bercanda kan? Aku tidak salah dengar kan, Mas?" tanya Alita dengan mata berkaca-kaca.
Berulang kali ia memastikan kepada Bramantyo atas apa yang barusan suaminya itu katakan. Alita tak kuasa menahan tangisnya. Ia terus berucap syukur kepada Tuhan atas apa yang ia dengar ini. Alita memeluk haru suaminya, akhirnya rasa sesak didalam hatinya selama belasan tahun ini bisa menghilang.
"Maafkan aku selama ini Alita. Aku sudah menyakiti hati banyak orang, terutama kamu. Aku tahu kamu sangat menyayangi Kanaya dan Hana. Sejujurnya aku sudah lama ingin bertemu dengan mereka, tetapi ego masih sangat menguasai hati dan pikiranku.
"Hingga aku terlambat, menantu yang seharusnya aku perlakukan penuh kasih sayang layaknya purtiku sendiri telah pergi selamanya. Aku bahkan tidak sempat mendapatkan maaf darinya," ungkap Bramantyo.
Ia perlahan menangis dipelukan istrinya dan menyesali semua perbuatannya. Saat ini Bramantyo akan mencoba untuk menebus kesalahannya dimasa lalu. Ia harus segera bertemu dengan Hana dan meminta maaf langsung kepada cucunya itu.
"Tidak apa\-apa, Mas. Terima kasih kamu mau memperbaiki semuanya sekarang. Aku yakin Endi pasti akan sangat senang mendengar ini," kata Alita. Ia hendak mengambil ponselnya dan menghubungi Effendi namun dihentikan oleh Bramantyo. Suaminya itu masih belum siap bertemu dengan Effendi saat ini.
Kini Alita paham akan apa yang terjadi pada suaminya saat ini. Rasa bersalah telah menguasai dirinya dan membebaninya dengan sangat berat. Sehingga tubuhnya pun merasakan lelah yang luar biasa.
Alita menatap wajah suaminya itu, diusapnya lembut pipi Bramantyo. Kini wajahnya terlihat sendu, Alita bisa merasakan kesedihan dibalik kedua mata suaminya. Namun hal yang sangat ia syukuri adalah bahwa suaminya kini sudah bisa membuka hatinya untuk Hana.
"Sekarang kamu istirahat ya, Mas. Aku akan tanya dokter kapan kamu boleh pulang. Setelah itu aku akan segera bawa kamu buat ketemu Hana," ujar Alita terseyum.
Senyuman itu. Senyuman yang hilang selama ini dari wajah Alita. Senyuman tulus yang dahulu sangat membuat Bramantyo jatuh cinta pada istrinya itu. Sayangnya senyuman itu memudar bahkan hilang ketika Effendi dan keluarganya pergi dari rumah mereka.
__ADS_1
Sejak saat itu tidak ada lagi kehangatan diantara mereka. Meski Alita tetap menjalankan kewajibannya sebgaia seorang istri, tetapi sikap Alita menjadi dingin, bahkan ia lebih sering mendiamkan Bramantyo. Satu\-satunya alasan Alita bertahan hanya karena Effendi meyakinkan ibunya itu untuk tetap kuat demi dirinya dan keluarganya.
Bramantyo diam\-diam sering mendapati Alita menangisi foto Effendi. Ia awalnya tidak perduli, karena ia yakin Effendi pasti akan kembali dengan sendirinya. Namun setelah dua tahun berlalu, Effendi tak kunjung juga kembali. Sedangkan Alita masih terus bersikap yang sama kepadanya.
Saat itulah Bramantyo mulai mengganggu kehidupan Effendi. Ia selalu mengancam Effendi akan membekukan semua aset yang Effendi miliki. Bramantyo ingin membuat Effendi hidup dalam kesusahan, pikirnya putranya pasti akan kembali.
Jika putranya kembali, maka sikap istrinya pun akan kembali berubah seperti dulu kepadanya. Sayangnya Effendi tetap tidak ingin kembali. Effendi akan kembali jika Kanaya dan Hana ikut bersamanya, ia tidak akan pulang kerumah itu lagi tanpa keluarganya.
Hal itu membuat Bramantyo murka sekaligus putus asa. Ia tidak tahu mengapa Effendi sangat mempertahankan Kanaya, wanita yang biasa saja, bukan berasal dari keluarga terpandang, bahkan sudah menjadi seorang yatim piatu.
Hingga pada akhirnya Bramantyo mengancam akan memisahkan Effendi dan keluarganya. Ia akan mengirim Kanaya dan Hana untuk hidup terpisah dari Effendi dan tidak akan pernah bisa ditemukan. Bramantyo akan membuat kehidupan Kanaya dan Hana menjadi sangat menderita.
Effendi mau tak mau harus mengikuti keinginan ayahnya. Ia pun dengan sangat berat hati meninggalkan Kanaya dan Hana saat itu. Selama sembilan belas tahun lamanya ia hanya bisa melihat istri dan anaknya dari kejauhan tanpa bisa menyentuh mereka.
Effendi tidak ingin Bramantyo melakukan hal buruk kepada Kanaya dan Hana ketika tahu bahwa Effendi diam\-diam masih mengawasi mereka. Oleh karena itu pula, Effendi menerima kembali perjodohannya dengan Melissa, ibu dari Maya. Semata\-mata demi menjaga agar Bramantyo percaya bahwa Effendi sudah tidak berhubungan lagi dengan istri dan anaknya.
Setelah belasan tahun kembali hidup bersama dan semua keinginannya terpenuhi, nyatanya tidak membuat keadaan keluarga Bramantyo kembali seperti semula. Effendi kerap menghindarinya, sementara Alita meski bahagia dengan kepulangan anaknya, tetapi sikapnya tidak berubah pada Bramantyo.
__ADS_1
Saat mendapat kabar bahwa Kanaya telah berpulang, Bramantyo melihat sendiri betapa hancurnya hidup Effendi. Meski tidak mengatakan apapun, ia bisa melihat dari mata putranya itu duka yang sangat dalam. Nyatanya sembilan belas tahun berpisah tidak sedikit pun membuat Effendi melupakan cintanya kepada Kanaya.
Diam\-diam Bramantyo juga datang kepemakaman Kanaya. Ia melihat Hana menangis sendirian diatas pusara ibunya setelah semua tamu yang datang melayat pergi satu persatu. Bramantyo juga melihat sosok Effendi yang hanya bisa berdiri jauh dibelakang Hana ikut menangis melihat putrinya sendirian.
Tiba\-tiba saat itu ada rasa sakit didada yang Bramantyo rasakan. Rasa sakit yang tidak bisa ia jelaskan. Mungkin saja ia merasa sedih melihat pemandangan yang ada dihadapannya saat itu. Tetapi Bramantyo terlalu angkuh untuk mengakuinya.
Sejak saat itu ia mulai memikirkan perlakuannya terhadap Kanaya dan juga Hana. Bila ia ingat\-ingat, tidak pernah sekalipun Kanaya memperlakukannya dengan buruk meski Bramantyo selalu mencemoohnya.
Kanaya bahkan tahu apa kesukaan Bramantyo. Pernah suatu ketika Kanaya membuatkan teh jahe saat mendengar Bramantyo mengeluh pada Alita jika ia merasa tidak enak badan. Namun ketika tahu jika teh itu buatan Kanaya, Bramantyo lantas langsung menumpahkan teh itu ke lantai.
Kanaya yang melihat hal itu tidak berkata apa\-apa. Ia hanya membersihkan bekas tumpahan teh itu dengan sabar. Bahkan setelah itupun Kanaya tetap berbuat baik kepada Bramantyo.
Mengingat semua itu membuat air mata Bramantyo kembali menetes membasahi kedua pipinya. Alita yang baru saja memasuki ruang rawat suaminya itu pun terkejut. Baru kali ini ia melihat Bramantyo bersikap seperti ini.
"Alita, seandainya saja dulu aku bisa menerima Kanaya sebagai bagian dari keluarga kita, pasti saat ini semua baik\-baik saja.." tutur Bramantyo sedih.
"Mas, apa yang sudah terjadi dimasa lalu biarlah menjadi bagian dari masa lalu. Saat ini yang bisa kita lakukan adalah menata masa depan. Jika kamu benar\-benar merasa bersalah, maka tebuslah semuanya melalui Hana, Mas..
__ADS_1
"Tuhan, begitu baik masih memberikan kita kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Jadi sekarang kamu harus istirahat, karena besok aku akan bawa kamu untuk bertemu Hana. Dokter bilang besok kamu sudah boleh pulang," jelas Alita sambil memegang tangan Bramantyo.