Cinta Untuk Hana

Cinta Untuk Hana
BAB 30


__ADS_3

Hana terjaga sejak pukul tiga dini hari. Mungkin karena terlalu banyak tidur saat demam tadi, ia jadi tidak bisa memejamkan mata lagi setelah terbangun. Tubuhnya sudah tidak panas lagi, Hana hanya merasa badannya sedikit pegal.


Hana masih berbaring sambil menatap stiker luminous berbentuk bintang yang terpasang pada seluruh langit\-langit kamarnya.



Dalam kepalanya, seperti ia memutar kembali rekaman kenangan saat memasang stiker itu bersama ibunya.



Hana pun kembali mengingat perkataan ibunya. "*Bintang\-bintang ini akan membantu kamu menerangi malam yang terkadang jauh lebih gelap dari biasanya*."



"Buna, apakah nanti akan ada bintang yang dapat menerangi hatiku kembali?" lirih Hana menatap langit\-langit kamarnya.



Hana membalikkan tubuhnya, kini matanya tertuju pada sebuah kotak kecil diatas meja nakas yang ada disamping tempat tidurnya. Kotak yang Evan berikan kepadanya.



Hana menjulurkan tangannya mengambil kotak itu. Ia menarik pita berwarna merah jambu yang menjadi hiasan kotak itu lalu membuka penutup kotaknya.



Kotak itu berisikan sebuah cincin yang Hana sangat ingat ia pandangi saat sedang bersama Evan disebuah mall beberapa bulan yang lalu.



Hatinya kembali terasa nyeri melihat cincin itu. Seharusnya cincin ini Evan berikan bukan sebagai tanda perpisahan.



"Sudah tidak ada gunanya..." Hana menatap cincin itu sendu. Ia kembali menutup kotak itu dan menyimpannya di dalam laci meja nakas.



Jam dinding dikamarnya menunjukkan waktu sudah pukul lima pagi. Ia bangun dan menuju ke kamar mandi untuk mensucikan diri. Saat ini sudah waktunya ia melaksanakan kewajibannya bersujud kepada Tuhannya.



Hana dengan khusyuk berdoa kepada Sang Pencipta. Ia meminta kekuatan dan kelapangan hati untuk menerima semua yang terjadi kepadanya. Air matanya mengalir tak tertahankan ketika ia mengadukan semuanya kepada Yang Maha Mendengar.



Setelah puas mengadu kepada Sang Pemilik Kehidupan, Hana bersiap\-siap untuk berangkat ke kantor. Sebaiknya ia menyibukkan dirinya untuk bisa pumelupakan rasa sakit yang sedang ia rasakan.



Pukul enam lewat tiga puluh menit, Hana sudah berpakaian rapih dan keluar kamar menuju ke meja makan. Bi Siti terkejut ketika melihat Hana sudah siap berangkat ke kantor.



"Non Hana bukannya belum sembuh betul? Jangan paksain kerja dulu, Non. Bibi khawatir kalau nanti Non Hana sakit lagi," kata Bi Siti.



"Aku udah baik\-baik aja kok, Bi. Aku pamit ya.. *Assalamualaikum.*"


...*****...


Hari itu Hana benar\-benar membuat dirinya sibuk. Ia bahkan meminta pekerjaan tambahan kepada Dito.

__ADS_1



"Kerjaan kamu yang lain emang udah selesai?" selidik Dito.



"Sudah Mas. Semua sudah selesai saya kerjakan," jawab Hana dengan semangat. Hana sedang mencoba untuk tidak bersedih dengan apa yang ia alami.



Dito terdiam sejenak. Ia memikirkan pekerjaan apa lagi yang bisa ia berikan kepada Hana. Dito lalu teringat saat ini mereka sedang mengerjakan proyek yang lumayan besar dan membutuhkan tenaga tambahan untuk membantu mereka.



"Kamu kemarin kuliah ngambil jurusan arsitek lanskap kan? Kebetulan nih ada klien kita yang pengen bangun kompleks perumahan elit. Untuk semua desain rumahnya udah oke. Tapi untuk desain taman mereka masih belum oke sama desainnya.



Ya gimana soalnya kita belum ada yang pengalaman bikin desain lanskap. Kalau mau kita lepas bagian lanskapnya rugi banget soalnya bayarannya lumayan gede. Kamu mau coba bikin desainnya?" tanya Dito menawarkan.



Hana langsung mengangguk mantap. Pekerjaan itu bisa membuatnya mengalihkan seluruh pikiran dan fokusnya. Lagipula ini bisa menjadi poin penilaian tambahan untuknya nanti.



Dito lalu menginstruksikan kepada Hana agar ia bertanya mengenai detail pekerjaan itu kepada Ravi.



Tanpa menunggu lama Hana langsung membawa langkah kakinya menuju keruangan Ravi. Ia harus memulai pekerjaan ini sesegera mungkin menggunakan semua waktu yang ia punya.


Tok! Tok! Tok!



"Saya mau tanya soal detail proyek desain lanskap Pak. Kata Mas Dito saya harus tanyakan ke Bapak semua detailnya," jawab Hana.



"Oh. Kamu lihat berkas yang ada di meja itu? Itu semua adalah berkas yang berhubungan dengan proyek lanskap itu. Ambil dan bawa ke meja kamu. Pelajari sendiri. Saya masih banyak kerjaan," jelas Ravi tanpa sedikit pun menoleh kearah Hana.



Hana lalu segera mengambil semua berkas yang ada pada meja yang Ravi tunjukkan. Kemudian ia segera permisi untuk kembali ke meja kerjanya guna mempelajari semua berkas itu.



Setelah mendengar Hana menutup pintu ruangannya, Ravi mengangkat wajahnya menatap pintu. Ia pun menggerutu sendiri.



"Bisa\-bisanya gue dipanggil 'Pak' sedangkan Dito dia panggil 'Mas'. Emang muka gue setua itu," protes Ravi.


...*****...


"*Assalamualaikum*.. loh kok udah pada rapih? Mau kemana?" tanya Ravi saat baru memasuki rumah. Untung saja berkat Hana, hari ini Ravi bisa pulang lebih awal karena sudah tidak perlu mengerjakan desain untuk proyek lanskap itu.



"Syukurlah kamu hari ini pulang tepat waktu. Ayo cepat naik ke kamar, terus kamu mandi sama pake baju yang rapih ya. Malam ini kita akan kerumah Om Effendi," jelas Carissa.


__ADS_1


Ravi melihat kedua orang tuanya sudah berpakaian dengan sangat rapih, bahkan terkesan sangat formal. Begitu juga dengan Evan, baru kali ini ia melihat Evan mengenakan kemeja dengan motif batik selain ke acara pernikahan.



Ravi bertanya\-tanya dalam hati sementara ia berjalan menuju ke kamarnya untuk melaksanakan perintah ibunya.



Tiga puluh menit kemudian Ravi setengah berlari menuruni tangga rumahnya dan menyusul kedua orang tuanya kedalam mobil.



Selama perjalanan tidak ada satupun dari mereka yang bersuara. Suasan hening bahkan terkesan tegang.



Ravi sangat ingin tahu apa tujuan mereka mengunjungi rumah Effendi, tetapi entah mengapa lidahnya kelu.



Tiba\-tiba muncul satu gagasan dalam otaknya, jangan\-jangan mereka kesana karena hendak melamar Hana untuk Evan, tetapi kenapa suasananya seperti ini? Tidak ada kebahagiaan terpancar dari wajah kedua orang tuanya, terlebih lagi pada wajah Evan.



Evan justru terlihat sangat sedih. Tidak.. Evan lebih terlihat sangat frustasi. Itu semua bisa terlihat dari tatapan matanya yang penuh amarah. Tetapi disaat bersamaan ia seperti tidak bisa melakukan apa\-apa.



Tapi apapun itu, jika benar kali ini kedatangan mereka ke rumah Effendi adalah melamar Hana untuk Evan, maka itu akan menjadi akhir dari perjalanan cinta Ravi.



Perjalanan cinta yang bahkan sama sekali ia belum mulai. Kali ini Ravi harus benar\-benar menerima kenyataan bahwa ia tidak akan pernah bisa bersama dengan cinta pertamanya.



Mereka akhirnya tiba didepan kediaman Effendi. Anehnya rumah Effendi terlihat sepi, tidak ada kendaraan lain yang terparkir dihalaman rumah Effendi selain mobil mereka. Ravi semakin bertanya\-tanya dalam hati.



Melisa sudah berdiri sambil tersenyum menyambut kedatangan mereka sekeluarga didepan pintu. "Selamat datang.. mari silahkan masuk," sapa Melissa.



Tidak lama kemudia, Effendi ikut bergabung diruang tamu bersama mereka, sedangkan Melissa izin pamit meninggalkan mereka sebentar.



Ravi masih mencoba membaca situasi. Ia melihat Effendi dan Melissa berpakaian sama rapihnya dengan kedua orang tuanya.



Setelah berbasa\-basi sebentar, akhirnya Liam mengatakan tujuan mereka datang berkunjung.



"Jadi kedatangan kami kesini ingin melamar Maya untuk putra kami Evan."



Ravi sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia langsung menatap Evan yang duduk dihadapannya meminta penjelasan. Evan hanya menggeleng kecil.


__ADS_1


"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Ravi dalam hati.


__ADS_2