Cinta Untuk Hana

Cinta Untuk Hana
BAB 9


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu sejak pertemuan Maya dan Hana. Awalnya kehidupan Hana baik-baik saja. Ia menjalani kesehariannya dengan tenang, hingga suatu waktu Hana menerima sebuah paket yang ditujukan untuk dirinya.


Awalnya ia tidak menaruh curiga dengan paket tersebut. Namun betapa terkejutnya ia ketika membuka paket tersebut. Paket itu berisikian bangkai burung merpati yang berlumuran darah.



Diatas bangkai merpati itu terdapat secarik kertas yang bertuliskan sebuah pesan ancaman. “*Hidup lo gak akan pernah tenang*”. Tangan Hana bergetar ketika membaca isi pesan tersebut. Siapa yang tega melakukan ini kepadanya, pikirnya dalam hati.



*Ting!*


Tiba\-tiba ponsel Hana berbunyi. Ada sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Ia buru\-buru membuka ponselnya ketika melihat nama pengirim pesan yang tertera pada layar ponsel. “Sasmaya”.



“*Gimana? Lo suka gak sama kejutan gue? Nanti gue kirimin lagi ya.*” Hana membaca isi pesan Maya dengan perasaan yang campur aduk. Ia tidak mengerti mengapa Maya mengiriminya paket dan pesan seperti ini.



Namun tidak sampai disitu saja, teror tersebut terus berlangsung. Maya terus mengiriminya paket yang berisikan bangkai binatang dan pesan ancaman. Rasa frustasi meliputi diri Hana. Ia tetap tidak mengerti apa maksud Maya dengan semua ini, sampai ia menerima paket terakhir dari Maya hari itu.



Seperti biasa didalam paket itu ada kertas berisikan pesan ancaman. “Gue ingetin ke lo ya Ashana Effendi Bramantyo, lepasin Evan buat gue atau gue akan berbuat yang lebih dari ini.”



Hana hanya bisa terdiam mematung. Ia tidak menyangka Maya akan menerornya seperti ini karena sangat menginginkan Evan. Pria yang ia telah cintai dengan seluruh hatinya. Ia pikir sekarang ia sudah bisa memulai hidup dengan tenang, namun nyatanya ia salah.



Saat ini ia bertanya\-tanya apa yang harus ia lakukan. Haruskan ia menceritakannya kepada Evan. Tapi ia tidak ingin membuat Evan khawatir. Dan sejujurnya, ia tidak ingin Evan mengetahui hubungan dirinya dengan Maya. Setidaknya bukan dengan cara seperti ini.



Hana telah berjanji pada dirinya sendiri perlahan ia akan menceritakan sisi kehidupan yang ia tutupi sejak dulu dari Evan. Hanya saja Hana masih menunggu waktu yang tepat. Namun sepertinya Hana harus mulai menceritakannya saat ini kepada Evan. Karena nantinya hal ini juga akan berhubungan dengan Evan.


__ADS_1


Hana mengambil kembali ponselnya yang ia letakkan diatas meja setelah membaca pesan Maya, lalu mencari kontak Evan. Ia lalu menelpon Evan. Hana berniat mengajak Evan hari ini untuk bertemu.



Beberapa detik kemudian terdengar suara Evan melalui sambungan telepon. Setelah beberapa saat berbicara, Hana menutup telepon dan meletakkan ponselnya. Ia bergegas bersiap untuk bertemu Evan. Hari ini Hana akan menceritakan semuanya kepada Evan.


...*****...


Evan berjalan menuruni tangga dengan penuh senyuman. Ia selalu tersenyum gembira jika ingin bertemu Hana. Evan menyapa Carissa dan Ravi ketika melewati ruang makan. “Selamat pagi semua,” sapa Evan tersenyum lebar yang dibalai lambaian tangan oleh Carissa.



“Udah rapih aja nih, mau kemana lo?” tanya Ravi basa\-basi.


“Ketemu pujaan hati,” jawab Evan sumringah.


Seperti dihantam palu besar, jawaban Evan membuat dada Ravi sesak. Ravi lupa, Evan adalah kekasih Hana, gadis yang ia sukai. Ravi berusaha tersenyum menyembunyikan rasa sedihnya.



Evan pun berlalu setelah mengambil selembar roti dengan selai nanas favoritnya. Sebelum melangkahkan kakinya keluar dari rumah, sebuah pesan singkat tiba\-tiba masuk ke ponselnya. “*Maya*” nama yang tertera pada kontak si pengirim pesan. “Ck! Mau apa lagi sih dia,” gumam Evan kesal.




Tiba\-tiba perasaannya menjadi tidak enak. Evan menjadi sangat khawatir kepada Hana. Ia tidak ingin terjadi hal buruk kepada Hana. Demi Tuhan, Evan tidak rela jika Hana harus terluka, apalagi itu karena dirinya. Ia langsung memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggu menuju rumah Hana.



Tak lama kemudian dari kejauhan, Evan telah melihat Hana berjalan keluar dari arah pintu rumahnya sambil memainkan ponsel. Perasaan Evan sedikit lega melihat Hana baik\-baik saja.


Namun tiba-tiba ada sebuah mobil sedan berwarna hitam berjalan dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan. Mobil itu melaju kencang menuju arah rumah Hana. Hana yang masih sibuk dengan ponselnya tidak menyadari kedatangan mobil itu.


Bruk!


Mobil itu menyambar ketika Hana berada tepat dipinggir jalan depan pagar rumah miliknya. Hana terjatuh tak sadarkan diri. Evan yang melihatnya langsung memarkirkan sepeda motornya sembarangan dan segera menghampiri Hana.


“Han! Bangun Hana! Hana, aku disini tolong bangun,” Evan berlutut disamping Hana sambil mengangkat tubuh kekasihnya itu.

__ADS_1


Untung saja ada beberapa orang disekitar sana yang bergegas membantu Evan. Mereka segera membawa Hana menuju rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Sementara mobil sedan itu telah menghilang entah kemana.


Meskipun yang terjadi pada diluar kendali dirinya, tetap saja sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Evan tidak pernah berhenti mengutuk dirinya sendiri. Nyatanya pesan singkat dari Maya begitu mempengaruhi dirinya. Kali ini Hana terluka karena dirinya.


Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh lima menit lamanya, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sakit. Hana segera mendapatkan pertolongan pertama. Evan yang kalut segera menelepon kedua orang tuanya. Ia tidak tahu harus menghubungi siapa lagi, sementara Hana sudah tidak memiliki orang tua, setidaknya itu yang ia ketahui.


...*****...


Liam dan Carissa segera bergegas menuju ke rumah sakit saat mereka mendapatkan kabar dari Evan. Bagaikan anak kandung sendiri yang terluka, mereka cemasnya bukan main. Mereka telah berjanji kepada Hana akan selalu berada disampingnya ketika Hana butuh bantuan.



Jangan tanya bagaimana Ravi, begitu ia mendapatkan kabar dari ibunya, ia segera memacu kendaraannya menuju ke rumah sakit. Rasa khawatir yang ia rasakan membuat ia lupa, Hana adalah kekasih adiknya sendiri.


Tanpa sengaja Liam, Carissa dan Ravi pun tiba dirumah sakit secara bersamaan. Mereka berjalan menuju ke ruang rawat Hana dengan setengah berlari. Khawatir ingin melihat kondisi Hana. Karena saat menceritakan keadaan Hana melalui sambungan telepon kepada Liam, suara Evan terdengar sangat panik.


“Evan, gimana Hana?” tanya Carissa langsung ketika ia melihat Evan berdiri didepan kamar rawat Hana. Evan tidak menjawab, ia lantas menjatuhkan dirinya kepelukan ibunya. Evan sedikit terisak.


“Sudah.. sudah.. ini bukan salah kamu, nak. Yang penting Hana tidak apa-apa kan?” ujar Liam mencoba menenangkan Evan.


Tidak lama kemudian dokter dan perawat keluar dari ruang rawat Hana. Dokter itu memberikan penjelasan terkait keadaan Hana. Hana mengalami beberapa luka ditubuhnya. Untung saja tidak ada luka dalam yang dialami Hana. Hana hanya diharuskan untuk istirahat selama dua hari dirumah sakit agar kondisinya bisa dipantau sementara oleh dokter.


Setelah mendengar penjelasan dari dokter, mereka bisa sedikit bernafas lega. Evan pun menjadi lebih tenang. Kini rasa amarah yang perlahan merasukinya. Ada satu nama yang berada dalam pikirannya saat ini, Maya. Evan yakin, Maya-lah orang dibalik kejadian ini. Ia tidak habis pikir mengapa Maya sampai setega ini kepada Hana.


Evan mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Maya. Beberapa saat kemudian Evan terhubung dengan Hana melaui sambungan telepon


“Halo Van, ada apa?” sapa Maya saat mengangkat telepon Evan.


“Gak usah basa basi deh lo, May! Tega banget lo sampe bikin Hana celaka!” tuding Evan tanpa basa basi.


Maya yang berada diujung lain sambungan telepon merasa bingung, mengapa Evan menuduhnya seperti itu. Ia memang berniat melakukan sesuatu kepada Hana, namun Menyusun rencana pun belum Maya lakukan. Ia hanya baru mengirimkan pesan ancaman kepada Hana dan kali ini dengan Evan.


Sepertinya terjadi sesuatu kepada Hana, pikirnya Maya dalam hati. Ia kemudian tersenyum. Sepertinya kali ini takdir sedang berbaik hati membantunya. Ia tidak perlu mengotori tangannya sendiri untuk mencelakai Hana. Maya hanya perlu memberi kesan seakan-akan apa yang terjadi kepada Hana memang terjadi karena dirinya.


“Oh soal Hana. Lecet dikit gak apa-apa kok, Van,” jawab Maya santai.


“Gila lo! Mau lo apa sih, hah?!” tanya Evan penuh amarah.


“Dari awal aku udah bilang ke kamu kan, kalau aku mau kamu, Van! Mau sampe sejauh apa kamu bertahan dan buat Hana terluka, hah?! Aku gak main-main, Van. Kamu lihat sendiri kan apa yang terjadi sama Hana hari ini? Kamu mau dia lebih terluka dari itu?” Maya menjawab pertanyaan Evan dengan nada penuh penekanan. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah takdir ciptakan untuknya.

__ADS_1


Evan tidak membalasa ucapan Maya. Ia langsung memutuskan sambungan teleponnya. Wajahnya terlihat sangat frustasi. Entah apa yang harus ia lakukan nanti, ia belum bisa memikirkan apa-apa.


__ADS_2