
Hana mencoba untuk bangun dan beranjak dari tempat tidurnya. Ia merasa sangat bosan dan lelah karena terus-terusan berbaring selama berjam-jam. Perlahan ia mencoba melangkahkan kakinya. Awalnya ia merasa sedikit pusing, namun ia tetap memaksakan kakinya untuk melangkah.
Hana harus bisa segera pulih dan pulang kerumah. Ia tidak ingin lebih lama merepotkan Evan dan keluarganya. “Mungkin setelah keluar dari kamar ini perasaanku akan jauh lebih baik,” batinya dalam hati.
Hana melangkah dengan perlahan sambil memegang tiang tempat cairan infusnya menggantung. Ia mulai bisa mengendalikan tubuh dan langkahnya. Hana masih terus berjalan sampai ia mendengar sama-samar suara yang ia sangat kenali.
Itu suara Evan. Hana pun menoleh. Ia mendapati Evan dan orang tuanya sedang duduk ditaman yang tidak jauh dari kamar rawatnya. Perlahan ia melangkah mundur bersandar dibalik tiang koridor rumah sakit.
Saat itu ia mendengar Liam menceritakan semua hal yang sebetulnya ingin ia ceritakan kepada Evan pagi tadi, sebelum kecelakaan itu terjadi. Hal yang selama ini ia tutupi dari Evan dan ia sangat ingin Evan mengetahui itu dari mulutnya sendiri. Namun sayang, lagi-lagi takdir tidak berpihak kepadanya.
Hana masih tetap diam tidak bergerak ditempatnya berdiri, ia ikut mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Liam. Seakan luka hatinya kembali terbuka mengingat semua itu. Sampai saat Liam dan Carissa beranjak untuk pulang, Hana tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia menangis tanpa suara karena tidak ingin Evan menyadari kehadirannya disana.
Hana segera ingin menghampiri Evan, tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar apa yang Evan gumamkan. “Gue harus apa.. ini rasanya.. berat..” Hana kembali menarik langkahnya mundur. Ini yang ia takutkan terjadi. Ia takut Evan tidak bisa menerima kehidupannya yang rumit ini.
Dengan berusaha untuk tetap kuat, Hana meninggalkan rumah sakit. Tidak ada seorang pun yang menyadari kepergiannya, setidaknya itu yang ia yakini. Ia tidak tahu bahwa ada seseorang yang mengawasinya dari kejauhan.
Dengan langkah gontai Hana keluar dari kamar rawatnya tepat sebelum Evan memasuki kamar tersebut. Hana masih mendengar samar suara Evan berteriak mencarinya. Ia tidak memperdulikan Evan yang panik mencarinya. Hana butuh waktu untuk sendiri saat ini.
Hana kini menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa ia dengan begitu berani dan yakin untuk percaya bahwa Evan akan bisa menerima masalah keluarganya yang rumit ini. Hana telah menggantungkan seluruh harapannya kepada Evan, bahwa kelak Evan akan membantu ia melewati ini bersamanya.
"Apa aku salah karena telah sangat berharap Evan akan bisa menerima semuanya, Tuhan," ucap Hana lirih.
Hana berusaha berjalan secepat mungkin meninggalkan rumah sakit agar Evan tidak menemukannya. Namun sayang langkahnya terhenti ketika tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menyerang kepalanya. Hana tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Pandangan matanya mulai terasa buram dan lututnya terasa lemas.
Hana sudah hampir kehilangan kesadaran ketika seseorang menangkap tubuhnya yang sudah terkulai lemah. Samar ia melihat wajah pria yang saat ini sudah menggendongnya, namun sebelum Hana mengenali wajah itu kesadarannya benar-benar sudah hilang.
Untung saja sedari tadi pria itu memperhatikan setiap gerak gerik Hana, sehingga ia bisa dengan cepat menolong Hana begitu ia melihat disaat seperti ini. Pria itu lalu membawa tubuh Hana masuk kedalam sebuah mobil sedan mewah berwarna putih yang terparkir didepan area rumah sakit.
__ADS_1
Seseorang sudah menunggu didalam mobil tersebut. Seorang pria paruh baya berpakaian semi formal tengah memerikas ponselnya. Dengan potongan rambut low fade membuatnya tampak jauh lebih muda dari umurnya meskipun telah ada beberapa garis usia samar pada wajahnya.
Pria itu adalah Effendi. Sedari tadi ia menunggu Dani yang ia perintahkan untuk melihat kondisi Hana didalam rumah sakit. Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat Dani membuka pintu mobil dengan Hana dalam gendongannya.
“Apa yang terjadi? Mengapa kamu menggendong Hana?” tanya Effendi khawatir dan panik. Dani tidak menjawab. Dengan perlahan ia membaringkan Hana dipangkuan Effendi dan segera berpindah ke driver seat.
Mobil yang mereka tumpangi segera melaju pergi meninggalkan rumah sakit tersebut. Effendi tidak berhenti terus menanyakan apa yang terjadi kepada Hana. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Hana dalam keadaan seperti ini.
“Dani, sebenarnya apa yang terjadi?” Effendi kembali bertanya kepada Dani.
“Ketika saya sedang berada disekitar ruang rawat Nona Hana, saya melihat Nona Hana keluar dari ruang rawatnya. Saya mengikuti Nona Hana hingga ke taman,” jawab Dani. Setelah itu ia mulai menceritakan apa yang ia lihat.
Sampai ketika ia melihat Hana berjalan menuju pintu utama rumah sakit. Dani merasa kondisi Hana belum pulih sepenuhnya, karena itu ia segera menggendong tubuh Hana dan membawanya masuk ke dalam mobil yang mereka tumpangi.
Wajah Effendi terlihat sedih ketika melihat putri satu-satunya hanya bisa terbaring lemah dipangkuannya. Ia memang sangat merindukan Hana, tetapi bukan pertemuan seperti ini yang ia harapkan.
“Maafkan Ayah ya sayang. Kamu harus melewati semua ini sendirian,” ujar Effendi sambil mengusap lembut kepala Hana.
Effendi terpaksa harus memainkan peran yang takdir berikan kepadanya demi memberikan kehidupan yang tenang untuk Kanaya dan Hana. Bahkan ketika Kanaya berpulang pun, ia hanya bisa menyaksikan proses pemakam istri tercintanya itu dari kejauhan.
Hatinya hancur ketika melihat Hana menangisi kepergian ibunya. Ia berada disana tetapi tidak bisa memeluk putrinya. Effendi pun merasakan kesedihan yang sama tetapi tidak bisa melewatinya bersama dengan Hana.
Kini mereka telah tiba ditujuan. Dani memarkirkan mobil yang mereka tumpangi tepat didepan pagar rumah Hana. Bi Siti yang sedang berada dihalaman terkejut melihat Effendi menggendong tubuh Hana yang masih tak sadarkan diri.
“Bi, tolong buka pintunya,” ucap Effendi menunjuk kearah pintu rumah yang masih tertutup. Dengan cepat Bi Siti berjalan menuju pintu dan membukakannya untuk Effendi.
Setelah membaringkan Hana ditempat tidurnya, Effendi berjalan keluar dari kamar Hana. Ia terus berjalan hingga langkahnya terhenti didepan sebuah kamar yang pintunya tertutup rapat.
__ADS_1
Itu adalah kamar Kanaya. Effendi berbalik menatap Bi Siti yang sedari tadi mengikutinya. “Bi, saya boleh masuk ke kamar Ibu?” tanya Effendi berusaha tenang. Sejak memasuki rumah itu, Effendi sudah mulai tidak bisa menahan tangisnya. Ia selalu membayangkan akan masuk kerumah ini dengan Kanaya yang menunggunya.
“Tentu saja boleh Pak,” jawab Bi Siti tersenyum sedih. Ia tahu majikannya ini pasti sangat merindukan istrinya.
Effendi memegang gagang pintu kamar itu dengan tangan bergetar. Perlahan ia melangkahkan kakinya memasuki ruang tidur istri tercintanya. Begitu pintu kamar dibelakangnya tertutup, air matanya tumpah tak tertahankan.
Effendi menangis pilu. Tiba-tiba saja perasaan rindu datang menghujam dadanya. Ia seharusnya berada disini bersama dengan Kanaya, namun takdir berkata lain. Mereka justru terpisahkan jarak yang tidak akan bisa ia tempuh.
Effendi berjalan menuju sebuah lemari yang berada pada sudut kamar Kanaya. Lemari itu sedikit tua hingga mengeluarkan suara berdenyit saat pintunya dibuka. Effendi lalu mengambil selembar baju Kanaya berharap ia bisa sedikit menghirup aroma tubuh istrinya itu.
Namun kini matanya tertuju kepada sebuah kotak kayu berukuran sedang yang terletak dibelakang tumpukkan baju istrinya. Diletakkan kembali baju Kanaya dan kemudian ia mengambil kotak tersebut.
Ternyata kotak itu berisikan barang-barang favorit Kanaya. Kanaya masih menyimpan semua benda yang menjadi kenangannya bersama Effendi. Bahkan gelang identitas saat ia melahirkan Hana masih ia simpan juga.
Namun ada benda lain yang ia tidak kenali dalam kotak itu. Ada dua amplop putih yang terlihat belum using. Ia mengambil amplop itu dan mendapati ada nama dirinya dan Hana dimasing-masing amplop tersebut.
Ia menyimpan kembali amplop yang bertuliskan nama Hana kedalam kotak, harus Hana sendiri yang duluan membaca isinya, pikir Effendi. Kemudian ia membuka amplop yang ditujukan untuknya.
Ada secarik kertas didalamnya dan sebuah cincin emas bermatakan berlian kecil diatasnya. Itu adalah cincin pernikahan yang Effendi berikan untuk Kanaya. Lagi-lagi air mata membasahi pipi Effendi. Effendi menarik nafas panjang mencoba mengatur pikiran dan hatinya. Ia ingin membaca tulisan Kanaya ini dengan tenang.
Teruntuk suamiku tercinta,
Apa kabar Mas? Aku harap kamu baik-baik saja. Mungkin ketika kamu membaca surat ini, aku sudah tidak berada disini lagi. Maafkan aku karena tidak bisa menepati janjiku untuk tetap menunggumu sampai kamu kembali.
Aku sangat merindukan kamu. Aku yakin kamu juga begitu sangat merindukanku dan Hana. Aku tahu kalau terkadang kamu memperhatikan kamu dari jauh. Rasanya aku ingin berlari memelukmu saat itu, Mas. Terima kasih sayang sudah menjagaku dan Hana selama ini. Terima kasih untuk semua pengorbana yang kamu lakukan.
Sekarang bolehkah aku yang meminta sesuatu kepadamu? Tolong kuat ya, Mas? Demi Hana. Hana sangat membutuhkanmu. Selama ini aku tahu ia menyembunyikan lukanya dibalik senyum manisnya. Jangan biarkan jarak kita selama ini sia-sia. Kamu harus kembali pulang demi Hana.
__ADS_1
Takdir nampaknya tidak memberikan aku waktu lebih banyak untuk bisa bersama kamu dan Hana. Maafkan aku. Kamu selalu menjadi cinta pertama dan terakhirku, Effendi Bramantyo.
_Kanaya_