Cinta Untuk Hana

Cinta Untuk Hana
BAB 6


__ADS_3

Sejak sikap Hana menjadi lebih ceria dan terbuka kepada Evan, mereka jadi lebih sering menghabiskan waktu berdua. Melakukan banyak hal bersama layaknya sepasang kekasih pada umumnya. Hal yang sejak dulu Evan nantikan.


Baik Hana maupun Evan sama-sama sangat menikmati momen-momen yang tercipta tiap harinya ketika mereka bersama. Senyuman dan tawa selalu menghiasi wajah mereka berdua.


Hanya ada satu momen yang membuat Hana menangis histeris. Saat itu agenda kencan mereka adalah nonton film dibioskop disebuah mall ditengah kota. Ya, ini adalah ide Evan, ia membuat daftar kegiatan apa saja yang tidak pernah mereka lakukan sepanjang menjadi sepasang kekasih.


Mereka memilih film secara acak tanpa tahu genre film tersebut. Sialnya ternyata film yang mereka pilih bergenre horror. Benar saja hampir sepanjang film Hana menangis ketakutan, bahkan sesekali berteriak.


Awalnya Evan ingin mengajak Hana agar keluar dan mengganti film lain, ia tidak ingin agenda kencan mereka kali ini terlewati lagi. Tapi ketika Hana memeluk lengan Evan sambil menyembunyikan wajahnya, membuat Evan mengurungkan niatnya. Ia hanya ingin menikmati momen tersebut.


Evan senang Hana berlindung kepadanya, meskipun itu hanya dari adegan wanita berwajah seram mengejar sekelompok remaja sambil menyeret kakinya dilorong sebuah penginapan tua. Evan senang Hana mengandalkannya.


Saat itu juga Evan berjanji akan selalu melindungi Hana, apapun taruhannya. Kemudian ia kembali teringat dengan kata-kata Maya beberap minggu yang lalu. Kali terakhir mereka bertemu, Maya mengatakan akan mendapatkan Evan meskipun harus menyingkirkan Hana.


Seketika tanpa sadar Evan menggenggam tangan Hana, seakan tidak akan pernah melepaskannya. Ia tidak ingin Hana terluka karena dirinya. Ia ingin membantu Hana mengisi hari-harinya dengan senyum dan tawa. Kalaupun sesekali Hana menangis, Evan ingin ia sendiri yang menghapus air mata Hana.


Setelah seratus dua puluh menit menghabiskan waktu dalam studio bioskop menyaksikan film yang sukses membuat Hana ketakutan namun justru membuat Evan senyum-senyum sendiri, akhirnya mereka memutuskan untuk singgah disebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari bioskop dalam mall itu.

__ADS_1


Ketika Hana sedang bingung memutuskan pilihan dari menu yang diberikan, Evan izin pamit ke Hana ingin ke kamar mandi. Namun Evan bohong. Evan melangkahkan kakinya menuju toko perhiasan yang ia lewati sebelumnya bersama Hana.


Saat tadi mereka sedang memilih restoran, tanpa sengaja Evan melihat Hana memperhatikan sebuah cincin yang terpajang di etalase depan toko tersebut. Sebuah cincin solitaire klasik yang terbuat dari emas putih dengan permata dibagian tengah cincin.


Evan tanpa ragu memasuki toko perhiasan itu dan meminta seorang pramuniaga untuk mempelihatkan cincin tersebut kepadanya. “Pasti cantik banget ditangan Hana,” gumam Evan sambil tersenyum. Evan ingin ini menjadi kejutan spesial untuk pujaan hatinya.


Setelah menyelesaikan transaksi pembelian, Evan bergegas keluar dari toko perhiasan itu. Ia tidak ingin Hana bertanya-tanya mengapa ia banyak sekali menghabiskan waktu hanya untuk ke kamar mandi. Maklum saja, sejak memutuskan untuk berubah dan lebih terbuka, Hana menjadi lebih cerewet. Tapi itu justru membuat Evan semakin senang.


Evan berlari kecil meninggalkan toko perhiasan itu menuju ke restoran tempatnya bersama Hana akan mengisi lambung. Tanpa sadar sepasang mata memperhatikannya sejak tadi dari kejauhan. Ada Maya disana memperhatikan Evan sejak tadi. Dan Maya sangat tidak suka denga napa yang dilihatnya barusan.


“Ternyata kamu gak peduli ya sama yang udah aku bilangin Van. Oke kalau kamu mau aku bergerak lebih jauh,” kata Maya saat melihat Evan dari kejauhan. Maya kemudian pergi dengan hati yang tidak senang.


“Kamu dari mana aja sih Van? Aku hampir lapor ke satpam loh kirain kamu hilang,” ujar Hana bercanda kepada Evan. Ia lalu memberikan isyarat agar Evan duduk didepannya agar mereka duduk berhadapan. Sehingga Hana bisa melihat wajah Evan dengan leluasa.


“Yaa maaf sayang, di toilet tadi pada antri,” balas Evan santai sambil memamerkan gigi putihnya. Jawaban Evan berhasil menjawab rasa penasaran Hana, sehingga Hana menjadi tidak curiga mengapa ia menghabiskan waktu tiga puluh menit hanya untuk ke kamar mandi.


Mereka pun menikmati hidangan yang sudah Hana pesan saat Evan tidak ada. Untunglah Evan bukan tipe pria yang suka memilih-milih makanan, jadi Hana bisa memesan apa saja tanpa harus takut Evan tidak menyukai rasanya.

__ADS_1


Selama menyantap hidangan makan malam mereka saat itu, mereka saling bertukar cerita. Hanya cerita ringan mengenai hal-hal yang mereka lakukan saat sedang tidak bersama hingga apa yang akan mereka lakukan ketika sudah wisuda nanti.


Hana dan Evan sebentar lagi akan melaksanakan sidang skripsi. Mereka sudah mempersiapkan semuanya bersama, agar mereka berdua bisa lulus bersama-sama. Kini mereka merencanakan semuanya bersama. Termasuk masa depan mereka.


Perlahan mereka mulai membangun mimpi mereka bersama, menyatukan tujuan untuk ke tahap kehidupan selanjutnya. Evan benar-benar sudah bisa membuat Hana untuk bermimpi lebih jauh lagi. Termasuk bermimpi membangun sebuah keluarga.


Tidak seperti keluarganya. Ayahnya pergi ketika ia masih berumur lima tahun. Meskipun sampai detik ini Hana belum mengetahui alasan pasti kepergian ayahnya, tetap saja bagi Hana ayahnya telah sangat jahat terhadap ia dan ibunya. Ia menjadi saksi bagaimana setiap hari ibunya begitu merindukan kehadiran ayahnya.


Mimpi Hana sederhana, ia ingin membangun sebuah keluarga yang utuh dengan penuh cinta didalamnya. Keluarga yang tinggal bersama didalam sebuah rumah yang akan selalu menjadi tempat mereka untuk pulang dan berteduh. Hana berharap Evan bisa menjadi pria yang bisa membersamainya mewujudkan hal itu.


"Han, kamu ngelamun ya? Aku dari tadi manggil kamu tapi kamu diam aja loh," tanya Evan sedikit merajuk ke Hana. Evan tahu fokus Hana saat ini tidak tertuju pada dirinya yang sedari tadi memanggil Hana.


"Ah gak, orang aku lagi liatin wajah kamu. Kamu kok bisa seganteng ini?" Hana balik bertanya dengan nada bercanda. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan agar Evan tidak bertanya apa yang barusan ia pikirkan.


"Han, pelan-pelan dong, jantung aku belum terbiasa dapat pujian bertubi-tubi dari kamu," jawab Evan sembari menutup mukanya berpura-pura malu.


"Siapkan jiwa dan ragamu Evano Wistara, mulai saat ini aku akan mencintaimu dengan ugal-ugalan," ucap Hana sambil tertawa kepada Evan. Evan hanya bisa ikut tertawa mendengar ucapan Hana. Bagaimana bisa Hana yang dulu sangat irit dalam mengeluarkan kata-kata bisa berbicara dengan gaya bahasa seperti itu.

__ADS_1


Evan mengulurkan tangannya kepada Hana dan memberi isyarat agar Hana menggenggam tangannya. Tentu saja hal itu disambut dengan senang hati oleh Hana. "Gandengan ditempat umum check," kata Hana tersenyum.


__ADS_2