
Hana terbangun ketika merasakan sebuah cahaya terang perlahan memasuki retinanya. Ia melihat sesosok wanita membuka gorden jendela kamarnya. Hana tersentak ketika melihat wajah wanita itu. Berulang kali ia mengusap matanya memastikan apa yang ia lihat adalah benar sosok yang sangat ia rindukan.
“Buna! Ini benar Buna?” tanya Hana tidak percaya. Hana lalu beranjak dari pembarinagnnya dan menghambur kedalam pelukan ibunya. Kanaya tersenyum melihat tingkah putrinya itu. Diusapnya lembut rambut hitam Hana dan mengecup kening putri semata wayangnya tersebut.
“Terima kasih sayang karena kamu tetap kuat sampai saat ini. Maafkan Buna ya karena tidak bisa menemani kamu lebih lama.” ucap Kanaya sembari memeluk putrinya.
Hana tidak berkata apapun. Ia hanya terus memeluk tubuh ibunya dan mencurahkan seluruh kerinduan yang ia pendam selama ini. Seakan ingin memanjakan indera penciumannya, Hana menarik nafas panjang menghirup aroma tubuh ibunya. Ia sangat merindukan wangi parfum lavender yang tiap hari tercium dari tubuh ibunya.
“Buna, jangan pergi lagi ya? Aku mohon,” pinta Hana kepada ibunya. Kanaya hanya tersenyum dan membelai lembut punggu putrinya itu.
“Cuma Buna aja nih yang dipeluk? Ayah juga mau dong dipeluk,” ujar Effendi dari depan pintu kamar Hana yang sudah terbuka. Hana menatap tidak percaya melihat sosok pria yang sedang berada di depan pintu kamarnya.
Ia kembali menatap ibunya seakan memastikan bahwa apa yang ia lihat tidaklah salah. Kanaya tersenyum dan mengangguk. Perlahan Hana melepas pelukkannya pada tubuh Kanaya dan berjalan menuju ke arah pintu kamarnya.
__ADS_1
Effendi merentangkan kedua lengannya menunggu kedatangan Hana kedalam pelukkannya. Ketika melihat itu langsung saja Hana berlari menghambur kedalam pelukan ayahnya. Air mata membasahi kedua pipinya. Entah sudah berapa lama sejak terakhir ia memeluk ayahnya.
Ia bahkan sudah lupa bagaimana rasanya pelukkan dari ayahnya. Hana memeluk erat Effendi. Menghirup aroma tubuh Effendi yang sangat ia rindukan. Aroma mint selalu tercium dari tubuh Effendi.
“Ayah kemana saja selama ini? Kenapa ayah ninggalin Hana dan Buna?” tanya Hana sambil terisak. Tangisnya pecah didalam pelukan Effendi.
Banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi rasanya sudah tidak penting lagi. Karena saat ini ayah dan ibunya telah kembali berkumpul bersama dengan dirinya. Semua ini sudah cukup baginya. Kepingan yang hilang dalam hatinya telah ia temukan kembali.
“Ayah tidak kemana-mana kok, ayah selalu ada didekat kamu. Sekarang kamu istirahat lagi ya,” jawab Effendi lalu mengecup kening putrinya.
Hana kembali merasakan sakit dikepalanya. Sepertinya ia memang harus kembali ke pembaringannya. Sebelum kembali memejamkan matanya, Hana menatap kedua orang tuanya yang saat ini sudah berdiri disamping ranjangnya sambil tersenyum.
Belum lama rasanya Hana memejamkan mata, samar-samar ia mendengar seseorang memanggil namanya. Retina Hana menatap sekitar mencari sosok si pemilik suara. Ternyata suara Bi Siti yang membangunkan Hana.
Bi Siti membawakan Hana sepiring makanan dan segelas teh manis hangat. Ia lalu menaruh nampan yang dibawanya sejak tadi dimeja nakas milik Hana. Setelah itu Bi Siti menutup kain gorden pada jendela Hana karena langit mulai terlihat gelap.
Hana kemudian tersadar sepenuhnya dan segera mencari sosok kedua orang tuanya. Bi Siti yang melihat Hana menjadi sedikit heran dengan tingkah majikannya itu. “Non Hana nyari apaan? Mau Bibi bantuin?” tanya Bi Siti bingung.
“Ayah sama Buna mana, Bi?” Hana balik bertanya. Bi Siti yang mendengar pertanyaan Hana sedikit terkejut. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan majikannya. Ia kemudian teringat akan selembar surat yang tadi Effendi titipkan kepadanya saat mengantarkan Hana pulang.
“Non, ini ada titipan surat dari Bapak. Tadi Non Hana diantar pulang sama bapak kesini,” ucap Bi Siti hati-hati. Ia tidak ingin membuat Hana kembali bersedih.
__ADS_1
Hana menerima secarik kertas yang diberikan Bi Siti dengan ragu. Dalam hati ia bertanya-tanya mengapa ayahnya menitipkan surat kepada Bi Siti, bukankah tadi ayahnya ada disini bersama ibunya. Hana pun segera membaca surat yang diberikan oleh Bi Siti dengan penuh tanda tanya.
Untuk putriku tersayang..
Terima kasih sayang kamu sudah mau bertahan sampai saat ini. Buna telah menepati janjinya untuk membesarkan kamu menjadi sekuat ini. Ayah bangga sama kamu Hana. Maafkan Ayah yang tidak bisa mendampingi kamu selama ini, tapi percayalah Ayah tidak pernah melupakan kamu.
Hana putriku, maafkan keegoisan Ayah ketika meminta ini kepadamu, tetapi maukah kamu bertahan sedikit lagi? Kepergian Buna telah memukul dada Ayah dengan sangat kuat bahkan sampai detik ini Ayah masih merasakan sakitnya. Saat ini tinggal kamu yang Ayah miliki, hanya tinggal kamu satu-satunya alasan Ayah untuk bertahan.
Tunggu Ayah sebentar lagi ya sayang? Sebentar saja.. Ayah janji kita akan segera berkumpul bersama lagi. Ayah sangat menyayangi kamu Hana…
_Ayah_
Hana menatap surat yang ada ditangannya itu berulang kali. Ia masih belum menyadari maksud surat ini. “Buna.. Ayah..” panggil Hana. Bi Siti hanya terdiam melihat sikap Hana. Ia lalu memegang tangan Hana dengan lembut.
“Non, sekarang hanya tinggal kita berdua dirumah ini. Tadi memang Non Hana diantar pulang sama Bapak, tapi setelah itu Bapak pergi lagi dan menitipkan surat ini kepada Bibi untuk Non Hana. Sedangkan Ibu…” Bi Siti tidak melanjutkan kalimatnya.
Bi Siti tidak tega melihat perubahan raut wajah Hana ketika perlahan air mata membasahi kedua pipi Hana. Hana kemudian tersadar bahwa apa yang ia alami tadi hanyalah sebatas mimpi. Mimpi yang sangat ingin ia jadikan nyata.
Hana menghela nafas panjang sembari mengusap kedua pipinya. Ia mencoba untuk tenang dan mengendalikan perasaannya, lalu kembali menatap surat dari ayahnya. Hana memang merasa sedih, namun disaat yang bersamaan ada rasa bahagia yang perlahan ia rasakan.
"Terima kasih, Ayah..." ucap Hana tersenyum mendekap surat dari ayahnya.
__ADS_1